
Bryan berencana menyingkirkan seluruh kelemahannya. Menyingkirkan bukan dalam artian melenyapkan apa yang menjadi kelemahannya, tapi dia akan menjadikan kelemahannya menjadi kekuatan tambahan miliknya.
Kedua orangtuanya juga merupakan kelemahannya, oleh karena itu dia sudah memikirkan rencana terbaik untuk mereka begitu pulang dari perjalanan bisnis keluar negeri.
“Gerry, berikan ini pada Gladis dan orangtuamu!” Dua botol obat yang masing-masing botol berisi dua pil diberikan Bryan pada Gerry.
“Pil apa ini? Apa pil ini sama dengan yang kamu berikan padaku?” Gerry penasaran dengan pil yang kali ini diberikan Bryan karena kedua pil di dalam botol berbeda dengan apa yang pernah diberikan padanya.
“Ada sedikit persamaan dari kedua pil di dalam botol dengan pil yang aku berikan pada kalian, tapi efektivitas kedua pil itu hanya setengah dari pil yang aku berikan pada kalian. Jadi, siapapun yang mengkonsumsi kedua pil di dalam botol, dia akan memiliki setengah kekuatan kalian,” ucap Bryan memberi penjelasan.
Selain memberikan pada Gerry, Bryan juga memberi botol obat berisi dua pil pada Nicky, dan dia menyuruh Hugo mengantarkan botol berisi obat pada wanita itu. Bukannya tanpa alasan Bryan memberikan kedua pil pada Nicky. Bagaimanapun juga wanita itu adalah salah satu orang penting di perusahaannya, dan dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu.
“Sudah tiba makan siang, apa kamu ingin ikut makan siang bersamaku dan mereka?” Bryan bertanya pada Gerry, dan jelas pria itu setuju tapi terlebih dahulu dia ingin menjemput Gladis yang hari ini belum masuk kerja karena sedikit mengalami masalah kesehatan setelah dihadapkan dengan hari-hari bercuaca buruk.
Kali ini makan siang tidak dilakukan di restoran seperti biasa, melainkan di restoran salah satu hotel berbintang yang berada di pusat kota. Pagi ini Nayla dan Eve mengadakan pertemuan dengan beberapa klien di hotel itu. Bukan di kamar hotel tapi di ruang pertemuan yang memang ada banyak di hotel itu.
Tiba makan siang dan malas berpindah tempat, mereka mengirim pesan pada Bryan untuk makan siang bersama di restoran hotel. Kebetulan menu makanan di hotel cukup cocok dengan selera mereka.
Bryan datang lebih dulu dibandingkan Gerry dan Gladis, dan dia datang bersama Hugo yang berjalan tepat di belakangnya selayaknya pengawal yang mengawal tuannya.
Sebenarnya Bryan sudah meminta Hugo untuk berjalan sejajar dengannya, dan mensejajarkan status dengannya. Akan tetapi dengan sangat tegas Hugo menolak dan tetap memilih berjalan di belakangnya.
Nayla dan Eve segera menyambut kedatangan Bryan begitu mereka melihat keberadaannya. Namun Bryan sedikit mengerutkan kening saat di tempat yang ditempati kedua wanitanya, dia melihat keberadaan tiga pria dan dua wanita yang sama sekali tidak dia kenal.
Dua wanita yang masih memiliki darah keturunan asia timur, dua pria yang terlihat biasa saja, dan satu pria dengan tubuh besar berkulit hitam yang membuat penampilannya cukup mengintimidasi. Pandangan Bryan tertuju pada pria kulit hitam yang terus menatap Nayla dan Eve tanpa berkedip.
__ADS_1
Sebagai pria yang mengakui keindahan kedua wanitanya, Bryan jelas tahu apa yang ada di pikiran pria itu, dan apa yang dipikirkannya bukanlah sesuatu yang dirinya sukai. Namun Bryan masih tenang dan segera dia duduk di sofa panjang, diapit kedua wanitanya.
Mengetahui Bryan tidak suka dengan keberadaan pria yang terus menatap wanitanya, Hugo berdiri tepat di sisi Nayla, menghalangi pandangan pria yang kali ini mengarahkan sorot mata tajam pada Hugo yang telah menghalangi pandangannya.
Hugo menyeringai saat pandangan pria itu bertemu dengan pandangannya. “Jangan menatap lebih lama lagi wanita tuanku kalau kamu masih ingin dapat melihat dengan jelas!”
Bukannya takut dengan sosok pria bertubuh besar yang penampilannya cukup mengintimidasi, Hugo justru memberi ancaman pada pria itu.
Semua orang di tempat itu mendengar bagaimana Hugo mengancam pria yang saat ini sedang menatap tajam ke arahnya. Tatapannya sangat tajam, tapi Hugo tak kalah tajam membalas tatapannya.
Pria itu tiba-tiba saja bangkit dari tempat duduknya, dan karena sudah emosi dia begitu saja melayangkan pukulan ke arah wajah Hugo.
Dua pria dan dua wanita yang tak dikenali Bryan, mereka terlihat tersenyum saat pria berkulit hitam bergerak menyerang Hugo, tapi seketika senyuman mereka luntur saat melihat bagaimana Hugo dengan mudahnya menahan pukulan pria berkulit hitam.
“Pukulanmu terlalu lemah, jauh lebih lemah dibandingkan pukulan seorang wanita!” ucap Hugo sambil meremas kepalan tangan pria berkulit hitam yang sebelumnya ingin digunakan untuk memukul wajahnya.
Pria berkulit hitam mencoba menarik tangannya, tapi sekuat apapun dia berusaha menarik tangannya, tangannya tetap tertahan di cengkraman tangan Hugo yang mana ukuran tangan Hugo lebih kecil dibandingkan dengan ukuran tangannya.
“Crack... Argh...”
Terdengar bunyi tulang retak dan tak lama di susul suara erangan kesakitan saat Hugo menguatkan cengkraman tangannya.
“Hugo, lepaskan dia, dan kita pergi dari tempat ini!” Bryan bangkit berdiri begitu juga dengan Nayla dan Eve, sedangkan Hugo, dia segera melepaskan tangan pria berkulit hitam menuruti perintah Bryan.
Saat Bryan dan kedua wanitanya ingin melangkah pergi mengabaikan keadaan pria berkulit hitam, salah satu pria yang terlihat biasa saja di mata Bryan memanggil Nayla.
__ADS_1
"Nona Nayla, makan siang ini adalah permintaan terakhirku, sebelum perusahaanku menyuntikkan dana besar untuk proyek perusahaan Nona. Jika makan siang ini gagal, kerjasama itu tidak akan pernah terjadi, apalagi pria bodoh itu telah mencelakai salah satu rekan penting yang aku miliki!”
Mendengar semua itu Nayla seketika mengarahkan pandangan pada pria yang bicara padanya. “Maaf saja, aku sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan kerjasama ini. Kalaupun kerjasama ini gagal, aku juga tidak akan mengalami kerugian, tapi justru kalianlah yang akan mengalami kerugian karena membuang kesempatan mendapatkan untung besar dari proyek perusahaanku!”
Sebenarnya Nayla sudah cukup lama kenal dengan dua pria dan dua wanita keturunan, tapi dia merasa tak nyaman saat datang pria asing yang sejak awal pertemuan terus mencoba menonjolkan dirinya, dan lagi pria itu tak berkedip menatap lekuk tubuhnya dari atas sampai bawah.
Lebih buruknya pria itu berkali-kali mencoba melakukan kontak fisik dengannya maupun dengan Eve, tapi keduanya terang-terangan menjaga jarak darinya dan tidak ingin ada kontak fisik diantara mereka.
Bryan tersenyum puas mendengar balasan Nayla. “Sayang, jika kalian butuh dana tambahan, aku sebagai pemilik tunggal Royal Company bisa memberi kalian dana dalam jumlah tak terbatas, jadi kalian tidak perlu mengharapkan dana dari pihak lain!”
“Sebelumnya kami tidak ingin merepotkan kamu, tapi sepertinya kali ini kami harus sedikit membebani keuangan kamu,” ucap Eve sembari menunjukkan senyuman indah di wajahnya.
Mendengarnya Bryan segera menggelengkan kepala. “Uangku juga milik kalian, jadi kalian bebas menggunakan semua itu untuk kepentingan kalian,” ungkap Bryan yang mana bukannya berkurang setiap kali digunakan, setiap harinya, uang miliknya justru semakin bertambah.
Nayla dan Eve sama-sama tersenyum mendengar itu, tapi meski Bryan sendiri yang mengatakan uangnya adalah uang mereka juga, mereka hanya akan mengambil sesuai dengan kebutuhan.
Sementara itu, pria berkulit hitam, kedua pria dan kedua wanita yang tak dikenal Bryan, mulut mereka semua terkunci setelah tahu identitas Bryan yang merupakan pemilik tunggal Royal Company.
Siapa yang tidak tahu dengan Royal Company setelah apa yang dilakukan Royal Company pada keluarga William, bahkan akhir-akhir ini tersiar kabar besar tentang pemilik Royal Company yang telah berhasil mengakuisisi seluruh aset berharga keluarga Mallory.
Apalagi akhir-akhir ini juga ramai tersiar kabar kalau apa yang terjadi pada keluarga William dan keluarga Mallory, itu karena mereka telah menyinggung pemilik Royal Company yang sekarang sosok itu telah berada di hadapan mereka, dan jelas apa yang mereka lakukan barusan telah menyinggung sosok itu.
Khusus untuk pria berkulit hitam, dia bahkan begitu berani menatap terus-menerus kedua wanita Bryan. Dari apa yang telah mereka lakukan, mereka khawatir apa yang telah terjadi pada keluarga William dan keluarga Mallory akan segera terjadi pada mereka. Kalaupun benar terjadi, itu adalah akibat yang harus mereka terima karena telah berani menyinggung orang yang salah.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.