
Star Beauty Company adalah perusahaan yang didirikan Nayla dengan modal pemberian kedua orang tuanya. Dalam dua tahun, Star Beauty Company telah tumbuh menjadi perusahaan kecantikan yang dapat bersaing dengan para pesaing, yang sudah lebih dulu ada.
Siang ini di parkiran Star Beauty Company, sebuah mobil Lamborghini Veneno baru saja terparkir di tempat parkir.
“Perusahaan ini sudah jauh lebih baik dari pertama kali aku datang ke tempat ini. Semua terlihat berjalan sangat profesional,” ungkap Bryan, pemilik mobil Lamborghini Veneno yang kedatangannya menarik perhatian untuk mengarahkan pada mobil sport miliknya.
Saat dia keluar mobil dengan pakaian casual, keberadaannya jauh lebih menarik dibandingkan mobilnya. Apalagi bagi para wanita yang mencintai kesempurnaan pria, keberadaannya adalah keindahan yang sulit membuat mereka berpaling begitu melihatnya.
Melangkahkan kaki ke tempat resepsionis, dengan terlebih dulu memberikan senyum pada dua resepsionis wanita, barulah dia bicara, “Aku ada janji bertemu dengan Nona Nayla, dan Nona Nayla menyuruhku langsung masuk ke ruangannya sekalipun saat ini sedang ada tamu!”
Untuk menyakinkan ucapannya, Bryan menunjukkan pesan Nayla yang belum lama ini dikirim padanya. Kedua resepsionis yang hafal dengan nomor Nayla, mereka tak menghalangi langkah Bryan, dan membiarkannya pergi ke ruangan Nayla yang berada di lantai sepuluh.
Setelah Bryan berlalu pergi meninggalkan kedua resepsionis wanita, mereka bersamaan memegang dada, dan menghembuskan napa panjang.
“Pria yang sempurna, dan aku hampir pingsan hanya dengan sedikit melakukan pembicaraan dengannya,” ucap salah satu resepsionis.
“Bukan hanya kamu, tapi aku juga merasakan hal yang sama,” ungkap rekannya. “Menurutmu kenapa dia menemui Nona Nayla dan lagi memiliki nomor pribadi Nona? Apa jangan-jangan dia kekasih Nona Nayla?”
“Sebenarnya bukan urusan kita membicarakan hubungan dia dan Nona, tapi jika benar dia kekasih Nona, mereka akan menjadi pasangan yang membuat siapapun iri saat melihatnya,” balas rekannya, dan keduanya kembali ke pekerjaan meski mereka belum bisa melupakan sosok Bryan yang begitu sempurna di mata mereka.
Sementara itu di ruang kerja Nayla, Mark yang sudah mengutarakan niat dia datang, dengan sangat jelas Nayla menolak niatnya dan menegaskan kalau dia sudah punya kekasih. Nayla juga menegaskan kalau dia tak ada ketertarikan dengan Owen, apalgi dia tahu seperti apa sifat buruk pria itu. Namun Mark sebagai seorang ayah, dia tak begitu saja menyerah apa lagi ini berhubungan dengan putranya.
“Nayla, Owen sudah berjanji akan merubah sikapnya, dan dia akan menjadi pria yang lebih jauh baik asalkan kamu menerimanya sebagai suami.” Mark sedikit menceritakan tentang keseriusan Owen yang akan berubah demi mendapatkan pria yang dicintainya.
“Sangat baik jika dia berubah, tapi sayangnya aku tetap tak bisa menerima perjodohan ini karena aku sudah ada kekasih yang sangat kucintai,” balas Nayla tegas.
Sungguh balasan yang membuat Mark mulai kehilangan kesabarannya membujuk Nayla. Dia sudah meluangkan waktu berharganya tapi sampai saat ini hanya penolakan yang didapatkannya. Ekspresi wajahnya mulai terlihat jelek, dan Nayla tahu kalau pria di hadapannya sedang menahan emosi.
Akan tetapi dia sama sekali tidak peduli dengan Mark yang sedang menahan emosi karena dia saat ini sedang menunggu kedatangan sang pujaan hati, yang mana beberapa saat yang lalu pujaan hatinya sudah sampai di parkiran perusahaannya.
__ADS_1
Tak lama pintu ruang kerja Nayla terbuka dan seorang pria terlihat memasuki ruangan tanpa permisi.
Bukannya marah karena ada yang masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa permisi, Nayla justru tersenyum dan menyambut pria yang memang sudah dia nantikan kedatangannya.
Nayla dengan penuh kelembutan mempersilahkan Bryan duduk di sofa ruang kerjanya, sedangkan dia ingin secepatnya menyelesaikan urusan dengan Mark, yang menunjukkan ekspresi ketidaksukaan pada Bryan.
“Tuan Mark, aku rasa tak lagi ada yang perlu kita bahas, dan perjodohan itu tak mungkin terjadi sekalipun Tuan Mark meminta pada kedua orangtuaku!” ucapnya di depan muka Mark.
“Tuan Mark, aku juga tak lagi bisa menemanimu karena aku ingin keluar makan siang bersama kekasihku,” lanjutnya, lalu dia bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menghampiri Bryan.
Melihat Nayla memilih pergi menghampiri kekasihnya dan mengabaikan keberadaannya, Mark kali ini tak lagi bisa menahan amarahnya. Dia bangkit dari kursi dan bergerak lebih cepat menghampiri Bryan.
“Aku akan memberimu banyak uang asalkan kau pergi dari kehidupan Nayla!” ucap Mark pada Bryan.
Mendengarnya, membuat Bryan mengerutkan keningnya.
“Kenapa aku harus pergi meninggalkan wanita yang aku cinta hanya karena uang, sedangkan aku saat ini sangat tidak membutuhkan uang? Tuan, aku tidak mengenalmu dan aku juga tidak ingin mengenalmu, tapi mungkin kita akan mengenal lebih jauh kalau kamu masih saja ikut campur dalam hubunganku dengan kekasihku!” ungkap Bryan.
Nayla yang mendengar kekasihnya dihina, amarahnya mulai terpancing, tapi saat dia melihat ketenangan Bryan, dia yakin ada yang sedang direncanakannya.
Bryan mengambil satu langkah maju, dan kini dia dan Mark hanya dipisahkan jarak kurang dari dua langkah.
“Kenapa aku harus mendekati wanita karena uangnya, sedangkan wanita itu punya sesuatu yang jauh lebih menarik dibandingkan uang? Tanpa aku beritahu apa itu yang aku maksud sesuatu jauh lebih menarik darinya selain uang, seharusnya kamu sudah tau apa yang aku maksud, dan seharusnya itu juga yang membuatmu tertarik padanya!” ungkap Bryan yang tetap tenang menghadapi hinaan Mark.
“Tuan Mark, sebaiknya anda pergi daripada terus mengeluarkan ucapan yang tak pantas! Jujur saja, aku bisa menyeret Tuan Mark ke penjara atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan,” ucap Nayla yang tak lagi ingin melihat keberadaan Mark di kantor perusahaannya.
“Bocah yang belum merasakan pahitnya hidup berani mengusirku? Kau, wanita murahan sepertimu jauh dari kata layak untuk putraku!” Mark berbalik arah dan ingin pergi setelah mengucapkan sesuatu yang tak seharusnya dia ucapkan.
“Seharusnya kamu cukup pergi, dan tek perlu memancing amarahku dengan menghina wanitaku!” Kuat Bryan mencengkram kerah pakaian Mark dari dalam, lalu dengan kekuatannya dia menyeret Mark keluar ruang kerja Nayla.
__ADS_1
Penasaran dengan apa yang akan dilakukan Bryan, Nayla bergegas mengikutinya.
Sekarang Mark sudah di luar ruang kerja Nayla, tapi dia dalam keadaan yang membuat orang-orang ingin menertawakannya karena dia saat ini ditarik seperti binatang oleh Bryan.
Mark mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman Bryan, tapi usahanya tak membuahkan hasil. “Lepaskan aku, atau aku akan menghancurkanmu bersama seluruh keluargamu!”
Bukannya menjaga ucapannya, Mark justru memperkeruh keadaan dengan apa yang baru dia ucapkan.
Dia kali ini benar-benar telah memancing amarah Bryan karena dengan begitu berani mengancam keluarganya.
Tepat setelah keluar dari lift di lantai satu, dihadapan banyak karyawan yang bekerja di perusahaan Nayla, Bryan terus saja menyeret Mark selayaknya binatang peliharaan, dan tepat di depan pintu keluar dengan sekuat tenaga dia menendang pantat pria itu.
“Tuan Mark, aku harap kedepannya kamu tak lagi bersinggungan denganku! Jika masih ada keberanian kau bersinggungan denganku, bersiaplah merasakan apa itu yang namanya kehancuran total!” ucap Bryan sambil melihat Mark yang jatuh tersungkur karena tendangannya.
Mark tak memberi tanggapan apa-apa. Dia memilih segera bangkit dan bergegas berjalan menuju mobilnya. Dia tak menghubungi supir untuk datang menjemput, tapi dia memilih langsung mendatanginya di tempat parkir.
Dia memang terlihat diam, tapi tentunya dia tak begitu saja menerima apa yang baru dilakukan Bryan. “Tunggu saja, penghinaan hari ini akan aku balas berkali-kali lipat di masa depan!” gumamnya sambil terus melangkahkan kaki, berjalan menuju parkiran.
Sementara itu, di tempat Bryan dan Nayla, seluruh karyawan masih melihat interaksi antara kedua orang itu yang jelas terlihat mereka adalah sepasang kekasih, tapi mereka masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang sudah terjadi antara Mark William dan kekasih pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
“Lanjutkan pekerjaan kalian!” ucap Nayla tegas, membuat seluruh karyawannya yang semula antusias melihat apa yang sedang terjadi segera kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Bryan tersenyum melihat ketegasan Nayla. “Sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama?” ucap Bryan.
“Aku akan menghubungi saudari Eve, siapa tahu dia bisa makan siang bersama kita,” balas Nayla.
Nayla mengirim pesan pada Eve, dan tak lama Eve membalas pesannya, mengatakan dia akan datang untuk makan siang bersama.
Sepakat makan siang bersama, Bryan dan Nayla segera pergi ke restoran yang cukup terkenal di pusat kota, sedangkan Eve, dia sudah lebih dulu berangkat dari tempat kerjanya.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.