Sistem Kebangkitan

Sistem Kebangkitan
Situasi Yang Terbalik


__ADS_3

Kemunculan Bryan di tempat yang Hugo yang sedang mengintai markas Antonio membuat terkejut semua orang, termasuk Hugo. Dengan tenang dia mengambil posisi di dekat Hugo, mengabaikan orang-orang yang belum sepenuhnya sadar dari keterkejutan mereka.


“Tuan.” Hugo menundukkan kepalanya saat berhadap-hadapan dengan Bryan.


Bryan hanya tersenyum dengan menganggukkan pelan kepalanya lalu dia menyuruh Hugo melanjutkan pengintaian yang sebelumnya dia lakukan. Tak banyak bertanya, Hugo kembali melakukan apa yang dia lakukan sebelum kedatangan Bryan.


“Bagaimana, apa kamu butuh bantuanku untuk mengalahkan Antonio dan orang-orang nya?” tanya Bryan melirik Hugo.


Hugo buru-buru menggelengkan kepalanya. “Tuan tidak perlu mengotori tangan dengan melawan sekumpulan orang lemah. Saya dan orang-orang saya lebih dari cukup untuk mengalahkan Antonio dan orang-orangnya. Kecuali datang bala bantuan dari Zeis, mungkin saya sedikit membutuhkan bantuan Tuan.”


“Kamu fokus saja pada Antonio! Orang-orang Zeis sudah ada yang ngurus,” ucap Bryan.


Hugo melihat sekeliling, saat tidak menemukan keberadaan Gerry yang biasanya datang bersama tuannya, dia bisa menebak kalau Gerry sedang mengurusi balas bantuan yang dikirim Zeis.


Saat Gerry sudah turun tangan, Hugo yakin bala bantuan dari Zeis tak memiliki kesempatan lolos dari jerat pria itu.


Mungkin saja saat ini bala bantuan yang dikirim Zeis telah menjadi mayat dan dibuang entah dimana.


Bryan masih tetap tenang duduk di tempatnya. Meski saat ini kedua matanya terpejam, dengan kekuatan mata tembus pandang dia dapat melihat keberadaan Antonio dan orang-orangnya, bahkan sosok wanita ulet bulu juga ada di tempat yang sama dengan Antonio.


Melirik Hugo, Bryan tahu kalau pria di sampingnya tak lagi memiliki ketertarikan pada wanita itu, tapi sepertinya Antonio ingin kembali menggunakan trik yang sama untuk melemahkan Hugo, tapi jelas kali ini dia akan gagal total.


“Hugo, sepertinya Antonio ingin menggunakan trik yang sama untuk melemahkan kekuatanmu! Kalau kamu kali ini masih termakan trik yang sama, aku sendiri yang akan melepas kepalamu dan melemparnya ke mulut buaya!” ucap Bryan dengan seringaian menyeramkan di wajahnya.


Hugo kesusahan menelan ludah setelah melihat ekspresi di wajah Bryan. “Tuan tenang saja, dia tak akan berhasil untuk kedua kalinya, dan kalau perlu aku akan membawakan kepala wanita itu untuk Tuan tendang!”


“Kalau begitu apa lagi yang kamu tunggu? Cepat maju dan bereskan mereka!” ucap Bryan yang terlihat acuh, tapi sebenarnya dia telah melihat tak ada yang membahayakan dari sisi Antonio.


“Tuan cukup tunggu di sini, dan saya akan segera kembali dengan dua kepala!”


Bryan hanya mengangguk kepala dan dia benar-benar hanya akan diam menunggu Hugo kembali sambil membawa dua kepala.


“Kalian semua, serang markas Antonio!”


Hugo bergerak maju memimpin orang-orangnya, sementara dari arah depan Antonio menyuruh orang-orangnya maju menghadapi Hugo. Segera setelah dua kelompok sama-sama bergerak maju, suara benturan dan teriakan kesakitan terdengar di tempat itu.

__ADS_1


“Bang... Bruk... Brak.. Bam.. Bom.. Krak... Argh...”


Segala jenis suara yang membuat ngilu siapapun yang mendengarnya terdengar, dan hanya dalam waktu yang begitu singkat Hugo dan orang-orangnya berhasil melumpuhkan setengah anak buah Antonio yang menjaga markas mereka.


Bryan yang melihat semua kejadian menggunakan kekuatan mata tembus pandang, dia hanya tersenyum tipis melihat kekejaman Hugo dan anak buahnya yang tak kenal ampun pada musuh mereka.


“Tinggal sedikit lagi mereka akan menguasai seluruh wilayah yang sebelumnya milik Antonio.” Bryan memiliki keyakinan seratus persen Hugo dapat memenangkan perkelahian yang sedang terjadi, sekalipun musuhnya menggunakan senjata api.


“Tembak mereka!” teriak Antonio memberi perintah pada anak buahnya yang memegang senjata api untuk menembak Hugo serta anak buahnya.


Sepuluh orang secara bersamaan menembakkan peluru-peluru tajam kearah Hugo dan anak buahnya, tapi pergerakan Hugo dan mereka terlalu lincah dan cepat menemukan tempat persembunyian, membuat anak buah Antonio kesulitan menembak mereka tepat sasaran.


“Tembak terus jangan biarkan mereka hidup! Mereka yang sudah mengusik kita memang pantas mati dan mayatnya akan kita jadikan makanan buaya!” Antonio tersenyum lebar yakin jika Hugo dan anak buahnya tak lama lagi akan mati di tangan anak buahnya.


Peluri tajam terus ditembakkan sekalipun Hugo dan anak buahnya aman di tempat persembunyian.


Sepuluh menit berlalu sura tembakan berhenti dan sepertinya anak buah Antonio telah kehabisan amunisi untuk senjata api di tangan mereka.


Keluar dari tempat persembunyian dengan kecepatan lari yang lebih cepat dibandingkan pelati tercepat di dunia, Hugo memastikan anak buah Antonio telah kehabisan peluru dan sekarang giliran dirinya beserta anak buahnya yang menyerang.


Ketika melihat Hugo dengan niat membunuh yang begitu kentara mendekat ke arahnya, Antonio yang panik segera mengambil pistol yang berada di balik pakaiannya.


“Berhenti samapai di situ atau wanita ini akan mati di tanganku! Aku tahu kamu masih mencintainya dan tidak perlu terus berpura-pura. Jika ingin dia selamat, segera tinggalkan tempat ini, tapi sebelum pergi lumpuhkan sebelah tangan dan sebelah kaki yang kami miliki!”


Antonio mendekap wanita yang dulu dia gunakan untuk melemahkan Hugo, dengan mengarahkan pistol ke arah kepala wanita itu.


Bukannya peduli dengan wanita di tangan Antonio, Hugo justru langsung mengarahkan tendang kuat ke arah wanita itu, yang seketika membuat si wanita terpelanting dan menahan rasa sakit. Dia tidak siap menerima tendang karena sebelumnya berpikir Hugo akan kembali masuk dalam jebakan.


Tak sedikitpun ada rasa iba pada wanita itu, yang ada Hugo justru tersenyum lebar melihat keadaan wanita itu saat ini. Dia masih ingat bagaimana dulu wanita itu mempermainkan perasaannya, bahkan saat dia membutuhkan pertolongan dia justru melayani Antonio yang ingin mendapatkan kenikmatan dari tubuhnya.


Mengingat semua itu Hugo tak lagi mampu membendung amarahnya, dan keadaan ini sangat buruk untuk Antonio dan wanita yang masih saja merintih menahan rasa sakit akibat tendangan tiba-tiba yang dilakukan Hugo padanya.


Hugo mengarahkan pandangan tepat ke wajah Antonio. Dari wajahnya sudah terlihat kalau dia sangat ingin mengakhiri hidup Antonio. Sementara itu Bryan yang melihat Hugo ingin membunuh Antonio dan si wanita, dia tak peduli dengan itu, dan membiarkan Hugo melakukan apa yang ingin dia lakukan.


“Hugo berhenti! Sekali saja kamu semakin melangkah mendekat aku akan meledakkan kepalamu!” Antonio mengarahkan pistol di tangannya ke arah kepala Hugo. Akan tetapi, bukannya berhenti Hugo tetap saja melangkah maju sambil menyeringai.

__ADS_1


Antonio yang merasa sosok Hugo saat ini terlihat sangat mengertikan, segera saja dia menembakkan peluru tajam ke arah kepala Hugo.


“Dor...”


Suara tembakan terdengar jelas saat Antonio menembakkan satu butir peluru tajam ke arah kepala Hugo. Namun, meski jarak tembak sangat dekat dan kecepatan peluru yang sama sekali tidak lambat, Hugo berhasil menghindari tembakan Antonio.


Antonio semakin panik melihat Hugo berhasil menghindari tembakan pertama. “Tanganku gemetaran karena itu tembakanku meleset, tapi kali ini tidak akan meleset!”


Kembali Antonio menembakkan peluru tajam ke arah kepala Hugo dan kali ini dia menembak menggunakan dua tangan. Akan tetapi, lagi-lagi di depan matanya dia melihat dengan mudahnya Hugo menghindari peluru yang ditembakkan olehnya.


“Mainan anak kecil! Apa kamu bermaksud membunuhku dengan mainan anak kecil? Antonio, sebaiknya gunakan mainan yang lebih baik dari pistol mainan jika kamu ingin membunuhku!” Hugo berbicara dengan nada yang begitu dingin, membuat Antonio merasakan ketakutan yang teramat menakutkan pada Hugo.


Mainan anak kecil? Mendengarnya seketika sekujur tubuh Antonio gemetaran. Pistol yang biasa dia gunakan untuk membunuh musuhnya, di mata Hugo pistol di tangannya hanyalah mainan anak kecil yang tak berguna.


“Antonio, bagaimana kalau kamu melihat saat aku mengakhiri hidup wanita yang kembali kau gunakan untuk melemahkan aku?” ucap Bryan begitu dingin.


Seketika si wanita yang hampir bangkit kembali terjatuh, dan tubuhnya lemas sampai tidak bisa bergerak. Di masa lalu dia melihat Hugo sebagai sosok pria penyayang dan sabar terhadap kelakuannya, tapi sekarang yang dia lihat darinya adalah sosok pria berhati dingin.


Ketika Huho berjalan mendekat ke arahnya, dia mencoba menyeret tubuhnya menjauh, tapi gerakan Hugo jauh lebih cepat. Mengeluarkan pisau lipat dari saku celan, tanpa berkedip Hugo mengayunkan pisau lipat di tangannya menyayat leher wanita di depannya sampai hampir putus.


“Ka-kau kejammm.” Kata-kata terakhir wanita yang saat ini tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan darah panas terus mengalir keluar dari lukanya. Tak ada kesedihan melihat keadaan wanita yang pernah ada di hatinya, yang ada dia justru merasa sangat puas karena berhasil membalas rasa sakit hatinya.


Selesai dengan si wanita Hugo kembali melanjutkan langkah kakinya mendekati Antonio. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat karena tidak ingin membuat tuannya terlalu lama menunggu. Dia sudah menjanjikan kepala Antonio dan si wanita, tentu saja dia tidak akan ingkar janji.


Ketika Hugo semakin mendekati Antonio, aura tembakan kembali terdengar dan lagi-lagi Antonio mencoba membunuh Hugo dengan pistolnya. Namun, usahanya hanyalah usaha sia-sia yang tak akan pernah membuahkan hasil memuaskan.


Sekarang Hugo hanya berada satu langkah di depan Antonio yang telah kehabisan peluru untuk pistolnya. Ingin mengambil peluru baru di saku celananya, Hugo lebih dulu menendang pistol di tangan Antonio sampai terbang ke sembarangan arah.


Hugo menyeringai melihat ketakutan yang dialami Antonio. Masih ingat dalam ingatannya tentang situasi kebalikan di masa lalu. Dulu dia yang ketakutan pada sosok Antonio yang ingin mencelakai wanita yang sekarang tinggal nama, tapi sekarang situasinya berubah.


Wanita yang dulu pura-pura ingin Antonio celakai, wanita itu sudah lebih dulu celaka di tangan Hugo, bahkan jelas dia sudah mati dengan luka menganga lebar.


“Antonio, katakan selamat tinggal untuk dunia ini dan semoga kau bahagia di neraka!”


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2