
Di malam hari saat Bryan dan seluruh penghuni Mansion nya sedang bersantai dan penjagaan malam ini yang tidak begitu ketat. Dua mobil berhenti di depan Mansion, lalu salah satu mobil mencoba merobohkan gerbang Mansion dengan cara menabraknya.
Suara deru knalpot mobil terdengar dan tak lama suara benturan keras terdengar. Suara benturan keras terdengar jelas oleh mereka yang berada di dalam Mansion, mendengar itu Bryan cepat bereaksi menggunakan kekuatan mata tembus pandang untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Gerry dan yang lainnya begitu tenang berdiam diri di tempat mereka, menunggu perintah yang tentunya berasal dari Bryan. “Gerry, apa Zeis memiliki saudara kembar? Aku melihat seseorang mirip dengannya berada di salah satu mobil, dan selain dua mobil di depan Mansion masih ada belasan mobil yang berada tak jauh dari Mansion.”
“Kembaran? Ah iya, dia memiliki kembaran, kalau tidak salah dia Zein, tapi selama ini dia jarang menunjukkan diri kecuali ada hal mendesak yang memaksanya untuk keluar. Konon katanya setiap kali dia keluar, semua musuhnya pasti musnah!” ucap Gerry memberi jawaban.
“Apa yang dialami saudara kembarnya bisa diartikan sebagai keadaan mendesak yang membuatnya keluar menunjukkan keberadaannya. Namun sayangnya dia tak lagi memiliki kesempatan menang saat berhadapan dengan kita!”
Gerry mengangguk setuju. “Seharusnya dia tetap diam dan cukup menjadi penonton, tapi karena dia ikut campur, aku tak akan sungkan berurusan dengannya.”
Gerry sudah menghubungi Hugo sejak terdengar suara benturan di gerbang Mansion, dan dalam lima menit Hugo bersama yang lainnya akan segera datang.
Suara deru knalpot dan benturan keras kembali terdengar, tapi terlihat oleh Bryan gerbang Mansion nya mulai rusak, dan tidak akan bisa bertahan lama.
Meski tahu gerbang Mansion tak akan bertahan lama dan kemungkinan musuh akan menyerbu ke dalam Mansion, Bryan belum mengerahkan orangnya melakukan serangan balasan pada mereka yang sedang mencoba merusak gerbang Mansion.
“Biarkan mereka masuk dan anggap mereka menjadi teman latihan prajurit super yang telah aku ciptakan.” Memanfaatkan hadiah sistem, Bryan berhasil menciptakan dua puluh prajurit super yang saat ini sedang menunggu perintah darinya.
Sepuluh prajurit dengan keahlian utama pertarungan jarak dekat sudah bersiaga di sudut-sudut Mansion, sedangkan sepuluh prajurit lainnya yang memiliki keahlian pertarungan jarak jauh, mereka sudah berada di titik-titik tertinggi Mansion dengan senjata laras panjang.
“Apa kamu yakin kita hanya mengandalkan mereka?” tanya Gerry tahu apa yang direncanakan Bryan.
Para wanita yang juga telah tahu rencana Bryan, mereka memiliki pertanyaan yang sama seperti apa yang ditanyakan Gerry pada Bryan.
“Mereka pasti mampu melakukannya, bagaimanapun juga mereka memiliki setengah dari kekuatanku. Meski mereka sedikit lebih lemah dari kalian, tapi musuh jauh lebih lemah dari mereka, jelas mereka memiliki kemungkinan lebih besar bisa mengalahkan musuh!” ungkap Bryan.
“BRAAK...”
Suara keras terdengar dari arah gerbang Mansion saat Bryan asik berbicara dengan yang lainnya. Melihat kearah gerbang Mansion, Bryan mendapati pintu gerbang kokoh yang telah roboh dan dari kejauhan terlihat belasan mobil datang mendekat.
Bukannya gentar dan ketakutan, Bryan justru tersenyum lebar melihat kedatangan mereka. Menggunakan alat komunikasi jarak jauh, dia segera memberi perintah pada prajurit super.
“Bunuh musuh yang memasuki area Mansion! Jangan ada yang sampai mendekati pintu bangunan utama Mansion!” Perintah diberikan, dan dua puluh prajurit super segera fokus melihat sekeliling area Mansion.
__ADS_1
Selesai memberi perintah, Bryan membawa semua orang pergi ke lantai dua untuk melihat jalannya pertunjukan. Untuk para pelayan dan juru masak, mereka telah berada di tempat aman dengan penjagaan ketat, jadi keamanan mereka sudah bisa dipastikan.
Saat Bryan dan yang lainnya baru sampai di lantai kedua, tepatnya sebuah ruangan yang memiliki pelindung kaca tebal anti peluru, mereka melihat belasan orang mulai memasuki Mansion dari pintu gerbang yang telah roboh. Namun, saat dua dari mereka mengambil satu langkah memasuki area Mansion, suara tembakan terdengar, dan kedua orang itu jatuh meringis kesakitan.
Saat disatukan lebih jelas terdapat lubang menganga di paha keduanya, menunjukkan ukuran peluru tajam yang telah menembak mereka.
“Mereka sepertinya tidak ingin mengotori Mansion ku dengan mayat musuh,” gumam Bryan tenang melihat keadaan musuh yang bukannya mati tapi hanya terluka.
Para wanita senang jika tidak lagi ada kematian di sekitaran Mansion. Bagaimanapun juga mereka akan merasa risih jika menempati sebuah tempat yang dikelilingi bekas kematian. Meski di zaman modern tidak lagi ada yang percaya keberadaan hantu, mereka tetap akan merasa sesuatu yang berbeda tinggal di tempat seperti itu.
“Sebaiknya aku memberi perintah tambahan pada mereka untuk tidak membunuh musuh, tapi cuma menghentikan musuh dengan cara melukai!” ucap Bryan yang memutuskan memberi perintah tambahan.
Sementara itu, di luar Mansion suara tembakan kembali terdengar saat beberapa orang mencoba kembali memasuki area Mansion dengan cara memanjat pagar samping.
Tak ada yang mati, tapi mereka juga tak lagi dapat maju menyerang Mansion dengan luka menganga di bagian paha.
Zein, saudara kembar Zeis yang mencoba membalaskan dendamnya pada Bryan, dia menggertakkan giginya marah melihat bagaimana orang-orangnya kesulitan memasuki area Mansion.
Awalnya saat melihat begitu mudahnya menghancurkan gerbang Mansion, dia mengira musuhnya tidak siap dengan serangannya yang begitu tiba-tiba, tapi nyatanya dia salah.
Musuh nyatanya membiarkan dia menghancurkan gerbang Mansion, tapi tak membiarkan ada anggotanya yang dapat memasuki Mansion sekalipun mereka mencoba memasuki Mansion dengan cara memanjat pagar samping maupun pagar belakang.
Zein mendengar itu, tapi saat ini kedua matanya hanya tertuju ke bagian dalam Mansion yang terlihat tenang dengan lampu menyala terang di beberapa ruangan.
Akan tetapi, dia tak melihat adanya tanda-tanda kehidupan di dalam Mansion, tanda kehidupan baru akan terlihat jika ada anak buahnya yang mencoba memasuki area Mansion.
Zein yang menatap Mansion, tiba-tiba dia membuka suara, “Gunakan senjata berat dan hancurkan Mansion itu dari kejauhan!” Perintah tegas Zein pada anak buahnya.
Mendengar itu, Chris langsung saja menyampaikan perintah Zein pada anak buahnya. Sedangkan mereka yang mendapatkan perintah, dengan senang hati mereka mulai mengeluarkan RPG (Rocket Propelled Grenade) dari bagasi mobil. Namun sayangnya, tindakan mereka terlihat jelas oleh sepuluh prajurit super yang bertugas sebagai sniper.
Langsung saja mereka menembak orang-orang yang mengeluarkan RPG dari bagasi mobil. Tembakan mereka menyasar tangan dan kaki musuh, membuat musuh tak lagi leluasa bergerak dengan luka di dua tempat berbeda.
Jangankan membawa dan menembakkan RPG yang bobotnya cukup berat, mereka bahkan tak lagi sanggup berdiri tegak, serta tak ada kekuatan mengangkat senjata berat yang sebelumnya tinggal mereka tembakkan.
Jika ada yang memaksakan diri ingin menembakkan senjata berat di tangannya, para sniper langsung menghujaninya dengan peluru, tapi tak ada satupun peluru yang membunuh mereka.
__ADS_1
Melihat mereka yang bertugas menembakkan senjata berat satu persatu tumbang, Zein merasakan bahaya mengancam keberadaannya.
Walaupun dia berada di dalam mobil yang dilindungi lapisan perlindungan kebal peluru, granat, serta ranjau, tetap saja dia merasakan kekhawatiran setelah melihat semua kejadian di depan kedua matanya.
Memang tak ada satupun anak buahnya yang mati, tapi banyak dari mereka sudah mengalami luka yang tak ringan, dan semuanya adalah luka tembak.
“Chris, sebaiknya kita mundur! Kita harus menyiapkan kekuatan yang lebih besar untuk menghancurkan mereka! Bagaimanapun juga aku harus membalaskan dendam saudaraku!” ucap Zein berencana menarik mundur orangnya.
Chris setuju dengan itu dan meminta anak buah Zein untuk segera mundur menjauhi Mansion.
Akan tetapi, saat mereka bermaksud pergi, dari dua tahun jalan datang puluhan mobil, dan mobil-mobil itu berhenti menutup jalan yang bisa digunakan Zein dan anak buahnya untuk pergi melarikan diri.
Dari dalam mobil yang menutup akses jalan Zein dan anak buahnya, puluhan orang keluar dari dalam mobil, dan masing-masing dari mereka mengarahkan senjata api ke arah Zein dan anak buahnya.
Posisi seperti ini jelas Zein tahu kalau mereka yang baru datang adalah bala bantuan musuh, dan semua itu benar-benar diluar dugaannya.
“Belum juga berhasil memberi pelajaran pada mereka yang bertahan di dalam Mansion, sekarang kita sudah harus berurusan mereka semua! Sialan! Kita benar-benar terkepung dari segala arah!” ucap Zein yang hanya berani diam di dalam mobil.
Hugo yang memimpin bala bantuan, dia menyalakan rokok lalu menghisapnya dalam sebelum mengeluarkan asap putih dari dalam mulutnya. “Kalian pilih menyerah atau mati mengenaskan di tangan kami?” teriak Hugo dengan suara lantang yang lirih terdengar di mobil Zein.
“Door... Door...”
Hugo menembakkan peluru tajam ke arah kaki dua orang yang berjaga di dekat mobil Zein. Dua orang mengerang kesakitan, dan kejadian itu jelas terlihat oleh Zein yang berada di dalam mobil.
“Kau yang di dalam mobil keluar dalam hitungan ketiga! Kalau kau tidak keluar setelah hitungan ketiga, siap-siap saja aku buat meledak mobil bersama seluruh orang di dalamnya!” Hugo mengambil RPG yang dibawa anak buahnya, dan mengarahkan ke arah mobil Zein.
“Satu...”
Hugo mulai menghitung, tapi baru sampai hitungan ke satu Chris keluar dari dalam mobil di susul Zein. Melihat keduanya keluar Hugo menyeringai karena sebuah kebetulan dia sangat mengenali kedua orang itu.
“Kalian berdua dan anak buah kalian, segera pergi ke depan gerbang yang telah kalian rusak, dan berlutut di tempat itu meminta maaf pada Tuan Mudaku karena kalian telah mengganggu ketenangannya! Jika ada yang berani menolak, silahkan kalian angkat tangan, dan setelahnya aku bisa meledakkan kepalanya!” tegas Hugo berbicara pada Zein, Chris, serta anak buah mereka.
Bryan, Gerry, serta para wanita, mereka melihat semua kehadiran dari dalam Mansion. Meski tidak bisa mendengar jelas pembicaraan Hugo dan Zein, mereka tahu kalau saat ini Hugo telah berhasil menguasai keadaan, dan membuat musuh bertekuk lutut di hadapannya.
Setelah hanya melihat dari kejauhan, melihat Zein, Chris, serta anak buah mereka telah berlutut di depan gerbang, Bryan ditemani Gerry berjalan keluar Mansion. Sedangkan para wanita, mereka tetap bertahan di ruangan dengan perlindungan kaca tebal anti peluru.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.