Stunning My Life

Stunning My Life
Sakit


__ADS_3

Aku mengerjap-ngerjap setelah mendengar seseorang memanggil-manggil namaku. Mini, sepertinya dia berusaha membangunkanku.


"Phi, lo demam." Mini menatapku menautkan kedua alisnya.


Pagi ini aku harus menghubungi kantor karena tak bisa bekerja. Aku sakit, mungkin ini efek kejadian semalam. Kepalaku pusing, dan suhu badanku sedikit naik.


Tadi Bulik Susan berniat tidak pergi mengajar untuk merawat dan menemaniku di rumah, namun aku bilang jika aku baik-baik saja. Dan sekarang, aku tengah sendirian di rumah karena Mini juga harus pergi kuliah.


Aku tak ingin lagi mengingat sikap Adi dan ibunya kala semalam. Karena itu bukan hanya menyakiti perasaanku, tapi juga fisikku. Makanya, aku mencoba menyibukkan diri untuk beristirahat dan menonton TV saja.


Aku tadi sempat membaca beberapa pesan whatsapp dari Juna. Juna menanyai keadaanku. Aku kurang tau Juna sudah mengerti sejauh mana tentang kejadian itu. Jika aku tebak, mungkin Mini mengatakan sesuatu padanya.


Aku memberitahu Juna kalau aku lebih baik sekarang. Mini semalam juga membantuku mengompres pipi. Dia mengatai Adi habis-habisan di depanku. Sudahlah, aku juga tak mau membahas laki-laki itu lagi.


***


Siang ini Juna menjengukku di rumah. Dia datang bersama Mini juga Haris. Mungkin mereka janjian untuk ke sini sepulang kuliah.


"Get well soon ya, Phi," ujar Haris padaku.


Aku yang tengah duduk bersandar bantal di kasur itu pun tersenyum. "Thanks, Ris."


Kami berempat, aku, Juna, Mini, dan Haris berkumpul bersama di ruang kamar. Haris duduk di kursi kayu meja belajar Mini yang diseretnya ke pinggir kasur. Dan Mini, dia duduk di pinggir kasur berdekatan dengan Haris.


Sedangkan Juna, laki-laki itu duduk tepat di sampingku seraya memandangiku sedari tadi. Aku tidak tau dengan apa yang dipikirkan Juna, namun tampaknya dia sangat tak suka melihatku seperti ini.


"Si Adi bener-bener gila tau nggak! Sejak awal gue udah larang lo buat pergi sama dia, kan? Lo sih bandel." Mini merungut menatapku.


"Ya tapi bukan salahnya Sophia lah, Beb. Cowoknya aja yang sinting!" ujar Haris ikut mengkritik.


Aku hanya menunduk diam.


Juna mengusap pipi kiriku tiba-tiba. Aku pun cepat menolehnya. "Sakit?" Dia menatapku.


"Udah mendingan, kok. Udah nggak kerasa kebas lagi." Jawabku, lalu tersenyum.


"Tenang aja, Jun..., udah gue kompres pake balok es dari Kutub Utara tu pipi," timpal Mini membuat Haris tertawa kecil.


Aku pikir itu juga lucu, tapi Juna tampak datar. Dia tak menyinggung sedikit pun lengkung tipis di bibirnya sedari tadi.


"Beb, keluar yuk!" Mini menarik paksa tangan Haris. Dia dan pacarnya itu pun melangkah pergi.


"Pintunya tetep gue buka, ya. Jangan macem-mecem lo Jun sama sepupu gue," ujar Mini.


"Siap!!!" seru Juna pada sepupuku itu.


Sekarang tinggal ada aku dan Juna di ruang kamar.


"Maaf, Sophia." Juna menatapku dengan mata teduhnya.

__ADS_1


"Maaf buat apa?"


"Maaf karena aku gagal jagain kamu," jelas Juna padaku.


Aku tersenyum. "Kamu nggak gagal, kok. Emang jalannya aja harus kayak gini. Mungkin biar aku tau, kalo aku nggak salah pilih pacar."


Juna tersenyum, lalu mendecak menatap pipi kiriku. "Si Adi kurang ajar banget bikin pipi pacar orang gosong." Juna kembali menoleh mataku. "Tenang aja Sophia, nanti aku gampar dia lebih kenceng buat kamu."


Aku tertawa kecil. "Jangan...."


"Biar aja. Tapi kok bisa kayak gini, sih? Tu cowok pasti punya alasan kan bikin kamu kayak gini?" Juna mulai bertanya.


Aku terdiam sebentar. "Mungkin Adi kesel karena aku hina ibunya." Jawabku menatap Juna.


"Kamu hina ibunya Adi?" Juna melebarkan mata padaku.


Aku masih menatap laki-laki itu, lalu sesuatu yang basah terasa mengalir pelan di pipiku. Aku cepat menyeka sudut-sudut mataku. "Sebenernya aku nggak ada niatan buat ngehina ibunya Adi." Aku mencoba tersenyum. "Nggak pa-pa, kok."


Juna menghelas napas berat. "Kenapa? Cerita aja sama aku. Jangan disimpen sendiri, Sophia. Terus gunanya aku buat kamu apa? Aku pengen denger semua cerita kamu. Baik itu seneng, atau juga sedih."


Satu detik. Dua detik. Aku memeluk Juna. Aku memejam mata merasakan tangan Juna yang hangat mengelus punggungku. Rasa tenang dan nyaman itu, aku tak ingin kehilangannya.


"Ibunya Adi bilang," kataku mulai memberitahu Juna. Entah kenapa rasanya sesak sekali untuk menceritakannya. Air mataku mengalir dari sudut-sudut sana.


Aku tak ingin terlihat cengeng di depan Juna. Tapi sepertinya aku tak bisa melakukannya. "Dia bilang, kalau aku kurang berpendidikan."


Juna mendorong pelan kedua lenganku melepas pelukan itu. Dia menatapku, lalu mengelap air mataku dengan kedua tangannya.


"Cuma orang bodoh yang nggak suka sama kamu. Kamu hebat, Sophia. Cuma mereka aja yang nggak bisa ngelihat itu." Juna tersenyum padaku. "Kamu mau ketemu ibuku?"


"Ketemu ibumu?"


Juna tersenyum lagi.


Sebenarnya aku masih trauma. Ibunya Adi saja bisa semena-mena itu padaku. Aku takut jika ibunya Juna memperlakukanku seperti yang dilakukan Tante Sari semalam.


Aku menggeleng. "Aku takut. Aku takut kalo ibumu nggak suka sama aku."


Juna tersenyum. "Enggak.... Bunda orangnya baik, kok. Aku yakin, ibuku bakalan jadi orang paling baik yang pernah kamu temui."


Aku hanya diam.


"Ibuku bakalan suka sama kamu, Sophia. Percayalah." Juna meyakinkanku.


***


Setelah cuti sehari, kini aku pun kembali lagi bekerja. Suasana kantor sedikit berbeda. Adi yang biasanya ramah denganku, sekarang berubah tak acuh.


Pipiku yang sedikit lebam itu pun sudah samar-samar hilang. Aku sudah sembuh, dan kesembuhanku itu membuatku kehilangan respek pada Adi.

__ADS_1


Aku hanya akan bicara dengan Adi untuk sebatas pekerjaan kantor, tidak lebih. Aku tak ingin bergaul dengan laki-laki seperti dia. Aku anggap pernah dekat dengan Adi adalah sebuah kesalahan, dan aku tak ingin mengulangi kesalahan itu lagi.


Siang ini Raya mengajakku pergi makan siang ke luar kantor. Kami berboncengan motor dengan honda vario miliknya.


***


Di sebuah tempat makan bersama Raya...


"Phi, gimana acara ketemuanmu sama Mamanya Pak Adi? Lancar?" tanya Raya padaku.


Aku terdiam sebentar. "Ya gitu deh, Mbak." Jawabku.


"Kayaknya Pak Adi suka sama kamu tu. Beruntung banget, sih. Pak Adi tu mapan, ganteng lagi. Mirip Rezca Syam nggak, sih?" Raya tertawa.


Aku terkekeh tipis. "Gantengan Rezca Syam ke mana-manalah, Mbak."


"Kalo itu sih setuju." Raya kembali menyantap makan siangnya.


Tadi pagi Raya juga beberapa orang kantor menanyai keadaanku. Mereka bertanya aku sakit apa. Aku jawab saja jika aku demam.


Aku tak ingin membawa masalah pribadiku dengan Adi ke tempat kerja. Aku tak perlu koar-koar tentang kebusukan Adi pada orang-orang kantor. Biarkan mereka sendiri menilai Adi sesuai pemikiran mereka.


"Sophia."


"Hm?" Aku menoleh melebarkan mata ke Raya yang memanggilku.


"Jadi kamu udah punya hubungan nih sama Pak Adi? Ayo cerita, dong...."


Aku mencoba tersenyum. "Nggak ada, Mbak. Aku udah punya pacar, kok."


"Serius?" Raya ternganga tampak terkejut.


Aku mengangguk.


"Ya ampun, kasihan banget Pak Adi. Cintanya bertepuk sebelah tangan, dong." Raya merapatkan bibir mengerutkan dahinya menggeleng-geleng pelan.


"Pak Adi nggak suka sama saya kok, Mbak. Mbak Raya sendiri udah punya calon belum?" tanyaku balik.


Raya tampak sedikit tersipu di sana. "Udah, sih. Tapi orang rantau. Jadi LDR-an kita," ungkap Raya padaku.


"Wah..., semangat ya Mbak kalo gitu." Aku tersenyum.


"Iya, Sophia. Makasih." Raya pun ikut tersenyum.


Kami terus melanjutkan makan siang. Aku salut dengan Raya. Dia bilang jika pacarnya orang rantau. Mereka pasti jarang atau bahkan sangat sulit untuk bertemu. Tapi Raya tampaknya selalu happy setiap hari kalau bekerja.


Aku harap dia juga tak salah pilih pasangan. Zaman sekarang tampang itu sering menyesatkan. Orang yang awalnya baik dan sopan saja, bisa berubah seperti iblis.


Menjalin hubungan yang sehat itu sulit. Aku juga tidak tau hubunganku dengan Juna ke depannya akan menjadi seperti apa. Tapi aku harap, itu akan membahagiakan. [ ]

__ADS_1


__ADS_2