Sistem Kebangkitan

Sistem Kebangkitan
Berbagi Kehangatan


__ADS_3

Di perusahaan Royal Company.


Bryan memilih meninggalkan ruang kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja milik Gladis. Dia memilih pergi karena ingin membiarkan Nayla dan Eve menenangkan Gladis yang masih merasakan ketakutan akibat dari apa yang telah dilakukan Louis padanya.


Bryan yakin kedua wanitanya dapat menenangkan Gladis, dan lagi dia juga telah memberikan pil penghilang ketakutan yang dia beli dari toko sitem pada wanita itu.


Kurang dari tiga puluh menit ke depan, dia yakin Gladis akan tenang, dan tak lagi memiliki ketakutan pada apa yang telah dilakukan Louis padanya.


[Ding... tuan rumah berhasil menyelesaikan misi sampingan, mengusir Louis Mallory dari perusahaan]


[Mendapatkan hadiah misi > lima puluh persen saham Mallory Hotels And Resorts]


Walaupun yang dia dapat dari hadiah sistem hanya lima puluh persen saham Mallory Hotels And Resorts, Bryan sudah merasa senang karena setidaknya sebagian harta keluarga Mallory kini sudah berada di genggaman tangannya.


Meski perhotelan bukan alat pemasukan utama kekayaan keluarga Mallory yang lebih banyak mendapatkan pemasukan dari perusahaan migas dan tambang emas yang mereka miliki, Bryan menganggap saat ini dia telah mengambil langkah berharga untuk dapat menguasai kekayaan keluarga Mallory.


Saat memikirkan langkah untuk mengambil sedikit demi sedikit sumber pemasukan keluarga Mallory, Bryan mendengar seseorang mengetuk pintu, dan tak lama terdengar suara pria yang sangat dia kenal.


“Masuklah!” ucap Bryan dan seorang pria yang tak lain adalah Gerry segera masuk ke dalam ruangan.


Melihat wajah murung Gerry, Bryan tahu jika pria di hadapannya ini sedang mengkhawatirkan keadaan wanita yang dicintainya, dan segera saja dia menghibur Gerry.


“Kamu tenang saja, Nayla dan Eve sudah datang untuk menenangkan Gladis, dan aku yakin saat ini mereka telah berhasil membuatnya tenang.” Bryan bangkit dari tempat duduknya, lalu dia membawa Gerry menuju ruang kerjanya yang sedang ditempati tiga orang wanita.


Sampai di tempat yang menjadi tujuan mereka, baik Bryan ataupun Gerry, keduanya dapat melihat Gladis yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan dia sudah bisa tersenyum, meski senyumnya belum selebar biasanya.


Gerry segera saja menghampiri Gladis, sedangkan Nayla dan Eve, keduanya bergegas menghampiri Bryan, dan setelahnya ketiganya memilih pergi meninggalkan Gerry dan Gladis berduaan di dalam ruangan. Sebelum pergi tak lupa Bryan mematikan kamera cctv karena dia tak ingin melihat privasi kedua temannya.


Ketiganya tak ingin tahu apa yang dilakukan Gerry dan Gladis di dalam sana, dan segera ketiganya pergi. Bukan sekedar pergi meninggalkan ruang kerja Bryan, mereka memilih pergi meninggalkan perusahaan untuk menikmati waktu bersantai di tengah cuaca dingin.


Pada saat ketiganya keluar dari bangunan, awan gelap yang menyelimuti langit tiba-tiba menurunkan hujan. Hujan yang turun bukan berbentuk air, melainkan salju. Awalnya salju yang turun tak begitu lebat, tapi lama kelamaan semakin lebat dan membuat suhu semakin dingin.

__ADS_1


“Sepertinya hari ini semua orang harus pulang lebih cepat dari biasanya,” ucap Bryan yang mendapat tanggapan anggukan kepala dari kedua wanitanya.


Segera Bryan memutuskan mengizinkan seluruh karyawan pulang lebih awal, begitu juga dengan Nayla yang segera menghubungi sekertarisnya di perusahaan, untuk memberitahu seluruh karyawannya boleh pulang lebih awal.


Tak lupa Bryan juga menghubungi Gerry dan Gladis, yang tak lama kemudian keduanya keluar dari bangunan perusahaan.


“Sebaiknya kita segera pulang sebelum cuaca semakin buruk!” ucap Bryan pada kedua wanitanya, dan juga pada Gerry serta Gladis.


Bryan meninggalkan mobilnya di parkiran khusus begitu juga dengan Gerry. Mereka ingin memastikan keselamatan para wanita, jadi memilih mengemudikan mobil para wanita.


Bryan mengemudikan mobil milik Nayla dan membawa kedua wanitanya pulang ke Mansion, sedangkan Gerry mengantarkan Gladis pulang ke apartemennya menggunakan mobil wanita itu.


Semua karyawan juga memilih segera pulang karena menurut ramalan cuaca, hujan salju akan berubah menjadi badai salju saat sore sampai malam hari. Jika tidak buru-buru pulang dan terjebak badai salju di tengah perjalanan, tentu itu dapat membahayakan keselamatan mereka.


"Ternyata sebagian besar perkantoran memulangkan lebih awal karyawannya,” ucap Bryan melihat jalanan yang dipenuhi mobil meski tidak sampai menimbulkan kemacetan parah.


Semua pengemudi mobil sengaja menurunkan kecepatan karena jalanan sudah mulai licin akibat salju yang turun tanpa henti, dan membuat jalanan semakin licin.


Jika biasanya dibutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai Mansion, kali ini Bryan menghabiskan waktu lebih dari satu jam di jalanan, dan barulah dia sampai di Mansion. “Beruntung kita cepat pulang, kalau tidak kita bisa saja terjebak di jalanan yang pastinya akan semakin macet,” ucap Bryan sembari keluar dari mobil, begitu mobil yang dia kemudikan sudah berada di dalam garasi Mansion.


Adanya penghangat yang menghangatkan seluruh ruangan Mansion, membuat ketiganya tak merasakan dingin selayaknya diluar, yang mana suhu diluar telah mendekati suhu nol derajat celcius.


“Cuaca dingin seperti ini membuatku malas mandi,” ucap Nayla sembari merendahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, dan menggunakan paha Bryan yang sudah lebih dulu duduk sebagai bantalan kepalanya.


Hal yang sama juga dilakukan Eve, dan jadilah Bryan melihat dua wanita cantik berbaring merendahkan diri di sisi kanan dan kirinya. Dengan kedua matanya, dia sangat menikmati keindahan kedua wanitanya, dan sebagai pria normal tentu ada yang bereaksi di balik celananya.


Bryan sekuat tenaga menahan supaya miliknya yang masih tersembunyi di dalam celana tak membuat kedua wanitanya menyadari pergerakannya, tapi usahanya sia-sia karena keduanya bisa merasakan itu.


“Sayang, sebaiknya kamu ikut kami!” Nayla bangkit berdiri begitu juga dengan Eve, lalu keduanya bersama-sama menarik Bryan untuk mengikuti mereka.


“Kalian ingin membawaku kemana?” tanya Bryan, tapi dia tak mendapatkan jawaban, melainkan kedua wanita itu terus saja menariknya menuju lantai dua.

__ADS_1


...----------------...


Tubuh Bryan didorong Nayla dan Eve ke tempat tidur di kamar Nayla. Pintu kamar telah dikunci dan saat ini di dalam kamar hanya ada mereka bertiga.


Bryan yang tertuduk di tepian tempat tidur, dia melihat bagaimana Nayla dan Eve yang mulai melepas lapisan terluar pakaian mereka, dan hanya menyisakan pakaian tipis yang menutupi pakaian dalam mereka.


Keduanya yang sudah melepaskan pakaian terluar mereka, segera mereka duduk di sisi kanan dan kiri Bryan. “Aku tahu kamu belum ingin melakukannya, tapi setidaknya biarkan kami membagi kehangatan bersamamu!” ucap Nayla sembari mendekatkan bibirnya ke pipi Bryan, dan hal yang sama juga dilakukan Eve.


Saat jarak bibir mereka sangat dekat dengan kedua sisi pipi Bryan, bersamaan mereka mencium pipi Bryan. “Hari masih sore, tapi cuaca diluar membuat malam datang lebih cepat. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu yang ada untuk tidur bersama?”


Nayla dan Eve bersama-sama mendorong tubuh Bryan sampai terbaring di atas tempat tidur, dan langsung saja keduanya ikut merebahkan tubuh di kedua sisi Bryan sembari memeluk erat rubuh pria itu.


Hangat, itulah yang dirasakan Bryan saat ini dan dia dapat merasakan kedua bukit kembar milik kedua wanitanya, yang membuat miliknya semakin memberontak ingin keluar dari sarang, dan menunjukkan keperkasaannya. ‘Aku tahu mereka tak akan menolak jika aku menginginkannya, tapi aku tidak akan melakukan itu sebelum memperkenalkan mereka pada kedua orangtuaku,’ ucapnya dalam hati.


Untuk menenangkan dirinya, Bryan memejamkan kedua matanya. Namun karena rasa nyaman berada di pelukan kedua wanitanya, pada akhirnya dia terlelap di dalam pelukan kedua wanita yang lebih dulu terlelap dalam tidur.


...----------------...


Di Mansion keluarga Mallory.


“Apa ada diantara kalian yang bisa menjelaskan kemana perginya anak sialan itu?” tanya Morgan Mallory, kepala keluarga Mallory, dan dia adalah sosok kejam dibalik kejayaan keluarga Mallory.


“Tuan Besar, pagi ini Tuan Muda pergi mengunjungi Royal Company untuk mengambil alih perusahaan itu. Setelahnya, kami tidak tahu kemana perginya Tuan Muda dan dua pengawal pribadinya,” jawab Lexi, tangan kanan Morgan.


Kerutan muncul di kening Morgan saat mendengar tentang Royal Company karena nama Royal Company akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan setelah berhasil mengambil alih seluruh kekayaan keluarga William, dan dengan bodohnya putranya ingin mengambil alih perusahaan yang bisa dikatakan sedang berada di puncak kejayaannya. Apalagi dia tahu ada keluarga Laurens di belakang Royal Company.


“Anak bodoh tidak berguna! Apa dia bermaksud menyinggung keluarga Laurens?” Meski bukan salah satu dari sepuluh keluarga kaya di seluruh negeri, setidaknya dengan koneksi yang dimiliki keluarga Laurens, menyinggung mereka tidak akan berdampak baik untuk keluarga Mallory.


“Cari anak itu sampai ketemu! Begitu ketemu aku sendiri yang akan menghukumnya dan kali ini tak akan ada yang bisa menghentikanku jika aku menginginkan nyawanya!” ucap Morgan penuh dengan ketegasan.


Morgan bukanlah sosok yang baik bahkan jika itu pada keluarganya. Dia tak segan membunuh anggota keluarganya sendiri jika semua itu diperlukan untuk kekayaan keluarga Mallory.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung.


__ADS_2