
Di perjalanan menuju De Boutique...
Ya, aku dan Juna sudah sepakat untuk menghabiskan waktu romantis di atap De Boutique lagi. Di sana akan menjadi spot foto bagus karena itu merupakan tempat tereksotis untukku dan Juna.
"Bunga, kamu nggak lagi sibuk, kan?" celetukku bertanya pada gadis berkaos oversize warna daffodil yang duduk di bangku tengah mobil.
"Enggak kok, Kak." Jawab Bunga menatapku dari kaca dasbor spion belakang. Dia tersenyum.
"Makasih, ya. Kakak jadi repotin kamu, nih," ujarku.
"Santai aja, Kak. Aku mah seneng-seneng aja direpotin sama calon kakak ipar," ungkap Bunga padaku.
"Heleh, sama kakak sendiri aja bawelnya minta ampun kalo direpotin." Juna menyela dengan ekspresi cemburu.
"Ya beda, lah. Situ kan cowok!" Bunga memutar bola mata. "Bikin jus aja nyuruh orang," gerutunya berlagak kesal.
"Lihat tuh calon adik iparmu. Dimintain tolong buatin jus aja sewot," kilah Juna padaku.
"Kok ngatain aku sewot, sih? Kak Juna tu seharusnya latihan masak, biar nanti nggak ngerepotin Kak Sophia mulu kalo udah nikah!" Bunga menekan nada suaranya di kata terakhir.
"Kok gitu?" Juna juga mulai menaikkan bunyi suaranya. "Kamu tu yang perlu latihan masak. Terakhir kamu bikin nasi goreng kemarin aja rasanya nggak enak."
"Oh, ya...? Kalo gitu ngapain Kak Juna abisin sepiring? Laper ada doyan?"
"Laper." Jawab Juna cepat.
Bunga terngaga. "Oke, kalo gitu aku nggak mau masakin Kak Juna lagi! Kalo Bunda nggak lagi di rumah, jangan coba-coba ngerecokin aku buat bikinin makan!" Bunga menekuk muka menyilang tangan. Gadis itu terlihat sangat kesal.
"Ya udah, aku kan bisa order go food." Jawab Juna enteng.
"Ya udah!" Bunga tak ingin kalah jawab.
"Ya udah." Juna menyuara lagi.
"Dasar cowok setengah mateng!" Bunga mengatai kakaknya.
"Kamu tu yang setengah mateng," timpal Juna tak mau mengalah.
"Kamu!"
"Kamu, kamu, kamu, kamu." Juna terus menyahut sembari fokus menyetir.
"Kamu...!!!" seru Bunga keras memanjang.
"Ka-"
"Stop!!!" pekikku menyela pada dua orang kakak beradik itu. "Kalian kok jadi berantem gini, sih." Aku menatap jenuh Juna dan Bunga.
Bunga diam menundukkan mukanya tampak masih kesal dengan Juna.
"Bunga dulu tu yang mulai," tuduh Juna pada adiknya.
"Kok aku, sih?" Bunga tak terima.
"Ya kamu, kan-. Adududuh...." Juna meringis setelah aku menjewer kuping kirinya.
Bunga tertawa. "Terus Kak Sophia jangan kasih kendor!" seru gadis itu bahagia.
Aku masih menarik kuping Juna. Satu detik. Dua detik. Aku melepasnya karena sudah memerah.
"Sakit tau!" Juna mengusap-usap telinganya.
"Minta maaf sama Bunga," suruhku pada Juna.
"Nggak mau." Juna menolak.
"Kamu dulu yang mulai," kritikku masih menatap Juna.
Juna cemberut. Dia memilih diam.
"Oke, kalo kamu nggak mau minta maaf kita nggak jadi anniversary-an. Anter aku pulang sekarang," ancamku pada Juna sok ngambek.
"Iya-iya, aku minta maaf," celetuk Juna, tapi tak kunjung meminta maaf pada adiknya.
"Buruan...," suruhku ikut kesal.
__ADS_1
"Bunga Ratu Semesta..., maafin kakakmu yang setengah mateng ini, ya...," ujarnya terdengar berberat hati.
Aku menoleh pada Bunga. Gadis itu terlihat gugup. Bunga pasti mengerti kalau aku juga berharap dia meminta maaf pada kakaknya.
"Iya. Aku juga minta maaf." Balas Bunga pada Juna malu-malu.
Aku membuang napas lega bersandar ke punggung kursi. Melegakan sekali bisa kembali mendamaikan adik kakak yang baru berseteru.
Hatiku sebenarnya tersenyum. Aku tau sekali bagaimana dua saudara kandung kalau bersama. Aku dan Karina dulu juga sering bertengkar tak jelas. Itu sangat kekanak-kanakan.
Hanya karena masalah kecil berujung pada tangisan, silat lidah, dan berakhir dimarahi ibu dan ayah. Momen seperti itu awalnya menyebalkan, tapi entah kenapa saat dikenang lagi terasa begitu manis dan hangat.
"Aku heran, deh. Kak Sophia kok mau sih sama Kak Juna yang childness kayak gini?" celetuk Bunga padaku.
"Kamu tu yang childness! Jelas-jelas Kak Sophia mau sama kakakmu ini ya karena kakakmu ini ganteng dan baik." Jawab Juna percaya diri.
"Idih..., gantengan juga Mingyu Seventeen," sanggah Bunga. "Ya kan, Kak?" Dia meminta kebenaranku.
"Iya, dong." Jawabku tersenyum.
"Kok iya dong?" Juna tak terima.
"Ya emang Mingyu Seventeen lebih ganteng daripada kamu," kataku mencandai Juna.
Bunga terbahak. "Makanya..., jadi cowok itu jangan narsistik. Kualat kan sekarang."
"Apa, sih." Juna menggerutu. Laki-laki itu menolehku tampak kesal.
Astaga, aku jadi makin gemas dengan Juna. Sejujurnya Mingyu Seventeen itu memang tampan, tapi pacarku itu juga tak kalah tampannya. Sekali-kali menggoyahkan sedikit rasa kepercayaan diri Juna tak apa, kan? Ha ha, aku cuma bercanda.
"Mantap, Kak Sophia...!" seru Bunga padaku. Dia masih tertawa kecil.
***
Kami bertiga sampai di halaman De Boutique. Juna memarkir mobilnya, dan kami pun turun. Bunga juga tampak sudah siap mengalungkan kamera canon ke lehernya. Gadis itu menenteng speaker bluetooth berukuran sedang berwarna hitam.
"Kok, bawa speaker segala? Buat apa?" tanyaku menoleh Bunga dan Juna.
Bunga tersenyum. "Aku bakalan bantuin romantis-romantisan Kak Sophia sama Kak Juna lancar. Serahin aja sama aku. Yuk!" Bunga berjalan mendahuluiku dan Juna.
***
Seperti yang sudah direncanakan, aku dan Juna berpose sebagai model, dan Bunga sebagai fotografernya. Sesekali kami bertiga bercanda dan tertawa bersama.
"Malam ini kamu juga kelihatan cantik, Sophia," puji Juna menatap mengalungkan tangannya ke pinggangku.
"Malam ini kamu juga ganteng, Juna. Ganteng banget kayak Goblin." Aku tertawa kecil. "I love you." tambahku tersenyum.
"I love you too." Balas Juna menangkup wajahku, kemudian memeluk.
Aku dan Juna bukannya mengumbar kemesraan di depan Bunga. Tapi Bunga sendiri yang menyuruh kami untuk melakukan apa pun tanpa memperdulikan keberadaannya. Kata Bunga, dia ingin mengambil adegan romantis secara alami tanpa dibuat-buat.
Sepuluh menit. Lima belas menit. Kami pun menyudahi hunting foto malam ini.
Di kursi besi hitam itu, Bunga duduk di antara aku dengan Juna. Kami fokus pada layar kamera yang menunjukkan foto-foto hasil jepretan Bunga tadi.
Adiknya Juna itu bisa dibilang sudah mahir kalau soal multimedia. Sejak Bunga bilang dia ngekonten di youtube, aku jadi sering menonton videonya. Editan video itu begitu detail dan keren, tidak ada cacat sama sekali. Tentu, semuanya hasil kreasi Bunga. Dan katanya sih dibantu Juna sedikit.
***
"Kak, aku pulang dulu, ya," pamit Bunga menatap Juna kemudian menolehku.
"Kamu udah capek, ya? Ya udah, yuk kita pulang," ujarku menambahi.
"Loh, Kak Sophia di sini aja dulu sama Kak Juna. Kalian belum dansa, loh...." Bunga tersenyum nakal pada kakaknya.
"Dansa?" Aku terheran.
Bunga mengangguk. "Hm, dansa. Terus fungsinya aku bawa speaker apa dong kalo nggak buat dengerin musik?"
Bunga meraih kedua tanganku memegangnya. "Kak Sophia kan hari ini lagi main roleplay sama Kak Juna..., jadi harus dimanfaatin semaksimal mungkin."
"Tapi masa kamu pulang sendiri? Biar diantar kakakmu, ya. Kak Sophia tunggu di sini."
"No.... Aku bakalan naik taksi." Jawab Bunga padaku.
__ADS_1
"Tapi udah malem, Bunga.... Kamu itu ABG, harus ekstra dilindungi."
"Yang ada itu Kak Sophia yang harus ekstra dilindungi sama Kak Juna. Udah, ah. Aku pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum." Bunga tersenyum menyahut tanganku cepat menciumnya, kemudian berlari pergi.
"Sana kamu temenin Bunga sampe dapet taksi," suruhku mendorong Juna untuk mengikuti Bunga sebentar. Dan aku pun menunggu.
***
"Gimana?" tanyaku pada Juna yang baru sampai lagi ke atap.
Juna menghampiriku. "Bunga pulang, udah dapet taksi."
"Kamu nggak khawatir sama Bunga? Aku takut kalo dia kenapa-napa," ungkapku.
Juna tersenyum. "Tenang aja, Sophia. Bunga bakalan baik-baik aja, kok. Dia udah diajarin cara bogem orang jahat sama kakaknya."
"Oh, ya?" Aku tertawa kecil. "Hmmm, tapi kok kakaknya Bunga nggak ngajarin pacarnya, ya? Padahal pacarnya juga butuh diajarin cara bogem orang jahat."
Juna tertawa. "Jadi pacarku mau diajarin cara bogem orang jahat, nih?"
Aku mengangguk-angguk mengiyakan.
"Enggak, ah. Nanti malah aku lagi yang kena bogem kamu. No...."
"Kok gitu, sih?"
Juna tertawa lagi. Kemudian, laki-laki itu membelai rambutku menatapku begitu teduh. "Bunga rekomendasiin 2 lagu yang katanya kamu bakalan suka," ujar Juna padaku.
"Lagu apa?" Aku melebar mata antusias.
"Kata Bunga, aku harus ajak kamu dansa malam ini. Kamu mau?"
"Mau, tapi aku nggak bisa dansa."
"Aku juga," sahut Juna tersenyum lebar membuatku tertawa kecil.
"Ya terus kalo kamu juga nggak bisa dansa ngapain ngajakin aku dansa, Juna...?"
Juna cekikikan. "Tunggu ya, aku pasang lagunya dulu. Kita coba dansa," ujarnya.
Juna pun mengotak-atik ponselnya dan speaker bluetooth itu. Satu menit. Dua menit. Sebuah lagu keluar dari speaker itu.
Juna menghampiriku lagi. "Kamu tau lagu itu?" tanyanya padaku.
"Tau. Heaven," ujarku menebak judul lagu itu.
Juna tersenyum.
Aku merogoh saku kanan mantel krem yang kupakai. Aku memberikan sebuah kalung kepada Juna.
"Kok nggak kamu pakai lagi?" tanya Juna menatap bingung kalung pemberiannya yang sudah selesai kuperbaiki di toko emas dua hari yang lalu.
"Tolong kamu pakaiin."
Ekspresi bingung Juna berganti dengan senyum merekah. Laki-laki itu pun memakaikan kalung itu lagi ke leherku.
Aku menarik napas panjang membuangnya lega. Lantunan lagu Heaven oleh Roy Kim feat Kim EZ masih terdengar. "Juna, aku ada sesuatu buat kita."
"Apa?" Juna menatapku tersenyum.
Aku pun merogoh saku kiri mantel kremku. Aku juga meletakkan sesuatu di sana. Aku membuka telapak tangan kananku pelan ke depan Juna.
Aku tersenyum menatap sepasang gelang yang beberapa waktu lalu kubeli dengan sangat istimewa. Ada dua gelang titanium, satu berwarna silver, dan satu lagi berwarna hitam. Aku membelinya lewat toko online, dan meminta si penjual mengukir suatu tulisan di sana.
Aku meraih pergelangan kiri Juna. Aku memasang gelang berwarna hitam itu ke tangannya. S's King, begitulah ukiran kecil di atas lempengan titanium padat itu.
Selesai memasang, aku menarik tangan kanan Juna menyuruhnya untuk memasangkan gelang satunya ke tanganku. Tanpa sepatah kata juga aba-aba dariku, Juna pun sudah mengerti dan berhati-hati memasangkan gelang silver itu ke pergelangan kiriku.
"J's Queen." Aku membaca ukiran tipis pada gelangku.
"S's King." Juna menyahut juga membaca ukiran di gelangnya.
Kami terus melempar senyum. Suara di speaker itu berganti dengan lagu Hush milik Lasse Lindh. Dan kami pun mencoba berdansa.
Gelang, kalung, benda-benda itu hanyalah simbol untuk melengkapi betapa indahnya hubungan kami, aku dan Juna. Tulisan S's King di gelang Juna berarti jika laki-laki yang memakainya adalah raja dari seseorang yang berinisial S, Sophia. Dan tulisan J's Queen di gelangku berarti jika perempuan yang memakainya adalah ratu dari seseorang yang berinisial J, Juna.
__ADS_1
Aku tak peduli jika itu terkesan alay atau apa, aku hanya ingin menunjukkan rasa kepuasan. Momen demi momen selalu menarik. Dan hubungan kami, sudah satu tahun lamanya. [ ]