Sign Of Zodiac: Aries

Sign Of Zodiac: Aries
[Sign 4: Cancer] Skandal


__ADS_3

Selama beberapa hari kemudian, Damian masih belum memutuskan untuk menerima kasus Arabela atau tidak. Meski begitu, seiring berjalannya waku, kepulangan Damian ke rumah keluarganya sudah tidak menjadi masalah lagi. Mereka kembali duduk bersama saat makan malam seolah tidak terjadi apa-apa. Meski begitu ketegangan rasanya tetap menyelimuti kediaman keluarga Castor.


Beruntung Arabela sepertinya tidak berniat untuk mendesak Damian lagi. Seperti biasa, Damian memilih untuk menghindarinya daripada harus menjadi jengkel karena mengingat pembicaraan terakhir mereka. Semakin lama Damian semakin tidak nyaman berada di rumah. Ia banyak menghabiskan waktunya di Red Lotus bersama Cassie atau sesekali berkunjung ke kediaman Viscountess Gausse.


Sayang, ayah Damian akhirnya mendengar kabar tidak sedap tentang putranya yang menjalin hubungan terlarang dengan janda bangsawan. Sang ayah yang biasanya bersikap tak acuh pun memanggil Damian ke ruang kerjanya pada suatu malam. Tanpa perlu menebak-nebak, Damian sudah langsung tahu apa yang akan dibicarakan oleh sang kepala keluarga Castor tersebut.


Damian berjalan melewati lorong kediamannya menuju ruang kerja sang ayah. Ibunya sama sekali tidak menemuinya karena larut dalam kesedihan akiba rumor buruk yang menimpa Damian. Meski begitu Damian tetap santai, seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.


Sesampainya di ruang kerja sang ayah, Damian mengetuk beberapa kali. Terdengar suara Duke Castor yang menyuruhnya masuk. Tanpa ragu pemuda itu pun membuka pintu dan masuk ke ruangan yang dihiasi banyak ornamen emas. Meja kerja ayahnya berada di ujung ruangan, dekat dengan perapian yang menyala terang.


Duke Castor sudah menunggu Damian, duduk di salah satu sofa yang ada di depan pintu. Wajahnya tampak lelah, dengan keriput di sana sini. Rambunya yang coklat sudah berubah putih karena usia.


“Duduk, Damian,” perintah ayahnya datar.


Damian menurut. Pemuda itu duduk di sofa panjang tak jauh dari tempat sang ayah berada.


“Aku yakin kau sudah tahu alasanku memanggilmu kemari,” ujar sang ayah tanpa basa basi.


Damian masih terdiam. Ia memang tidak banyak bicara terutama kepada ayahnya. Semua orang tahu kalau Duke Castor tidak terlalu peduli pada anak-anaknya, kecuali Titus yang akan menjadi pewaris. Karena itu Damian tidak merasa perlu berbaik-baik dengan ayahnya tersebut.


“Aku sudah cukup menoleransi tingkah lakumu selama ini. Kau bermain wanita di tempat pelacuran, atau pekerjaanmu sebagai provokator … .”


“Delator,” ralat Damian memotong kalimat sang ayah.

__ADS_1


Duke Castor hanya mendengkus pelan. “Istilah yang payah untuk menamai tukang gosip,” komentarnya sarkastik.


Damian bergeming. Ia sudah tidak peduli sekalipun ayahnya berpikir demikian. Pekerjaannya memang mencari kelemahan orang lain. Akan tetapi ia melakukannya untuk menghukum orang-orang yang pantas dihukum.


“Aku membiarkanmu menikmati pekerjaan yang kau puja-puja itu, sekalipun semua omong kosongmu di pengadilan itu sudah mengakibatkan banyak kekacauan,” lanjut Duke Castor terus merundung putra bungsunya. “Tapi sekarang sikapmu sudah benar-benar keterlaluan. Kau merendahkan dirimu sendiri dengan menjalin hubungan bersama seorang janda bangsawan? Perempuan yang bercerai gara-gara kesaksianmu. Benar-benar memalukan.”


“Dia bercerai karena suaminya yang brengsek,” gumam Damian membela diri.


“Lalu apa bedanya denganmu?” hardik Duke Castor meninggikan suaranya. Damian terdiam.


“Kau sama bodohnya dengan laki-laki itu. Menikmati istri orang lain hanya untuk kesenanganmu. Semua orang berpikir kalau kau adalah penyebab utama Viscountess itu meminta cerai!” bentak sang ayah mulai marah.


“Aku melakukannya setelah dia bercerai,” kata Damian ringan.


“Dan kau bangga melakukannya?” sergah Duke Castor penuh amarah. “Kakak-kakakmu tidak pernah membuat masalah seperti ini. Kau satu-satunya anak yang merusak keluarga kita. Apa kau puas setelah menginjak-injak harga diri keluarga Castor?


“Apa yang kurang dari hidupmu? Kau dilahirkan di keluarga yang menguasai wilayah ini, putra seorang Duke. Bahkan jika kau tidak bekerja, kekayaanku bisa membuatmu hidup sampai akhir hayatmu. Kau tidak kekurangan wanita, dank au punya tunangan!” bentak sang ayah murka.


Damian menghela napas pelan. “Baiklah. Aku akan berhenti menemui Viscountess itu. Itu yang ayah inginkan?” tantang Damian sembari menatap langsung ke mata ayahnya.


Sang ayah masih mendelik lebar. Dadanya naik turun menahan amarah. Duke Castor menatap Damian seolah putra bungsunya itu adalah musuh yang paling dia benci.


“Pergilah ke selatan, wilayah Baron Brutus. Sebentar lagi akan ada acara debutante untuk putrinya yang juga merupakan tunanganmu. Ini waktu yang tepat bagimu untuk menemuinya,” perintah sang Duke kemudian.  

__ADS_1


Damian terdiam. Lucelia Brutus. Itulah nama tunangannya. Ia belum pernah bertemu dengan gadis itu secara langsung, meski mereka sudah sering berkirim surat. Sebenarnya Damian tidak terlalu berselera untuk menemui tunangannya tersebut sekarang. Gadis itu lima tahun lebih muda dari Damian. Dan apa yang bisa diharapkan oleh Damian dari seorang anak kecil seperti itu.


Akan tetapi, suasana di rumahnya juga sedang sangat tidak kondusif. Ia mengerti perintah ayahnya tersebut semata-mata juga untuk meredakan rumor tentang Damian di kota. Karena itu sang ayah memerintahkannya pergi ke daerah yang jauh di pinggiran. Sepertinya memang itu adalah satu-satunya jalan kali ini. Damian juga ingin menenangkan diri. Karena itu ia pun menyetujui saran ayahnya.


“Baik, Ayah. Aku akan segera berangkat besok pagi,” kata Damian kemudian.


Sang ayah hanya menatap tajam pada Damian. “Pastikan kau tidak membuat masalah di sana,” geram ayahnya serius.


“Baik, Ayah. Kalau begitu aku pergi,” ucap Damian lantas bangkit berdiri dari tempat duduknya lantas melangkah pergi dari ruang kerja sang ayah.


 


Esok paginya, sesuai dengan perintah ayahnya, Damian bersiap-siap pergi menuju wilayah Baron Brutus yang ada di selatan. Ia bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan segala kebutuhannya. Dua belas ksatria keluarga Castor ikut mengawalnya beserta seorang kusir dan kereta kuda yang mewah.


Ibu Damian akhirnya menemui putranya dan menangis tersedu-sedu dalam pelukan Damian. Sang ibu tampak begitu berat melepas Damian pergi.


“Putraku, kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu sampai-sampai ayahmu tega mengusirmu pergi dari rumah,” ratap Nyonya Castor berurai air mata. Mantel baru Damian jadi basah gara-gara ibunya menangis dalam pelukannya.


“Ibu, ayah tidak tidak mengusirku. Tunanganku akan mengadakan debutante. Tentu saja aku harus datang,” jawab Damian tabah.


“Tapi tempa itu sangat jauh Nak. Tidak pernah ada yang bepergian sejauh itu sekalipun bersama para ksatria. Deimheim itu … roh jahat bisa menangkapmu. Jangan pergi, Damian. Biar putri keluarga Brutus saja yang dikirim ke sini.” Sang Duchess terus meratap sambil terisak-isak.


“Aku akan baik-baik saja, Ibu. Aku berjanji akan segera kembali dengan selamat.” Damian terus membujuk.

__ADS_1


Akhirnya setelah selama satu jam lebih Nyonya Castor merengek, Damian pun berhasil melepaskan diri. Ia berangkat dengan para ksatria dan kereta kuda mewah berwarna putih emas. Tidak ada yang mengatar kepergian Damian. Hanya ibunya saja. Sementara ayah dan kakak-kakaknya tidak kelihatan batang hidungnya. 


__ADS_2