
“Ketemu,” ujarku lirih.
Akhirnya aku menjumpai sepedaku yang terparkir di dekat gudang belakang sekolah. Aku mendesah, memaksakan senyum simpul di bibirku, lalu menyedot ingus yang hampir keluar karena menahan kecengengan.
Enam tahun, itu usiaku. Taman kanak-kanak yang seharusnya jadi sekolah paling menyenangkan, tapi tidak untukku. Roni and The Geng, yang hampir setiap hari selalu mengusikku. Mungkin mereka kurang kerjaan. Atau memang, mereka tak menyukaiku.
Seperti jadwal piket harian, tiap hari aku harus mencari-cari sepedaku sendiri sebelum pulang. Padahal tiap pagi saat aku tiba di sekolah, aku selalu memarkirkannya di tempat yang benar. Namun setelah bel istirahat berbunyi, sepedaku selalu menghilang dari tempatnya.
Itu bukan sepeda yang bagus, yang mereknya tersohor, atau dibeli dengan harga berjuta-juta. Itu hanya sepeda merah kecil yang warnanya luntur dengan sedikit karat di beberapa bagiannya.
Anak-anak cowok nakal yang selalu tertarik dengan sepedaku tak pernah meminta izinku untuk memakainya. Mereka mengendarainya seolah-olah itu adalah motor trail. Mulut mereka terus mengeluarkan bunyi ‘brummm…, brum, brummm’ dan itu membuatku ingin memaki.
Tapi inilah aku, yang tak punya keberanian untuk melawan hama penindas seperti mereka. Tak hanya Roni and The Geng yang keterlaluan, tapi beberapa anak lain juga.
Anggap saja aku ini sampah yang bodoh. Terlalu banyak kekurangan. Terlalu banyak julukan.
Batang lidi, tulang berjalan, wajah memelas, sampai karir ibu dan ayahku pun dibuat candaan oleh mereka. Hampir setiap hari olokan-olokan itu aku dengar. Sebenarnya aku tak terlalu memperdulikannya. Tapi tragisnya adalah itu, karena hampir setiap hari aku mendengarnya.
***
3 tahun berikutnya...
“Abis bangun pagi itu langsung cuci muka. Nggak kayak kamu ini, sampe belek segede jagung dipamerin ke orang pas jam-jam sarapan. Bikin mau muntah tau nggak!” Karina mengkritik.
“Sophia, sana cuci muka dulu!” suruh ibu.
Aku pun berjalan malas menuju kamar mandi, mencuci muka dengan sabun giv merah muda, lalu kembali ke meja makan.
“Kamu pake lanaige Kakak, ya?”
“Apaan, sih!”
“Awas aja kalo kamu pake sabun muka Kakak!”
Bahkan saudari kandungku sendiri selalu mengomel padaku. Aku tau tujuannya baik, tapi terkadang ocehannya itu seperti permen pop rocks yang menaruh sensasi meledak-ledak di (hati).
***
5 tahun berikutnya...
“Sophia, kamu itu udah SMP. Tolong dong kalo makan jangan nyisa terus.”
“Salah sendiri kasih nasi banyak banget. Ibu kan tau kalo porsi makan Sophia itu sedikit.”
“Kamu itu diurusin Ibu biar badan kamu bisa gemuk. Kamu kira Ibu betah sama tetangga-tetangga yang nuduh Ibu nggak bisa rawat kamu sebagai anak?”
“Ibu kira Sophia itu Momo apa? (Momo, kucing peliharaan Karina) Asal kasih makan, nanti bisa gemuk. Omongan tetangga kok diambil hati, kayak nggak ada omongan yang lebih penting aja.”
Ibu menggeleng, lalu pergi ke dapur membawa piring bekas makan siangku.
__ADS_1
***
1 tahun berikutnya...
Satu bulan lalu, Paklik Seto meninggal karena serangan jantung. Beliau adalah suami dari Bulik Susan, adik ibu. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang seumuran denganku. Namanya adalah, Mini Putri Seto.
Setelah kepergian Paklik Seto, aku pun tinggal bersama Bulik Susan dan sepupuku, Mini. Bulik Susan sangat menyayangiku seperti putri kandungnya sendiri. Begitu juga Mini, dia adalah sepupu sekaligus sahabatku satu-satunya.
Aku memang ada rencana untuk tak tinggal bersama keluargaku. Kakak dan ibu lama-lama seperti toxic. Dan Bulik Susan yang mengajakku untuk tinggal bersama di rumahnya selama semauku pun, aku manfaatkan dengan baik.
Awalnya ayah melarang. Tapi karena aku merengek untuk diizinkan, akhirnya dia menyetujuinya. Lagi pula di rumah masih ada Karina. Dia sudah bekerja dan sebentar lagi akan menikah.
***
2 tahun berikutnya...
“Gilakkk! Ini yang namanya Adinda Sonia? Kok dia catik banget, sih?” Aku terkagum melihat sebuah foto yang ditunjukkan Mini padaku dari HP-nya.
Malam ini kami berdua berbaring di kasur dengan mengotak-atik ponsel masing-masing.
“Jaman sekarang mana ada orang jelek, sih?” Mini berkelakar.
“Gue.” Jawabku yang merasa dihina.
Mini pun terbahak. “Lo itu sebenernya nggak jelek, tapi kurang sadar diri aja.”
Mini menepuk jidatnya, lalu beranjak duduk menatapku yang masih berbaring. “Sophia, lo itu punya pawakan bagus, ramping gitu, kan? Tapi masalahnya, lo itu orangnya malesan, dan nggak peduli sama penampilan,” ungkap Mini terlalu jujur.
Aku pun ikut beranjak duduk. “Bukannya gue nggak peduli sama penampilan. Tapi gue nggak ada duit buat beli skincare, buat beli kosmetik, buat beli baju-baju bagus. Buat beli pulsa aja merongrong, apalagi ngurusin hasrat buat beli yang begituan.”
Mini masih menyimakku.
“Lo tau kan kalo ibu sama ayah gue bener-bener nggak peduli sama biaya pribadi gue lagi. Untung ada Bulik Susan yang baik hati banget. Setidaknya biaya sekolah ditanggung pemerintah, dan ibu lo cuma nafkahin gue pake makanan dan tempat tinggal. Itu pun gue udah bersyukur banget.”
Mini mendecak. “Kakak lo itu bener-bener nggak bisa diandelin! Dulu aja Bude Mira selalu banggain dia karena pinter nan cantik. Tapi sekarang apa? Cih, baru 21 tahun aja udah nikah. Terus sekarang punya bayi lagi. Katanya mau bikin orang tua bangga. Eh, malah nambahin beban buat orang tua lo.”
“Gue juga kecewa sih sama Karina. Dia cantik, pinter. Tapi kok baru kerja 3 tahunan aja udah minta nikah. Itu pun dia juga sempet nganggur. Mana suaminya nggak kreatif lagi. Cuma ngandelin ngojek, mana bisa nyukupin semua kebutuhan keluarganya? Dan Ibu sama Ayah pun harus turun tangan buat nyukupin kebutuhan mereka.”
“Kok bisa sih kakak lo yang sok high class itu punya suami modelannya kayak Bimo Anggoro? Ya, emang ganteng, sih. Tapi kehidupannya suram.”
Aku melirik Mini dengan mata memicing. Aku sebenarnya bukan tipe orang yang mengurusi persoalan tentang kehidupan orang lain atau bahkan memaki kehidupannya. Tapi Karina adalah kakakku, dan aku merasa jika dia sudah mengecewakan banyak orang.
“Udahlah, gue nggak mau bahas Karina lagi. Gue juga punya hidup sendiri kali. Dan sekarang kewajiban gue bertambah besar. Karena kakak gue belum bisa bahagiain Ibu sama Ayah, gue harus wujudin itu. Dan itu memang udah keharusan.”
Mini menepuk punggungku. “Gue yakin lo bakalan sukses nantinya. Gue bisa lihat dari tampang-tampang buluk lo.”
“Nyebelin lo, Minion!”
“By the way…, lo serius nggak mau rubah penampilan lo? Come on Sophia, lo itu udah 17 tahun. Dan nggak mungkin kan lo mau ngejomblo selamanya?”
__ADS_1
“Wah, mulut lo perlu dirukiah kayaknya!”
Mini tertawa. “Lo kan masih dapet jatah 500 ribu tiap bulan. Itu masih cukup buat beli skincare sama kosmetik. Belajar hemat dong, Sophia…,” tutur Mini.
“Gue tiap hari udah hemat. Lo tau kan hobi gue koleksi buku, jadi gue nabung buat beli itu. Dan itu jauh lebih bermanfaat daripada hobi lo yang suka checkout shopee. Bosen gue tiap hari dengerin HP lo, ‘shopee, shopee, shopee’. Lain kali ganti napa, ‘doi, doi, doi’. Kalo gitu kan lebih adem dengernya.”
“Sinting lo, Sop Hiu!”
Aku terkekeh kecil.
Mini menangkup wajahku, memperhatikannya dengan teliti. Aku menelan ludah merasa takut membayangkan jika Mini tiba-tiba berubah menjadi Sumanto dan menyambar habis wajahku. Astaga, Mini sepupuku itu memang gendut dan doyan makan, tapi dia bukan kanibal sebenarnya.
“Lo kenapa Phi kok tegang gitu?” tanya Mini terheran masih menangkup wajahku.
“Gue kira lo kelaperan mau ngelahap muka gue yang sebenarnya imut ini.”
Mini mendorong jidatku, dan aku pun membalasnya.
“Sophia sayang, tolong dengerin nasihat sepupumu yang gemoy ini.”
“Sejak kecil lo sering dipojokin sama orang-orang, kan? Dan waktu TK pun gue nggak bisa ngebantuin lo karena lo selalu nolak gue bantu. Gue ngerasa nggak guna jadi sepupu sekaligus temen lo.”
“Lingkungan kita itu kejam. Bahkan bayi baru lahir pun bisa kena body shaming. Gila, sih!” Mini menyeringai.
Aku masih terus menyimaknya.
“Sejak kecil kita tumbuh bareng-bareng. Sampai TK, SD, SMP, kita juga bareng-bareng sekolah di tempat yang sama.” Mini tersenyum. “Stop like this! Sophia, gue nggak suka orang-orang itu masih ketawa karena ngelihat lo yang nggak ingin berubah kayak gini.”
“Walaupun gue juga sering dikatain gemuk, tapi saat ini gue berusaha buat nutup mulut mereka. Gue usaha diet, gue coba perbaiki penampilan gue. Yah walaupun hasilnya belum 100 persen keluar, tapi setidaknya sedikit demi sedikit gue berubah.”
“Tapi menurut gue, penampilan luar yang baik itu nggak menjamin penampilan dalam yang baik pula.” Aku menyela.
Mini terkekeh. “Itu bener. Dan gue setuju. Tapi lo nggak boleh munafik kayak gitu, Phi.”
Aku menatap Mini yang berusaha keras memberikan pencerahan untukku. Lebih tepatnya, untuk penampilanku.
“Penampilan dalam yang baik, itu memang udah keharusan. Dan penampilan luar yang baik, itu juga harus kalo lo mampu. Anggep aja, penampilan dalam itu sifatnya wajib, dan penampilan luar itu sifatnya sunah.”
“Bisa gitu, ya?” Aku bergumam.
“Lo orang pinter, Phi. Dan kayaknya gue nggak perlu jelasin semuanya lagi karena lo bakalan paham sendiri.”
Aku mendesah. “Apakah nanti good looking akan mengalahkan good attitude?”
“Akan ada saatnya orang-orang mencapai good looking. Tapi dari semua orang itu, yang membedakan mereka adalah good attitude-nya,” tukas Mini.
Aku memandang Mini penuh arti. Aku pernah berambisi ingin menjadi sesuatu yang orang-orang sukai. Aku pikir, menjadi cantik itu adalah hal yang paling membahagiakan di muka bumi.
Cantik, kaya, dan dipandang oleh banyak orang akan sangat menyenangkan bukan? Apakah aku bisa mencapai itu semua? [ ]
__ADS_1