Stunning My Life

Stunning My Life
Kembalikan Kalungku


__ADS_3

Dua hari sejak aku kehilangan kalung pemberian Juna. Malam ini aku tak bersemangat meratapi kepergian benda spesial yang Juna berikan padaku itu.


Aku menidurkan kepala ke meja belajar. Tangan kiriku berselonjor lurus. Jari-jari kananku mengetuk-ngetuk layar ponsel gelap beraturan. Aku mendesah berat.


"Phi, gue sama Ibu mau ke luar bentar. Lo di rumah aja, kan?" celetuk Mini padaku.


"Hmmm...." Jawabku tak bertenaga masih di posisi nyaman.


Mini terdengar mendecak. "Galau mulu jadi orang. Dah, ah. Gue berangkat, ya."


"Hmmm...." Jawabku lagi dengan nada yang sama seperti sebelumnya.


Sepuluh detik. Aku mulai mengangkat kepala meraih ponselku.


Sophia : Hai, lagi ngapain?


Aku mengirim sebuah pesan pada Juna. Aku mendecak cemberut karena Juna centang satu. Aku kembali menaruh ponselku ke meja belajar.


Aku masih menatap ponsel hitamku berharap suara balasan pesan masuk dari Juna terdengar. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tling. Dan benar saja, aku langsung kegirangan cepat-cepat membuka notifikasi itu.


"Kok Rama, sih?" gerutuku kesal.


Rama : Ini punya lo, kan?


Tulis Rama di pesan itu seraya melampirkan sebuah foto kalungku. Ya, kalung pemberian Juna untukku. Liontinnya sangat jelas dengan simbol hati di tengah-tengah abjad S dan J.


Sophia : Kok bisa ada di lo???


Rama : Bisa, lah. Kemarin lo abis dirampok, kan?


Sophia : Kok tau?


Rama : Kemarin gue nggak sengaja liat lo lagi pacaran.


Rama : Makanya..., kalo pacaran itu jangan di tempat-tempat gelap! Kena karma kan lo!


Sophia : Gelap mata lo tu rabun! Jelas-jelas jembatan itu terang banget!!!


Rama : Dasar!


Aku mengerucut bibir.


Sophia : Terus? Gimana ceritanya kalung gue ada di lo?


Aku melebar mata.


Sophia : Jangan-jangan lo berkomplotan sama rampoknya, ya???


Rama : Fitnah aja terus.


Aku memicing mata.


Sophia : Gue kan cuma nebak. Siapa tau, kan....


Rama : Hm.... Lo nggak pa-pa?


Sophia : Maksud lo?


Rama : Gue lihat lo jatuh ke sungai.


Sophia : Oh, nggak pa-pa.


Rama : Syukur deh kalo lo nggak mati. Ha ha....


Sophia : Wah..., parah ni orang!!!


Rama : Lo mau nggak kalung lo balik?


Sophia : Mana? Sini balikin.


Rama : Tapi ada syaratnya.... Gimana?


Sophia : Apa?


Rama : Malam minggu ini lo harus ikut gue.


Sophia : Ikut lo? Ke mana?

__ADS_1


Rama : Nggak usah banyak nanya. Mau nggak? Kalo nggak mau kalung lo nggak gue balikin, nih.


Aku mendecak membaca pesan ancaman Rama itu.


Sophia : Iya-iya. Gue mau.


***


Malam minggu...


Aku sampai di depan gerbang masuk sebuah panti asuhan. Aku tidak tau kenapa Rama mengajakku ketemuan di tempat ini. Laki-laki itu juga enggan memberitahu kenapa kalungku bisa ada di dia.


Aku sudah memberitahu Juna tentang itu. Mulanya Juna melarang keras aku untuk mengikuti ajakan Rama. Dia menduga-duga banyak hal buruk.


Tapi karena aku meyakinkan Juna bahwa Rama tak akan macam-macam dan aku akan baik-baik saja, Juna pun menyetujui. Walaupun aku tau sebenarnya Juna tak tulus mengizinkan, namun aku senang karena dia terlihat mempercayaiku.


Sophia : Gue udah sampe.


Aku mengirim sebuah pesan pada Rama. Laki-laki itu membacanya. Tak lama setelah itu, aku melihat Rama berjalan menghampiriku dari arah dalam panti.


"Yuk masuk," ajak Rama padaku.


Aku dengan langkah ragu menuntun Fino masuk ke halaman panti asuhan itu. Aku memarkir Fino, lalu mulai mengikuti langkah Rama menuju.


***


"Anak-anak, kenalin ini Kak Sophia," ujar Rama ramah pada segerombol bocah-bocah yang kuduga adalah penghuni panti asuhan.


"Hai, Kak Sophia...," seru anak-anak itu serempak menyapaku.


"H-hai," sapaku balik tersenyum canggung.


Rama mengajakku duduk bergabung dengan anak-anak itu di sebuah gazebo kayu.


"Kak Sophia pacarnya Kak Rama, ya?


"Wah..., pacarnya Kak Rama cantik banget...."


Anak-anak itu tersenyum kagum padaku. Aku hanya terus menatap Rama bingung. Laki-laki itu justru mengedarkan tatapan sayang pada anak-anak yang sudah salah paham tentang hubunganku dengannya.


Rama tersenyum. "Hari ini kita bakalan makan-makan...." Jawabnya membuat semua orang heboh, kecuali aku.


Rama tampak sudah menyiapkan beberapa tumpuk nasi kotak juga dua dus teh pucuk harum di sudut gazebo itu. Aku pun mulai membantu Rama membagikannya kepada anak-anak panti.


"Sebelum makan, jangan lupa berdoa, ya...," ujar Rama mengingatkan.


Anak-anak itu mengangguk.


Aku menatap Rama kagum. Laki-laki yang selama ini kunilai dengan buruk, ternyata begitu baik. Rama memang terkesan arogan dan kasar, namun ternyata itu cuma kedoknya.


Rama terlihat begitu mencintai anak-anak itu. Dia juga tampak sudah dekat dan mengenal lama mereka. Sorotan matanya sayu begitu kasihan dengan anak-anak itu.


"Lo mau makan juga?" tanya Rama padaku menyodorkan sekotak nasi dan sebotol teh.


"Nggak usah, gue udah makan kok tadi. Lo aja yang makan," kataku tersenyum.


Rama mengangguk, lalu meletakkan sekotak nasi dan sebotol teh itu ke samping kirinya.


Aku mengedarkan pandang memperhatikan bocah-bocah yang hidupnya kurang beruntung itu. Batinku terenyuh, tapi aku memcoba tersenyum. Anak-anak itu terus makan dengan lahap.


"Gue mau bicara sama lo," ujar Rama membuatku menoleh. "Anak-anak, kalian habisin makanannya, ya. Kak Rama mau bicara dulu sama Kak Sophia."


"Iya, Kak...," seru anak-anak itu bersamaan.


***


"Lo kok kelihatannya deket banget sama anak-anak panti? Lo sering ke sini?" tanyaku pada Rama.


Aku dan Rama berjalan sangat pelan menyusuri lorong terbuka panti asuhan itu.


"Hm.... Ya gitu, deh." Jawab Rama menipiskan bibir sedikit menunduk.


"Gue kira lo cuma berandalan jalanan yang suka berantem. Ternyata lo bisa baik juga orangnya," sindirku melirik Rama.


Rama melengos. "Gue tu sebenernya lebih baik daripada yang lo lihat sekarang!" sombongnya.


Aku mencebik.

__ADS_1


Tiba-tiba Rama menghela napas berat. Aku menoleh memperhatikan laki-laki itu. Wajahnya tampak ragu menyapu mata ke sekitaran.


"Lo ada masalah, ya?" tanyaku.


Rama terkekeh getir. "Ya ada, lah." Dia menolehku. "Saking gedenya masalah itu gue sampe lupa rasanya terbebani itu kayak gimana."


Alisku bertaut. Aku penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada Rama. Latar belakang keluarganya begitu menyedihkan, dan ekspresi laki-laki itu tampaknya juga tak kalah menyedihkannya.


"Rama," panggilku membuat laki-laki itu menoleh melebar mata. "gue boleh nanya sesuatu?"


"Apa?"


"Lo dulu pernah bilang ke gue kalo lo nggak punya temen. Lo juga bilang ke gue kalo lo nggak punya keluarga. Maksud lo apa?"


Rama tampak mengingat. Ya, saat pertama kali aku bertemu Rama, semuanya berlangsung begitu saja. Aku tau saat kecelakaan itu Rama sedang emosi. Bagaimana cara laki-laki itu mendorongku sampai tersungkur ke aspal hingga tanganku terluka menyiratkan suasana hatinya yang seperti sedang berkabut.


Rama terdiam. Aku terus menatapnya memohon supaya diberi jawaban. Rama pun mendesah. Dia menggandengku duduk ke kursi kayu yang tak jauh dari kami.


"Gue dulu nggak kayak sekarang," celetuk Rama mulai bercerita. Aku pun senantiasa mendengarkan.


"Dulu gue punya banyak temen, punya banyak orang di deket gue. Orang tua gue kaya, hidup gue enak. Dan lagi, gue juga murid yang rajin di sekolah."


"Hidup gue dulu lurus. Tapi sejak kakak gue-" Rama memotong kalimatnya. Dia terdiam.


Aku menepuk-nepuk punggung laki-laki itu. "Gue tau kok musibah yang nimpa kakak lo. Oma udah cerita sama gue."


"Oh, ya? Oma cerita apa aja sama lo?"


"Hm..., nggak banyak. Oma cerita soal kakak perempuan lo yang dihamilin orang. Dan orang itu nggak bertanggung jawab. Terus..., kakak lo meninggal waktu ngelahirin Leo." Aku merasa tak enak berbicara seperti itu. Tapi Rama menayaiku. Ya sudah, aku harus menjawab, kan?


Rama menatapku tajam, kemudian mengendurkan dadanya yang membusung. Dia menghela napas. "Gue ngerasa nggak guna jadi adik. Seharusnya gue bisa lindungin kakak gue dari laki-laki bajingan. Tapi gue gagal." Rama menunduk.


"Lo nggak boleh pesimis gitu. Itu semua bukan salah lo. Siapa yang tau jalan hidup manusia? Cuma Tuhan yang tau."


"Mungkin kakak lo juga salah. Dan laki-laki yang nggak bertanggung jawab itu juga salah. Salah besar malah. Jadi itu bukan kesalahan lo, Ram."


Rama menatapku. Matanya berbinar. "Sejak gue tau kakak gue dihamilin orang, pikiran gue mulai bengkong."


"Gue frustrasi setiap hari lihat kakak gue nangis-nangis di kamarnya. Dia bahkan pernah nyoba buat bunuh diri. Di rumah cuma ada kita bertiga. Oma, Kakak, sama gue."


"Kakak gue mulai stres. Dan Oma pun harus 24 jam jagain dia, karena dia juga hamil. Terus gue ngerasa nggak keurus. Oma yang biasanya peduli, jadi ngabain gue."


"Leo akhirnya lahir, walaupun prematur. Kakak gue meninggal. Dan lagi, Oma juga dibuat sibuk ngurusin bayi nyebelin itu."


Wajah Rama mulai kesal. Tapi aku masih terus menyimaknya.


"Gue kasihan sama Leo. Tapi gue juga nggak suka sama dia. Dia itu kayak beban di keluarga gue."


"Leo itu bukan beban. Malah justru lo sama semua masalah keluarga lo itu adalah beban buat Leo," selaku menatap Rama. "Dia nggak tau apa-apa. Gue yakin, Leo juga nggak berharap dilahirin dengan cara kayak gitu. Kalo dia mulai dewasa dan ngerti semuanya, dia mungkin bakalan ngerasa nggak adil."


"Lo nggak boleh punya rasa jahat kayak gitu ke Leo. Dia nggak berdosa. Dia cuma korban dari perbuatan zina kakak lo sama laki-laki yang nggak bertanggung jawab itu. Seharusnya lo sayang sama Leo. Kayak lo sayang sama anak-anak panti sini," tuturku pada Rama.


Rama memalingkan matanya enggan menatapku. "Lo nggak ngerti rasanya jadi gue. Gue cuma butuh perhatiannya Oma yang dulu. Gue cuma butuh orang-orang yang sayang sama gue."


"Gue emang nggak ngerti gimana rasanya jadi lo. Tapi gue paham, kok. Lo itu sebenernya cemburu sama Leo karena dia lebih diperhatiin Oma. Ya, kan...?" godaku pada Rama.


"Apa, sih! Sok tau lo!" Rama menyangkal.


Aku mencibir. "Udah gede, nggak usah cemburu-cemburu gitu ke anak kecil. Dewasa, dong...!" seruku.


Rama melengoskan bola matanya.


"Jangan jahat sama Leo, Ram. Dia seharusnya lo peluk dan lo perhatikan."


"Gue pernah lihat Leo nangis di pinggir jalan. Gue miris, karena Leo bilang kalo temen-temennya ngejek dia, anak haram."


Rama tampak sedikit membulat mata setelah mendengar ceritaku itu.


"Temen-temennya nggak mau main sama dia gara-gara itu," terusku pada Rama.


Rama terdiam terlihat mencoba memikirkan sesuatu.


"Jadi gue mohon sama lo, jangan anggep Leo itu sebagai beban karena sebenernya dia itu udah terbebani."


Rama menoleh menatapku. "Thank you, ya. Lo udah ngasih tau gue soal itu."


Aku tersenyum. "Iya, sama-sama." [ ]

__ADS_1


__ADS_2