Sistem Kebangkitan

Sistem Kebangkitan
Menyalahgunakan Jabatan


__ADS_3

Selesai makan siang di Mansion, Bryan dan Nayla memutuskan pergi ke panti asuhan, dan Eve akan pergi menyusul mereka setelah selesai dengan pekerjaannya. Sebelum pergi ke panti asuhan, mereka lebih dulu ingin membeli beberapa mainan, makanan, serta buku bacaan untuk anak-anak panti.


Tentunya mereka juga membeli beberapa barang untuk ibu panti dan mereka yang bekerja di panti. Berbelanja banyak barang menghabiskan waktu cukup lama, dan akhirnya mereka sampai di panti asuhan saat hari sudah sore, tak lama sebelum tiba masa matahari terbenam.


Kedatangan Bryan dan Nayla disambut anak-anak panti yang berlarian ke arah mereka. Semua anak panti terlihat senang, dan jelas terlihat keadaan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya.


Bryan dan Nayla menyapa satu-persatu anak-anak panti, dan sekarang giliran mereka menyapa para pekerja yang membantu menjaga panti dan merawat anak-anak panti. Terakhir, mereka menyapa kedua ibu panti yang sepertinya baru selesai masak.


Semua orang terlihat senang, dan kesenangan itu semakin lengkap saat Eve datang. Namun dia tak datang sendirian, ada seorang pria yang datang bersamanya, tapi jelas terlihat Eve mengacuhkan keberadaan pria itu yang dari usia, pria itu masih muda dan mungkin usianya sama dengan Bryan.


Tak ada yang mengenali pria itu, dan Eve sama sekali tidak ada niatan mengenalkan pria itu pada semua orang. Begitu datang, Eve lebih dulu menyapa semua orang di panti, dan setelahnya dia bergabung dengan Nayla dan Bryan. Dia benar-benar mengabaikan pria yang datang bersamanya.


Sedangkan pria yang datang bersama Eve, dia menghampiri kedua ibu panti dan memperkenalkan diri pada mereka. “Ibu panti, perkenalkan saya Axel, kekasih Eve, dan saya seorang Kolonel di Departemen Kepolisian kota ini.”


Bisa dikatakan Axel memiliki kedudukan cukup tinggi di Departemen Kepolisian, dan dia terlihat sangat angkuh setelah memperkenalkan siapa dirinya pada kedua Ibu panti.


“Kolonel Axel, siapa kekasihmu? Jika Eve yang kamu maksud itu aku, sepertinya kita tidak ada hubungan seperti itu, dan lagi saat ini aku sedang bersama kekasihku!” Di depan mata Axel, Eve memeluk mesra lengan Bryan.


Axel diam ditempat menatap tidak suka dengan apa yang dilakukan Eve. Dia melihat bagaimana wanita yang diinginkannya justru memeluk mesra lengan pria, yang diakui sebagai kekasihnya. Kalaupun benar pria itu kekasihnya, dia merasa tak sulit memisahkan mereka apalagi saat ini Eve adalah bawahannya.


“Eve, aku perintahkan kamu jauhi pria itu dan kemari mendekat padaku!” ucap Axel memberi perintah. Sebagai atasan, dia merasa berhak melakukan semua itu pada bawahannya.


Namun sedikitpun Eve tak bergeming. Dia masih memeluk lengan Bryan, tak mengindahkan perintahnya. “Kolonel Axel, ini sudah diluar jam kerja, dan apa anda lupa kalau hari ini adalah hari terakhirku bekerja di Departemen Kepolisian? Maaf saja, anda sudah tak lagi berhak memberi perintah pada saya!” ucap Eve tegas.


“Eve, apa kamu lupa aku masih belum menyetujui pengunduran dirimu, dan tanpa persetujuanku kamu tak akan mendapat beberapa tunjangan yang ke depannya masih bisa kamu nikmati?” ucap Axel sembari tersenyum lebar karena dia masih merasa berkuasa atas diri Eve.


“Aku tidak perlu tunjangan yang jumlahnya tak seberapa karena mulai besok aku sudah bisa menikmati bekerja di tempat baru.” Nayla sudah memberinya pekerjaan sesuai dengan kemampuannya, dan lagi gaji yang didapatkan lima kali lebih besar dibandingkan saat dia bekerja di Departemen Kepolisian.


Axel yang semula terlihat angkuh dan percaya diri, tapi tak lama dia mengambil langkah maju berjalan menghampiri Eve. Berada di hadapan Eve, dia mencoba memegang lengan wanita itu dan berusaha menjauhkannya dari Bryan.

__ADS_1


Namun sebelum tangannya berhasil memegang lengan Eve, Bryan lebih dulu menarik Eve ke belakang tubuhnya, menyembunyikan wanitanya di balik tubuhnya. “Jangan sembarangan menyentuh apa yang bukan milikmu!”


Merasa keadaan saat ini tak layak untuk menjadi tontonan anak-anak panti, kedua ibu panti dan kedua wanita pengurus panti, mereka menyuruh anak-anak kembali ke dalam, dan mereka menyusul masuk sambil membawa semua barang-barang pemberian Bryan dan Nayla.


Axel yang tak mempedulikan keberadaan anak-anak panti, dia mengarahkan sorot mata tajam ke arah Bryan. “Jangan menghalangi apa yang ingin aku lakukan kalau wajah mulusmu tidak ingin aku buat babak belur!” ucapnya sambil menunjukkan otot-otot tangannya di depan wajah Bryan.


Bryan tak menyingkir dari tempatnya, dia justru tersenyum menunjukkan tak adanya ketakutan pada sosok Axel.


Akan tetapi karena sosok yang dihadapinya saat ini adalah seorang dengan pangkat Kolonel, dia tidak ingin memukul lebih dulu karena hukum yang berlaku akan menganggap si pemukul sebagai pihak yang salah. “Aku tidak akan menyingkir, dan sebaiknya kamu segera pergi tinggalkan tempat ini!” ucapnya.


Axel yang biasanya mendapatkan perlakuan hormat, di tempat ini sama sekali tak ada yang menaruh hormat padanya. Bahkan saat banyak orang yang menginginkan keberadaannya saat mereka mengadakan acara, sekarang dirinya justru diusir.


Hanya saja Axel tak mempedulikan pengusiran Bryan, dan dia tetap pada tujuannya. Tujuannya hanya satu, membuat Eve menjadi wanitanya, dan menunjukkan pada semua orang kalau tak ada yang tidak bisa dia miliki.


Dengan tatapan sinis dan meremehkan keberadaan Bryan, Axel membuka suara, “Sekali lagi aku tegaskan padamu, jangan menghalangi apa yang ingin aku lakukan, atau kau benar-benar akan aku buat menyesal!” Mengayunkan tangannya, Axel mengarahkan pukulan ke wajah Bryan, dan dia bermaksud mengancam dengan perbuatan nyata.


“Kau yang memaksaku dan kau juga yang lebih dulu memulainya!” Bryan meremas tangan Axe di genggaman tangannya, lalu dia menampar wajah pria itu dengan tangannya yang bebas.


“Plak...” Suara nyaring terdengar saat Bryan menampar Axel. Tamparan itu terlihat tak bertenaga, tapi Axe merasakan panas dan sakit di pipinya yang mulai membengkak akibat tamparan Bryan.


Axel sama sekali tak peduli dengan rasa sakitnya karena dia saat ini sangat marah. Mengeluarkan pistol yang seharusnya dia gunakan untuk menangkap penjahat, dia langsung saja mengarahkan tembakan pada Bryan.


“Dor...” Mendengar suara pistol membuat Eve dan Nayla terkejut dan mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Bryan. Namun detik berikutnya, mereka melihat keadaan Bryan baik-baik saja. Peluru pistol Axel tak melukainya, karena dia berhasil menghindar di saat-saat terakhir.


“Ka-kau, bagaimana bisa kau menghindarinya?” Tak percaya Bryan berhasil menghindari tembakannya, Axel sekali lagi mencoba menembak Bryan.


Namun kali ini sebelum kembali terdengar suara tembakan, Bryan lebih dulu berhasil merebut pistol Axel dan membuangnya ke tempat yang jauh.


“Memukul dan merebut senjata anggota Departemen Kepolisian. Kau pasti mendapatkan hukuman yang setimpal!” teriak Axel yang kali ini dia ingin menggunakan hukum untuk mengancam Bryan.

__ADS_1


“Ingin mengancam dengan hukum? Apa menurutmu masih ada yang percaya padamu, setelah sejak awal banyak orang yang melihat secara langsung perbuatanmu?” ucap Nayla.


Nayla lalu menunjukkan pada Axel kalau sejak tadi dia melakukan siaran langsung di akun media sosial miliknya, dan ada lebih dari dua ratus ribu orang yang menyaksikan bagaimana Axel menyalahgunakan jabatannya.


Kolom komentar siaran langsung Nayla saat ini dipenuhi komentar hujatan bukan hanya pada Axel tapi juga pada anggota Departemen Kepolisian lainnya, yang semakin ke sini semakin arogan, sombong, semena-mena karena jabatan, dan hanya menegakkan uang daripada kebenaran.


Bryan sendiri mendapatkan dukungan banyak orang, dan mereka bersedia melawan dengan memberi kesaksian jika Axel menggunakan hukum untuk menjerat Bryan.


“Apa yang kau lakukan? Cepat hentikan!” teriak Axel pada Nayla yang sedikitpun tidak mempedulikannya.


Bryan sendiri sedari awal tahu apa yang dilakukan Nayla, dan dia merasa beruntung memiliki dua wanita yang begitu cerdas, tak seperti para wanita yang telah pergi meninggalkannya.


“Daripada menyuruhku menghentikan apa yang sedang aku lakukan, bagaimana kalau kau segera pergi dari tempat ini! Lagipula tempat ini tidak pernah menerima keberadaanmu, jadi sebaiknya kamu memang segera pergi dari tempat ini!” ucap Nayla.


“Baiklah, aku pergi, tapi ini semua belum berakhir!” Meski enggan pergi, Axel pada akhirnya memutuskan pergi, tapi tanpa dia sadari, ucapan terakhirnya telah membuat banyak orang sangat membencinya, dan ada seseorang yang benar-benar tidak menyangka kalau ada anggota Departemen Kepolisian yang memiliki sifat seburuk Axel.


Seorang wanita yang sadari awak melihat siaran langsung Nayla yang merupakan teman lamanya, dia memanggil pria yang sudah lima tahun ini menjadi asistennya.


“Nona, apa yang Nona butuhkan?” tanya pria itu.


“Berbentikan pria bernama Axel dari pekerjaannya, dan sepertinya sudah saatnya kita melakukan pembersihan!” ucapnya begitu tegas.


“Baik Nona, kurang dari sepuluh jan pria itu tak lagi menjadi bagian dari anggota Departemen Kepolisian. Dia akan dipecat secara tidak hormat.”


Wanita itu tersenyum dan mengangguk puas. “Sepertinya aku juga harus segera bertemu dengannya!”


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2