
Suasana di markas Antonio seketika menjadi sunyi. Tidak ada yang membuat suara begitu semua orang melihat kematian Antonio.
Antonio mati mengenaskan dengan pisau lipat yang masih tersangkut di lehernya. Kedua matanya terbuka lebar, darah masih menetes dari lukanya, tapi tak lagi ada napas dari hidungnya dan jantungnya telah berhenti berdetak.
Menarik pisau lipat yang nyangkut di leher Antonio, setelahnya Hugo bicara pada sisa anak buah Antonio, “Kalian semua akan aku kirim pergi bersama Antonio!”
Setelah mengatakan itu, Hugo memberi perintah pada anak buahnya untuk membereskan sisa anak buah Antonio. Tidak ada pengampunan untuk mereka, semua harus mati tanpa terkecuali. Seketika suasana sunyi berganti dengan suasana penuh jeritan kesakitan.
Walau ada yang menyerah dan terus meminta pengampunan, anak buah Hugo tetap mengakhiri hidup mereka. Sekalipun ada yang mencoba pergi melarikan diri, belum juga jauh meninggalkan markas Antonio, mereka mati dengan peluru bersarang di kepala. Di sekeliling sudah tersebar beberapa penembak jitu, dan mereka menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
“Ini balasan setimpal untuk kalian.” ucap Hugo dingin.
Kemudian dia memotong kepala Antonio dan membawanya ke tempat Bryan. “Tuan, aku telah membunuhnya dan sekarang kekuasaan dunia bawah kota ini dan beberapa kota lain telah berada dalam genggaman kita. Jika Tuan belum puas, dengan senang hati saya akan menguasai wilayah lain.”
Ketika Hugo selesai berbicara, Bryan mengarahkan pandangannya pada kepala Antonio yang mati dengan menahan rasa sakit. Kemudian dia mengarahkan pandangannya pada Hugo yang berdiri tegak di hadapannya.
“Bersihkan tempat ini, kalau perlu bakar tempat ini bersama mayat Antonio dan semua orang yang berhubungan dengannya!” Perintah Bryan adalah sebuah kewajiban untuk Hugo, dan tanpa bertanya dia pasti melakukannya.
“Untuk menguasai kota lain, kita akan membahasnya saat berada di markas tentu bersama Gerry.” Bryan tidak ingin membahas sesuatu yang penting di tempat yang dipenuhi tumpukan mayatmayat, dan bau amis darah.
Hugo menganggukkan kepala lalu dia segera melakukan apa yang diperintahkan Bryan padanya, yaitu membakar markas Antonio bersama semua orang yang sebelumnya menghuni tempat itu, termasuk Antonio dan wanitanya.
Setelah menumpuk mayat di dalam ruangan, bangunan dua lantai yang dijadikan markas kelompok Antonio mulai dibakar oleh Hugo dan anak buahnya. Bangunan yang mereka bakar sangat jauh dari bangunan lain, jadi mereka tak takut api menjalar ke bangunan lain.
Tak melihat Hugo dan lainnya yang sedang membakar bangunan markas kelompok Antonio, saat ini Bryan sudah berada di dalam mobilnya yang melaju menuju tempat Gerry menghabisi orang-orang Zeis yang dikirim untuk membantu Antonio.
Lima belasan menit berlalu Bryan sampai di tempat Gerry yang sedang mengawasi anak buahnya, yang tengah melakukan pembersihan bekas perkelahian. Orang-orang yang dikirim Zeis jelas telah mati, tapi Bryan tak tahu dimana mayat mereka.
Melihat mobil Bryan, segera saja Gerry menghampirinya. Dia penasaran dengan balas dendam Hugo, dan ingin menanyakan itu pada Bryan yang diketahuinya baru saja meninggalkan tempat Hugo.
“Bagaimana balas dendam Hugo? Apa semua berjalan lancar, atau dia ragu-ragu membalaskan dendamnya karena keberadaan wanita yang dulu pernah dia cintai?” Gerry langsung saja bertanya begitu Bryan keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Bryan tersenyum sebelum memberi jawaban. “Wanita itu sama sekali tidak membuat Hugo ragu membalaskan dendamnya, bahkan dia membunuh wanita itu sebelum mengakhiri hidup Antonio. Dia sudah melupakan perasaannya, jadi untuk apa juga ragu membunuhnya?”
Gerry puas mendengar itu karena sebelumnya dia masih memiliki sedikit keraguan pada Hugo apa dia benar-benar telah melupakannya perasaannya pada wanita itu.
“Dengan begini selesai sudah balas dendamnya,” ucap Gerry mengangguk puas.
Mendengarnya Bryan menganggukkan kepala. “Sekarang kita tinggal menyingkirkan sisa anak buah Zeis, dan setelahnya kita bisa menjadi penguasa dunia bawah di Negeri ini. Dengan kekuasaan mengontrol dunia bawah, aku ingin menyingkirkan kegiatan kotor di dunia bawah yang merugikan banyak orang!”
Kerutan muncul di kening Gerry setelah mendengar perkataan Bryan. “Kalau kamu benar melakukan semua itu bukannya di masa depan tak akan lagi kekuatan maupun kekuasaan dunia bawah? Bagaimanapun juga dunia bawah sejak dulu adalah tempat tumbuh kembangnya sesuatu yang jahat dan merugikan, jadi bagaimana mungkin kamu ingin menyingkirkan kegiatan kotor di dunia bawah yang merugikan banyak orang?”
Tiba-tiba Bryan tertawa pelan. “Tujuanku memang ingin meniadakan kegiatan dunia bawah. Lagipula selama ini dunia bawah sudah banyak mebuat orang merugi. Dengan tidak adanya dunia bawah, mungkin dapat mengurangi jumlah kejahatan di kota ini dan kota-kota lainnya!”
“Jumlah kejahatan memang dapat dikurangi, tapi tidak mungkin kamu bisa menghilangkan tindak kejahatan di negeri ini! Jangankan di negeri ini, di kota ini saja tindak kejahatan mustahil dihilangkan sampai ke akar-akarnya!” ungkap Gerry.
“Aku tahu tentang semua itu, tujuanku memang bukan untuk menghilangkan tindak kejahatan sampai ke akar-akarnya karena itu mustahil dilakukan. Aku hanya ingin mengurangi, dan menekan mereka yang masih ingin melakukan kejahatan dengan kekuatan serta kekuasaan yang aku miliki!”
Gerry menganggukkan kepalanya mengerti, dan sebisa mungkin dia akan memberikan dukungannya pada Bryan.
Tidak lagi ada yang perlu mereka bahas dan proses pembersihan juga telah selesai, keduanya memutuskan pulang ke Mansion.
...----------------...
Bos mereka adalah Zeis, yang saat ini keadaannya sangat memprihatinkan. Wajah terluka, kedua tangan patah, serta menderita patah tulang pada salah satu kakinya.
Sore ini juga dilakukan operasi untuk menyelamatkan Zeis yang diketahui saat ditemukan sudah dalam keadaan kritis. Lima orang yang menemukan Zeis dalam keadaan kritis mereka marah dan ingin menuntut pihak rumah sakit, tapi melihat pihak rumah sakit tak takut berurusan dengan mereka, entah kenapa mereka merasa pemilik rumah sakit bukanlah sosok yang bisa sembarangan mereka singgung.
Meski mereka tak lagi bersikeras menuntut pihak rumah sakit, mereka masih mencoba mencari tahu siapa yang telah memperparah luka Zeis. Orang-orang yang sebelumnya menjaga Zeis mereka belum sadar, jadi belum bisa ditanyain apa sebenarnya yang sudah terjadi.
Mereka sudah melihat rekaman cctv, tapi tak ada satupun kamera cctv yang mengarah pada ruang rawat Bos mereka, padahal ruang rawat itu berkelas VVIP yang mana seharusnya ada cctv khusus yang memantau temot itu. Namun, ini tak ada satupun kamera cctv yang mengarah ke ruangan itu.
Lagi-lagi saat mereka ingin marah, seger mereka mengurungkan niatnya, apalagi saat ini mereka harus lebih fokus pada keadaan Zein yang sedang melakukan operasi. Sambil menunggu, dua dari mereka jalan-jalan dan tanpa sengaja berpapasan dengan Elena dan Monica yang sedang berjalan menuju tempat parkir mobil.
__ADS_1
Sepintas melihat wajah kedu gadis itu, mereka sudah merasakan ketertarikan, dan tanpa rasa takut keduanya segera mengejar Elena dan Monica. Tak sadar ada yang mengejar, Elena dan Monica masih saja berjalan santai dengan sesekali terdengar tawa lirih keluar dari mulut keduanya.
Barulah keduanya berhenti berjalan dan tertawa saat dua pria tiba-tiba datang menghadang tepat di depan mereka.
“Dua gadis cantik, kemana kalian ingin pergi? Daripada pergi dari tempat ini, bagaimana kalau kalian ikut bersenang-senang bersama kami? Kebetulan kami sedang bosan berada di rumah sakit dan ingin menyewa kamar hotel berbintang tak jauh dari tempat ini. Jika kalian ikut kami, selain mendapatkan banyak uang, kami jamin kalian juga akan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan!”
Tak menganggap ucapan salah satu pria yang menghadang mereka, Elena dan Monica memilih berjalan melewati sisi lain yang masih terbuka lebar untuk mereka. Namun, kedua pria itu kembali muncul dan menghadang jalan mereka.
“Karena kalian diam, aku menganggap kalian setuju dan sepertinya kalian sudah tidak sabar pergi dengan kami, tapi mobil kami berada di tempat lain, bukan di tempat ini!”
Elena dan Monica menghela napas menghadapi tingkah dua pria yang benar-benar membuat mood mereka seketika buruk. Maksud hati ingin segera pulang dan berkumpul dengan yang lainnya di Mansion, mereka justru harus dipertemukan dengan dua sosok pria aneh, tidak tahu malu, dan sangat mengganggu. Namun Elena dan Monica masih mencoba bersabar, dan kembali mengabaikan keberasaan dua pria pengganggu.
“Apa kalian bermaksud ingin membawa kami pergi bersama mobil kalian? Kalau itu keinginan kalian, dengan senang hati kami ikut bersama kalian!” Selesai bicara dan muncul tepat di hadapan Monica, dikarenakan tak lagi memiliki kesabaran, Monica langsung menendang pusaka pria itu.
Mendapatkan tendangan sangat kuat dipusakanya, pria itu meringis kesakitan dan melompat-lompat sembari kedua tangannya memegangi pusakanya.
“Kalian benar-benar membuat habis kesabaranku!” Tak puas membuat kesakitan satu pria, Monica intin menendang pria satunya, tapi gerakannya di dahului Elena yang lebih dulu menendang pusaka pria satunya.
“Aku juga sudah habis kesabaran dengan tingkah mereka. Emangnya mereka kira kita ini wanita apaan seenaknya ingin membawa kita ke hotel? Nih terima tendangan penghancur masa depan!” Tak sekali, Elena kembali menendang di titik yang sama, dan membuat pria yang di tendang pusakanya pingsan.
“Ternyata ibu dokter juga bisa kasar pada pria, tapi pria seperti mereka memang pantas mendapatkannya!” Meniru apa yang dilakukan Elena, Monica juga membuat pingsan pria satunya dengan cara yang sama.
Melihat kedua pria pengganggu jatuh pingsan, keduanya pergi begitu saja, tapi sambil jalan berlalu mereka sangat tega dan sengaja kembali menginjak pusaka kedua pria yang sudah jatuh pingsan. Tawa cekikikan terdengar dari mulut mereka saat melakukan itu.
“Dari sifatnya, mungkin mereka anak buah Zeis yang saat ini masih berada di ruang operasi.” Monica membuka suara begitu dia dan Elena berada di dalam mobil.
“Bukan lagi mungkin, tapi sudah pasti dia anak buah Zeis itu, dan aku penasaran siapa kira-kira orang baik yang melakukan hal keji pada Zeis?” ujar Elena.
“Bukannya kamu bisa menebak siapa yang melakukannya? Sebagai salah satu wanitanya bukannya kamu bisa menebak isi pikirannya?” Monica berbicara sambil mengarahkan pandangan pada Elena yang kali ini duduk di kursi pengemudi mobil.
Monica sangat yakin jika yang melakukan hal keji pada Zeis adalah Bryan. Oleh karena itu dia tidak melakukan penyelidikan saat anak buah Zeis melaporkan apa yang menimpa Bos mereka pada pihak kepolisian.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.