
Sekitar satu jam lalu, aku baru tiba kembali di rumah Bulik Susan. Besok pagi aku harus menemani beliau pergi ke kampus Mini untuk merayakan First Day Campus katanya.
Mulai besok, Mini sudah akan sibuk dengan kegiatan perkuliahannya. Sedangkan aku, sudah hampir satu bulan sejak mengirimkan surat lamaran pekerjaan ke sebuah kantor pemerintahan kota, tapi aku masih tak kunjung mendapatkan panggilan dari sana.
Tidak! Walaupun begitu, aku harus tetap yakin dan positive thinking. Aku yakin pihak kantor akan segera menghubungiku dan memberikan berita baik. Lagi pula, ijazah dan nilai-nilai raporku tidak buruk. Setidaknya selama sekolah aku selalu mendapatkan peringkat lima besar atau bahkan tiga. Aku juga pernah di posisi satu.
***
Malam ini aku tengah sibuk dengan kertas gambar di meja belajar.
Aku dan Mini tinggal di ruang kamar yang sama. Di sana, kami selalu menggunakan beberapa perabot secara bergantian. Kami membagi, dan juga menggunakan bersama.
Hari ini Mini sedang keluar bersama Haris, jadi aku pun meluapkan rasa bosanku dengan membuat sketsa baju. Sejak kecil aku memang suka menggambar. Beberapa temanku bilang, aku bisa menggambar dengan baik.
Sebenarnya aku punya cita-cita kecil. Aku ingin menjadi perancang busana dan membuka sebuah butik. Melihat fashion style anak muda jaman sekarang membuatku sedikit berinovasi.
Aku ada rencana untuk mengikuti kursus menjahit. Aku ingin belajar lebih untuk membuat pakaian dan memahami semuanya. Tapi, aku masih belum menemukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Mungkin nanti setelah aku mendapatkan pekerjaan kantor itu. Aku membutuhkan biaya dan waktu luang tentunya.
Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Mini pun membuka pintu kamar membuatku menoleh padanya.
“Udah pulang lo? Gimana kencan hari ini? Garing atau renyah?” tanyaku mencandai Mini.
“Lo kira rengginang?” Mini mendesah, lalu membuang tubuhnya ke ranjang.
Aku masih sibuk dengan pensil 2Bku. Aku menarik garis-garis lembut pada kertas gambar putih itu. Dan sebentar lagi, sketsa sepasang gaun pengantin akan segera selesai.
“Waw! Keren juga lo ngedesain,” puji Mini yang tiba-tiba muncul di sampingku.
Aku tersenyum bangga menjempol hidungku.
“Eh, Phi,” panggil Mini padaku.
“Hm…?”
__ADS_1
“Si Juna-Juna itu nanya ke Haris kalo lo udah punya pacar belum, loh. Jangan-jangan dia naksir lo lagi,” kata Mini mengedik-ngedikkan alis menggodaku.
“Nggak usah ngaco deh lo, Ni! Mana mungkin Juna yang kaya gitu suka sama gue? Lagian nih, ya. Gue sama dia itu cuma sepintas kenal doang,” tegasku pada Mini.
Walaupun sebenarnya sedikit baper, tapi aku mencoba untuk tak besar kepala. Pernah bertemu laki-laki seperti Juna saja rasanya bak mimpi. Satu banding seratus, dan itu tak akan pernah terjadi lagi. Mengingat, aku ini selalu failed kalau soal percowokan.
“Yang kaya gitu gimana maksud lo? Jangan rendah diri gitu dong, Phi. Lo aja kalo soal kerjaan selalu optimis, masa kalo soal percintaan putus asa, sih? Emang lo mau jadi bujang terus? Lo nggak ada bayangan mau nikah gitu? Setidaknya pacaran dulu, lah. Lo nggak mikirin hal yang kayak itu?” tanya Mini panjang kali lebar padaku.
Aku mendesah. “Ya gue mikirin hal yang kayak gitu juga. Tapi, kan.... Ya gue belum ada orang yang tepat aja gitu.”
“Ya, lo boleh milih-milih pasangan, Phi. Tapi ya jangan terlalu pilih-pilih. Manusia kan nggak ada yang sempurna.”
Mini mendecak. “Tapi gue juga khawatir sih sama lo,” ungkapnya tiba-tiba membuatku bingung.
“Khawatir kenapa?”
“Gue takut aja kalo orang sehebat lo dapet cowok yang nggak sepadan gitu. Ya, maksudnya lo pantes dapet pasangan yang lebih baik.”
Mini menatapku. “Ati-ati, Phi. Gue harap lo nggak salah pilih nantinya.” Dia menepuk-nepuk punggunggu.
Aku pikir, jika berganti-ganti pacar untuk mencari orang yang paling tepat bukanlah cara yang baik.
Bayangkan jika sudah berpegangan tangan, berpelukan, atau bahkan berciuman, tapi ujung-ujungnya putus. Mungkin kalau pada laki-lakinya itu hal yang biasa. Tapi untukku sebagai perempuan, rasanya harga diriku seperti sudah tercemar.
Karena itu semualah, aku menginginkan hubungan yang sekali untuk selamanya. Tapi aku juga takut, jika aku akan berakhir pada orang yang tak tepat nantinya.
***
Aku dan Bulik Susan berangkat ke kampus Mini dengan sebuah go car yang kupesan beberapa menit lalu. Dan kemudian, kami pun tiba di sana.
Dari kejauhan aku melihat Mini melambai-lambai tangan padaku. Aku pun segera mengajak Bulik Susan menghampirinya.
Haris yang sebenarnya sudah bersama Mini itu pun langsung mencium tangan calon ibu mertuanya.
__ADS_1
“Selamat ya, Sayang.” Bulik Susan memeluk Mini, kemudian memberikan sebuah buket bunga pada putrinya.
“Ni, selamet ya atas First Day Campus-nya,” ujarku tersenyum pada Mini.
“Thank you, Sophia….” Jawab Mini tampak ceria sekali.
“Jadi ini acaranya apa aja?” tanyaku menatap Mini dan Haris.
“Kalo First Day Campus sih biasanya cuma foto-foto keluarga. Tapi tahun ini ada penampilan khusus dari anak-anak senior.” Jawab Haris padaku.
Aku hanya bisa mencebik dan mengangguk.
“Ya udah, yuk kita foto-foto sekarang!” seru Mini riang menatapku dan Bulik Susan.
Kami bertiga pun mengabadikan momen-momen bersejarah itu dengan kebahagiaan. Haris yang selalu stand by dengan kameranya pun tampak memotret kami dengan baik.
Aku bisa merasakan, pasti Mini sangatlah bahagia sekarang. Bahkan kebahagiaan itu juga menular padaku. Aku tentunya juga bahagia melihat Mini bahagia.
Aku memperhatikan sekelilingku. Di halaman kampus itu, ada banyak mahasiswa-mahasiswi yang juga melakukan kegiatan seperti kami. Apakah semuanya sebahagia itu? Tentu berkuliah jauh lebih menyenangkan daripada harus bekerja setelah lulus sekolah, kan?
Ini bukan saatnya aku membanding-bandingkan diriku dengan mereka. Sophia, semua itu akan menyenangkan jika kamu melakukannya dengan perasaan yang juga senang!
Lima menit. Bulik Susan tampak menerima sebuah panggilan telepon. Dan kemudian, beliau pun mendadak harus segera kembali ke kantor karena sesuatu yang emergency katanya. Bulik Susan adalah seorang PNS, beliau seorang guru konseling di salah satu sekolah negeri menengah pertama di kota.
Bulik Susan, adik kandung ibuku itu punya takdir yang jauh lebih baik daripada ibuku sendiri.
Aku bukannya membanding-bandingkan mereka. Tapi sudah jelas jika Bulik Susan punya tekad besar untuk menjadi orang yang sukses. Sedangkan ibu, dia bukannya tidak sukses, tapi kurang bekerja keras saja.
Ibu hanya menekuni usaha kecil jualan nasi pecel di rumah. Sudah sejak kakakku kecil dan aku masih diambang-ambang akan ada atau tidak, dia sudah memulai usaha itu. Tapi jangan salah, pecel buatan ibu adalah makanan terlezat di lingkungan tempat tinggalku sana.
Madiun Kota Pecel, ibu lahir dari sana. Dan kemudian, dia menikah dengan ayah yang asli Jakarta. Dan kami pun tinggal di lingkungan kelahiran ayah itu.
Bulik Susan juga begitu. Paklik Seto adalah orang asli Jakarta. Paklik Seto juga seorang PNS. Jadi Bulik Susan dan Mini bisa dianggap hidup dengan masih dinafkahi almarhum Paklik Seto. Mereka pasti menerima uang pensiunan setiap bulannya.
__ADS_1
Sudahlah. Keluargaku dan keluarga Mini itu memang berbeda dan tak bisa disamakan. Namun, sebagian nasib seseorang itu sebenarnya bisa diubah jika seseorang itu mau berusaha untuk mendapatkan kebaikan hidup.
Aku bersyukur punya rasa optimisme yang tinggi, tujuan hidup, dan otak yang cerdas. Aku akan menggunakan semua itu dengan baik. Orang tua yang gagal, bukan berarti anak-anaknya juga akan gagal, kan? [ ]