Sistem Kebangkitan

Sistem Kebangkitan
Menyewa Kamar Hotel


__ADS_3

Sudah memakai pakaian rapi, Bryan merasa sayang jika dia langsung membawa Elena kembali ke Mansion, lagipula hari masih terlalu terang untuk pulang.


Sedangkan Elena, saat ini dia sangat-sangat marah pada semua orang di restoran termasuk dengan Jacob. Dia merasa apa yang baru saja terjadi berhubungan dengan Jacob, dan bisa saja semua itu adalah rencananya.


“Mengapa kamu terus diam? Apa ada yang membuatmu marah?” tanya Bryan membuka pembicaraan.


“Aku marah dengan mereka terutama Jacob, entah kenapa aku merasa apa yang barusan terjadi, semua itu adalah rencananya!” balas Elena.


Bryan memiliki penilaian sendiri dengan apa yang baru saja dialaminya, dan dia merasa Jacob tak terlibat dalam apa yang baru saja terjadi.


“Bryan, maafkan aku! Karena ikut denganku kamu justru terlibat masalah,” ucap Elena tulus meminta maaf.


“Kenapa sekarang kamu jadi mudah meminta maaf? Lalu, kenapa sekian lama membohongiku kamu tidak kunjung datang meminta maaf?” ujar Bryan.


Tak memberi tanggapan, Elena justru menundukkan kepala, tahu akan kesalahan besar yang sudah dia perbuat pada Bryan di masa lalu.


Bryan tersenyum tipis melirik apa yang sedang dilakukan Elena. “Bukannya kamu ingin mendapatkan maaf dariku? Bagaimana kalau kamu menggunakan tubuhmu untuk menebus kesalahanmu di masa lalu?”


Elena yang mendengar itu seketika jantungnya berdegup kencang, dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Bryan. Namun jika dengan itu dia bisa mendapatkan maaf darinya, dia rela memberikan apapun yang diinginkan Bryan.


“Ka-kamu bisa melakukan apapun pada tubuh ini, asalkan kamu memberi maaf padaku! Aku sudah menjelaskan apa yang terjadi padaku di masa lalu, dan jika tubuhku adalah pelengkap penjelasanku, aku akan menyerahkan semua padamu! Sekalian kamu bisa membuktikan kalau aku masih menjaga kesucianku!” ungkap Elena.


Mendengar tentang kesucian, Bryan sudah memastikan Elena masihlah wanita yang menjaga kesuciannya, dan semua itu terlihat jelas saat dia menggunakan kekuatan mata tembus pandangnya.


Di bawah tatapan sendu Elena yang mengarah padanya, Bryan menyunggingkan senyuman di wajahnya, lalu dia menghubungi Gerry.


“Kenapa siang-siang seperti ini kamu menghubungiku? Bukannya hari ini kamu ingin menikmati waktu bersantai?” tanya Gerry begitu menjawab panggilan telepon Bryan.


“Pesankan atas namaku kamar hotel terbaik di hotel milikmu! Sekalian pesankan makan siang dan taruh di dalam kamar!” ucap Bryan lalu dia mengakhiri panggilan.


Mendengar pembicaraan Bryan dengan seseorang di telepon, Elena tahu kalau Bryan ingin membawanya ke sebuah hotel. Mengetahui itu, dia mulai menyiapkan diri jika pada akhirnya Bryan benar-benar menginginkan tubuhnya.


‘Aku tidak akan pernah menyesal jika dia menjadi yang pertama karena sejak dulu aku memang ingin memberikan yang pertama hanya untuknya!’ ucapnya dalam hati, dan meski tegang di merasa adanya perasaan bahagia jika Bryan benar-benar menginginkan tubuhnya.

__ADS_1


Sementara itu, tanpa sepengetahuan Elena, Bryan mengeluarkan sebuah botol berisikan pil, dan itu adalah satu-satunya pil yang tersisa dari empat pil kekuatan super khusus untuk wanita.


Dia sudah memutuskan akan memberikan pil terakhir pada siapa. Mengikuti suara hatinya yang tak bisa membuatnya mengabaikan keberadaan Elena, dia memutuskan Elena adalah pemilik pil terakhir, sekaligus dia akan menjadi wanita keempat yang ke depannya akan memiliki kesetiaan mutlak padanya.


Dua puluh menit berlalu, Mobil yang dikemudikan Bryan sudah sampai di depan lobby hotel. Keluar dari mobilnya, Bryan membukakan pintu mobil untuk Elena, lalu dia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet yang bekerja di hotel, untuk dibantu memarkirkan mobilnya.


Berjalan ke tempat resepsionis, Bryan mendengar handphonenya berbunyi dan saat dilihat, ada satu pesan dari Gerry, dan dia tinggal menunjukkan pesan itu pada resepsionis untuk mendapatkan kunci kamarnya.


Menunjukkan pesan Gerry pada resepsionis hot, wanita yang bekerja sebagai resepsionis segera mengonfirmasi kebenaran pesan itu, dan dia tahu saat ini sedang dihadapkan dengan sosok yang jauh lebih penting dibandingkan Gerry yang merupakan bosnya.


Melihat sosok yang datang bersama wanita cantik, dia tahu kalau wanita itu akan menjadi teman bersenang-senang, tapi dia tak berani bertanya macam-macam.


Memberikan kartu akses yang merupakan kunci kamar terbaik hotel pada Bryan, setelah melakukan itu petugas resepsionis menundukkan kepala, membiarkan Bryan pergi menggandeng tangan wanita yang kecantikannya membuat iri banyak pria di lobby hotel.


Setelah melihat sosok Bryan tak lagi terlihat, wanita yang bekerja sebagai resepsionis segera menghubungi Gerry. “Bos benar, Tuan Bryan datang bersama wanita cantik, persis seperti di foto yang Bos kirim padaku,” ucap wanita resepsionis begitu Gerry mengangkat panggilan teleponnya.


Gerry yang berada di ruang kerjanya, dia tersenyum mendengar kebenaran siapa wanita yang pergi dengan Bryan ke hotel. “Layani mereka dengan baik, dan jangan biarkan siapapun mengganggu mereka!” ucapnya tegas lalu dia mengakhiri panggilan telepon.


Bukannya marah tahu pria mereka datang ke hotel dengan wanita lain, Nayla dan Eve justru terlihat senang. Gerry yang melihat itu jelas merasa aneh, begitu juga dengan Gladis.


Jelas keduanya adalah kekasih Bryan, tapi kenapa mereka tidak marah setelah tahu Bryan di hotel bersama wanita lain? Apa mereka sebelumnya telah tahu kalau Bryan akan pergi ke hotel bersama wanita lain?”


Menyadari Gerry dan Gladis bingung kenapa mereka tidak marah, membuat keduanya tersenyum, kemudian Nayla memberikan penjelasan, “Kalian tidak perlu bingung, kami memang tidak tahu menahu tentang bagaimana mereka tiba-tiba pergi ke hotel, tapi kami tahu kalau Elena adalah bagian dari kami, dan masih ada satu lagi yang tentunya kalian sudah mengetahuinya!”


Gerry menganggukkan kepala setelah mendengar semua itu. “Masih ada satu wanita lain selain Elena dan kami mengetahuinya? Apa mungkin wanita itu Monica?” tanya Gerry ingin memastikan.


Nayla dan Eve menganggukkan kepala, mengiyakan jika Monica adalah wanita lainnya, dan mereka akan genap empat orang.


Sedangkan Gerry dan Monica yang mengetahui semua itu, mereka hanya sedikit terkejut karena sedari awal mereka sudah melihat tanda-tanda jika Bryan adalah pria tangguh dengan keberadaan empat wanita di sisinya.


Sementara itu, Bryan dan Elena yang sudah berada di kamar hotel, Elena baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian tubuhnya. Jelas terlihat oleh Bryan yang duduk di atas tempat tidur jika di balik handuk tak lagi ada pakaian dalam yang menutupi bagian tubuh Elena.


“Kemari, duduk di dekatku!” perintah Bryan, dan seperti pelayan yang menuruti keinginan tuannya Elena menuruti semua perintah Bryan.

__ADS_1


Mengeluarkan pil dari botol yang sebelumnya dia letakkan di atas meja dekat tempat tidur, Bryan menyuruh Elena menelan pil itu, tentu ditelan dengan bantuan air.


Tak bertanya pil apa yang diberikan Bryan padanya, Elena langsung saja menelan pil itu, dan untuk menelan pil dengan ukuran yang cukup besar dia membutuhkan bantuan segelas air.


Dalam hitungan detik setelah menelan pil pemberian Bryan, Elena merasa tubuhnya menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya, dan dia sangat bertenaga.


“Apa kamu sudah merasakan adanya perbedaan dari tubuhmu?” tanya Bryan ingin memastikan jika pil pemberiannya telah memberikan manfaatnya untuk tubuh Elena yang sebelumnya terlihat sangat lemah.


“Aku merasakannya, dan ini sangat luar biasa. Aku merasa jauh lebih kuat dan lebih bertenaga dari sebelumnya. Itu, apa semua ini kamu lakukan supaya aku tidak kelelahan saat kamu melakukan itu denganku?” tanya Elena membuat Bryan seketika tersenyum.


“Elena, apa kamu percaya jika aku sudah memaafkanmu setelah kamu menelan pil itu dan kita tidak perlu melakukan apa-apa untuk saat ini?” ucap Bryan.


Kerutan tiba-tiba muncul di kening Elena setelah dia mendengar ucapan Bryan. “Aku tidak percaya kalau kamu sudah memaafkanku sebelum kita melakukannya!”


Ucapan Elena membuat Bryan tersenyum masam. Sebelumnya dia cuma hanya ingin menggoda Elena, tapi nyatanya wanita itu justru bersungguh-sungguh ingin melakukan hubungan selayaknya suami istri dengannya.


“Bryan, kita harus menuntaskannya hari ini juga! Tubuhku adalah milikmu, dan kamu satu-satunya pria yang pantas menjadi yang pertama untukku!” Pil yang dikonsumsi Elena benar-benar sudah bereaksi dan sekarang dia memiliki kesetiaan mutlak dengan Bryan. Sekalipun Bryan memiliki banyak wanita selain dirinya, dia tak akan berpaling ke pria lain.


Bryan tentu saja tahu efek dari pil yang dia berikan pada Elena, dan selamanya wanita itu hanya akan menjadi miliknya. Namun, untuk melakukan itu dengannya saat ini, jujur saja dia belum sanggup, kecuali ada dorongan pihak lain yang membuatnya ingin melakukannya.


Sedangkan Elena yang kapanpun siap memberikan semua pada Bryan, dia menatap wajah pria itu dalam, lalu bangkit berdiri di depannya dengan senyuman menggoda yang terlihat di bibirnya.


Melihat Elena, tiba-tiba saja Bryan merasa kesulitan menelan ludahnya. Penampilan Elena dengan tubuh hanya berbalut handuk sangat membuatnya tergoda melihat secara langsung apa yang ada di balik handuk itu, bahkan di bawah sana miliknya sudah tegak dan siap melakukan pertarungan.


“E-Elena, a-apa yang mau kamu lakukan?” tanyanya gugup saat melihat Elena mencoba membuka handuk yang melilit tubuhnya, dan handuk itu juga merupakan petahana terakhir sebelum kedua mata Bryan melihat kepolosan tubuhnya.


Tidak ada balasan dari Elena, dia hanya tersenyum dan perlahan menurunkan handuknya.


Masih dengan senyuman menggoda yang terlihat di wajahnya, dia kemudian berbicara pada Bryan, “Kita selesaikan semua sampai tuntas, dan aku tidak mau mendengar kata penolakan keluar dari mulutmu!”


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2