
Sabtu pagi, aku, Mini, dan Bulik Susan tengah sarapan bersama di meja makan. Aku masih dengan kaos pendek, celana training, belum mandi. Sedangkan Mini, dia sudah berdandan cantik dan rapi karena ada kelas pagi hari ini.
Hari ini hanya Mini yang tampak sibuk. Aku dan Bulik Susan sedikit bersantai karena kantor juga libur di hari Sabtu.
"Sophia, gimana kerjaanmu di kantor sejauh ini? Nggak ada kendala, kan?" tanya Bulik Susan padaku memulai obrolan.
Aku mengunyah menelan makananku, lalu tersenyum. "Sejauh ini oke-oke aja kok, Bulik. Orang-orang kantor juga humble dan baik sama Sophia."
Bulik Susan tersenyum senang. "Alhamdulillah, syukur deh kalo gitu." Bulik Susan mulai menoleh Mini. "Kalo
kamu gimana, Ni? Nggak pacaran aja kan di kampus?"
"Ya enggak dong, Bu." Mini menyengir.
"Bohong tu, Bulik. Tiap hari Mini sama Haris pasti curi-curi waktu buat pacaran," selaku mengompori Bulik Susan mulai mencandai Mini.
Bulik Susan pun menatap Mini seram.
"Lo apaan sih, Sop Hiu! Enggak kok, Bu." Mini membela diri.
Aku tertawa.
Sepuluh menit. Lima belas menit. Makan pagi kami selesai. Mini pun bergegas pamit pada ibunya.
"Bu, Mini berangkat dulu, ya." Mini mencium tangan Bulik Susan.
"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut di jalan. Belajar yang bener. Jangan pacaran aja sama Haris," nasihat Bulik Susan pada Mini, kemudian beranjak ke dapur.
Aku berinisiatif mengantar Mini sampai ke teras depan. Sebenarnya bukan ingin mengantar sih, aku cuma ingin mencandainya lagi.
"Inget kata Bulik! Jangan pacaran aja sama Haris, belajar yang bener," pekikku pada Mini yang tengah memasang helm itu.
"Rese lo, Phi."
Aku tertawa kecil.
Mini mulai menaiki motornya, lalu mendadak menoleh ke belakang menatapku. "Entar siang jangan lupa jumpa fans di kampus. Juna juga nungguin tu. Kasian kan anak orang lo gantungin." Mini tersenyum menggodaku.
Aku mendecak. "Siapa juga yang gantungin dia? Emang dia jemuran?"
Mini memutar bola matanya. "Serah lo deh, Sop Hiu."
Mini pun berlalu pergi dengan motornya.
Aku masih berdiri di teras menatap kosong puncak pohon mangga depan rumah. Apa aku harus ke kampus Mini untuk membawakan makan siang ke Juna? Aku bingung.
***
Aku menghampiri Bulik Susan yang tengah menjahit sebuah baju batik di kamarnya.
"Bulik," panggilku.
"Hmmm. Apa, Sophia cantik?" tanya Bulik Susan padaku.
Aku berniat meminta masukan dari bulikku itu. Bulik Susan seorang guru konseling, jadi kurasa beliau cukup mahir jika tentang ini. Soal anak muda, Bulik Susan pasti tau banyak.
"Jadi begini...," kataku sedikit gugup.
Bulik Susan yang sedari tadi masih sibuk dengan jarum dan benangnya, sekarang mulai menatapku.
"Bulik tau Juna, kan?"
"Juna? Siapa?" Bulik Susan tampak bingung.
"Itu yang pernah ke sini sama Haris ngasih contoh proposal buat Mini," jelasku.
Bulik Susan pun mengingat. "Oh..., yang cakep itu?"
"Ya, pokoknya itulah, Bulik."
"Terus?"
"Jadi, Juna itu nyuruh Sophia buat bawain makan siang ke kampusnya." Aku menatap Bulik Susan ragu. "Menurut Bulik, enaknya Sophia bawain atau enggak?"
Bulik Susan masih menatapku terdiam sebentar, lalu tiba-tiba tertawa. "Astaga, Sophia. Kok, tanya Bulik, sih? Ya, terserah kamu dong mau bawain atau enggak."
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Bulik Susan bukannya kasih aku pencerahan malah bikin aku malu
sendiri.
"Ya udah, Bulik, Sophia ke kamar dulu." Aku pamit, kemudian beranjak berdiri hendak pergi.
"Sophia," panggil Bulik Susan membuatku menoleh.
Bulik Susan tersenyum. "Kalo menurut Bulik sih, lebih baik kamu bawain aja."
***
Sekitar pukul 11, aku sampai di kampus Mini. Aku membawa tote bag kecil berisi sekotak nasi goreng untuk Juna.
Hari ini Juna belum menghubungiku sama sekali. Aku juga tak berusaha menghubunginya. Tapi sekarang, aku
harus menghubunginya untuk memberitahukan kedatanganku.
Sebenarnya aku malu, karena waktu itu aku menolak untuk datang membawakan Juna makan siang ke kampus. Tapi, masa bodohlah.
Aku segera mewhatsapp Juna.
Sophia : Lo di mana? Gue udah di halaman kampus, nih.
Aku menunggu balasan Juna sebentar.
Juna : Gue di kantin kampus. Lo ke sini aja. Sebelah selatan pojok barat. Kalo nggak ngerti, tanya aja sama anak-anak kampus di situ.
__ADS_1
What???
Sophia : Lo aja yang ke sini. Masa gue harus nerobos kampus orang, sih?
Juna : Emang kenapa? Lo bawa makan siang gue bukan bom, kan?
Aku mendecak. Sepertinya Juna bukan tipe orang yang mudah disuruh. Lagi pula, aku sudah jauh-jauh ke sini.
Kalau aku mengikuti rasa maluku, aku tak bisa bertemu Juna di dalam.
Terpaksa, demi Juna Raja Semesta, Sophia yang pemalu harus jadi pemberani. Semangat!!!
***
Aku berjalan menyusuri koridor kampus. Mahasiswa-mahasiswi berlalu lalang melewatiku. Kenapa aku
merasakan ini lagi? Sedikit iri, apa mereka sangat menikmati dunia perkuliahannya, ya?
"Sophia?"
Aku menoleh pada seseorang yang baru menyapaku. "Dinda? Hai," sapaku kembali pada gadis itu.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dinda tersenyum tampak terheran.
"Oh, aku..., aku mau anterin makan siang ke Juna." Jawabku pada Dinda sedikit grogi.
Dinda tertawa sebentar. "Buat apa? Jam segini Kak Juna pasti udah makan siang di kantin, lah."
Aku mendadak bengong sebentar menatap Dinda. "Tapi dia emang nyuruh aku bawain makan siang ke kantin."
Dinda tampak tercengang dengan jawabanku barusan. "Oh, ya?" Dia menundukkan pandangannya singkat. "Kamu sama Kak Juna pacaran?"
Aku membelalak bingung akan mengatakan apa. Hubunganku dan Juna bisa dikatakan belum cukup dekat. Lalu aku harus jawab apa, dong? Sedang tahap PDKT gitu? Itu konyol.
"Enggak, kok. Kita cuma..., cuma deket aja." Bohong, aku terpaksa menjawab itu. Deket apanya, woi?
Dinda tersenyum. "Sophia, kamu tau kalo Kak Juna itu sulit banget buat dideketin? Cewek-cewek di sini pada
dikacangin loh sama dia."
Ya, terus??? Batinku. Aku sedikit terheran.
Aku mencoba tersenyum. "Oh, ya? Emang semua cewek kampus dikacangin sama dia?"
"Ya enggak, sih. Ada beberapa yang lumayan deket sama Kak Juna." Jawab Dinda padaku.
Aku mengangguk singkat. "Terus kamu? Kamu lumayan deket sama Juna?"
Dinda sedikit kikuk. Dia tersenyum. "Kita sih bukannya deket atau enggak. Kalo kata anak sini, Kak Juna itu sok jual mahal aja." Dinda mendecak melengoskan matanya.
Kata siapa Juna sok jual mahal? Kalo sama gue enggak, tuh. Aku tersenyum. "Ya udah, Din, aku nganter ini dulu ya ke Juna." Aku menunjukkan tote bag kecilku pada Dinda.
Aku pun beranjak melangkah meninggalkan Dinda.
Aku menoleh ke belakang menatap gadis ayu itu. Dinda pun menghampiriku. Dan tiba-tiba, dia mengambil tote bag yang kubawa.
Dinda tersenyum manis. "Biar aku aja yang anterin. Nggak pa-pa, kan?"
Aku terdiam sebentar. "Kamu yakin?"
Dinda mengangguk masih tersenyum manis. Aku tak mungkin melarang gadis itu dengan alasan apa
pun. Aku juga tak bisa memikirkan sedikit pun argumen untuk menolak.
Aku memaksakan senyum simpul ke Dinda. "Oke. Juna bilang, dia udah nunggu di kantin sekarang."
"Oke. Aku ke sana sekarang, ya." Dinda tersenyum riang, kemudian berjalan pergi.
Aku masih berdiri di sana. Aku pun cepat-cepat mewhatsapp Juna lagi.
Sophia : Makan siang lo udah dibawain Dinda, tuh. Lo tau kan orangnya yang mana?
Juna : What??? Kok, lo malah titipin ke dia, sih?
Sophia : Dia yang maksa buat nganterinnya. Udah ya, gue mau balik.
Juna : Lo di mana sekarang?
Sophia : Lagi jalan ke halaman kampus.
Juna : Lo tetep di situ jangan ke mana-mana.
Aku pun menunggu Juna sebentar di halaman kampus itu. Aku duduk di kursi besi putih di dekat pohon beringin.
Lima menit. Juna pun tiba. Dia tampak ngos-ngosan dengan menenteng tote bag bergambar bunga matahari milikku.
"Lo kenapa?" tanyaku terheran menatap Juna.
Laki-laki itu pun duduk di sampingku, kemudian menoleh menatapku. "Lo nyebelin banget, sih!"
"Nyebelin?"
"Iyalah!" Juna mengambil napas sebentar. "Kenapa lo biaran cewek ganjen itu yang bawain gue makan siang?"
"Santai aja kali." Aku tersenyum menyeringai menatap Juna. "Cewek ganjen? Lo ngatain Dinda cewek ganjen?"
Entah kenapa aku jadi sedikit marah pada Juna. Aku tau bukan aku yang dihina, tapi rasanya aku juga ikut tersindir.
"Ya, dia emang ganjen," tukas Juna enteng. "Lo bawain gue apa?" sambungnya bertanya tampak membuka tote bag-ku.
Aku masih diam memperhatikan Juna yang mulai membuka kotak makan biru muda itu.
"Nasi goreng?"
__ADS_1
"Kenapa? Lo nggak suka nasi goreng?" tanyaku pada Juna.
Juna tersenyum imut. "Suka. Apalagi yang buat lo."
Batinku tersipu. Juna..., gue nggak bisa bete sama lo, serius!!!
Juna mulai melahap nasi goreng yang kubawakan untuknya. Aku terus memperhatikan ekspresinya. Itu nasi goreng buatanku sendiri, dan aku tak yakin dengan rasanya.
"Gimana?" tanyaku gugup pada Juna.
Juna menatapku sedikit heran, lalu mengangguk-angguk. "Enak," ungkapnya.
Aku pun tersenyum lega.
"Tapi masih enakkan nasi goreng buatan Ibu gue." Juna terbahak.
"Isss...!!!" Aku menjitak jidat Juna, lalu tersenyum. Ibu Juna, aku jadi ingin tau seperti apa dia.
Juna masih terus menikmati nasi goreng itu.
"Juna," panggilku.
"Hm?" Juna menoleh sembari mengunyah makanannya.
"Jangan ngatain cewek ganjen kayak gitu lagi, ya."
"Kenapa?"
"Ya..., karena gue nggak suka."
Juna terdiam masih menatapku.
"Mungkin Dinda suka sama lo, jadi dia kelihatan 'agak gitu'. Tapi gue yakin dia nggak gitu ke semua cowok."
Juna masih terus menyimakku.
"Lo tau gimana rasanya nggak dihargain sama cowok yang kita suka?" Aku menundukkan pandanganku, lalu
menatap Juna. "Itu sakit banget."
"Kalo cuma ditolak sih nggak pa-pa. Tapi kalo udah ditolak, terus dikatain. Lo bisa bayangin sendiri kan rasanya?"
Aku pun menunduk diam.
"Maaf."
Aku sedikit terkejut menoleh pada Juna. Dia langsung minta maaf?
"Maaf, gue nggak bermaksud ngehina."
"It's okey. Asal jangan diulangi lagi," tuturku tersenyum.
Juna ikut tersenyum, lalu mengarahkan kelingking kanannya padaku.
Aku masih diam memperhatikan Juna seperti orang tolol. Juna meraih tangan kananku, lalu mengaitkan jentikku dengan jentiknya.
"Gue janji," ujar Juna.
Satu lagi, momen yang tak akan pernah aku lupakan dengan laki-laki itu, Juna Raja Semesta. Terima kasih juga untuk hari ini, Juna.
Kelingking kami masih saling bertaut. Aku yang baru sadar dengan bayang-bayang ketidakjelasan, langsung cepat-cepat menarik jariku kembali.
"Sebenernya ada apa, sih? Kenapa hari ini lo nyuruh gue bawain makan siang?" Aku sebenarnya sudah sangat penasaran dengan alasan Juna memintaku membawakannya makan siang ke kampus Sabtu siang ini.
"Coba lo tebak," suruh Juna padaku.
Aku mencebik bibir mulai berpikir. "Uang jajan lo kurang?" tebakku.
Juna menggeleng.
Aku berpikir lagi. "Jangan bilang, kalo lo cuma mau modusin gue?"
Juna terkekeh. "Ya enggak, lah.... Coba deh lo tebak lagi."
Aku mendecak. "Gue nyerah. Buruan jawab."
Juna menatapku, kemudian mulai mendekat ke telingaku. "Hari ini, tepat di mana cowok seganteng dan sekeren gue lahir," bisiknya
Aku spontan menoleh pada Juna. Wajah kami sangat dekat. "Hari ini lo ulang tahun?"
Juna tersenyum masih menatapku. Astaga, sedekat ini dengan Juna? Bisa sawan aku.
"WOI!!!" Seseorang mendadak menggebrak punggung Juna membuat laki-laki itu tersentak sangat kaget.
Dan apa ini??? Juna tak sengaja menciumku? Oh, tidakkkkk!!! Bibirku yang suci.
Aku membelalak. Jantungku berpacu cepat di dalam. Sel-sel tubuhku menegang. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Aku mendorong Juna menamparnya.
Aku benar-benar gugup. Aku tau Juna tak seratus persen bersalah. Tapi itu, itu cukup memalukan.
Juna masih tampak membeku dengan muka miring ke kanan.
"Kok, lo tampar Kak Juna, sih???"
Aku menoleh pada suara itu. Mini? Haris? Jadi mereka berdua biangkeroknya?
Aku menelan ludah sangat gugup. Gara-gara ciuman tak sengaja saja tanganku bergemetar, apalagi kalau.... Ah, kenapa aku jadi mesum begini?
Aku beranjak berdiri. Aku tau wajahku pasti memerah sekali. Juna, Mini, Haris, mereka memandangiku tanpa ekspresi.
Lari Sophia! Lari! Aku pun cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Juna dan Mini terdengar memekik memanggil-manggilku. Mendengarnya saja sudah membuatku malu, apalagi menoleh.
Aku pun terus menjauh dengan tangan yang masih bergemetar, jantung berdebar-debar tak karuan, dan perasaan bersalah sudah menampar Juna. Aku benar-benar kacau! [ ]
__ADS_1