Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 1: Aries] Pengejaran


__ADS_3

Pagi-pagi buta Airyung sudah membangunkan Ānaru. Langit masih gelap ketika Airyung melepas tambatan tali kekang kudanya. Orang tua Ānaru juga terlihat sudah siap melanjutkan perjalanan. Setelah sarapan singkat dengan sisa bekal yang dibawa dari rumah, rombongan itupun berangkat.


Dengan berjalan kaki, perjalanan mereka seharusnya dapat ditempuh dalam waktu tujuh hari. Mereka berempat berjalan tanpa banyak bicara, menembus kabut tebal yang memburamakan pandangan.


Suara tapal kuda mengiringi perjalanan mereka membelah kabut. Udara yang lembab dan dingin membuat Ānaru terus-terusan meremas jemarinya. Ia melirik ke kedua orang tuanya yang pasti lebih menderita karena tubuh mereka sudah renta.


“Apa kita memang harus berangkat sepagi ini, Airyung? Udara sangat dingin,” tanya Ānaru kemudian.


“Lebih baik menahan rasa dingin itu daripada tersusul para uluwero, Ānaru. Kau tidak mau jadi penjahat betulan, kan?” Airyung balas bertanya.


Ānaru tak menjawab. Kata-kata Airyung memang benar. Kalau harus berhadapan dengan para uluwero, Ānaru terpaksa melukai mereka untuk meyelamatkan diri. Itu bisa berakibat buruk pada reputasinya yang sudah hancur. Akhirnya mau tak mau mereka pun terpaksa melanjutkan perjalanan di tengah kabut yang membeku.


Menjelang siang, orang tua Ānaru tampak sudah kepayahan. Mereka berdua sudah tak sanggup lagi berjalan lebih jauh. Akhirnya Airyung memutuskan untuk beristirahat di tepi hutam mati. Mereka kembali membuka bekal dan makan siang untuk mengisi tenaga.


Sekitar tengah hari, Airyung sudah mendesak mereka untuk melanjutkan perjalanan. Tapi kondisi orang tua Ānaru masih begitu lemah, terutama matu-nya yang memang sudah sakit-sakitan.


“Tinggalkan saja kami di sini, Ānaru. Kau pergilah. Kami akan menyusul setelah kondisiku membaik. Desa itu ada di balik hutan mati ini. Pergilah,” kata matu-nya dalam bahasa Khitai.


Tentu saja Ānaru menolak meninggalkan kedua orang tuanya. Bila mereka terpisah, entah apa yang akan terjadi pada kedua orang tuanya. Pada akhirnya, Airyung mengalah dan mereka baru bisa kembali berjalan setelah senja hampir menjelang.


“Kalau kita berjalan dengan kecepatan ini, malam nanti pasukan uluwero sudah menyusul kita, Ānaru,” gerutu Airyung.


“Aku tidak peduli. Sekarang yang penting adalah keselamatan kedua orang tuaku,” jawab Ānaru.

__ADS_1


“Kalau begitu biar mereka mengendarai Tsagan saja. Aku yang menuntunnya,” ujar Airyung menawarkan.


Akhirnya keputusan itu pun disetujui semua pihak. Orang tua Ānaru pun tidak bisa menolak karena hal itu hanya akan memperlambat perjalanan mereka.


Akhirnya malam pun tiba. Rombongan Ānaru tepat berada di jantung hutan mati. Pepohonan kering yang meranggas berdiri rapat. Batang-batangnya yang berwarna hitam membuat siluet malam terasa mencekam. Tanah yang kering memperlihatkan retakan-retakan gelap di sana-sini. Di tengah keremangan itu, Airyung menemukan tempat yang cukup lapang untuk membuat api unggun.


Keretak api unggun menemani mereka melewati malam. Baik Airyung maupun Ānaru terus waspada sepanjang malam, karena kegelapan di hutan mati bisa menjadi persembunyian para kinokambe.


Tiba-tiba di kejauhan Ānaru mendengar suara derap langkah mendekat. Ānaru dan Airyung segera bangkit berdiri dengan waspada. Keduanya mencabut senjata masing-masing, bersiap untuk melawan hal yang terburuk: kinokambe.


Tapi ternyata perkiraan mereka meleset. Alih-alih kinokambe, serombongan laki-laki berbadan besar justru muncul dari kegelapan. Jumlah mereka tak lebih dari lima orang. Nyala api unggun memperlihatkan seragam uluwero yang mereka kenakan. Tapi betapa terkejutnya Ānaru, ternyata Kaharap adalah salah satu dari mereka.


“Ketemu kau, bocah,” sergah Kaharap begitu melihat Ānaru.


“Tangkap dia,” perintah Kaharap tadi pada rekan-rekannya.


Tapi sebelum para uluwero itu sempat mendekat, Airyung dan Ānaru sudah mengeluarkan senjata mereka masing-masing, bersiap melindungi diri.


“Jangan macam-macam,” sergah Ānaru.


“Heh, jadi kau mau melawan, bocah? Kau sudah kabur dari penjara, dan sekarang berani melawan uluwero. Kau tidak pantas menjadi anggota suku Khitai,” ucap Kaharap.


“Dia memang sudah kerasukan roh jahat. Karena itu gembala biasa seperti dia bisa mengikuti ujian uluwero, bahkan sampai ke tahap terakhir,” ucap yang lainnya.

__ADS_1


“Kenapa kau harus melakukan sampai sejauh ini, Kaharap? Apa kau tidak puas sudah membuatku menjadi buronan?” suara Ānaru bergetar karena menahan amarah yang siap membuncah.


Kaharap hanya tertawa mengejek menanggapi Ānaru. “Sudah ku katakan, kau harus lenyap dari hadapanku, Ānaru. Selama kau masih hidup, aku tidak akan berhenti mencari cara untuk membunuhmu,” ucap Kaharap kemudian.


“Lebih baik kau membunuhku sejak dulu, Kaharap. Sekarang, sudah terlambat untuk melakukannya,” derai Ānaru yang kemudian melesat menyerbu Kaharap dengan serangan tercepatnya.


Kaharap segera menghindar di saat yang tepat. Mereka pun terlibat pertarungan sengit di tengah gelapnya hutan kematian. Ānaru meraung marah setiap melancarkan serangan. Ia ingin menggunakan kemampuan teleportasinya, tapi tubuhnya ternyata tidak bisa begitu saja mengikuti pikirannya. Ānaru hanya bisa menyerang dengan jurus yang biasa diajarkan Airyung padanya.


Selama beberapa saat Ānaru bertempur, ternyata Airyung sudah membereskan empat uluwero lain yang mengikuti Kaharap. Empat orang itu terbaring di tanah, tak sadarkan diri. Kondisi Ānaru justru tidak terlalu baik. Kemarahan membuatnya sulit mengontrol gerakan. Beberapa kali serangan Kaharap mengenai tubuhnya dan membuatnya terlempar menabrak pohon kering.


Ānaru menolak menyerah. Pemuda itu kembali bangkit walu rusuk dan bahunya terasa sangat sakit. Mungkin patah, atau setidaknya retak. Setelah meludahkan darah dari mulutnya, Ānaru kembali berderap ke arah Kaharap. Sayangnya Kaharap sudah bersiap akan hal itu. Akhirnya satu pukulan pamungkas Kaharap berhasil membuat Ānaru limbung lalu terjerembab jatuh.


“Jangan bermimpi bisa mengalahkanku, Ānaru. Sampai kapanpun kau itu tetap lemah. Dan selamanya akan seperti itu,” ucap Kaharap mencemooh.


Ānaru mengepalkan tangannya di atas tanah kering. Darah segar keluar dari mulut dan hidungnya. Kemarahan membuat darahnya seperti naik ke ubun-ubun. Dengan sisa tenaga, Ānaru mencoba bangkit, namun Kaharap menahannya dengan menginjak kepala Ānaru. Airyung yang melihat hal itu bergegas menyerang Kaharap. Tapi Ānaru mencegahnya.


“Berhenti, Airyung! Ini pertarunganku, jangan ikut campur!” seru Ānaru dengan kepala yang setengah terbenam dalam tanah.


Kaharap mendengus geli. “Keadaanmu sudah seperti ini tapi kau masih bisa sombong, bocah budak? Akan kutunjukkan apa itu kehancuran."


Kaharap lantas menjejakkan kakinya ke kepala Ānaru dengan begitu keras hingga menimbulkan bunyi krak mengerikan. Airyung memekik ngeri melihatnya. Kepala Ānaru sudah melesak semakin dalam ke tanah. Rasa sakit tak tertahankan segera dirasakan oleh Ānaru. Kepalanya berdenyut-denyut nyeri dan napasnya pun tercampur dengan pasir. Detik berikutnya, Ānaru kehilangan kesadaran. 


...***...

__ADS_1


__ADS_2