Sistem Kebangkitan

Sistem Kebangkitan
Melakukan Penggerebekan


__ADS_3

[Ding... misis sampingan > tangkap semua orang di dalam bangunan]


[Hadiah misi > 20 pil prajurit super, kekuasaan setengah kekuatan dunia bawah]


Sesaat sebelum Bryan memasuki bangunan dari jalan masuk paling aman, dia mendengar suara sistem yang membuatnya senang.


“Dua puluh pil prajurit super serta kekuasaan setengah kekuatan dunia bawah, aku mau lihat siapa setelah ini yang berani bersinggungan denganku!” Suara lirih terdengar dari mulut Bryan, dan suara itu hanya dia sendiri yang mendengarnya.


Mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan misi sistem, Bryan mengaktifkan kekuatan mata tembus pandangannya dan dia mulai menyusuri rute teraman untuk memasuki bangunan. Tepat di belakangnya ada dua wanita yang mengikutinya dengan hati-hati.


Cukup cepat mereka berjalan dan akhirnya sampai di bagian bangunan setelah melewati jendela rusak, yang berada di sisi kiri bangunan. Tempat masuk mereka adalah tempat dengan penjagaan paling minim, dan Bryan telah memastikan keberadaan sebuah bom dekat dengan titik masuk mereka.


Bryan membawa dua wanita yang bersamanya ke tempat keberadaan bom pertama dari total sepuluh bom yang tersebar di lantai pertama dan kedua. Meski hanya sepuluh bom, daya ledak dan daya hancur bom cukup untuk menghancurkan seluruh struktur bagian bangunan dari bawah sampai atas.


“Bom pertama dari sepuluh bom, aku harap kalian bisa mengurusnya!” ucap Bryan pada Monica dan Jeni begitu mereka sampai di lokasi keberadaan bom yang pertama.


“Serahkan saja semua pada kami!” ucap Monica lalu dengan cekatan dia dan Jeni mulai menjinakkan bom yang terlihat mudah dijinakkan, dan hanya dalam hitungan detik mereka sudah menyelesaikan setengah langkah proses penjinakan.


Memiliki kekuatan mata tembus pandang sebenarnya memungkinkan bagi Bryan untuk menjinakkan bom, dikarenakan dia bisa melihat seluruh struktur bagian luar dan dalam bom, dan bisa menentukan langkah terbaik untuk melakukan penjinakan.


“Kami sudah melakukannya, sekarang kamu bisa membawa kami ke tempat selanjutnya!” Monica dengan bantuan Jeni berhasil menjinakkan bom pertama, dan segera Bryan membawa mereka ke tempat yang terdapat bom lainnya.


Menghindar keberadaan penjaga dengan mudah, akhirnya mereka sampai di ruangan selanjutnya, dan terdapat dua bom di ruangan itu yang letaknya saling berdekatan. Beruntungnya, meski saling berdekatan, keduanya tak saling terhubung.


Seperti sebelumnya, meski kali ini dihadapkan pada dua bom di tempat yang sama, tak sulit bagi Monica dan Jeni menyelesaikan pekerjaan mereka. Dalam kurun waktu tidak lebih dari lima menit, kedua bom berhasil dijinakkan dan mereka kembali melanjutkan perjalanan ke ruang selanjutnya.


Ketika berjalan ke ruang selanjutnya, Bryan bergerak sangat cepat saat melumpuhkan dua penjaga yang mustahil dihindari karena mereka berjaga tepat di pintu masuk ruangan yang terdapat dua bom di dalamnya.


Setelah Bryan membereskan keberadaan dua penjaga, dia membawa kedua wanita yang ikut bersamanya masuk ke dalam ruangan, dan segera kedua wanita itu kembali beraksi menjinakkan bom di dalam ruangan.

__ADS_1


Bryan sendiri melakukan penjagaan di luar ruangan karena dia melihat tiga penjaga berjalan mendekat ke tempatnya saat ini.


“Buugh... Buugh... Buugh...”


“Sangat lemah,” ucap pelan Bryan begitu pukulannya berhasil menumbangkan tiga penjaga yang muncul dihadapannya.


Pukulan yang dilakukan Bryan sangat cepat, bahkan belum sempat ketiga orang itu bereaksi, mereka telah lebih dulu jatuh tak sadarkan diri.


“Lima tumbang, tapi karena ada lima orang lainnya yang turun dari lantai tiga, di lantai satu masih ada lima belas orang, dan mereka berada di sisi lain tempat ini.” Mata Bryan berkilat menunjukkan keberadaan musuh.


Mengetahui jumlah dan keberadaan musuh, kali ini pandangannya tertuju pada Monica yang sekali lagi hampir menyelesaikan pekerjaannya. “Dia sangat terampil dalam menjinakkan bom.”


Setelah berhasil menjinakkan bom keempat dan kelima, setidaknya masih ada lima bom lain yang keberadaannya berada di lantai dua, tapi untuk mencapai lantai kedua bukanlah sesuatu yang mudah karena keberadaan para penjaga di sepanjang jalan menuju lantai kedua.


“Aku akan membereskan mereka lebih dulu!” Melihat keberadaan dua penjaga, Bryan langsung saja maju menyerang mereka.


Setelah melihat apa yang dilakukan Monica dan Jeni, Bryan tak lagi ragu langsung membunuh musuh-musuhnya. Lagipula sistem juga menganggap membunuh sama dengan menangkap musuh, jadi dia tak perlu takut misinya gagal.


Terus bergerak dengan dua wanita yang mengikutinya tak jauh di belakangnya, tanpa ampun Bryan membunuh satu persatu penjaga yang berada di pantai pertama, sampai akhirnya dia dan juga dua wanita yang berada di belakangnya, mereka sampai di tangga menuju lantai kedua.


Di saat mereka ingin lanjut ke lantai kedua, Bryan kembali mengamati keadaan lantai dua yang mana di lantai dua saat ini terdapat tiga puluh penjaga bersenjatakan pistol dan senapan mesin, dan lagi ada dua penjaga yang berdiri tepat di ujung tangga lantai kedua.


Bryan merasa keberadaan musuh bukan suatu masalah, dan tanpa menimbulkan suara dia menjadi yang pertama menaiki anak tangga menuju lantai kedua.


Dua penjaga yang berdiri membelakangi anak tangga di ujung lantai kedua, mereka sama sekali tidak menyadari keberadaan sosok Bryan, dan saat keduanya fokus melihat kedepan pukulan keras menghantam tengkuk mereka, membuat keduanya seketika kehilangan kesadaran.


Bryan menarik turun tubuh keduanya dan membiarkan Monica dan Jeni melakukan eksekusi. “Sekarang aku akan membawa kalian ke ruangan tempat bom selanjutnya! Kebetulan di ruangan ini ada tiga bom yang harus kalian jinakkan!”


Monica dan Jeni menganggukkan kepala, mendengar ucapan Bryan, dan kembali mereka mengikuti pria itu tentunya setelah mengeksekusi dua penjaga yang menjaga di ujung tangga yang menghubungkan lantai kedua dan lantai pertama.

__ADS_1


Dengan mata tembus pandang Bryan membawa kedua wanita yang mengikutinya melewati beberapa penjaga dengan aman, sampai akhirnya mereka sampai di ruangan yang di dalamnya terdapat tiga bom, yang sewaktu-waktu bisa meledak.


Jika lima bom di lantai pertama sangat mudah dijinakkan, terlihat Monica dan Jeni kali ini harus bekerja sedikit lebih keras untuk menjinakkan tiga bom dengan kesulitan dua kali lebih sulit dibandingkan lima bom di lantai pertama.


“Ada yang datang! Kalian tetap di sini dan biar aku yang mengurus mereka!” Bryan keluar dari ruangan, dan dia bersembunyi di dalam kegelapan, tapi kedia matanya jelas melihat pergerakan dari dua orang yang mendekat dari sisi kiri, dan dua orang mendekat dari sisi kanan.


Dari perkiraannya, mereka yang bergerak dari kedua arah akan sampai di tempatnya di waktu hampir bersamaan, dan karena itu dia harus menyelesaikan hidup mereka dengan cepat dan akurat.


Tetap tenang sambil menunggu kedatangan mereka, Bryan mulai mengeluarkan kedua belatinya yang sudah berlumuran darah manusia. Beberapa kali melirik kanan dan kiri, Bryan tiba-tiba saja tersenyum.


“Mereka hanya mengandalkan senjata api dan senapan mesin, tanpa kedua senjata itu, mereka hanyalah sekumpulan orang-orang lemah!” Bryan bersuara sangat lirih, dan segera dia keluar dari tempat persembunyiannya.


Melihat musuh sudah berada di jarak jangkauan serangannya, Bryan melakukan serangan cepat dan efisien. Dua orang dari sisi kiri menjadi target serangan awalnya, dan keduanya berhasil dia lumpuhkan hanya dalam satu tarikan napas.


Untuk dua orang dari sisi kanan, mereka sempat melihat apa yang dilakukan Bryan, tapi belum sempat mereka bereaksi dengan menyalakan tanda bahaya dan menggunakan senjata untuk menyerang, sosok Bryan lebih dulu datang dan menyerang mereka.


Lagi-lagi Bryan menunjukkan gerakan yang cepat, akurat, dan efisien. Dengan apa yang dilakukan Bryan, dua musuh kembali berhasil dia lumpuhkan, dan diwaktu yang sama Monica serta Jeni telah menyelesaikan pekerjaan mereka.


Monica sekilas melihat bagaimana Bryan mengakhiri hidup para penjaga, begitu juga dengan Jeni yang melihat kecepatan, yang ditunjukkan Bryan. Keduanya saat ini merasa kemampuan Bryan jauh melampaui mereka, bahkan jika mereka ada seratus, belum tentu mereka bisa menumbangkan Bryan yang seorang diri.


Selesai mengagumi Bryan, kembali mereka melanjutkan perjalanan, dan kali ini mereka akan menuju ruangan terakhir yang mana di ruangan itu terdapat dua bom yang jauh lebih berbahaya dibandingkan keberadaan bom lainnya.


Melihat penjagaan ketat menuju ruangan itu yang mana lebih dari sepuluh orang berjaga di tempat itu, Bryan menoleh melihat kedua wanita di belakangnya, lalu dia mulai bicara. “Ruangan tempat dua bom terakhir sangat sulit untuk dicapai, tapi kalian tenang saja, meski sulit, tak pernah ada sesuatu yang mustahil untuk aku lakukan.”


“Kalian berdua tetap di belakangku, dan aku akan berusaha membuatkan jalan untuk kalian supaya sampai di ruangan itu!”


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2