Stunning My Life

Stunning My Life
Oh Nenekku


__ADS_3

Aku masih duduk di ruang tamu bersama nenek dan Tante Tari. Aku senang mendengar kabar nenek dan tanteku yang katanya baik-baik saja.


Ibu ayahku itu walaupun suka bicara sesuka hatinya sendiri, tapi dia tetap nenekku. Dia satu-satunya sesepuh yang kupunya.


Kedua orang tua dari ibuku sudah tiada sejak Karina masih bayi. Dan sekarang cuma ada ibunya ayahku. Sedangkan bapaknya ayahku, beliau juga sudah meninggal saat ayahku masih SMP.


"Kamu udah jengukin ayahmu di rumah sakit, kan? Gimana perkembangannya?" tanya nenek padaku.


"Ayah udah baikan kok, Nek. Mungkin sehari atau dua hari lagi udah boleh pulang." Jawabku.


Nenek melempar senyum tipis, kemudian menikmati sepotong martabak manis.


"Sophia, udah punya pacar belum? Kamu sekarang kan kerjanya udah lancar. Harus buruan cari jodoh, dong," celetuk Tante Tari.


"Ngapain cari pacar? Lha wong Sophia aja mau dijodohin sama tentara, kok," sahut nenek menatap sinis Tante Tari.


Ternyata nenek juga tau soal perjodohanku dengan Bara? Sebenarnya apa saja yang tidak aku ketahui dan yang orang-orang itu ketahui? Apa saja yang sudah terjadi di sini selama aku tinggal bersama Bulik Susan dan Mini?


"Nenek kok tau kalo Sophia mau dijodohin sama tentara?" tanyaku kepo.


"Ya taulah. Jadi, almarhum kakekmu itu punya temen. Terus temennya itu punya anak namanya Hartono. Nah, si Hartono ini punya anak laki-laki yang udah jadi tentara. Dan anaknya itu mau dijodohin sama kamu," jelas nenek padaku.


Aku mengerti. Jadi pada intinya, si Hartono ini adalah teman ayahku, papanya Bara. Dan kemudian kakeknya Bara itu, adalah teman kakekku. Hubungan mereka kuat sekali, pasti itu alasannya kenapa Bara bisa dijodohkan denganku.


Aku terdiam sebentar. "Perjodohannya bakalan dibatalin kok, Nek. Aku udah punya calon sendiri, jadi aku nolak perjodohannya."


"Kamu nolak???" Nenek memekik membelalakkan mata padaku.


Aku mengangguk tanpa ragu menatap nenek.


"Kamu bodoh atau gimana, Sophia? Dijodohin sama tentara malah kamu tolak? Ini kesempatan kamu buat jadi istrinya orang bertitel dan terhormat. Kamu nggak pengen bahagia kayak Nenek? Hidup terjamin, karena kakek kamu pensiunan AURI." Nenek mulai marah padaku.


Cih. Siapa juga yang gila kehormatan untuk bisa jadi istrinya tentara atau bahkan pejabat. Nenek benar, jika aku punya suami seperti Bara, hidupku bisa terjamin. Tapi menurutku itu juga tak terlalu benar.


Kakekku dulu memang seorang AURI. Dia hebat, aku akui itu. Tapi apa yang nenek bilang tadi? Hidupnya bahagia? Oh, ya?


Di dunia ini manusia itu bermacam-macam. Dan yang punya ambisi besar itu banyak. Aku salah satunya. Dan satu lagi, yaitu nenekku.


Nenek hanya mementingkan dirinya sendiri. Harta apa pun yang ditinggalkan almarhum kakek, nenek pergunakan untuk kesenangannya sendiri. Aku dan nenek sama-sama punya ambisi untuk menjadi orang kaya, tapi jalanku benar, dan nenek, kurasa tidak.


Jika kakekku pensiunan AURI, setidaknya hidup ayahku dan Tante Tari bisa lebih sejahtera. Tapi apa? Ayah hanya tamatan SMA, lalu bekerja sebagai supir taksi online. Dan Tante Tari, aku rasa dia hanya pengangguran yang bergantung hidup pada nenek.

__ADS_1


Nenek menghabiskan uang pensiunan kakek hanya untuk merayu laki-laki penyuka uang. Atau semata-mata untuk menghidupi dirinya di dunia. Ya, seperti itulah nenekku. Bukankah aku terlalu baik untuk masih menganggapnya nenekku?


"Keluarganya Hartono itu kaya. Mereka orang terpandang. Kamu seharusnya banyak-banyak bersyukur bisa dijodohin sama anaknya yang tentara itu, Sophia...," ujar nenek tampak geram padaku.


"Jadi gara-gara keluarganya si tentara itu kaya, Nenek mau aku jadi mantu mereka gitu? Sophia nggak gila harta kok, Nek. Kalo Nenek emang pengen Sophia jadi orang kaya, Nenek tinggal doa aja ke Allah. Biar Sophia sendiri yang usaha supaya hidup Sophia sejahtera. Sophia bisa kaya sendiri kok, Nek. Tanpa harus nikah sama tentara!" Aku mulai melawan nenek.


"Bodoh kamu, Sophia. Kamu bener-bener bodoh! Dikasih jalan gampang, malah mempersulit diri. Anaknya siapa sih, kamu?" celoteh nenek padaku.


Aku mulai emosi. Kata-kata nenek mulai terdengar menyakitkan. Mataku sekarang berkaca-kaca, tapi hatiku dikuatkan oleh Tuhan. Aku tak akan menangis di depan nenek menyebalkan itu.


"Udah dong, Mah. Sophia tadi kan bilang kalo dia udah punya calon sendiri. Biarin Sophia milih pendamping hidupnya sendiri. Nggak ada salahnya juga dia nggak mau dijodohin. Perasankan nggak bisa dipaksa," ujar Tante Tari membelaku.


"Kamu tu tau apa sih, Tar? Nggak usah sok ngomongin perasaan, kamu sendiri aja juga belum nikah-nikah. Umur kamu itu udah mau 40 tahun, udah perawan tua!!! Malu-maluin, Mamah!"


Wajah Tante Tari tampak sedih mendengar hinaan nenek itu. Rasanya ingin sekali aku melepas sepatu heelsku lalu menjejalkannya ke nenek. Astagfirullah, sabarkan akhlak dan hatiku, Tuhan.


"Nenek tu nggak pernah berubah, ya! Nenek selalu otoriter ke siapa pun." Aku memandang nenek geram. "Oke, kalo gitu aku jiplak aja sifat Nenek itu. Aku juga bisa sewenang-wenangku sendiri. Aku menolak keras perjodohanku dengan tentara itu! Aku nggak peduli semua saran dan hinaan Nenek. Aku udah punya calon sendiri. Dan Ayah, Ibu, sama Karina, mereka suka sama calonku pilihanku."


Nenek menyeringai. "Sehebat apa sih calonmu itu? Paling-paling keluarganya nggak sekaya Hartono."


Aku tertawa membuat nenek dan Tante Tari menatapku aneh. "Nenek salah. Salah besar malah! Yang ada paling-paling kekayaan keluarganya Hartono nggak sebanyak kekayaan keluarga calonku."


"Nenek nggak percaya! Pokoknya Nenek nggak ngerestuin kamu sama cowok pilihanmu itu! Nenek cuma ngerestuin kamu sama anaknya Hartono!" seru nenek padaku.


"Bodo amat! Lagian siapa yang mau minta restunya Nenek?" Aku menyeringai. "Kalo aku nikah, aku cuma butuh restunya Ayah sama Ibu. Restu Nenek, itu nomor 100 dari angka 100. Bawah sendiri!"


"Bener-bener ya ni anak! Kamu nggak takut kualat ngomong kayak gitu ke nenekmu?" Nenek memelototiku.


Aku tersenyum bersikap tenang.


"Malah senyum? Nenek sumpahin ya kamu hidup sengsara sama cowok kere pilihanmu itu!"


"Maaf, Nek. Tapi biasanya, sumpahnya orang zalim itu nggak mempan buat orang yang terzalimi. Nenek mendingan banyak-banyak bersyukur, deh. Banyak-banyak mendekatkan diri ke Allah." Aku tersenyum. "Nenek kan udah tua.... Siapa tau, kan...."


Nenek sontak berdiri mengangkat sebuah asbak di atas meja hendak melemparkannya padaku, tapi Tante Tari cepat-cepat menahannya.


Aku tersenyum pada nenek, kemudian ikut berdiri dari dudukku. "Jangan emosi, Nek. Nanti darah tingginya kumat, loh."


"Pulang kamu sekarang! Pulang!!!" pekik nenek padaku.


"Oke, assalamu'alaikum." Aku tersenyum pada nenek dan Tante Tari, kemudian bergegas pergi dari rumah itu.

__ADS_1


***


Di perjalanan pulang...


Aku terus beristigfar sembari terus mengendarai motor menuju rumah. Sebenarnya aku merasa berdosa pada nenek, tapi aku juga sedikit tertawa, sih.


Saat aku meninggalkan ruang tamu rumah nenek tadi, aku melihat sekelebat Tante Tari tersenyum tipis mengacungkan jempol kanannya padaku. Dia tampak mencuri-curi kesempatan dengan menyelipkan tangannya ke belakang punggung nenek.


Aku tidak ambil pusing. Sekarang aku bisa menganggap perjodohanku dengan Bara benar-benar batal. Aku tinggal fokus pada pendekatan Juna dengan keluargaku, khususnya ayah.


Sepertinya aku sudah punya rencana akan itu. Aku tinggal menunggu ayah keluar dari rumah sakit. Aku yakin, semuanya akan beres nantinya.


***


"Kamu kenapa kok kelihatan bete gitu?" tanya Karina padaku.


Kami berdua tengah duduk di kursi kayu depan rumah. Di teras rumahku disediakan kursi jati memanjang. Kursi itu memang ditaruh di sana karena setiap pagi ibuku berjualan nasi pecel. Jadi, para pembeli pun bisa mengantre dengan duduk di kursi itu.


"Masa tadi Nenek marah-marah ke aku gara-gara perjodohan yang dibikin Ayah sama temennya aku tolak," jelasku pada Karina.


"Marah-marah gimana?"


"Ya, Nenek biasalah, ngelantur ke mana-mana omongannya." Jawabku ke Karina.


Karina menghela napas pendek. "Omongan Nenek aja kamu dengerin. Cuekin aja udah...."


Suasana sunyi sebentar.


"Kak, aku minta maaf ya kalo selama ini udah kayak lupa aja sama keluarga. Aku cuma mau rubah keadaan keluarga kita. Aku sebenarnya udah punya rencana yang tersusun rapi. Tapi pas ngejalaninnya ada aja rintangannya."


Aku menghela napas lega, lalu menoleh Karina tersenyum. "Tapi semoga tujuanku tercapai. Aku sayang kok sama Ibu, sama Ayah, sama Kakak juga Lusy."


Karina yang sedari tadi menatapku sekarang mulai menunduk. "Kakak juga minta maaf. Kakak nggak bisa bahagiain kamu. Kakak malah ngehancurin semuanya, ngecewain Ibu sama Ayah."


Karina menoleh menatapku lagi. Dia tersenyum. "Kamu lebih hebat dari Kakak, Sophia. Kakak makasih banget loh kamu selalu jatah Lusy tiap minggunya. Dia pasti bangga punya Tante kayak kamu. Udah cantik, baik lagi."


Aku tertawa kecil. "Kakak nggak lagi kesambet kan puji aku kayak gitu?"


Karina mendorong jidatku ke belakang. Ekspresinya sekarang terlihat sedikit kesal tapi juga tersenyum-senyum tipis.


Hari sudah semakin larut. Aku dan Karina pun kembali masuk ke rumah dan beristirahat. Aku tadi punya niatan untuk kembali ke rumah sakit menemani ayah, tapi ibu melarangku pergi. Katanya sudah malam, ayah akan baik-baik saja karena ada Bara di sana. [ ]

__ADS_1


__ADS_2