
Bryan dan yang lainnya telah sampai di panti asuhan. Kedatangan mereka mendapatkan sambutan dari anak-anak panti, kedua ibu panti, dan tiga wanita yang membantu mengurus panti.
Lima penjaga panti tetap bekerja dengan semestinya begitu juga dengan dua tukang kebun yang saat ini sedang merawat kebun sayur dan buah di halaman belakang panti. Kehidupan di panti sudah jauh lebih baik dari terakhir kali Bryan mengunjunginya.
Musim dingin juga tidak berdampak pada anak-anak panti karena seluruh kebutuhan mereka terpenuhi, mesin penghangat di ruangan juga berfungsi seperti seharusnya jadi anak-anak panti tidak perlu mengalami kedinginan saat malam hari.
Setelah setengah jam menghabiskan waktu di panti, Bryan pergi ke pantai bersama yang lainnya, kecuali Elena yang memilih tinggal di panti bersama kedua ibu panti. Dia masih mengalami sedikit nyeri saat berjalan, oleh karena itu dia memilih tetap di panti dengan alasan ingin membantu menyiapkan makan siang.
“Kalian berdua ikut ke pantai untuk memantau keadaan sekitar!” Bryan membawa dua penjaga panti ikut pergi ke pantai untuk memantau area sekitar, memastikan tidak ada bahaya yang mengancam anak-anak panti.
“Baik Tuan!” Dua penjaga ikut ke pantai menyisakan tiga penjaga yang tetap menjalankan tugas sebagai penjaga panti.
Berjalan di belakang empat wanita dan anak-anak panti, Bryan dan Gerry fokus melihat sekeliling memastikan tidak ada bahaya yang mengancam anak-anak panti dan para wanita. Berjalan sampai pantai, keduanya lega karena tidak menemukan adanya bahaya yang mengancam.
Sampai di pantai, anak-anak panti langsung saja berlarian di tepi pantai bermain pasir. Mereka bermain dengan para wanita, dan tak satupun dari mereka menunjukkan wajah sedih. Bruntung juga hari ini matahari bersinar terang, jadi hawa dingin tidak terlalu berasa.
Saat Bryan dan Gerry mengira tidak ada bahaya di pantai, segerombolan pemuda yang sebelumnya nongkrong di tempat yang jauh dari tempat bermain anak-anak panti dan para wanita, mereka tiba-tiba saja jalan mendekati anak-anak panti dan para wanita.
“Ada yang datang mencari masalah!” ucap Bryan melihat keberadaan sekelompok pemuda jalan mendekati anak-anak panti dan para wanita.
“Bagaimana, apa kita perlu turun tangan membereskan mereka? Melihat kemampuan mereka, seharusnya mereka cuma sekelompok anak muda yang minim pengalaman bertarung, dan tubuh mereka sama sekali tidak terlihat selayaknya mereka yang terlatih dalam ilmu beladiri.”
Sekelompok pemuda yang datang memiliki tubuh tinggi tapi tak terlihat adanya otot yang menonjol dari tubuh mereka, dan dari ekspresi cengengesan yang mereka tunjukkan Gerry yakin mereka hanyalah sekelompok pecundang yang langsung kabur begitu digertak.
Untuk wajah, para pemuda itu memiliki wajah lumayan bisa untuk menarik perhatian para gadis, tapi jika dibandingkan dengan Gerry apa lagi Bryan, mereka jelas tak sebanding.
Bryan dan Gerry yakin kedatangan mereka adalah untuk menggoda para wanita. Wanita mereka memang terlalu indah untuk diabaikan, oleh karena itu kebanyakan pria akan datang untuk menggoda begitu melihat keberadaan mereka. Namun, mereka yang datang tidak tahu kalau para wanita itu adalah singa yang kebetulan memakai kostum wanita cantik.
Tak bergerak meninggalkan tempatnya, Bryan dan Gerry mengamati dari kejauhan saat sekelompok pemuda mendekati para wanita yang sedang bermain dengan anak-anak. Jelas kedatangan mereka tak mendapatkan sambutan baik, bahkan keberadaan mereka diacuhkan oleh para wanita dan anak-anak.
“Aku mau lihat, sehancur apa wajah mereka setelah berani mengganggu keceriaan para harimau betina!” Bryan bicara sambil tersenyum tipis.
Dari empat wanita yang menemani anak-anak bermain, Monica, Nayla dan Eve, mereka saat menatap tajam sekelompok pemuda yang tiba-tiba datang dan sok akrab dengan mereka. Untuk Gladia, dia berada di sekitaran anak-anak panti, memastikan tidak ada yang mendekati mereka.
__ADS_1
“Nona-nona cantik, bagaimana kalau kami temani kalian bermain? Kebetulan selain menyukai wanita cantik kami juga menyukai anak-anak.” Salah satu pria bicara di hadapan Monica dan dua wanita lainnya, yang jelas-jelas tidak suka dengan keberadaannya.
“Kebetulan kami tidak butuh teman bermain seperti kalian, dan kebetulan juga kalian bukan orang yang layak bermain dengan kami! Sebaiknya kalian pergi secara baik-baik sebelum terjadi hal buruk pada kalian!” ucap Monica memberi peringatan pada mereka, tapi tak ada satu orangpun dari mereka mengindahkan peringatannya.
Meski Eve mantan anggota Departemen Kepolisian, tapi soal keberanian dia masih berada di bawah Monica, oleh karena itu saat ini Monica lah yang berdiri di tempat paling dengan, sedangkan Nayla dan Eve berdiri tepat di belakangnya kurang dari setengah langkah kaki orang dewasa.
Setelah tidak mengindahkan peringatan Monica yang menyuruh mereka pergi secara baik-baik, sekelompok pemuda yang berjumlah lima belas orang, mereka justru membuat lingkaran dengan empat wanita dan anak-anak panti berada di tengah-tengah lingkaran.
Mereka benar-benar tidak tahu apa yang terbaik untuk diri mereka sendiri. Mengganggu Monica dan yang lainnya, jelas itu bukti kalau mereka tidak tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri.
“Sebenarnya kami tidak membutuhkan jawaban dari Nona, mau tidak mau kami tetap akan di sini menemani Nona-nona cantik, dan kalian segera singkirkan anak-anak yang merusak pemandangan! Suruh mereka pergi bermain di tempat lain!” Pemuda yang sama bicara, dan dari cara bicaranya yang begitu berkuasa jelas jika dia adalah pemimpin kelompok pemuda yang sedang mencari nasib buruk mereka sendiri.
“Berani menyentuh anak-anak, aku pastikan tangan kalian patah sampai cacat!” Kali ini Eve yang bicara.
Dua pria tidak peduli dengan apa yang baru diucapkan Eve, mereka bersamaan mengulurkan tangan mencoba memegang tangan anak-anak panti, dan setelahnya anak-anak panti akan diseret menjauh sejauh-jauhnya.
Namun, belum juga berhasil memegang tangan anak-anak panti, tangan mereka lebih dulu dipegang Eve.
Melihat tangan mereka dipegang wanita cantik dengan lekuk tubuh sangat menggoda, keduanya tersenyum lebar dan salah satu dari mereka bicara, “Ternyata Nona sudah tidak sabar ingin bermain dan bersenang-senang dengan kami, baiklah silahkan Nona pegang tangan kami dan lakukan apa yang ingin Nona lakukan!”
“Aku sejak tadi ingin mematahkan tangan kalian, dan karena kalian telah menyetujuinya aku tak perlu sungkan melakukannya!” Eve tersenyum miring melihat keadaan dua pemuda yang kedua tangannya patah, bahkan tulang tangan mereka sampai terlihat.
Pemuda yang lain termasuk dengan pemimpin mereka, sekarang mereka tahu jika para wanita yang sedang mereka ganggu tidak main-main dengan ucapan mereka. Terbukti dengan dua teman mereka yang tangannya patah di tangan salah satu wanita.
“Kamu bisa mematahkan kedua temanku karena mereka lengah, setelah ini jangan harap kalian bisa melakukan hal yang sama pada kami karena kalian sudah ditakdirkan tunduk di bawah ************ kami!” ucap pemimpin kelompok lalu dengan kode mata dia menyuruh anggotanya maju bersamaan.
Tentunya Monica, Eve, serta Nayla tahu jika mereka akan dikeroyok, tapi bukannya takut mereka justru menyeringai senang.
Monica menjadi yang pertama maju menghadai empat pria, walaupun lawannya adalah empat pemuda yang postur tubuhnya lebih tinggi dibandingkan dirinya, Monica punya banyak cara mengalahkan mereka berbekal pengalamannya selama mengikuti pelatihan.
Sementara itu Bryan dan Gerry masih tetap berdiri tenang di tempat mereka mengawasi apa yang sedang terjadi. Jika memang bantuan mereka dibutuhkan, hanya dalam satu kedipan mata mereka akan datang.
Sedangkan ketua kelompok, entah kenapa dia merasakan firasat buruk karena telah berurusan dengan anak-anak panti dan para wanita yang keindahannya bisa membuat dirinya gila.
__ADS_1
Monica yang berkelahi dengan empat pemuda, dia menang mudah dengan keadaan empat pemuda babak belur dan masing-masing mengalami patah tulang di salah satu tangan mereka.
Sekarang giliran Nayla dan Eve, keduanya maju bersamaan menyerang delapan pemuda yang nampak tidak siap saat kedua wanita menyerang mereka. Ketidaksiapan mereka harus dibayar mahal dengan tak satupun pukulan serta tendangan kedua wanita yang berhasil mereka taha.
Pada akhirnya nasib mereka berdelapan sama dengan enam teman mereka yang telah mengalami patah tulang tangan, dan kini hanya tersisa pemimpin mereka.
“Kalian jangan lakukan hal buruk padaku karena Ayahku memiliki kenalan di Royal Company, berani menyinggungku, sama saja kalian mencari masalah dengan Royal Company!”
Bukannya takut diancam menggunakan nama besar Royal Company, Nayla, Eve dan Monica justru tertawa keras begitu juga dengan Gladis.
Melihat para wanita tertawa bersamaan, pemimpin kelompok semakin merasa sesuatu yang buruk akan segera menimpa dirinya, bahkan bisa saja yang dialaminya menyeret keluarganya.
“Apa kamu pikir ancaman kamu cukup untuk menakuti kami? Bukannya menakutkan, ancaman kamu justru sangat lucu.” Nayla bicara sambil tersenyum, lalu dia memanggil Gladis mendekat ke tempatnya berdiri.
Saat Gladis sudah berada di dekatnya, Nayla kembali bicara, “Kalau ayahmu memiliki hubungan dengan Royal Company, seharusnya kamu juga tidak asing dengan siapa sosok penting Royal Company, apalagi mereka sering muncul di layar TV.”
Pemuda itu tidak memberi balasan, tapi dia memang mengenali hampir semua sosok penting Royal Company termasuk siapa CEO Royal Company yang merupakan putra tunggal keluarga Laurens.
“Aku yakin kamu tahu siapa-siapa orang penting Royal Company, termasuk wanita di sampingku, dan dua pria di belakangmu!”
Gladis telah menggerai rambutnya yang semula terikat rapi. Melihat penampilan Gladis saat ini, pemimpin kelompok pemuda membuka lebar-lebar kedua mulutnya.
“Sial! Kenapa aku tidak sedari awal menyadarinya?” gumamnya lirih dan dia sangat mengenali siapa Gladis, yang tidak lain adalah salah satu orang kepercayaan CEO Royal Company.
Melihat Gladis saja sudah membuatnya terkejut dan berkeringat dingin, tapi dia teringat ucapan wanita di hadapannya tentang dua pria di belakangnya. Merasa sesuatu yang buruk akan terus menimpa dirinya, perlahan dia menolehkan kepala.
Detik berikutnya dia seketika pingsan tak sadarkan diri karena terkejut begitu tahu di belakangnya ada sosok CEO Royal Company dan satu lagi orang kepercayaannya.
“Belum apa-apa sudah pingsan, dasar pria lemah!” cibir Bryan yang langsung saja menghampiri anak-anak panti dan ketiga wanitanya, lalu dia membawa mereka pergi menjauhkan sekelompok pemuda yang pingsan di pinggir pantai.
Tak mau kalah dari Bryan, Gerry buru-buru menghampiri Gladis dan menggandengnya pergi menjauh. Sedangkan dua orang penjaga yang semula ditugaskan menjaga anak-anak panti, mereka ditugaskan menghapus rekaman kamera cctv keamanan yang menyorot ke arah tempat terjadinya keributan.
Masalah dengan pemuda berandal telah terselesaikan, tapi mereka semua yang sudah malas bermain di pantai pada akhirnya memilih kembali ke panti asuhan dann beraiap makan siang bersama.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.