Sistem Kebangkitan

Sistem Kebangkitan
Sekelompok Pembunuh Bayaran Amatir


__ADS_3

Keluarga Oliver ingin bersaing dengan keluarga Laurens yang mana Royal Company jelas memiliki hubungan erat dengan keluarga Laurens. Ken benar-benar akan membuat keluarga Oliver menjadi gelandangan jika semua itu benar-benar terjadi.


Beruntung dia pingsan, dan lagi bukan hanya satu orang yang pingsan melainkan ada dua orang. Sarah yang hanya putri dari keluarga biasa, dia tak bisa mempertahankan kesadarannya begitu tahu siapa sosok pria yang dia katakan sebagai sampah.


Jika dia menghina Bryan dengan mengatai nya sebagai sampah, lalu apa dirinya? Yang jelas dirinya adalah sosok yang jauh lebih buruk dari sampah.


Melihat dua orang pingsan di waktu hampir bersamaan, Bryan menggelengkan kepala. “Tidakkah mereka terlalu berlebihan? Kenapa juga harus pingsan begitu tahu siapa aku? Sayang, apa aku terlalu mengerikan?” Bryan bertanya pada Nayla.


Nayla yang mendengarnya tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Bagaimana mungkin pria sesempurna ini terlihat mengerikan? Mereka pingsan itu karena mereka saja yang memiliki mental lemah. Saat belum mengenali kamu, mereka begitu berani, tapi begitu tahu siapa kamu, langsung deh pingsan.”


Bryan dan Nayla kembali ingin menunjukkan kemesraan mereka, tapi Leo dan Raya mengajak mereka memberi selamat pada sepasang pengantin yang baru saja meresmikan hubungan. Sedangkan untuk dua orang yang pingsan, mereka telah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.


Melihat pasangan pengantin yang berbahagia, Bryan dan Nayla semakin tidak sabar untuk menggelar pernikahan mereka, dan ingin merasakan kebahagiaan seperti yang saat ini mereka lihat.


Selesai memberi ucapan selamat dan memberi kado pernikahan yang tak seberapa harganya bagi Bryan, bersama dengan Nayla dia menikmati beberapa hidangan dan minuman yang tersaji di atas meja panjang.


Keduanya hanya sedikit makan dan minum, lalu bertepatan dengan Leo dan Raya yang ingin pulang, mereka ikut pamit pulang dan disinilah mereka saat ini, berduaan di dalam mobil. Sebenarnya tidak berdua karena ada supir dangan seorang pengawal.


Akan tetapi karena adanya pembatas antara kursi di bagian depan dan belakang, mereka serasa hanya berdua di dalam mobil. Sedangkan Leo dan Raya, mobil mereka tepat melaju di depan mobil Bryan.


Belum lama meninggalkan gedung pernikahan, HP Bryan berbunyi dan dia melihat nama Monica di layar HP-nya. “Iya sayang, apa sudah bertemu dengan Ibunda Elena?” tanyanya begitu menjawab panggilan Monica.


Monica yang ditanya, dia menjawab kalau Ibunda Elena sudah bersama dengan mereka, dan saat ini sedang dalam perjalanan kembali ke Mansion. Namun, dia menjelaskan ada sesuatu yang aneh dari dua mobil di belakang mobilnya.


Dua mobil itu terus mengikuti mobilnya sejak meninggal bandara, dan jelas itu bukan mobil Hugo, dikarenakan mobil yang dikemudikan Hugo berada di depannya.


“Sayang, posisi kamu sekarang dimana? Aku sudah selesai menghadiri pesta, dan secepatnya akan pergi ke tempat kamu!” Bryan jelas mengkhawatirkan keadaan mereka yang tak berada dalam jangkauan pandangannya. Mengetahui ada yang mengikuti mereka, Bryan yakin itu adalah musuh yang ingin membuat mereka celaka.


Lebih buruknya ada bersama mereka calon mertuanya yang jelas jauh lebih lemah dibandingkan ketiga wanitanya. Mengetahui itu, dia semakin khawatir dengan keadaan mereka.


Monica cepat memberitahu dimana posisinya saat ini, dan Bryan langsung saja menyuruh supir pergi ke tempat itu. Sedangkan Nayla yang mendengar seluruh pembicaraan Bryan dan Monica, dia segera memberitahu Lao kalau tak bisa langsung kembali ke Mansion.


Dia menjelaskan kalau telah terjadi sesuatu pada rombongan Monica, dan dia bersama Bryan bergegas pergi ke tempat itu.


“Beruntung kita tak begitu jauh dari tempat mereka dan lagi mereka mengarahkan ke arah kita. Sebentar lagi kita akan bertemu mereka!” ucap Bryan pada Nayla.


Baru juga selesai Bryan membuka suara, dia melihat mobil yang dikemudikan Monica belok ke pertigaan tepat di depannya. Terlihat juga mobil Hugo di belakang mobil Monica, dan bukan hanya dua tapi setidaknya ada enam mobil yang melaju tepat dibelakang mobil Hugo. Sekilas saja melihat, mereka jelas bukan orang baik.


Tanoa diberi tahu, supit yang mengemudikan mobil Bryan segera melesat mengejar mereka. Supir yang mengemudikan mobil bukanlah sembarangan supir. Dia adalah salah satu anggota prajurit super, dan sebelumnya menjadi prajurit super dia adalah seorang pembalap jalanan.


Melaju kencang di jalanan kota yang padat tentu sudah sangat biasa dia lakukan, apalagi di masa lalu dia sering memacu kencang mobilnya saat menghindari razia balap liar. Jadi, dengan sangat mudah dia mendekati mobil terakhir dari enam mobil yang mengikuti mobil Monica.


Jarak yang cukup dekat memungkinkan Bryan menggunakan kemampuan mata tembus pandangnya, dan begitu mata tembus pandang aktif dia dapat melihat keberadaan enam pria di dalam masing-masing mobil.

__ADS_1


Semua pria di dalam mobil kecuali supir, mereka semua memegang senjata api, dan sepertinya mereka yang berada di mobil terakhir menyadari mobil Bryan sedang mengikuti mereka.


“Berikan aku senjata dan akan buat mereka menyesal berani mengancam nyawa wanitaku!” Senjata laras panjang diberikan pengawal yang duduk di bangku depan pada Bryan, dan segera Bryan membuka kaca sunroof yang tepat berada di atasnya.


Nayla tidak khawatir tentang keselamatan Bryan karena prianya adalah sosok tangguh yang tak akan mati karena terkena tembakan musuh. Dia pernah melihat sendiri bagaimana hujan peluru sama sekali tidak mengancam kehidupan Bryan, apalagi jika itu hanya sebutir peluru.


Sedangkan Bryan yang setengah badannya keluar di atas mobil, dia mengarahkan senjata di tangannya ke arah roda mobil yang melaju cepat tepat di depannya. Supir mobil di depan yang tahu sedang diincar, dia berusaha bergerak zig-zag mencoba menghindari tembakan Bryan.


Namun, usahanya berakhir sia-sia. Cukup dengan satu peluru Bryan berhasil menembak roda mobil sampai pecah, dan pada akhirnya mobil itu melaju tidak terkendali sebelum akhirnya terbalik berguling-guling.


Satu mobil berhasil disingkirkan, sekarang tinggal lima mobil yang menanti nasib buruk mereka.


“Sebelumnya sangat mudah, tapi sekarang tidak akan mudah lagi!” gumam Bryan melihat beberapa orang keluar dari jendela mobil dan mengarahkan moncong senjata ke arahnya.


Sambil tersenyum tanpa rasa takut dia bicara, “Jangan sungkan menembak kearahku karena pada akhirnya aku tetap yang akan memenangkan adu tembak dengan kalian!”


Bryan masih begitu tenang mengarahkan senjata di tangannya ke arah roda belakang mobil yang berada di depannya. Mobil di depannya bergerak zig-zag secara liat, dan diwaktu bersamaan orang-orang di mobil lebih depan mulai menembakkan senja mereka ke arahnya.


“Door...”


Tembakan Bryan kembali tepat sasaran dan membuat mobil di depannya bertemu nasib buruk. Begitu hilang kendali karena mengalami pecah Ban, mobil meluncur cepat menghantam pohon di pinggir jalan, dan tak lama mobil itu meledak bersama semua orang yang masih berada di dalamnya.


Dua mobil tersingkir, tapi tak lama mobil yang tepat berada di belakang mobil Hugo mengalami hal buruk. Hugo berhasil menembak supir mobil, dan mobil itu segera melaju keluar jalur sebelum akhirnya meledak tak lama setelah menghantam pepohonan di pinggir jalan. Dalam waktu singkat hanya tersisa tiga mobil, dan datangnya ancaman semakin berkurang.


Sementara itu orang-orang di depan mobil Bryan, mereka tak tahu harus melakukan apa untuk menyingkirkan mobil di belakang mobil mereka. Menembaki mobil orang itu sangat percuma karena terdapat perlindungan anti peluru di setiap bagian mobil. Sedangkan untuk menembak langsung seseorang yang setengah bagian tubuhnya terlihat di atas mobil, mereka sudah berkali-kali melakukannya tapi hasilnya nihil.


Mereka yang menembak ke arah orang itu yakin peluru yang ditembakkan seharusnya bisa membunuh orang itu, tapi nyatanya bukan hanya tidak mati, orang itu masih terlihat baik-baik saja tanya luka sedikitpun.


“Sial, siapa sebenarnya orang-orang yang mengawal wanita tua itu? Mereka sepertinya bukan manusia, lihat saja berapa banyak aku menembak kepalanya, tapi tak sedikitpun dia mengalami luka!” ucap seseorang yang berkali-kali mengarahkan tembakannya tepat ke arah Bryan.


Mereka adalah kelompok pembunuh bayaran yang disewa seseorang untuk membunuh wanita tua yang tak lain adalah Ibu dari Elena. Sebelumnya mereka yakin dengan membawa seluruh anggota, mereka dapat dengan mudah menyelesaikan tugas dari sosok yang menyewa jasa pembunuhan, tapi nyatanya semua tak semudah seperti apa yang mereka bayangkan.


Sampai detik ini, bukan hanya belum berhasil menyelesaikan tugas, tapi mereka juga harus kehilangan banyak anggota, dan nyawa mereka yang tersisa juga sedang berada dalam ancaman.


Mereka sekarang menyadari jika wanita yang menjadi target pembunuhan mereka bukan sosok yang mudah didekati, pantas saja orang yang menyewa jasa mereka berani membayar mahal. Kalau saja sejak awal mereka tahu tugas ini sangat sulit seperti ini, terang-terangan mereka akan menolaknya. Bayaran memang besar, tapi sekarang bukannya mencoba membunuh target, tapi mereka berada dalam posisi bertahan hidup.


“Kita adalah kelompok pembunuh bayaran, tapi baru kali ini kita berada di posisi seperti ini. Bukannya membunuh target, justru kita yang sekarang menjadi target pembunuhan!” ucap pria yang mengemudikan mobil.


Sedangkan Bryan yang sudah berhasil mengikuti ritme pergerakan mobil di depan mobilnya yang melaju zig-zag, langsung saja dia menembak ban mobil bagian belakang, dan begitu terdengar suara lefaka mobil segera oleng dan hilang kendali.


Mobil yang melaku diatas kecepatan seratus lima puluh kilometer per jam keluar arah, dan meski pengereman sudah dilakukan secara maksimal laju mobil sama sekali tidak melambat. Pada akhirnya ledakan kembali terjadi saat lagi dan lagi mobil menghantam pepohonan lebat di pinggir jalan.


Saat ini di kanan maupun kiri mobil yang melaju kencang adalah hutan, dan sejauh lima puluh kilometer ke depan pemandangan kanan dan kiri jalan adalah sama, hutan dengan pepohonan lebat, dan jalanan lengang di siang maupun malam hari.

__ADS_1


“Sial, sebelumnya kita yang berada di atas angin, sekarang justru kita yang berada dalam situasi berbahaya. Ini tidak bisa dibiarkan! Gunakan seluruh senjata yang ada dan bunuh mereka semua!” teriak pria dengan cerutu di mulutnya, dan dia adalah sosok pemimpin pembunuh bayaran yang mengincar nyawa ibu dari Elena.


‘Sial! Aku masih belum ingin mati! Mereka yang harusnya mati, bukan aku!’ Dia berteriak dalam hati, dan sebagai pemimpin kelompok pembunuh bayaran bisa dikatakan dia adalah seorang pengecut yang takut mati.


Ingin menyingkirkan mobil yang berada di belakang, pemimpin kelompok menyuruh mobi di belakangnya untuk berhenti dan membereskan mobil di belakang dengan melakukan pertarungan jarak dekat.


Mobil dibelakang mobil pemimpin kelompok pembunuh bayaran benar-benar berhenti menghadang mobil Bryan. Namun karena panik dan ingin segera membunuh musuh, mereka melakukan kesalahan fatal dengan keluar dari mobil dan melupakan jika ada seorang sniper di mobil yang coba mereka hentikan.


“Mereka ingin melakukan sesuatu yang buruk pada para wanitaku dan calon ibu mertuaku, tapi tindakan mereka saat ini sangat ceroboh dan terkesan amatir!” ucap Bryan pelan, dan melihat musuh keluar mobil dia tak menyia-nyiakan kesempatan.


Satu peluru untuk satu musuh, dan begitu peluru ke-enam dia tembakkan tak ada yang selamat dari tembakannya. Mobil pun terus melaju cepat mengejar mobil di depan yang sedang baku tembak dengan Hugo. Dari tempatnya Bryan melihat satu musuh mengalami luka di tangan, dan satu orang mati di dalam mobil. Dari enam orang, sekarang hanya tersisa dua orang yang masih bisa melawan serangan Hugo karena satu orang lagi fokus mengemudikan mobil.


Jarak mobilnya dengan mobil di depan kurang lebih dua ratus meter dan semakin mendekat, tapi dari jarak sejauh itu dia yakin dapat membunuh musuh yang tak sadar dengan keberadaannya. “Seperti sebelumnya, satu peluru untuk membunuh satu musuh!” gumamnya.


“Door...”


Peluru melesat dengan kecepatan tinggi dan tepat mengenai musuh yang mengeluarkan tubuhnya dari celah jendela mobil. Telak terkena tembakan yang menghantam kepalanya, pria itu mati tak lama setelah tertembak, dan mayatnya tersangkut di celah jendela mobil.


Seketika pemimpin kelompok pembunuh bayaran menoleh melihat kebelakang, begitu melihat datangnya serangan dari arah yang belakang yang langsung menewaskan salah satu anggotanya. Melihat kebelakang, dia melihat musuh yang dia kira berhasil dihentikan anak buahnya, ternyata kini justru anak buahnya yang tak lagi terlihat.


Tak lagi melihat keberadaan mobil anak buahnya dan justru melihat mobil musuh, dia tahu anak buahnya telah dikalahkan dan nasib mereka pasti sudah mati di tangan musuh.


“Pergi dari sini, mereka bukan lawan yang bisa kita hadapi!” Perintah tegas pemimpin kelompok pembunuh bayaran.


Pemimpin pembunuh bayaran melempar keluar mobil anggotanya yang sudah mati dan yang dalam keadaan sekarat. Sekarang hanya menyisakan dirinya, supir mobil, dan satu lagi anggota yang terlihat marah mengetahui temannya yang masih hidup dilempar keluar dari mobil.


“Dia masih hidup, apa maksutnya kau melemparkan dia keluar dari mobil? Seharusnya kita bisa membawanya kembali untuk mendapatkan perawatan!” teriaknya pada sosok pemimpin yang menanggapi sinis teriakannya.


“Membiarkannya di dalam mobil, dia hanya akan menjadi beban. Jadi sudah sewajarnya aku melempar dia keluar dari mobil! Kalau kau berisik, kau juga akan aku lempar keluar dari mobil!” Membalas dengan nada meninggi, balasannya semakin membuat marah pria di hadapannya.


“Aku akan keluar sendiri dari mobil ini tanpa perlu kau melemparku keluar, tapi sebelum aku keluar aku akan lebih dulu mengirim orang sepertimu ke tempat berkumpulnya orang-orang mati!”


Menembak dari jarak dekat tembakannya tepat mengenai kepala pemimpin kelompok yang selama ini sangat dia hormati.


Frustasi setelah melihat teman-temannya mati, setelah membunuh ketua kelompok dia lanjut membunuh supir mobil dan terakhir dia menembakkan pistol di tangannya ke arah kepalanya sendiri. Mati bersama dan tak perlu ada yang kembali, itulah yang dia lakukan.


Seluruh kejadian di dalam mobil terlihat jelas oleh Bryan. Dia tak menyangka jika hal buruk menimpa sekelompok orang yang sebelumnya ingin mencelakai Monica, meski dia sendiri tak yakin jika tujuan utama mereka adalah Monica.


“Sebenarnya siapa yang menjadi target mereka?”


...----------------...


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2