Sistem Kebangkitan

Sistem Kebangkitan
Rumah Baru Untuk Anak-Anak Panti


__ADS_3

Bryan mengarahkan mobilnya menuju rumah hadiah sistem yang berada di bagian barat kota tempat tinggalnya, dan keberadaan rumah ini tak terlalu jauh dari pantai. Hanya berjalan kaki sekitar lima menit dari rumah, maka sudah dipastikan dia dapat melihat keindahan pantai.


“Rumah ini akan menjadi rumah panti baru dan kepemilikan rumah ini sepenuhnya menjadi milik ibu panti. Jadi, ke depannya anak-anak panti tak perlu terusir dari rumah mereka!” ucap Bryan pada Eve dan Nayla, begitu ketiganya keluar dari mobil, dan melihat rumah yang mulai hari ini akan menjadi rumah panti.


“Bryan, apa kamu tidak sedang bercanda? Apa benar rumah ini ingin kamu berikan pada ibu panti dan anak-anak panti bisa tinggal di tempat ini?” tanya Eve yang masih belum percaya dengan niat baik, yang dimiliki Bryan.


Bryan menyunggingkan senyuman di bibirnya, lalu dia meyakinkan Eve kalau rumah di hadapan mereka diberikannya pada ibu panti untuk dikelola menjadi sebuah panti asuhan. Ke depannya Bryan juga akan menjadi donatur tetap panti asuhan.


“Selain rumah untuk tempat tinggal anak-anak panti, aku juga akan menjadi donatur tetap panti asuhan, dan aku akan menjamin biaya pendidikan untuk anak-anak panti sampai mereka tumbuh dewasa dan mandiri. Kalau perlu, kelak di masa depan aku akan membuatkan lapangan kerja untuk mereka,” ungkap Bryan, membuat kedua Eve berkaca-kaca saat mendengar semua itu.


Eve tidak menyangka Bryan benar-benar sosok pria yang sangat baik dan peduli dengan anak-anak tanpa kasih sayang kedua orangtuanya. Sekarang dia merasa pilihan hatinya sangatlah tepat, dan Bryan memang sangat layak mendapatkan cintanya. Meski harus berbagi dengan Nayla, dia sama sekali tidak keberatan.


“Oh iya, apa perabotan di dalam rumah sudah tersedia lengkap? Kalau belum, sebaiknya kita segera membelinya!” ucap Nayla, dan Bryan segera sadar kalau dia belum melihat bagian dalam rumah.


Mengambil kunci rumah dari saku celananya, Bryan langsung membuka pintu rumah, dan seketika ketiganya dikejutkan dengan keadaan rumah yang sudah terisi barang-barang.


Masuk ke dalam rumah, ketiganya berkeliling melihat-lihat keadaan rumah.


“Semua perabotan sudah lengkap, dan semua dalam keadaan siap pakai,” ucap Nayla.


Melihat kamar yang ada, semua terlihat diatur seperti kamar panti dengan adanya beberapa ranjang tingkat, dan satu kamar berukuran tujuh kali tujuh meter setidaknya mampu menampung enam anak panti.


“Dari banyaknya kamar, tempat tidur bertingkat, tempat bermain di bagian belakang, serta keberadaan buku-buku bacaan untuk anak-anak, entah kenapa rumah ini serasa telah dipersiapkan khusus untuk dijadikan panti asuhan. Bryan, apa mungkin sebelumnya kamu memang ingin membuka sebuah panti asuhan?” tanya Eve pada Bryan.


“Bisa dikatakan seperti itu,” jawab Bryan, dan dia semakin kagum dengan sistem yang telah menyediakan rumah dengan perlengkapan yang memang dibutuhkan sebuah panti asuhan.

__ADS_1


“Bagaimana menurutmu tentang pria pilihan kita? Tampan iya, kaya iya, kuat iya, dan lagi dia sangat baik. Dari semua yang aku sebutkan, bukannya dia sangat sempurna?” Tak langsung apa yang diucapkan Nayla adalah sebuah pujian beruntun pada Bryan.


“Dia pria yang sangat sempurna, dan bisa menjadi bagian dari hidupnya adalah keberuntungan terbesarku,” ungkap Eve.


“Apa kalian berdua masih ingin terus melanjutkan pujian untukku? Lihat, mereka sudah datang, dan kita harus menyambut kedatangan mereka!” ucap Bryan yang masih terlihat tenang, meski dalam hatinya dia sangat senang mendapatkan pujian tak langsung dari Nayla maupun Eve.


Nayla dan Eve yang melihat mobil minibus memasuki halaman rumah, mereka segera keluar meninggalkan Bryan yang berjalan santai dibelakang keduanya.


Dari mobil minibus yang dikemudikan langsung supir pribadi Nayla, belasan anak panti keluar bersama dua wanita pengelola panti, yang selama ini dipanggil ibu oleh anak-anak termasuk Eve yang dibesarkan oleh keduanya.


Melihat anak-anak panti keluar mobil dengan wajah cerah ceria tak seperti sebelumnya yang murung dan sedih, Bryan yang melihatnya merasa senang, dan dia merasa sudah seharusnya anak-anak panti mendapatkan apa yang mereka butuhkan sebagai anak-anak.


Bryan melangkah maju dan membawa anak-anak panti melihat rumah baru mereka, dan terakhir melihat kamar yang ke depannya akan mereka tempati. Sedangkan Nayla dan Eve, mereka membantu kedua ibu panti memasukkan barang-barang kebutuhan sehari-hari, yang sebelumnya dibawa dari rumah panti yang lama.


Anak-anak panti sangat senang melihat rumah baru mereka, dan sekarang pria dan wanita berada di kamar terpisah tak seperti sebelumnya dimana mereka semua berada dalam ruangan yang sama. Kamar anak-anak serta kamar salah satu ibu panti berada di lantai dua. Di lantai satu hanya ada satu kamar yang ditempati, dan yang menempati adalah ibu panti satunya, dan tiga anak panti yang masih balita.


Kembali ke lantai satu bersama anak-anak yang telah puas melihat kamar mereka, Bryan mencari keberadaan Nayla untuk membantunya menyelesaikan masalah kurangnya tenaga kerja panti, dan tentang keamanan panti.


Menemui Nayla dan menceritakan masalah yang dihadapinya, dengan sangat mudah Nayla membantu menyelesaikan masalahnya. Dua petugas panti serta tiga penjaga sore ini akan datang ke panti, dan segera Bryan mengatakan semua itu pada kedua ibu panti.


Keduanya senang karena ada tenaga tambahan untuk membantu mereka yang tak lagi muda, serta dengan adanya penjaga, mereka yakin kejadian sebelumnya tak akan terjadi lagi.


Selesai makan siang bersama dan mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening panti asuhan, Bryan, Nayla dan Eve, mereka pamit.


Eve menjadi yang paling lama pamit karena mulai hari ini dia tak lagi tinggal di panti, tapi dia berjanji akan sering mengunjungi panti.

__ADS_1


Tak terlihat kesedihan di wajah kedua ibu panti. Keduanya justru senang karena Eve telah tumbuh dewasa, dan tumbuh menjadi wanita mandiri.


Mobil yang dikemudikan Bryan segera melaju meninggalkan panti, setelah Nayla dan Eve masuk ke dalam mobil.


“Bagaimana kalau kita ke pantai?” ujar Nayla, yang sudah lumayan lama tidak melihat keindahan pantai.


Eve setuju dengan itu, sedangkan Bryan yang jelas menyukai keindahan pantai, dia sama sekali tidak keberatan menikmati suasana siang menjelang sore di tepian pantai.


Musim dingin memang tak lama lagi datang, tapi karena matahari bersinar terang, banyak pengunjung yang berkunjung di pantai. Meski tidak seramai akhir pekan atau di saat musim panas, Bryan dan kedua wanitanya yang baru sampai di pantai, mereka bisa melihat pemandangan orang-orang yang sedang menikmati keindahan pantai.


Memesan tiga cup minuman hangat untuk dinikmati sambil berjalan-jalan di tepian pantai, mereka sangat menikmati keindahan pantai. Namun, kesenangan mereka terganggu dengan kedatangan lima orang pria serta dua wanita, dan kebetulan Nayla mengenali salah satu dari mereka.


“Owen, apa maksudmu menghalangi jalan kami? Apa pantai ini telah menjadi properti pribadi keluarga William?” tanya Nayla pada Owen, tuan muda keluarga William, yang merupakan satu dari sepuluh keluarga paling kaya di kota ini.


“Sayang, kenapa kamu terlihat semakin cantik saat marah?” Rayunya. “Oh, aku tidak menghalangi jalanmu, tapi aku cuma ingin kamu dan wanita di sampingmu ikut bersenang-senang dengan kami. Kebetulan kami mengadakan pesta besar di hotel tak jauh dari tempat ini, dan dengan tambahan dua wanita cantik tentunya pesta kami akan semakin sempurna.”


“Aku tidak tertarik dengan pesta yang kalian adakan, begitu juga dengan saudariku. Jadi, sebaiknya kamu segera menyingkir, atau aku bisa cari jalan lain!” Nayla menggandeng tangan Eve, dan dia bermaksud menghindari Owen dan teman-temannya.


Namun pria itu tak begitu saja membiarkan Nayla dan Eve pergi mengabaikan keberadaannya. Dia kembali muncul di hadapan keduanya. “Kalian berdua tidak aku izinkan pergi dari tempat ini, kecuali ikut berpesta dengan kami! Kalian berdua tenang saja, aku dan teman-temanku sangat pintar memuaskan wanita, jadi kita bisa berpesta sampai puas!”


Nayla dan Eve hanya diam tak memberi jawaban. Keduanya memilih putar arah melupakan tujuan awal mereka. Akan tetapi Owen yang sudah lama mengincar Nayla, dia benar-benar tak membiarkan keduanya pergi.


Dia mengulurkan tangan mencoba meraih lengan Nayla, tapi sebuah tangan yang begitu kokoh dan kuat lebih dulu menepis tangannya sebelum menyentuh lengah Nayla.


“Jauhkan tanganmu dari mereka atau aku akan membuatmu menikmati hari-hari yang cukup lama di atas ranjang rumah sakit!” ucap Bryan begitu dingin, membuat merinding siapapun yang mendengarnya.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2