
Terbangun saat tiba makan malam, Bryan menikmati makan malam bersama kedua wanitanya. Selesai makan malam dan melihat salju tak lagi turun, Bryan berencana pergi ke salah satu Bar untuk menghabiskan waktu malamnya. Besok cuaca akan jauh lebih buruk dari hari ini, jadi ini adalah kesempatan terakhirnya keluar menikmati suasana malam sebelum menghadapi hari-hari buruk karena badai salju.
Tidak pergi seorang diri, Bryan pergi dengan kedua wanitanya, dan juga ada Gerry serta Gladis yang sudah lebih dulu berangkat menuju Bar. Setelah memakai beberapa lapis pakaian untuk menghangatkan tubuh, dengan mobil dikemudikan langsung oleh Hugo, mereka berangkat menuju salah satu Bar terbesar di pusat kota.
Jalanan kembali dipenuhi kendaraan orang-orang yang memutuskan keluar rumah setelah salju berhenti turun. Kebanyakan orang-orang yang keluar adalah mereka yang ingin memenuhi kebutuhan hidup, sebelum datangnya cuaca buruk selama beberapa hari ke depan.
Menyusuri jalanan kota yang sangat licin, setelah tiga puluh menit berlalu mereka akhirnya sampai di tujuan. Keluar dari mobil, mereka bergegas menuju ruangan khusus yang telah disewa Gerry.
Memasuki Bar tanpa halangan, Bryan membawa kedua wanitanya berjalan menuju tempat Gerry. Di belakang mereka tentu ada Hugo, yang senantiasa ikut kemanapun mereka pergi.
Berada di dalam Bar, Bryan sadar ada banyak pasang mata yang curi-curi pandang kearahnya, terutama pada kedua wanitanya.
Namun karena mereka hanya memandang, Bryan mengabaikan keberadaan mereka. Dia baru akan bertindak jika mereka mengganggunya secara langsung. Jika itu terjadi, tentu nasib mereka tidak akan berakhir baik.
...----------------...
Sampai di tempat yang disiapkan Gerry, Bryan langsung saja duduk di sofa yang nyaman dengan diapit dua wanita cantik di sisi kanan dan kirinya. Meski dikatakan sebuah ruangan khusus, tempat yang disiapkan Gerry bukanlah sebuah ruangan tertutup, melainkan hanya ruangan dengan sekat rendah sebagai pembatas, sehingga orang lain masih dapat melihat aktivitas yang dilakukan di tempat Bryan.
"Pesan saja apa yang ingin kalian pesan,” ucap Bryan pada kedua wanitanya, dan dia tak khawatir kedua wanitanya mabuk karena alkohol. Dengan kekuatan super yang mereka miliki, tak ada minuman beralkohol yang dapat membuat mereka mabuk. Minuman beralkohol hanya membuat tubuh mereka merasakan kehangatan.
Nayla dan Eve segera memesan minuman yang dapat menghangatkan tubuh mereka. Hugo juga memesan minuman untuk dirinya sendiri, begitu juga dengan Gerry dan Gladis. Sedangkan Bryan, dia menyerahkan pesanannya pada kedua wanitanya.
Tak lama seluruh pesanan mereka diantarkan oleh pelayan, dan sekarang meja mereka penuh dengan berbagai jenis minuman dan camilan.
Baru juga ingin menikmati minuman, datang seorang pria dan lima wanita dengan pakaian lumayan terbuka, yang menonjolkan lekuk tubuh mereka. Bahkan bukit kembar mereka yang membusung hampir tak tertutup sempurna oleh pakaian yang mereka kenakan.
Dengan santainya, pria yang datang bersama lima wanita menghampiri Bryan, membuat Bryan dan yang lainnya tak melanjutkan minum mereka, dan lebih fokus pada apa yang ingin dilakukan pria ini.
"Anak muda, Tuanku ingin menukarkan kelima wanita ini dengan wanita yang menemani kalian. Tenang saja, mereka berlima wanita bersih dan aku yakin mereka dapat memberi kepuasan pada kalian!” ucap pria di hadapan Bryan, yang seketika membuat kerutan muncul di kening Bryan dan Gerry.
__ADS_1
“Menukar wanita bekas dengan wanita kami? Apa tuanmu itu berpikir kami ini orang bodoh? Maaf saja, aku tidak tertarik dengan penawaran tuanmu itu, dan kalau dia butuh wanita, aku bisa memberinya wanita bekas lainnya yang jumlahnya cukup banyak di tempat ini!” Bryan menolak tegas tawaran tuan pria yang ada di hadapannya.
Bukannya menyerah, pria di depan Bryan justru tersenyum. “Tuanku tahu kalau kalian akan menolaknya, oleh karena itu Tuanku akan memberi kalian masing-masing sau juta dolar jika setuju bertukar wanita dengannya! Selain itu, Tuanku tak keberatan mengembalikan wanita kalian setelah dia puas dengan tubuh mereka.”
Bryan benar-benar kesulitan menahan amarahnya setelah mendengar semua itu. Padahal biasanya dia cukup bersabar dan mampu menahan amarah, tapi kali ini dia benar-benar tak lagi mampu menahan amarahnya.
“Dengan kalian diam, aku rasa kalian setuju, dan sekarang biarkan aku membawa ketiga wanita kalian! Untuk pembayaran, setelah aku membawa mereka, aku akan mengurus uang untu,....”
Belum juga pria itu selesai bicara, Bryan lebih dulu menyumpal mulut pria itu menggunakan makanan yang berada di atas mejanya, dan tanpa memberi kesempatan pria itu sadar apa yang telah terjadi pada dirinya, Bryan sudah lebih dulu mendaratkan pukulan ke wajah pria itu.
Seketika pria itu jatuh terkapar, tapi keadaan Bar masih terlihat kondusif karena perkelahian sudah biasa terjadi di Bar, lagipula ada banyak petugas keamanan yang akan menjadi penengah jika perkelahian semakin menjadi.
Bryan menghampiri pria itu, lalu menyeretnya ke tempat yang diyakininya sebagai tempat tuan dari pria yang sedang dia seret. Walaupun seorang diri Bryan sudah lebih dari cukup untuk memberi pelajaran pada tuan dari pria yang dia seret, Gerry tidak membiarkan Bryan pergi seorang diri. Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi mengikuti Bryan.
Tepat di tempat yang ditempati tuan dari pria yang dia seret, Bryan melemparkan pria di tangannya ke atas meja yang dipenuhi makanan dan minuman. “Aku cuma mengembalikan sampah pada pemiliknya,” ucap Bryan dengan sorot mata tajam menatap pria yang seketika marah, setelah apa yang dilakukannya.
Pria itu bangkit berdiri sembari mengeluarkan pistol dari balik pakaiannya, lalu mengarahkan pistol itu ke arah kening Bryan. “Sebaiknya kamu segera berlutut dan meminta maaf serta serahkan wanita yang bersamamu padaku, kalau kamu masih ingin terhindar dari kematian!” ucap pria itu dengan begitu arogan, dan dia menunjukkan senyuman sinis di wajahnya.
“Tuan Morgan Mallory, apa kamu pikir pistol mainan ini dapat digunakan untuk menakutiku?” Dengan gerakan yang sangat cepat Bryan merebut pistol dari tangan pria yang tak lain adalah Morgan Mallory, kepala keluarga Mallory.
Kemudian, tanpa rasa takut dia menembakkan sebutir peluru ke arah kepalanya, dan disaat semua orang berteriak histeris dengan apa yang baru dilakukannya. Morgan yang melihat semua kejadian di depan kedua matanya, dia membuka lebar kedua matanya melihat bagaimana peluru yang seharusnya menembus kepala Bryan justru jatuh ke lantai Bar dengan ujung bengkok.
Morgan juga melihat bagaimana pistol miliknya diremas sampai hancur dan setelahnya dibuang bagaikan sampah. Semua itu dilakukan tepat di depan kedua matanya, dan dengan sendirinya dia mulai melangkah mundur menjauhi Bryan setelah melihat semua itu.
Lima bodyguard Morgan segera mengambil posisi di depan tuan mereka, melindungi tuan mereka dari Bryan. Meski ada ketakutan pada diri mereka setelah melihat apa yang dilakukan Bryan, mereka memberanikan diri berdiri melindungi Morgan karena ini sudah menjadi kewajiban mereka sebagai bodyguard yang telah dibayar mahal keluarga Mallory.
“Sebenarnya aku tidak ingin mencari masalah dan hanya ingin menghabiskan malam dengan kedua wanitaku, tapi sayangnya kamu justru memancing kemarahanku dengan kelakuanmu yang tidak mencerminkan seseorang yang berpendidikan.”
“Tuan Morgan Mallory, aku Bryan Laurens tidak akan memperpanjang masalah malam ini dan aku bersedia melupakan apa yang terjadi, asalkan kamu bersujud dan menciun kakiku!”
__ADS_1
“Kalau kamu tidak mau melakukannya, selain malam ini akan menjadi malam yang sangat buruk untukmu, aku pastikan keluarga Mallory akan bernasib sama dengan apa yang dialami keluarga William!”
Bryan sangatlah serius dengan ucapannya, dan untuk menunjukkan kalau dia serius, hanya dalam hitungan detik dia berhasil melumpuhkan lima bodyguard Morgan, dan sekarang hanya tersisa pria itu yang berdiri dengan lutut gemetaran.
Ekspresi wajah Morgan terlihat begitu buruk, dan dia tidak menyangka kalau wanita yang diinginkannya ternyata bukan wanita malam, yang bisa dia beli dengan uang. Para wanita itu ternyata kekasih pria di hadapannya, dan lagi dia juga tak menyangka jika pria di hadapannya adalah putra tunggal kepala keluarga Laurens, yang belum lama ini menggemparkan dunia bisnis dengan keberhasilannya merebut semua bisnis milik keluarga William.
Melihat kekuatan yang dimiliki Bryan, melawan adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan olehnya, tapi bersujud dan mencium kaki Bryan juga tidak mungkin dirinya lakukan karena itu hanya akan mempermalukan keluarga Mallory.
[Ding... misi sampingan, tuan rumah harus membuat Morgan Mallory bersujud dan mencium kaki tuan rumah]
[Hadiah misi > lima puluh persen seluruh aset berharga milik keluarga Mallory akan menjadi milik tuan rumah]
[Misi kali ini tuan rumah tidak akan terkena hukuman sekalipun gagal menyelesaikan misi]
Dalam hati Bryan sangat senang dengan tugas sistem yang kali ini diberikan padanya. Jika berhasil menyelesaikan misi, selain membuat Morgan malu, dia juga mendapatkan lima puluh persen seluruh aset berharga milik keluarga Mallory.
“uan Morgan, aku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu keputusanmu. Segera bersujud dan cium kakiku, atau aku akan membuatmu jauh lebih buruk dari para bodyguard yang melindungimu!” ucap Bryan.
Nasib seluruh bodyguard nya tak ada yang berbasib buruk. Mereka semua tumbang tak sadarkan diri dengan beberapa dari mereka mengalami patah tulang.
Jika dia mengalami nasib jauh lebih buruk dari para bodyguard nya, jelas dia akan cukup lama menghabiskan waktu di rumah sakit, dan lagi dia harus merasakan rasa sakit yang selama ini belum pernah dirasakan olehnya.
“Terlalu lambat berpikir! Sebaiknya kita selesaikan masalah diantara kita dengan kekerasan, dan jangan harap aku berbelas kasih padamu sekalipun kamu lebih tua dariku!” Bryan sudah siap menggunakan tinjunya untuk memukuli Morgan.
Dengan satu tinjunya, Bryan yakin dia dapat membuat Morgan merasakan apa yang dinamakan rasa sakit, tapi sebelum dia bergerak menyerang, Morgan lebih dulu maju bersujud di hadapannya, dan berkali-kali pria itu mencium kakinya yang terbalut sepatu.
Melihat kelakuan Morgan, Bryan tersenyum lebar karena pria yang berlutut di depannya jauh lebih memilih menahan rasa malu dibandingkan menahan rasa sakit.
“Bagus, kamu telah memilih pilihan yang tepat!” ucap Bryan sembari tersenyum lebar.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.