
Aku bergegas pergi ke Sunny Cafe. Malam ini Juna menyuruhku untuk segera menemuinya di kafe dekat kampusnya itu. Juna bilang, ini sangat penting.
Sekitar pukul tujuh malam, aku tiba di sana. Tempat itu lumayan ramai. Aku menolah-noleh mencari-cari Juna, tapi aku tak menemukan laki-laki itu.
"Sophia!" panggil seseorang memekik padaku.
Aku menatap pada suara itu. Dan di sana, Dinda, Yola, dan Salsa tengah duduk bersama di meja nomor enam. Aku terdiam sebentar, lalu berjalan pelan menghampiri mereka.
"Kalian ngapain di sini?" tanyaku pada tiga gadis itu.
Dinda tersenyum padaku. Dia tak mengatakan apa pun, kemudian memalingkan muka.
"Lo mendingan duduk, deh," suruh Yola padaku menyeringai.
Aku bingung sedang berada di situasi apa sekarang. Tapi, rasanya ini sangat aneh. Ke mana Juna? Dan kenapa tiga orang menyebalkan ini di sini dan menyuruhku untuk duduk bersama?
"Sophia, hari ini Juna bakalan nyatain perasaannya ke Dinda. Juna nyuruh lo ke sini itu supaya lo nggak ketinggalan berita," jelas Salsa padaku. "Iya kan, guys?" sambungnya menoleh Dinda dan Yola.
Yola mendecak. "Pastinya, lah...!" Dia menoleh padaku. "Siap-siap patah hati, sad girl...," sambungnya menyindir.
Aku hanya bisa diam. Aku tidak tau rencana Juna dan tiga orang itu, Dinda, Yola, dan Salsa. Apa benar Juna akan mengakhiri hubungannya denganku? Apa Dinda berhasil merayu Juna?
Tanganku mendadak berkeringat. Perasaanku gundah tak karuan. Apa Juna sejahat itu padaku?
Ruangan kafe itu mulai menggelap. Cahaya terang hanya tersisa di atas panggung orkes sana. Seluruh tempat menjadi sedikit remang-remang.
Lalu, Juna tampak berjalan dari samping kiri ke atas panggung duduk ke sebuah bar stool kayu minimalis dengan mik di depannya. Apa dia akan menyanyi?
Juna tersenyum menatapku. Atau mungkin tidak. Mungkin saja Juna tersenyum pada Dinda.
Aku dan Dinda memang duduk bersebelahan. Tapi karena kami menghadap panggung, Dinda jadi sedikit membelakangiku. Aku melihat gadis itu tampak tersipu akan senyuman Juna.
"Cie cie...!" seru Yola dan Salsa menggodai Dinda.
Satu detik. Dua detik. Juna pun mulai bernyanyi dengan diiringi instrumen musik yang dimainkan para orkestra penghibur di kafe itu.
Darimu kutemukan cinta
Arti kasih dan sayang
Mengalahkan semua
Ego yang pernah ada
Sungguh sempurna dirimu bagiku
Namun ku hanya seorang manusia
Jika kusanggup memberi apa pun
Akan kuberikan dunia
Hadirmu selalu kunanti
Tak mampu ku tuk sendiri
Dan akan tak mungkin
Sanggup aku berdiri
Sungguh sempurna dirimu bagiku
Namun ku hanya seorang manusia
Jika ku sanggup memberi apa pun
Akan kuberikan dunia
Hanya dirimu yang selalu kurindukan
Tak ada yang mampu menggantikanmu
Jika tak percaya akan kubuktikan
Bahwa cintaku tak berbatas untukmu
Sungguh sempurna dirimu bagiku
__ADS_1
Namun ku hanya seorang manusia
Jika kusanggup memberi apa pun
Akan kuberikan dunia
Sungguh sempurna dirimu bagiku
Namun ku hanya seorang manusia
Jika kusanggup memberi apa pun
Akan kuberikan dunia
Akan kuberikan dunia...
(Akan Kuberikan Dunia oleh Ricky Rantung)
Para pengunjung kafe itu bertepuk tangan. Sedangkan aku, aku hanya diam terus menatap Juna yang masih duduk di kursi di atas panggung itu.
Suasana hening sebentar. Juna Raja Semesta, dia menjadi pusat perhatian orang-orang. Selain suaranya yang merdu, dia juga tampan.
"Lagu ini," ucap Juna di mik masih membuatku bingung dia sedang menatapku atau Dinda. Juna tersenyum. "saya nyanyikan untuk seseorang yang sedang duduk di sana," sambungnya.
"Ehem, ehem." Yola tersenyum-senyum pada Dinda, terus disusul Salsa.
Dinda, gadis itu masih tampak tersipu sekali. Hatiku berdesir. Jika hari ini Juna akan mencampakkanku, aku mungkin mengerti alasannya. Aku tak secantik Dinda. Aku bukan orang terkenal seperti Dinda. Aku hanya aku, yang jauh dari kata sempurna.
Namun, jika mendengar lirik lagu yang dinyanyikan Juna beberapa saat lalu, apa lagu itu dinyanyikannya untukku? Aku gelisah sedari tadi. Tapi aku menikmati setiap lirik nyanyian Juna.
"Menurut saya, lagu tadi terlalu meaningful," ungkap Juna kepada para pengunjung kafe yang senantiasa masih menyimaknya.
"Kamu," panggil Juna menoleh menatapku. Tidak, atau mungkin juga menantap Dinda. "berdirilah supaya orang-orang di sini tau siapa gadis cantik di sebalik lagu itu."
"Dinda, buruan berdiri!" suruh Yola dengan suara berbisik.
Dinda pun berdiri. Dia tersenyum malu-malu namun percaya diri. Orang-orang di sana menatap Dinda dengan senyum kagum.
"Maaf, sepertinya salah orang," celetuk Juna membuat orang-orang di sana mulai bingung, begitu juga aku.
Aku tak sempat melihat ekspresi Dinda dan teman-temannya karena aku sendiri mulai kikuk menatap Juna di panggung itu.
Juna berlalu sembari mendorong pelan Dinda sampai gadis itu terduduk lagi di kursinya. Ekspresi Dinda tampak tercengang kaget.
Juna meraih tanganku. Aku pun berdiri mematung menatapnya. Juna tersenyum padaku. Dan lalu, dia mengecup keningku.
Aku membelalak. Sorakan dan tepuk tangan terdengar nyaring di tempat itu. Juna, jadi dia tak mencampakkanku malam ini?
Juna menyudahi kecupannya, kemudian menatapku dengan senyuman manis. "Sophia, kamu udah terlalu sempurna untukku. Terus apa gunanya aku menggantikanmu dengan gadis lain yang belum tentu sesempurna dan sebaik kamu," ujar Juna padaku.
Juna menoleh menatap Dinda yang terduduk diam yang juga menatapnya. "Gimana? Lo puas kan sekarang?" Juna menyeringai.
Dinda membuang muka, lalu menyahut tasnya dan berjalan pergi dari tempat duduknya. Yola dan Salsa memanggil-manggil temannya itu, tapi Dinda tak menggubris. Dan mereka bertiga pun meninggalkan ruangan Sunny Cafe.
Beberapa pengunjung terdengar menyoraki kelakuan tiga gadis itu. Aku merasa tak enak, tapi juga lega. Tidak, tapi sangat lega. Aku menoleh menatap Juna tersenyum, dan laki-laki itu membalasnya.
***
"Sophia, gimana tadi? Kamu suka lagunya?" tanya Juna padaku.
Kami berdua masih di kafe itu. Kami memesan minuman dan mengobrol. Pengunjung di sana juga sudah mulai berganti-ganti.
"Suka." Jawabku tersenyum.
Juna membalasnya dengan sedikit tawa kecil.
"Tapi..., kenapa lagu itu menurut kamu terlalu meaningful?" tanyaku pada Juna.
Juna tersenyum. "Karena setiap baitnya itu adalah kamu."
"Oh, ya?" Aku tersenyum menggoda Juna.
"Hanya dirimu yang selalu kurindukan. Tak ada yang mampu menggantikanmu. Jika tak percaya akan kubuktikan. Bahwa cintaku tak berbatas untukmu...." Juna menyanyikan sepenggal lirik lagu itu lagi dengan suara lirih sembari terus menatapku.
Aku tertawa kecil. Aku tak tau bagaimana caranya mendefinisikan perasaanku saat ini. Aku hanya bisa menyelipkan kata terima kasih untuk Juna. Tentang momen ini dan lagu itu, aku sangat berterima kasih.
***
__ADS_1
Hari sudah malam, aku dan Juna pun bergegas menuju parkiran Sunny Cafe.
"Juna, aku punya sesuatu buat kamu," kataku setelah kami sampai di tempat parkir.
Juna masih diam menatapku. Aku memperhatikan sekitaran. Aku tersenyum menatap Juna setelah tau di sana sepi.
Aku meraih wajah Juna, kemudian berjinjit dan mencium lembut bibir laki-laki itu. Satu detik. Dua detik. Aku menyudahinya.
Juna tampak santai dan tak terkejut. Tapi kenapa jadi aku yang salah tingkah begini? Ayolah, Sophia...!
Juna tertawa kecil memperhatikanku. "Sudah malam, ayo kita pulang," ajaknya.
Aku tersenyum mengangguk pada Juna.
Juna menghampiri motornya, begitu juga aku. Aku hendak menghampiri Fino. Tapi, "Aw," celetukku saat berbalik. Tiba-tiba saja aku tersandung sesuatu dan langsung tersungkur ke halaman berpapin kafe itu.
Seseorang meraih kedua pundakku membantuku berdiri. Dan aku menolehnya. "Rama?"
Rama tersenyum padaku, lalu menoleh menatap Juna. "Hai, Bro," sapanya ke Juna menyeringai.
Situasi apalagi ini? Juna tampak memasang ekspresi datar, kemudian dia menghampiriku. Juna melerai pegangan tangan Rama dari pundakku. Dan lalu, dia menarikku menjauh dari Rama.
"Sophia, ambil motormu lalu kita pulang," suruh Juna tapi tak menatapku. Juna tampak tak senang melihat Rama. Dia terus menusukkan tatapan tajam yang aku pun tak mengetahuinya kenapa.
"I-iya." Jawabku, kemudian hendak melangkah menghampiri Fino. Namun, tangan Rama dengan sigap meraih lengan kananku menghentikan. Aku terdiam.
"Lo pacaran sama dia?" tanya Rama padaku, lalu menoleh Juna dengan tatapan remeh.
Aku melepas pegangan Rama. "Iya. Kenapa?" tanyaku pada laki-laki berkostum berandalan itu.
Rama terkekeh. "Selera lo rendahan ya ternyata!"
Aku sedikit ternganga menatap Rama keheranan. Sepertinya laki-laki itu punya masalah dengan Juna. Aku jadi bingung dengan dua orang itu. Juna seperti kesal sekali dengan Rama. Dan Rama, dia seperti memandang Juna sangat buruk.
***
Aku sudah sampai di rumah. Tadi aku sempat melerai Juna dan Rama yang hampir berkelahi. Aku tidak tau masalah mereka apa. Juna juga enggan menjawab saat aku bertanya.
Aku tengah sibuk mengetik narasi. Dan Mini, dia sedang tersenyum-senyum menatap ponselnya sembari berbaring di kasur. Hubungan Mini dan Haris sudah membaik. Mini bilang, semuanya hanya salah paham.
Baguslah. Aku juga ikut senang mereka tidak putus. Mini itu sepupuku, dan aku juga sudah menganggap Haris seperti sepupuku sendiri. Aku harap kejadian salah paham atau apa pun itu tidak akan terulang lagi di antara mereka.
"Ya, ampun!!!" pekik Mini membuatku tersentak dari kursi meja belajar.
"Lo kenapa sih, Ni? Bikin orang jantungan tau nggak!" protesku pada Mini.
Mini justru terbahak sembari terus memandangi ponselnya. "Astaga..., sepupu gue jadi trending topik anak-anak kampus! Ha ha ha...," oceh Mini.
Aku menatap Mini bingung.
"Lo tadi abis ngapain aja sama Juna?" tanya Mini menolehku menyeringai.
Aku berpikir sebentar. Tadi? Sama Juna? Aku mendadak membelalak. Jangan-jangan adegan ciuman di parkiran tadi? Oh, no!!!
Aku berlari menerjang Mini menyahut ponselnya. Jantungku tadi sempat bedetak-detak ketakutan, tapi untunglah sekarang aku lega. Tapi..., ini kan video lengkap saat Juna bernyanyi sampai Dinda dan teman-temannya meninggalkan kafe.
"Loh, kok ada yang videoin, sih?" Aku terheran menatap sebuah video di forum obrolan whatsapp kampus Mini.
"Ya, adalah.... Ini kan Sunny Cafe. Deket sama area kampus. Tempat itu tuh udah jadi langganannya anak-anak." Jawab Mini padaku.
Mini menyahut ponselnya dari tanganku. Dia tertawa lagi. "Ngakak banget gue liat si Dinda. Potek-potek dah tu dia. Dasar cewek ganjen! Udah tau si Juna pacaran sama lo, malah kegatelan dianya. Kayak nggak ada cowok lain aja," oceh Mini padaku.
Aku mendengarkan Mini, tapi enggan menyimaknya. Aku hanya tersenyum-senyum membayangkan momen tadi. Juna itu laki-laki yang berani dan romantis.
"Woi!!!" Mini mendorong lengan kiriku sampai membuatku terjungkal ke bawah kasur.
Aku mengaduh, tapi Mini malah menertawaiku.
"Meleng terooosss...! Iya-iya yang abis dibaperin pacarnya!" seru Mini menggodaku.
Aku masih duduk di lantai menatap Mini yang tertawa di atas kasur. Kemudian, aku berdiri dan kembali duduk di sana bersama Mini.
"Ni, menurut lo si Dinda bakalan deketin Juna lagi nggak?" tanyaku pada Mini.
Mini tampak berpikir sebentar. Dia mendecak. "Nggak tau juga, ya. Si Dinda tu sebenernya bukan tipe yang mudah nyerah kalo menurut gue. Tapi tenang aja, Phi. Gue yakin kali ini dia bakalan nggak berkutik."
Mini menatap ponselnya lagi. "Ni aja anak-anak pada nge-judge dia. Emang udah kondang Dinda mah jadi perusak hubungan orang." Mini menoleh menatapku. "Anak-anak pada ngomongin lo, nih. Mereka pada penasaran lo tu cewek kayak apa sih kok bisa seorang Juna Raja Semesta senaksir itu sama lo???"
__ADS_1
Aku tersenyum mencolek pipi Mini. "Lo tanya aja sama Juna, gue itu cewek kayak apa, sih?" ujarku kemudian beranjak meninggalkan Mini kembali menyibuk dengan laptopku di meja belajar. [ ]