
Setelah memastikan Elena tertidur pulas dan menyelimuti tubuh polosnya, Bryan yang hanya memakai celana pendek tanpa dalaman, dia melangkahkan kaki menuju kamar Nayla dan Eve.
Sejak menghabiskan malam panjang bersama Bryan, keduanya telah memutuskan untuk tinggal di kamar yang sama, dan saat Bruan masuk ke kamar mereka terlihat ke-dua wanita itu sedang tertidur. Namun, dari hembusan napas keduanya yang tidak teratur Bryan tersenyum penuh arti dan jelas dia tahu keduanya hanya pura-pura tidur.
Kedua wanita cantik pura-pura tidur dengan selimut menutup tubuh mereka sampai leher. Melihat wajah keduanya yang selalu terlihat cantik, begitu saja dia menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya, dan seketika dia disuguhi pemandangan indah yang bukan kali pertama dilihatnya.
Bryan yang belum mendapatkan kepuasan karena tak tega meneruskan aktivitasnya saat Elena sudah kelelahan, dia langsung saja melepas celana pendeknya dan tubuh Nayla menjadi sasaran pertamanya. Naik ke atas tempat tidur kedua wanitanya dan mencari posisi nyaman di antara kedua paha Nayla, Bryan langsung saja menyatukan miliknya dengan milik Nayla.
Terdengar suara desah*n lirih keluar dari mulut Nayla saat milik Bryan mentok di dalam miliknya, tapi kedua matanya tetap terpejam seolah dia benar-benar tertidur. Sedangkan Eve, dia memiringkan tubuh ke arah lain saat tempat tidurnya mulai bergerak-gerak seirama dengan gerakan Bryan mengaduk-aduk milik Nayla.
Lima menit berlalu karena terus mendengar suara desah*n Nayla, entah kenapa Eve merasa miliknya sangat gatal dan akhirnya dia menggunakan jari-jari tangan menyentuh dan memainkan miliknya sendiri. Namun, tak lama kemudian tangannya di singkirkan Bryan dan sesuatu yang membuat penuh miliknya segera memberinya kepuasan dibandingkan memainkan miliknya menggunakan tangan.
‘Nayla sepertinya sudah mendapatkan puncak kenikmatan.’ Eve berbicara dalam hati sembari melirik Nayla yang kedapatan berjalan menuju kamar mandi.
Sementara itu, Bryan yang hampir mendapatkan puncak kenikmatannya dari wanita ketiganya malam ini, dia semakin liar mengaduk-aduk milik Eve, sampai akhirnya dia menumpahkan kerja kerasnya di dalam milik Eve. Dia tidak takut Eve hamil karena pasti bertanggungjawab atas perbuatannya.
Segera Bryan merebahkan tubuhnya di sebelah Eve sambil mengatur napasnya, begitu juga dengan wanita yang hanya dalam lima belas menitan telah mendapatkan dua kali puncak kenikmatan. Waktu yang singkat tapi Eve sangat puas.
“Sayang, apa kamu ingin membuat Eve mengandung anakmu lebih dulu dari aku? Itu sangat banyak dan kental, mungkin sepuluh hari lagi aku akan mendengar kabar baik dari rumah sakit.” Sempat-sempatnya Nayla yang keluar dari kamar mandi melihat milik Eve sebelum dia akhirnya merebahkan diri di sebelah Bryan.
Eve sendiri menggunakan tangan kanannya untuk menyentuh miliknya, dan dia mendapati cairan kental membanjiri miliknya sampai kuber keluar. “Akan sangat menyenangkan jika aku bisa hamil hanya dalam dua kali pertemuan,” ucapnya lirih sembari memiringkan tubuh ke arah Bryan, lalu dia mencium kening pria yang begitu dicintainya.
Di sisi lain Nayla mengambil tisu basah miliknya untuk membersihkan mulik Bryan yang berkilauan terkena pancaran cahaya lampu tidur, baru juga selesai dibersihkan milik Bryan kembali tegak berdiri membuat Nayla menelan ludah melihat ukuran milik Bryan yang baru saja mengaduk-aduk miliknya.
Sentuhan wanita adalah candu, dan Bryan merasa wajar jika miliknya kembali tegak berdiri setelah mendapatkan sentuhan Nayla. “Kamu kembali membangunkannya, sebagai hukuman kalian berdua wajib membuatnya kembali tertidur! Ingat, harus benar-benar sampai tertidur!”
Menuruti keinginan Bryan, Nayla langsung saja memposisikan dirinya di atas tubuh Bryan, dan pertarungan panas kembali dilanjutkan.
__ADS_1
Nayla dan Eve bergantian memberi kepuasan pada Bryan, dan setelah satu setengah jam berlalu Bryan memberikan benih berharganya pada Nayla, sebelum akhirnya mereka bertiga tertidur lelap di dalam selimut yang sama.
...----------------...
Pagi hari yang cerah di akhir pekan. Pagi-pagi sekali Bryan telah kembali ke kamarnya membantu Elena yang kesulitan pergi ke kamar mandi. Wanita itu masih sedikit merasakan rasa sakit di **** *************, dan dia harus tuntun saat masuk dan keluar dari kamar mandi.
Seharusnya ada satu lagi wanita yang pagi ini mengalami nasib sama dengan Elena. Monica, seharusnya dia semalam ikut dengan Eve, tapi karena sedang ada tamu bulanan dan sedang banyak-banyak nya, dia harus menunda melakukan itu dengan Bryan, dan baru akan melakukannya begitu tamunya pergi.
Selesai membantu Elena dengan urusan kamar mandi bahkan dia yang memandikan Elena, sekarang Bryan sedang membantu Elena memakai pakaian. Nayla dan Eve masih tertidur, begitu juga dengan Monica, Gerry, dan Gladis. Oleh karena itu pagi ini Bryan memulai paginya dengan mencurahkan perhatiannya pada Elena.
“Sayang, seutuhnya tubuh ini sekarang adalah milikmu, dan ini berlaku selama kamu masih menginginkan aku menjadi milikmu. Selama kamu masih menginginkanku, pria lain hanya akan menderita jika menginginkan tubuhku!”
Bryan mencoba mencari ketidak seriusan dari mata Elena, tapi dia tidak menemukannya pertanda wanita ini sangat serius dengan ucapannya.
”Na, selamanya aku tetap menginginkan tubuhmu, dan aku tidak akan pernah bosan untuk selalu menginginkannya. Namun, kamu juga tahu kalau kamu bukan satu-satunya wanitaku, tapi aku akan senantiasa berlaku adik pada kalian!”
Selesai bicara, Bryan mencium bibir Elena. Tak mau kalah Elena membalas ciuman Bryan, dan segera saja terjadi ciuman panas di pagi hari. Mereka baru berhenti saat kedua bibir mereka sama-sama basah, dan lagi ada seseorang yang mengetuk pintu kamar.
Dari suaranya keduanya tahu siapa yang mengetuk pintu. Dikarenakan Elena masih kesulitan berjalan karena seolah masih ada yang mengganjal di miliknya, jadilah Bryan yang membukakan pintu, dan terlihat olehnya Gerry berdiri di depan pintu sambil melirik ke dalam kamar.
Mendapati keberadaan Elena du kamar sahabatnya membuat Gerry tersenyum. “Tiga wanita dalam semalam? Tema, aku harus mengakui kalau kamu memiliki tenaga yang luar biasa besar.”
Bryan sama sekali tidak terkejut mendengarnya. Semalam saat masuk ke dalam kamar Nayla dan Eve, sepintas dia melihat Gerry baru saja keluar dari kamar Gladis. Sekarang dia melihat Elena di kamarnya dengan rambut basah. Dari situ jelas saja Gerry tahu kalau Bryan semalam telah memberi kepuasan pada ketiga wanitanya.
“Aku bukan kamu yang hanya sanggup memberi kepuasan pada satu wanita. Asal kamu tahu, tiga wanita masih kewalahan berhadapan denganku, baru jika ada empat wanita aku akan berimbas dengan mereka!” Jangankan empat wanita, dengan kekuatan yang telah ditingkatkan oleh sistem, asalkan ada waktu belasan wanita tak sulit untuk Bryan berikan kepuasan, yang tidak mungkin bisa diberikan pria lain.
“Kalau masalah ini, aku akui, aku kalah jauh darimu. Gladis terlalu liar saat berada di atas ranjang. Meski sudah berkali-kali aku buat merasakan puncak kenikmatan, dia masih mau lagi dan lagi. Aku sampai sulit percaya kalau semalam adalah kali kedua dia dan aku memburu kenikmatan bersama!”
__ADS_1
Gerry menjadu yang pertama untuk Gladis, tapi kali kedua mereka melakukan perburuan kenikmatan bersama, Gerry hampir saja mengibarkan bendera putih akibat liarnya permainan Gladis.
Mendengarnya Bryan hanya tersenyum, lalu dia bertanya, “Ada apa pagi-pagi sudah ngetuk pintu kamarku? Apa ada sesuatu yang genting?”
“Sebenarnya tidak ada yang genting, aku cuma ingin memberitahu kalau semua mobil sudah siap digunakan untuk berlibur.” Gerry hanya beralasan, tujuan sebenarnya adalah dia ingin melihat siapa yang berada di kamar Bryan.
Bryan hanya mengangguk dan kembali menutup pintu. Berjalan mendekati Elena, entah kenapa dia kembali tergoda dengan tubuh wanita itu, mungkin itu terjadi karena dia belum merasakan puncak kenikmatan bersama Elena.
“Sayang, kenapa kamu terus menatapku seolah ingin menerkamku? Apa kamu menginginkan tubuh ini? Kalau kamu ingin, kamu bisa melakukannya, tapi karena milikku masih sakit kamu harus pelan-pelan saat melakukannya!” ucap Elena melihat Bryan yang terus memperhatikan tubuhnya.
Sebagai pria normal tentu dia ingin merasakan nikmatnya tubuh wanita, tapi dia bukan pria yang hanya mementingkan kesenangannya sendiri dan tidak mempedulikan keadaan wanitanya.
Bryan tersenyum, sembari mengusap lembut rambut kepala Elena. ”Aku memang menginginkan kembali tubuhmu, tapi aku akan kembali melakukannya begitu kamu tak lagi merasakan rasa sakit.”
Elena mengangguk puas mendengar balasan Bryan, lalu dia meminta diantar ke ruang makan. Bukannya diantar dengan membantunya berjalan, Bryan justru menggendong tubuh Elena yang begitu ringan, dan tak lama mereka sampai si ruanga makan.
Wajah Elena memerah saat Bryan menurunkan wanita itu dari gendongannya. Beruntung Gerry dan wanita yang lainnya tidak melihat waktu dia di gendong Bryan. Kalau saja ada salah satu yang melihat mungkin wajah Elena jauh lebih merah dari saat ini.
“Kamu tunggu di sini! Aku mau lihat yang lainnya dan begitu mereka semua siap, kita akan pergi berlibur tentunya setelah sarapan!” Bryan berbicara sembari menunjukkan senyuman di wajahnya.
Elena menganggukkan kepalanya dengan begitu ringan saat Bryan sudah kembali memperlakukan dirinya seperti di masa lalu. Dia dulu sering mendapatkan perlakuan lembut dari Bryan, tapi karena kesalahannya sendiri sempat dia memiliki hubungan sangat buruk dengan pria yang sangat dia cintai. Namun sekarang saat kesempatan kedua itu datang, dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Bryan.
Bukan hanya seorang diri dia akan mencoba selalu membahagiakan Bryan, tapi dia punya saudari yang memiliki tujuan sama dengannya, yaitu kebahagiaan Bryan.
...----------------...
Bersambung.
__ADS_1