Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 3: Gemini] Bertemu


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian, Chiara sudah menyulap dirinya menjadi seorang pelayan kasino. Satu gerendel kunci lantai VIP sudah ada di tangan. Chiara sudah siap untuk menelusuri semua ruangan lantai dua. Dengan penuh percaya diri, gadis itu keluar dari ruangannya sendiri dan mulai menyusuri lorong berkarpet merah itu.


Chiara memulai aksinya dari ruangan nomor 201. Ia mengetuk beberapa kali, lantas membuka pintu setelah dipersilakan. Di dalam ia mendapati sepasang pria dan wanita yang sedang bermesaraan di atas tempat tidur. Bukan Rein, untungnya. Dengan sopan Chiara menawarkan camilan dan teh seolah ia benar-benar merupakan seorang pelayan. Akan tetapi sang pemilik ruangan menolak lantas mengusir Chiara dengan kasar. Gadis itu keluar kamar dan melanjutkan aksinya di ruangan sebelah.


Lima ruangan sudah dimasuki Chiara. Ia bertemu dengan bermacam-macam situasi seperti judi gelap, perselingkuhan, pembicaraan dengan pembunuh bayaran, dan sebagainya. Beberapa orang terlihat familiar, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang mengenali Chiara. Ia diusir, dibentak dan dihina setiap kali keluar masuk ruangan para VIP, semata-mata karena ia hanya seorang pelayan. Namun Chiara menerima semua keadaan itu dan justru sedikit bersimpati pada kesejahteraan para pelayan di kasino itu. Meski begitu, ia tidak punya waktu untuk mengasihani mereka.


Gadis itu terus fokus mencari dan akhirnya, di ruangan nomor 217, Chiara menemukan targetnya. Ia mengetuk beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya gadis itu pun memutuskan membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Ruangan itu sepi. Tidak ada siapa pun yang menyambutnya. Awalnya Chiara mengira ruangan tersebut belum disewa. Namun setelah mencoba berkeliling hingga mengecek dalam kamar mandi, Chiara menemukan sesosok perempuan terbaring tenang di atas tempat tidur.


Chiara menyadari kalau perempuan itu adalah Lea setelah menyibak kelambu merah yang melingkupi ranjang. Kedua alis Chiara bertaut. Lea tertidur lelap tanpa ada Rein di sisinya. Bahkan keberadaan Rein  juga tidak terlihat di mana pun di dalam ruangan. Sekali lagi Chiara mencari ke semua sudut, tetapi ia tetap tidak menemukan Rein. Berdasarkan info dari Benedict, seharusnya Rein memang sedang bersama Lea. Tapi apa ini? Lea tertidur sendirian dengan tenang. Chiara hanya bisa mondar-mandir sambil berpikir. Apa yang harus dia lakukan sekarang?


Karena tidak menemukan jalan keluar, Chiara memutuskan untuk mencoba membangunkan Lea dan bertanya secara langsung. Ia tidak peduli lagi meski penyamarannya terungkap. Ia harus menemukan Rein sebelum sahabatnya itu mengalami masalah serius.


Chiara menggoyang-goyang tubuh Lea, bahkan menamparnya dua kali. Namun Lea tak bergeming. Ia tetap tidur dengan nyenyak dan membuat seluruh usaha Chiara sia-sia.


“Dia tidak tidur. Perempuan ****** ini sudah dibius,” gumam Chiara yang akhirnya menyadari keadaannya.


Gadis itu kembali berjalan mondar mandir sambil menggigit ujung ibu jarinya. Semua skenario buruk melintas di kepala Chiara. Apa yang terjadi pada Rein? Kenapa Lea terbujur pingsan di atas tempat tidur? Apa Rein diculik? Organisasi mana yang berani membawa sahabatnya?


Tepat pada saat Chiara sedang merunut pikirannya, pintu ruangan terbuka. Sontak Chiara berubah waspada. Namun yang datang rupanya adalah sahabatnya. Chiara mendesah lega melihat Rein yang masuk lalu mengunci pintu lagi dari dalam.

__ADS_1


Pemuda itu terlonjak kaget ketiga melihat seorang pelayan perempuan sudah berdiri di belakangnya. Awalnya Rein tidak mengenali Chiara. Gadis itu pun tidak repot-repot memperkenalkan diri dan hanya melotot menatap sahabatnya dengan tajam.


“Tunggu … kau … Kara? Kenapa kau berpenampilan seperti ini?” tanya Rein begitu mengamati lebih dekat.


“Seharusnya aku yang bertanya, Rein. Apa yang kau lakukan dengan wanita rubah itu? Di ruangan tertutup? Hanya berdua? Dan sekarang wanita itu rupanya dibius,” selidik Chiara langsung mencecar Rein dengan banyak pertanyaan.


“Whoa … tunggu Kara. Aku bisa menjelaskan situasi ini,” ujar Rein. Pemuda itu lantas berjalan masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa merah yang ada di sana.


“Sebaiknya alasanmu masuk akal, Reinhart Gilian,” ancam Chiara sembari mengikuti sahabatnya duduk di sofa.


“Tampaknya Nona Lea mencoba tidur denganku. Dia memasukkan obat bius di minumanku tapi aku berhasil menukarnya. Begitulah kenapa dia bisa tidur dengan tenang,” terang Rein sembari menuang sebotol brandy dalam gelas Kristal.


“Apa?!” seru Chiara langsung berdiri dari tempat duduknya. “Perempuan gila itu benar-benar …” geramnya penuh amarah.


Chiara menyambarnya dengan kasar lantas menegak isinya sampai habis. “Sudah kubilang padamu untuk tidak bergaul dengan orang-orang berbahaya di tempat ini. Aku bahkan melarangmu datang ke kasino. Tapi kenapa kau malah pergi sendiri tanpaku? Hari ini aku sudah berniat untuk tidak kemari, dan gara-gara kau … argh!” Chiara terus merepet panjang lebar.


Sementara itu Rein justru menuang brandy lagi dengan tenang seolah omelan Chiara sama sekali tidak mempengaruhinya.


“Maaf karena sudah membuatmu khawatir. Lain kali aku akan lebih berhati-hati,” jawab Rein kemudian.

__ADS_1


Chiara menghela napas panjang sambil menatap sahabatnya dengan kesal. Akan tetapi, melihat Rein yang tersenyum hangat padanya membuat kemarahan Chiara sedikit mereda. Gadis itu pun kembali duduk di sofa.


“Tapi kenapa kau datang dari luar?” tanya Chiara kemudian.


“Aku mencarimu di bawah. Kupikir seharusnya kau sudah sampai,” jawab Rein ringan. “Kenapa kau datang siang sekali? Tidak biasanya kau muncul setelah lewat tengah hari.”


“Hari ini sebenarnya aku tidak berniat untuk ke sini. Aku mencarimu di toko karena membutuhkan bantuan, tapi kau malah meninggalkan surat aneh itu,” gerutu Chiara sembari meminta segelas brandy lagi.


Rein menuangkan botol brandynya ke gelas kosong milik Chiara sambil tersenyum kecil. “Maaf. Aku tidak tahu kalau hari ini adalah hari libur berjudimu.”


“Bukan begitu. Aku mengalami masalah semalam. Seekor diabos masuk ke kamarku saat tengah malam karena jendela kamarku yang rusak. Aku nyaris mati dimangsa, tapi seorang pemuda asing menyelamatkanku.”


Botol brandy yang dipegang Rein tiba-tiba tergelincir jatuh di atas meja porselen dan menghasilkan suara benturan yang cukup keras. Beruntung botol itu tidak pecah. Namun sebagian besar isi alkoholnya tumpah.


“Pemuda asing di dalam kamarmu? Kau membawa laki-laki masuk … ?” tanya Rein sembari menatap Chiara dengan tajam.


“Orang lain biasanya fokus pada kejadian penyerangan diabos, tapi kau justru menanyakan hal itu?” sergah Chiara sambil menarik napas panjang.


“Tentu saja aku juga khawatir soal diabos itu. Kita harus segera memperbaiki jendela kamarmu. Tapi siapa laki-laki itu?”

__ADS_1


“Entahlah. Aku juga baru pertama bertemu dengannya. Itu bukan informasi penting yang harus dibahas, Rein,” ujar Chiara menutup pembicaraan.


Rein hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan amarahnya. 


__ADS_2