
Sesuai permintaanku kala itu. Hari ini Bunda Aulia membawaku ke tempat konfeksi miliknya.
Saat Bunda Aulia ingin aku ikut membantu menghasilkan rancangan produk baru di De Boutique sampai mengecek laporan permintaan barang, aku mengajukan satu permintaan untuknya.
Karena sulit untuk membagi waktu dan mengesampingkan pekerjaanku, aku jadi tak bisa mewujudkan keinginan untuk ikut kursus menjahit. Aku sudah mencoba untuk mengikhlaskan jika memang aku harus mengubur keinginan itu. Toh, Tuhan juga sudah memberiku sesuatu yang istimewa yang tak pernah terbayang di sedikit pun keinginanku.
Setidaknya aku ingin mencoba dan belajar menjahit di tempat konfeksi ibunya Juna walaupun sekali saja. Aku ingin merasakan bagaimana sensasinya menginjak pedal mesin jahit, bagaimana sensasinya memotong kain dan mengobrasnya. Itu pasti sangat menyenangkan.
Aku dan Bunda Aulia turun dari mobil dan berjalan menuju sebuah rumah joglo. Di depan halaman sana aku sudah mendengar irama mesin jahit bersahut-sahutan. Berisik, tapi aku menyukainya.
"Sophia, kamu duduk di sini dulu, ya," pinta Bunda Aulia menyuruhku menunggu di kursi depan ruang pertama tempat itu.
"Iya, Bunda." Jawabku menurut.
Bunda Aulia tersenyum, kemudian tampak berjalan masuk ke ruangan kedua.
Lima menit. Bunda Aulia kembali menghampiriku dengan seorang wanita paruh baya. Wanita itu tersenyum ramah padaku. Dia memakai kebaya kutubaru dengan rambut digelung ke belakang.
"Sophia, ini Bu Asih. Beliau tangan kanan Bunda di sini," ujar Bunda Aulia memperkenalkan wanita paruh baya itu padaku.
Aku pun cepat-cepat menjabat tangan Bu Asih. "Sophia," kataku ramah memperkenalkan diri.
Bu Asih tersenyum menyambut jabatan tanganku begitu manis.
"Bu Asih, ini calon mantu saya. Dia pengen belajar menjahit katanya. Tolong ajari dengan sabar, ya. Bantu Sophia supaya bisa," tutur Bunda Aulia lembut mengusap punggungku menatap Bu Asih, si tangan kanannya itu.
"Siap, Buk. Injih." Jawab Bu Asih terdengar medok bercampur bahasa Jawa.
"Sophia, Bunda langsung balik, ya. Nanti sore Bunda ke sini lagi jemput kamu."
"Iya, Bunda."
"Bu Asih, saya nitip Sophia, ya." Bunda Aulia tersenyum pada wanita berkebaya merah jambu itu.
Bunda Aulia pun berpamit. Hari ini dia harus menemui seorang investor penting.
***
Aku memperhatikan orang-orang di ruang itu. Mereka tampak sibuk sekali dengan mesin jahitnya. Ada yang bertugas mengukur dan memotong kain, ada yang bertugas mengobras, ada yang bertugas menjahit, dan masih banyak lagi.
"Non Sophia, mau saya kenalin sama pegawai-pegawai di sini dulu?" tawar Bu Asih padaku.
"Nggak usah, Bu. Nanti malah ganggu mereka lagi kerja." Jawabku tersenyum. "Em..., apa Bu Asih bisa langsung ajarin saya menjahit?"
"Iya, Non. Bisa."
Bu Asih pun mengajakku ke sebuah mesin jahit yang menganggur. Beberapa pegawai mulai memperhatikanku. Tatapan mereka tampak terheran, mungkin karena aku terlihat berbeda sendiri dan asing.
Tempat konfeksi itu berada di pedesaan. Tentu saja aku pasti terlihat mencolok. Kalau soal penampilan, aku lebih ke gaya modern dengan setelan blazer lavender dan dalaman kemeja putih polos.
Sedangkan, wanita-wanita penjahit di tempat konfeksi itu lebih ke gaya klasik dengan celana kain hitam longgar atau juga rok plisket bunga-bunga dengan atasan kaos. Ya, kostum menjahit ternyaman adalah dengan menggunakan pakaian seperti itu.
Bu Asih mulai mengajariku cara mengoperasikan mesin jahit. Dia telaten dan pelan-pelan melatihku. Lima belas menit. Tiga puluh menit. Aku mulai bisa walaupun masih banyak juga ketidaktahuan.
Hampir satu jam. "Non Sophia nggak mau istirahat dulu?" tanya Bu Asih padaku.
"Nanti aja, Bu. Saya masih pengen lanjut," kataku fokus pada mesin jahit, kemudian menoleh ke Bu Asih.
Wanita paruh baya itu tersenyum. "Kalau begitu saya tinggal, ya. Ada banyak pakaian jadi yang perlu saya periksa. Nanti kalo Non Sophia butuh apa-apa, langsung saja panggil saya," ujarnya padaku.
Aku mengangguk ringan. "Iya, Bu."
"Anita...," panggil Bu Asih lantang pada seorang gadis yang baru saja menoleh padanya.
Gadi itu pun menghampiri kami. "Iya, Buk. Ada apa?" Gadis yang sepertinya bernama Anita itu bertanya pada Bu Asih.
"Tolong kamu temani Non Sophia, ya," perintah Bu Asih pada Anita.
"Non Sophia, kalo ada pertanyaan, tanya aja sama Anita," ujar Bu Asih padaku.
"Iya, Bu." Jawabku tersenyum.
Bu Asih pun permisi meninggalkan ruangan menjahit itu.
***
__ADS_1
"Anita, ini kayaknya benang spoolnya habis. Gimana cara ngisinya lagi?" tanyaku pada seorang gadis pegawai konfeksi itu.
Anita, gadis itu sedari tadi tampak diam duduk mematung di samping kananku. Dia membisu tak menyuara sedikit pun untuk sekedar berkenalan atau juga menanyaiku basa-basi. Dia benar-benar diam.
Wajah Anita tertekuk, dia tak menjawab hanya melakukan aksi enggan memberitahuku. Gadis itu membuka sebuah bagian mesin jahit, mengeluarkan spool, kemudian menggantinya dengan spool baru yang sudah berisi benang.
Anita menatapku mengisyaratkan kalau aku bisa meneruskan menjahit lagi. Aku mencoba melempar senyum pada Anita yang sepertinya memandangku dengan tak berselera. "Makasih," ujarku ramah padanya. Anita pun tersenyum. Tapi entah kenapa senyuman itu terkesan kecut.
Sepuluh detik. "Kamu pegawai baru ya di sini?" Dan kali ini Anita menyuara menanyaiku.
"Bukan, aku cuma sehari ini aja mau coba latihan jahit di sini." Jawabku.
"Hah? Latihan?" Anita terheran.
"Iya."
Anita mendecak. "Ini itu tempat konfeksi, bukan tempat buat latihan jahit. Lagian kamu siapa, sih? Orang kota, ya? Kamu sodaranya Bu Asih?" tanyanya memberondong mulai sinis memperhatikan gaya pakaianku.
Sepertinya Anita tak suka dengan keberadaanku, atau dia kesal gara-gara Bu Asih menyuruhnya menemaniku menjahit? Tapi jika dilihat, Anita tadi tidak sedang ngapa-ngapain. Dia hanya berdiri menyilang tangan memperhatikan rekannya melakukan pekerjaan.
Aku hanya melempar senyum dan kembali menyibuk dengan mesin jahit itu.
Lima menit. "An, nanti jadi kan makan siang bareng Bang Tio sama Bang Dadang?" Mendadak seorang gadis datang menarik kursi mengahadap ke depan Anita.
"Jadi, lah." Jawab Anita jutek. Ah, sepertinya gadis itu memang orang yang datar. Tak seru.
Aku pun memperhatikan dua gadis desa yang tengah mengobrol itu. Sepertinya umur mereka tak jauh berbeda denganku.
Gadis yang menghampiri Anita itu sekarang menoleh menatapku. "Kamu pegawai baru, ya?" tanyanya tersenyum. Nada suaranya terdengar lebih sopan daripada pertanyaan Anita tadi padaku.
Aku pun juga tersenyum. "Bukan, aku cuma latihan jahit aja di sini." Jawabku.
"Latihan jahit? Kamu sodaranya Bu Asih, ya?" Dan lagi, pertanyaan seperti itu dilontarkan padaku kembali.
Aku menipiskan bibir menggeleng lembut
Wajah gadis itu tampak bingung, tapi mendadak dia tersenyum. "Nama kamu siapa?" tanyanya padaku.
"Namaku Sophia."
"Aku Sri." Dia memperkenalkan diri tersenyum ramah.
Suasana mulai canggung. Anita masih menatapku bete. Sri hanya melempar pandang padaku dan temannya itu, si Anita.
Satu detik. Dua detik. "Non Sophia, sudah waktunya istirahat siang. Non Sophia mau makan apa?" tanya Bu Asih padaku yang tiba-tiba datang.
"Em.... Apa aja, Bu. Saya mau asal halal." Jawabku tersenyum.
Bu Asih ikut tersenyum. "Ya sudah, kalo begitu saya belikan nasi urap saja, ya?" tawarnya padaku.
Aku mengangguk. "Iya, Bu. Nggak pa-pa."
Bu Asih pun berpamit pergi.
Aku menoleh pada Anita dan Sri. Dua gadis itu menaruh ekspresi bingung. Mereka pasti penasaran kenapa Bu Asih terlihat begitu menghormatiku. Aku tak enak jika bilang kalau sebenarnya aku ini adalah calon mantu bos mereka. Nanti dikiranya aku sombong nan congkak.
"Aku permisi dulu, ya." Aku tersenyum pada Anita dan Sri, kemudian meninggalkan mereka pergi.
***
Aku berdiri di halaman tempat konfeksi itu memandangi taman bungan di pekarangan depan. Suasana desa di lereng gunung itu benar-benar menyegarkan. Andai saja juga ada Juna di sini, pasti akan lebih menyenangkan bisa menikmati pemandangan desa itu bersamanya.
Lingkungan konfeksi itu dekat dengan pemukiman warga. Tapi yang namanya di lereng gunung dan perkampungan, jarak-jarak rumahnya tentu tak sedekat di kota. Tiap-tiap rumah selalu berjarakan jauh di sana.
Aku mengambil ponsel dari saku blazerku, kemudian ber-selfie dengan latar belakang pekarang bunga-bunga cantik itu. Aku pun segera mengirimkannya ke Juna.
Sophia : Lihat, taman depan tempat konfeksi Bundamu cantik banget.
Tulisku pada keterangan foto itu. Yah..., ternyata Juna centang satu. Aku mendesah, dan kembali memasukkan ponsel ke saku blazerku lagi.
Aku melangkah untuk duduk ke kursi kayu pelituran di teras depan rumah joglo itu. Aku menyilang kaki menatap bosan taman bunga yang tadinya menyenangkan untuk dipandang. Hah, aku mulai jenuh sendirian.
Satu menit. Dua menit. Dua orang laki-laki datang dengan motornya masing-masing. Mereka memarkir, kemudian berjalan ke arahku. Atau mungkin mereka mau masuk ke dalam?
Dua orang itu tersenyum padaku. Mereka menunduk memberi sapaan hormat, kemudian berjalan masuk ke dalam.
__ADS_1
Selang tak lama, dua laki-laki itu kembali keluar. Dan, mereka keluar bersama Anita juga Sri.
"Sophia? Kamu kok duduk sendirian di sini?" tanya Sri padaku.
"Ah, iya." Jawabku tersenyum.
"Kamu kenal sama Neng ini?" tanya salah seorang laki-laki itu pada Sri.
Sri mengangguk.
Laki-laki itu mulai tersenyum. "Ah, kenalin saya temennya Sri. Nama saya Tio." Dia tiba-tiba saja mengajakku berkenalan.
Tio sudah menyodorkan tangannya padaku dengan muka berseri. Aku pun ragu-ragu menjabatnya. "Sophia." Dan kenapa aku jadi memperkenalkan diri?
"Udah, jangan lama-lama kenalannya," seru salah seorang laki-laki yang satunya. "Saya Dadang," ujarnya tersenyum menyerobot jabatan tanganku.
Aku tersenyum canggung. "Saya Sophia."
Tio dan Dadang masih terus tersenyum padaku. Raut Anita dan Sri tampak kesal. Huh, kenapa aku jadi merasa bersalah dan kikuk begini?
"Neng Sophia mau ikut kita makan siang?" tawar Tio padaku.
"Ah enggak, terima kasih." Aku menolak.
"Nggak pa-pa atuh, Neng Sophia. Sekalian kita bisa lebih dekat," timpal Dadang tersenyum padaku.
Aku tertawa kecil merasa tak nyaman. Mungkin ketawaku itu terdengar aneh. Ini orang-orang pada kenapa, sih? Aku bertanya di batin.
"Apaan sih kalian. Udah ayok kita berangkat. Keburu jam istirahat habis ini." Anita berprotes.
"Tunggu atuh, Neng Sophia nya biar mau ikut dulu," ujar Dadang seakan memaksaku.
"Lha wong Sophianya aja udah bilang nggak mau ikut kita, kok." Sri juga ikut menyuara.
"Neng Sophia udah makan siang?" tanya Tio padaku tiba-tiba.
Aku menggeleng.
"Nah..., kalo gitu ikut kita aja sekalian. Nanti saya bayarin, deh...." Tio menawarkan diri untuk mentraktirku.
"Maaf, tapi saya beneran nggak pengen ikut kalian buat makan siang." Aku terus berusaha menolak secara sopan.
"Ayolah Neng Sophia...." Dadang memohon padaku.
Rasanya ingin sekali mengumpat. Tapi untuk apa? Aku hanya merasa menjadi bulan-bulanan dua laki-laki itu yang tak kukenal jelas. Seharusnya aku segera melarikan diri sebelum berkenalan dengan mereka. Menyebalkan.
Anita dan Sri juga tampak cemberut. Fix, Tio dan Dadang pasti gebetan mereka. Siapa yang tak cemburu kalau gebetannya berusaha mendekati orang lain?
"Iki ono opo?" tanya Bu Asih yang baru saja tiba menenteng sebuah kantong keresek hitam.
Aku berjalan mendekati Bu Asih memegang tangan kirinya. Aku harap Bu Asih bisa melindungiku dari paksaan dua laki-laki aneh itu.
"Kalian godain Non Sophia, ya?" Bu Asih menatap tajam Tio dan Dadang setelah menolehku.
"Enggak kok, Buk. Kita cuma mau ajak Neng Sophia makan siang." Jawab Tio tersenyum.
"Halah, makan siang opo!" Bu Asih mencemeeh. "Ini saya udah beli makan siang buat Non Sophia." Wanita paruh baya itu menunjukkan jelas kantong keresek yang dibawanya ke atas.
Wajah Tio dan Dadang tertekuk. Gamblang sekali kalau mereka kecewa.
"Kalian buaya kampung jangan macem-macem ya sama Non Sophia." Bu Asih mulai memperingati Tio dan Dadang. "Non Sophia ini calon mantunya Ibuk Bos."
Setelah ungkapan Bu Asih itu, seketika wajah Anita dan Sri terperangah. Mereka membulat mata menatapku. Lalu respon Tio dan Dadang tak kalah kagetnya. Mereka tampak takut dan minder.
Bu Asih pun menggandengku masuk ke dalam. Aku diajak ke sebuah ruangan pribadi yang sepertinya ruangan khusus untuk tamu atau semacamnya.
"Non Sophia makan siangnya di sini aja, ya. Jangan keluar-keluar. Nanti kalo ada cowok-cowok nakal kayak tadi bisa bahaya," tutur Bu Asih padaku.
"Iya, Bu. Makasih sudah repot-repot beliin saya makan siang."
Bu Asih tersenyum. "Sudah tugas saya melayani Non Sophia seperti ini. Ini kan perintah Ibuk Bos."
***
Sekitar pukul tiga sore Bunda Aulia pun tiba. Tak lama setelah itu kami berdua berpamit pada Bu Asih dan pegawai-pegawai di sana. Bunda Aulia juga sempat memperkenalkanku sebagai calon mantunya kepada mereka.
__ADS_1
Rasanya ini aneh. Aku bahkan belum terikat sesuatu yang sah dengan Juna, namun Bunda Aulia memperlakukanku seolah aku ini benar-benar akan menjadi anak mantunya. Semoga hal itu memang benar akan terjadi.
Bunda Aulia dan Ayah Rei tampak begitu menyayangiku. Kedua orang tua Juna begitu baik. Aku sampai tak tau harus bilang apa lagi. [ ]