
Pembicaraan malam antara para pria berakhir setelah semua orang membuka jatidiri masing-masing, dan setelah melalui malam panjang dimana semua orang memutuskan bermalam di Mansion keluarga Laurens, siang ini Bryan dan Nayla bersiap pergi menghadiri pesta pernikahan teman kuliah Nayla.
“Apa benar kalian tidak ada yang ingin ikut?” Bryan bertanya pada Evr, Monica, dan Elena yang tidak menolak ikut menghadiri pesta pernikahan teman Nayla, padahal di undangan tercantum tamu bebas membawa banyak anggota keluarga atau teman.
“Sayang, kamu pergi dengan Nayla, aku dan Eve akan pergi menjemput Ibu Elena.” Hari ini Ibu Elena datang dan Monica berencana menemani Elena menjemput Ibunya, begitu juga dengan Eve.
Bryan tidak lupa itu dan kalau saja tidak ada undangan mendadak dari teman Nayla, dia maupun Nayla juga pasti memilih menjemput Ibu Elena. “Kalau begitu kalian hati-hati di jalan!” Pesannya pada mereka, dan dia meminta Hugo menjaga keamanan mereka dari kejauhan.
Setelah pamit pada ketiga wanitanya, Bryan menyusul Nayla masuk kedalam mobil, lalu supir segera pergi meninggalkan Mansion keluarga Laurens. Untuk pamit pada para orang tua, dia sudah melakukannya saat masih berada di dalam Mansion. Sebenarnya Leo juga hadir dalam pernikahan teman Nayla, dikarenakan calon suami teman Nayla adalah rekan kerja Leo.
Akan tetapi, Leo dan Raya berangkat dari Mansion keluarga Warner karena sebelumnya mereka pulang untuk mengambil pakaian pesta. Namun, mereka telah janji bertemu di lobby gedung tempat berlangsungnya pesta pernikahan. Untuk siapa teman Nayla yang menikah, dia adalah Angel yang beberapa bulan lalu pesta ulang tahunnya juga dihadiri Bryan dan Nayla.
Hampir satu jan di perjalanan, mobil yang dikemudikan supir akhirnya sampai tempat tujuan. Keluar dari mobil, Bryan membukakan pintu mobil untuk Nayla, lalu dia mengulurkan tangan menggandeng wanitanya berjalan ke lobby.
Baru juga sampai lobby bangunan, Leo dan Raya sudah menyambut mereka. Bukan hanya Leo dan Raya, tapi ada juga Ken, Sarah, Lucas, serta Sesil yang semua adalah teman kuliah Nayla. “Ternyata ramai orang menyambut kedatangan kita,” ucap Nayla ditujukan pada orang-orang yang menyambut kedatangannya bersama Bryan.
Leo dan Raya yang mendengar itu tersenyum tulus, meski Leo hanya menunjukkan senyuman tipis di wajahnya. Sedangkan keempat teman kuliah Nayla yang sebenarnya tak lagi memiliki hubung baik dengannya, hanya Lucas dan Sesil yang tulus tersenyum, sedangkan Ken dan Sarah, keduanya menunjukkan senyuman terpaksa.
Nayla sama sekali tidak memperhatikan keberadaan Sarah maupun Ken, tapi Bryan diam-diam memperhatikan keduanya yang tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari Nayla, terutama Ken yang dari sorot matang terlihat jelas kalau dia begitu liar melihat keindahan tubuh Nayla.
“Kakak ipar, bagaimana kalau kita segera masuk? Sepertinya pesta sebentar lagi akan dimulai.” Bryan sengaja memanggil Leo dengan panggilan kakak ipar, dan dia ingin melihat seperti apa ekspresi yang ditunjukkan Ken dan Sarah.
Bryan tersenyum sinis melihat Sarah yang terlihat kesal, dan Ken yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. ‘Aku mau lihat apa yang kalian rencanakan. Kalau sampai kalian membuat rencana buruk pada wanitaku atau orang yang dekat denganku, aku pastikan kalian akan menyesal!’ Bryan berbicara dalam hati.
“Sepertinya pesta memang akan segera dimulai. Mari kita masuk!” Leo berbicara ramah pada Bryan, seolah ingin menunjukkan keakraban mereka. Lalu dengan menggandeng mesra tangan istrinya, dia masuk ke dalam gedung berlangsungnya pesta.
Tepat di belakang mereka ada Bryan yang menggandeng mesra lengan Nayla, seolah ingin menunjukkan kalau mereka adalah pasangan kekasih yang sedang berbahagia. Sedangkan Ken dan Sarah, keduanya masuk ke dalam gedung melewati pintu samping, berbeda den Lucas dan Sesil yang mengekor tepat di belakang Bryan dan Nayla.
Sampai di tempat berlangsungnya pesta pernikahan yang ternyata diadakan di dua tempat berbeda, mata Bryan dan Nayla disuguhi pernak-pernik pernikahan yang mewah dan elegan. Keduanya yakin tak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk berlangsungnya pesta pernikahan.
Berada di dalam gedung tertutup dengan banyak orang membuat Bryan dan Nayla kurang nyaman, membuat keduanya memutuskan pergi ke ruangan terbuka, yang disulap selayaknya taman bunga. “Berada di ruangan terbuka memang jauh lebih baik dibandingkan berada di dalam ruangan tertutup dengan banyak orang,” ucap Bryan.
Nayla tersenyum sembari mengangguk menyetujui ucapan Bryan. “Ruangan terbuka memang lebih baik, tapi sepertinya udara di sekitar kita akan segera tercemar karena kedatangan mereka!”
Nayla mengarahkan pandangan pada orang-orang yang berjalan ke arahnya, begitu juga dengan Bryan.
__ADS_1
Melihat siapa yang datang, Bryan memilih acuh mengabaikan mereka, dia lebih memilih menunjukkan kemesraan dengan Nayla, dan nyatanya wanitanya ini tidak menolak menunjukkan kemesraan dengannya.
“Aku pikir hubungan kalian sudah berakhir, tapi ternyata masih berlanjut sampai hari ini.” Sarah yang baru datang berbicara sembari berdiri dua langkah di hadapan Nayla.
“Nay, yakin kamu akan bahagia hidup dengan dia? Di saat ada berlian di dapat mata, kamu justru memungut baru di bawah kaki.” Bukan Sarah yang bicara, melainkan wanita yang tidak dikenali Bryan, tapi Nayla kenal baik dengannya.
“Mungkin saja pria ini menggunakan ilmu hitam untuk membuat Nayla jatuh ke pelukannya.” Kali ini Ken yang bicara.
Sebenarnya masih ada satu lagi pria diantara mereka, tapi pria itu fokus pada wajah Bryan, dan setelahnya dia hanya diam tak bicara seperti tiga orang lainnya.
‘Mereka benar-benar bodoh! Siapa juga wanita yang tidak tertarik dengan Tuan Muda keluarga Laurens yang kaya raya dan memiliki wajah rupawan?’ Dalam diam pria itu bicara dalam hati, dan dia tahu kalau pria Nayla adalah Bryan Laurens.
Bryan dan Nayla hanya tersenyum mendengar ucapan mereka yang sama sekali tidak penting, dan lagi bukannya membalas ucapan mereka, keduanya justru mengabaikan keberadaan mereka dan kembali sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Dengan wajah kesal yang terlihat jelas di wajahnya karena keberadaannya diabaikan, Ken mengambil satu langkah maju dan mencoba meraih kerah jas yang pakai Bryan, tapi dengan mudahnya Bryan menepis tangannya.
“Urusi kehidupan kalian sendiri dan jangan pernah ikut campur urusan hidup orang lain yang tak mengharapkan ikut campur kalian!” Suara Bryan terdengar datar dan dingin.
Ken mendengar jelas suara Bryan dan bukannya mundur dia justru semakin marah. Tak lagi sanggup menahan emosinya karena keinginannya yang begitu besar untuk mendapatkan Nayla, dia langsung saja melayangkan pukulan ke arah wajah Bryan.
Sedangkan Ken yang mencoba memukul Bryan, kali ini bukan tepisan yang dia dapat, melainkan Bryan mengarahkan tinju tepat ke arah tinju Ken yang mengarah pada wajahnya.
“Duak... Krak...”
Kedua tinju berbenturan, dan bersamaan dengan itu terdengar suara tulang yang entah patah atau retak.
Merasa Ken tidak akan kalah beradu fisik dengan Bryan yang tubuhnya lebih kecil, teman-teman Ken yang tahu pukulan pria itu dapat mematahkan sebuah balok, mereka yakin tangan Bryan akan mengalami cedera parah. Namun nyatanya mereka benar-benar salah. Bryan masih terlihat biasa-biasa saja setelah membenturkan tinjunya dengan Ken, dan yang terlihat tidak biasa-biasa saja adalah Ken. Jelas terlihat pria itu kesakitan sambil memegangi tangannya. Erangan kesakitan tertahan keluar dari mulutnya, menunjukkan kalau dia benar-benar sedang kesakitan.
Semua teman Ken segera mengerubuntinya untuk memastikan keadaan teman mereka. Keadaan Ken jelas tidak baik, dan entah apa yang ada dalam pikirannya Sarah justru marah-marah pada Bryan dan menyalahkannya.
“Dasar pria kasar, beraninya kau melukai temanku! Lihat! Dia kesakitan dan kau sama sekali tidak ada niatan bertanggung jawab. Cih, dasar pria sampah!” Sarah berteriak dengan suara lantang memancing banyak orang mengarahkan pandangan ke arahnya, termasuk Leo dan Raya yang baru saja sampai di tempat pesta, yang berada di ruang terbuka.
Puas meneriaki Bryan, sekarang Sarah mengarahkan pandangannya pada Nayla. ”Nay, buka mata kamu! Pria sampah ini tidak pantas untukmu! Lihatlah, dia bahkan melukai Ken dan mengabaikannya! Aku takut di masa depan dia akan menyakitimu dan pergi begitu saja setelah mendapatkan ganti wanita yang lebih baik!”
Tamu undangan yang kebanyakan berasal dari kalangan atas, mereka sebenarnya cukup tertarik dengan pertengkaran para pemuda, tapi saat para pria melihat sosok Bryan dan kebetulan mereka mengenalnya, mereka memilih pergi menjaga jarak dan mereka tahu nasib sial akan menimpa mereka yang berani menyinggung Tuan Muda keluarga Laurens.
__ADS_1
“Sarah, apa kamu pikir aku buta? Jelas siapa yang lebih dulu mencari masalah, dan jelas juga siapa yang lebih dulu ingin main kekerasan. Jadi, apa yang terjadi padanya itu adalah akibat dari ulahnya sendiri,” ucap Nayla tenang terkesan acuh.
Namun, baru juga Nayla selesai bicara, Bryan tiba-tiba mengarahkan sorot mata tajam pada Sarah. “Tidak masalah kamu menuduhku menggunakan ilmu hitam untuk mendapatkan Nayla, tapi jangan sekali-kali kamu mengatakan aku akan pergi meninggalkannya dan meninggalkan rasa sakit untuknya! Asal kamu tahu itu semua tidak akan pernah terjadi dan sebaiknya kamu segera pergi sebelum kesabaranku habis!”
Merasakan tatapan tajam Bryan yang ditujukan padanya, Sarah merasa hanya dengan di tatap kapanpun dirinya bisa bertemu dengan kematian. Tak ingin hal buruk terjadi pada dirinya, dia memilih melangkah mundur.
“Sarah, kamu tidak perlu takut dengan pria itu! Berani melukai tanganku, aku akan membuat pria itu mendekam di dalam penjara!” Ken yang sudah tak terlalu merasa kesakitan, dia berbicara pada Sarah, tapi apa yang dia bicarakan berhubungan dengan Bryan.
Meskipun luka di tangannya dapat dikatakan sebagai salahnya sendiri, tapi dengan kekayaan keluarganya dia yakin dapat membeli hukum dan membuat Bryan mendekam lama di penjara. Dia masih merasa hukum dapat dia beli, tanpa mengetahui perubahan besar yang telah terjadi di Departemen Kepolisian. Takutnya bukannya membeli hukum, tapi dia dan keluarganya justru terjerat hukum.
Orang-orang yang tahu seperti apa keadaan Departemen Kepolisian saat ini, mendengar apa yang diucapkan Keb, mereka jelas tahu apa isi dari pikiran pria itu. Jika di masa lalu mereka memiliki keyakinan Ken dapat membeli hukum dan memenjarakan musuhnya, tapi melihat siapa musuhnya baik di masa lalu maupun saat ini hasilnya tetap sama, mereka bisa menebak jika Ken justru akan membuat rugi keluarganya.
“Lakukan saja jika kau merasa mampu membuat aku mendekam di penjara, tapi jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya. Kamulah yang nantinya mendekam di penjara, dan takutnya banyak orang yang akan menemanimu mendekam di penjara!” ungkap Bryan sembari menunjukkan senyuman tipis di wajahnya.
“Aku akan memastikan sendiri kau membusuk di dalam penjara! Kalau perlu aku akan membuat keluargamu ikut membusuk denganmu di dalam penjara. Kau telah menyinggung keluarga Oliver, dan membusuk di penjara adalah bayaran termurah untukmu karena berani menyinggung keluarga Oliver!” Ken sangat bangga memberitahu semua orang nama besar keluarganya, tapi mereka yang tahu siapa sosok yang dimusuhi Ken, mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
Keluarga Oliver ingin melawan keluarga Laurens dan lagi di sana ada anggota keluarga Warner? Bukannya menyanjung Ken yang merupakan Tuan Muda keluarga Oliver, kebanyakan orang justru mencibir dalam hati, termasuk pria yang masih satu lingkar pertemanan dengan Ken.
“Keluarga Oliver ya, apa kau yakin ingin bermain api dengannya? Aku sarankan sebaiknya kau cari tahu dulu identitas musuhmu, sebelum kau benar-benar yakin menjadikan dia sebagai musuh! Aku khawatir kau hanya akan membawa kehancuran pada keluargamu begitu terlambat mengetahui identitas musuhmu.” Bukan Bryan yang berbicara, melainkan Leo lah yang berbicara dan dia saat ini sudah berdiri di dekat Bryan bersama dengan istrinya.
Ken tentu mengenali siapa Leo dan lagi dia sudah sejak lama menjadikan Leo sebagai panutannya. Leo sudah mendapatkan kesuksesan sejak usia kuda, dan dia berharap dirinya dapat mengikuti jejak Leo, sukses di usia yang masih terbilang sangat muda.
Bryan menatap Leo sambil menyunggingkan senyuman. “Kakak ipar, biarkan saja dia memutuskan apa yang ingin dia lakukan, dan jika dia melibatkan keluarganya aku tidak akan sungkan membuat dia serta anggota keluarganya menjadi gelandangan!”
“Hanya bocah yang selalu dimanja keluarganya, dan sepertinya dia benar-benar tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, dan lagi dari teman-temannya hanya ada satu dari mereka yang benar-benar menggunakan otaknya. Diam adalah keputusan terbaik, dan dengan diam dia dapat menghindar dari banyak permasalahan!” Mata Leo melirik pria di belakang Ken yang sejak tadi hanya diam.
Ken tau kalau Leo sedang menyindir dirinya, dan entah apa yang membuatnya sadar dia tiba-tiba saja ingin mengetahui identitas Bryan. Bertanya pada Sarah dan wanita satunya, mereka menggelengkan kepala tidak tahu menahu siapa Bryant.
Terakhir dia bertanya pada pria yang sejak tadi hanya diam. Akan tetapi, bukannya jawaban yang dia terima, pria itu justru menyodorkan padanya HP miliknya.
Melihat layar HP, Ken melihat dia buah foto dan penjelasan siapa yang ada di foto itu.
Membaca penjelasan sampai habis, kepercayaan dirinya yang mana dia yakin dapat memenjarakan Bryan seketika luntur, digantikan rasa takut pada sosok yang sudah dia singgung. Dia yang sebelumnya terlihat garang, tiba-tiba saja tubuhnya lemas dan tak lama dia pingsan.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.