
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Rein? Kenapa bicara dengan sembarang orang?” omel Chiara begitu ia dan Rein sudah sampai di ruang rahasia mereka di toko barang antik.
“Memang apa salahnya berkenalan dengan orang baru? Kau sendiri berkumpul bersama banyak laki-laki,” balas Rein sembari melepas tuksedonya.
“Mereka bukan temanku,” sergah Chiara di depan cermin. Ia melepas rambut palsunya yang berwarna abu-abu lalu menyimpannya di dalam kotak kayu mengilap.
“Entahlah. Kau terlihat menikmati waktumu bersama mereka,” tukas Rein sinis.
Chiara berhenti sejenak dari aktifitasnya menghapus riasan. Gadis itu menatap tajam ke arah cermin yang memantulkan bayangan Rein. “Jadi kau marah sekarang? Bukannya seharusnya aku yang marah?” tanyanya dengan alis bertaut.
“Aku tidak mengerti kenapa kita harus berdebat tentang hal ini,” desah Rein lelah.
“Seharusnya aku yang bilang begitu,” bantah Chiara tak mau kalah. “Ini terakhir kalinya aku mengizinkanmu ikut ke kasino, Rein.”
Rein mengdengkus tak percaya lantas berbalik ke arah Chiara sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa aku perlu izinmu untuk pergi ke Venetian?”
“Kau bahkan tidak suka berjudi, jadi apa yang mau kau lakukan di sana? Menjadi mangsa para rubah betina yang berniat menyedot habis semua hartamu?”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Kara. Bukannya justru kau yang selalu butuh bantuanku untuk menutupi semua kebohonganmu?”
Chiara benar-benar naik pitam. Padahal dia melarang Rein pergi ke kasino semata-mata demi kebaikannya sendiri. Akan tetapi pemuda itu terlalu keras kepala dan tidak mau kalah. Chiara sudah kehabisan kata-kata. Terlebih lagi dia juga tidak suka berdebat.
__ADS_1
“Terserah kau saja.” Akhirnya hanya itu kalimat yang bisa terlontar dari mulut Chiara. Gadis itu lantas melepas gaun mewahnya dan menyimpan di lemari antik besar yang ada di sudut ruangan. Setelah mengganti gaun itu dengan baju lusuhnya yang biasa, Chiara pun segera melesat pergi meninggalkan Rein sendirian sambil bersungut-sungut.
“Anak itu benar-benar tidak bisa dinasehati. Kalau belum mengalami kesialan sendiri, ia tidak akan sadar. Terserahlah. Aku tidak mau peduli lagi,” gumam Chiara dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Gadis itu sedang berjalan melewati jalan utama kota Valas yang ramai ketika mendadak langkahnya disejajari oleh orang lain. Seorang anak laki-laki yang sedikit lebih muda darinya. Anak itu memiliki warna rambut dan mata gelap persis seperti Chiara, tetapi sejengkal lebih tinggi dari gadis itu.
“Kau dari mana saja, Kak? Ibu mengomel sepagian karena kau tidak pernah membantu dia mengurus rumah,” sapa anak itu dengan akrab.
“Jangan ikut campur urusan orang dewasa, Kale. Hidupmu juga tidak lebih baik dariku. Sebaiknya kau pulang sekarang atau kau mungkin akan bernasib sama seperti ayah yang harus membawa bayi hasil hubungan gelap ke rumah. Kita tidak punya cukup uang untuk membiayayai anak-anakmu juga,” balas Chiara ketus.
Ekspresi Kale tampak terluka. Akan tetapi anak laki-laki itu memaksakan diri untuk tersenyum dan bersikap santai.
Chiara melotot menatap adiknya yang hanya dua tahun lebih muda darinya. “Berhenti menyinggung soal perjudian, Kale. Aku benci mendengarnya dari mulutmu,” geram Chiara marah.
Kale hanya mengangkat bahu dengan ringan. “Kalau begitu kakak juga harus berhenti menganggapku sebagai pria hidung belang,” ujarnya pendek.
“Itu bukan sekedar anggapan, tapi kenyataan.”
Kale hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi sifat kakaknya yang sangat keras kepala itu. Suasana hati kakaknya itu memang selalu buruk. Akan tetapi hari itu rasanya jauh lebih parah dari biasanya. Kale tidak perlu bertanya karena dia sudah tahu jawabannya. Kakaknya itu pasti sedang bertengkar dengan Rein. Karena tidak ingin memperkeruh keadaan, Kale pun memutuskan untuk mengalah. Ia membiarkan kakaknya berjalan sendiri ke rumah sementara ia berbelok di gang dekat pasar kota.
“Sampai jumpa saat makan malam kalau begitu, Kak. Aku mungkin akan pulang kalau aku kelaparan,” kata Kale berpamitan sembari melambaikan tangan.
__ADS_1
Chiara hanya berdecih pelan dan melirik adiknya dengan pandangan iri. Betapa bebasnya menjadi anak laki-laki. Mereka bisa pergi kemana pun dan kapan pun sesuka hati, tanpa perlu merasa risau akan mengalami tindakan kejahatan atau pandangan buruk orang lain. Ibunya bahkan membiarkan Kale bertindak sesuka hatinya tanpa pernah ditegur. Sementara Chiara yang hanya pergi selama beberapa jam setiap hari justru selalu dicela dan dan dimarahi. Padahal dia pulang membawa uang yang cukup untuk ibunya.
Kekesalan hati Chiara tidak surut juga hingga ia sampai di rumah. Seperti dugaannya, sang ibu mulai mecercanay begitu masuk melewati pintu depan. Chiara menerima semua omelan dan keluh kesah ibunya dengan hati setabah mungkin. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat hari itu.
Ibunya baru diam setelah gadis itu kembali memberikan sekantong uang perak. Meski begitu, ibunya tetap menyuruh Chiara untuk melakukan pekerjaan rumah sebelum akhirnya beliau pergi mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Chiara mendesah lesu melihat setumpuk kain dan baju kotor yang belum dicuci selama tiga hari. Dua ember besar pakaian kotor menunggu untuk dicuci dengan tangannya sendiri. Benar-benar hari yang melelahkan.
Malam harinya, Kale tidak pulang ke rumah. Itu artinya ada dua kemungkinan: Kale tidak lapar, atau sudah mendapat makanan yang lebih mewah entah dari perempuan mana lagi. Chiara, sementara itu, harus puas dengan makan malam sederhana berupa sepotong roti kering yang sudah sedikit berjamur. Ia mendapat jatah makanan yang paling tidak layak karena dua adiknya yang masih kecil membutuhkan asupan nutrisi yang lebih baik. Karena itu mereka bisa mendapat telur mata sapi atau bahkan daging kelinci kalau sedang beruntung. Chiara tentu saja tidak mungkin mendapat kesempatan semacam itu di rumah ini. Makanan paling mewah yang pernah ibunya berikan adalah buah apel yang sudah nyaris busuk.
Chiara tidak mengeluh karena melihat ibunya bahkan tidak menyantap makan malam. Beliu hanya sibuk menyiapkan makanan lalu membereskan meja setelah semua selesai makan. Ayahnya bahkan sama sekali tidak terlihat sungkan saat memakan sepotong daging ham sisa kemarin. Para laki-laki punya keistimewaan untuk mendapat makanan enak. Sementara perempuan-perempuan harus mengalah karena dianggap tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga untuk tubuhnya yang ramping nyaris sekurus tengkorak. Sebanyak apa pun uang yang Chiara berikan pada ibunya, tetap saja masakan yang terhidang di meja makan itu selalu jauh dari kata layak. Sebenarnya seberapa banyak hutang ayahnya? Chiara sudah malas untuk menghitung.
Gigi Chiara rasanya nyaris copot ketika menggigit roti keringnya yang sudah sangat keras. Aroma jamur juga menguar hingga menusuk hidung. Namun ia tetap memaksa diri untuk menghabiskan makanannya. Kalau tidak drama keluarga bisa-bisa terjadi di meja makan itu. Ayahnya mulai merepet tentang betapa sulitnya ia bekerja dan mencari uang, lalu Chiara dianggap sama sekali tidak bisa menghargai. Padahal selama ini, tanpa ayahnya tahu, anak gadisnya itulah yang selalu melunasi hutang judinya.
“Ibumu bilang kau pergi lagi pagi-pagi buta tadi. Ini sudah berapa hari kau berkeliaran sejak matahari belum terbit?” kata ayahnya membuka drama di jam makan malam.
Chiara mengumpat dalam hati. Padahal dia sudah mati-matian berusaha makan dengan tenang bak bangsawan anggun. Ditambah dia juga sudah menyelesaikan banyak pekerjaan rumah hari ini. Namun kenapa masalah ini masih saja diungkit-ungkit.
“Rein memintaku membantunya di toko,” jawab Chiara seadanya.
Ayahnya tampak berpikir sejenak. “Aku bersyukur kalau kau bisa dekat dengan Rein. Anak itu punya masa depan yang baik. Keluarga kita akan sangat terbantu kalau dia bisa jadi menantuku.”
__ADS_1