
Hari ini sepulang kerja, aku berjanji temu dengan Juna di sebuah kafe di dekat kampusnya. Juna bilang, dia sudah menunggu di sana. Aku pun bergegas menuju dengan Fino.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di Sunny Cafe. Aku melihat Juna menungguku di meja nomor 6. Tapi..., di sana juga ada Dinda.
Aku menghampiri mereka. "H-hai," sapaku pada Dinda seraya duduk.
"Hai, Sophia." Dinda tersenyum padaku.
Ini tak berjalan sesuai rencanaku. Karena keberadaan Dinda, aku menjadi canggung. Juna juga tampak tak senang di sana.
Suasana hening. Juna hanya diam memainkan sedotan minumannya. Begitu pun Dinda.
Satu detik. Dua detik. Aku mulai menyuara. "Juna, gue mau ngomong sesuatu sama lo."
Juna menolehku, lalu tersenyum manis. "Gue juga mau ngomong sesuatu sama lo." Dia melirik Dinda dengan
ekspresi datar. "Din, lo udah nggak ada urusan lagi kan sama gue? Kalo nggak ada, lo boleh pergi."
Dinda tampak memaksakan senyum. "Iya, Kak. Nanti aku hubungi Kak Juna lagi di whatsapp. Duluan ya, Kak."
Dinda menatapku tersenyum. "Sophia, aku duluan, ya."
"Iya." Balasku juga tersenyum.
Dinda pun pergi dari kafe itu. Sedangkan aku dan Juna, kami masih duduk bersama di sana.
"Jadi lo mau ngomong apa?" tanya Juna memajang wajah imut padaku.
"Gue mau minta maaf karena tampar lo waktu itu," ungkapku tak ingin basa-basi. "Lo nggak marah kan sama gue?"
Juna tertawa kecil. "Santai aja kali." Dia menyilang tangan ke meja. "Tapi..., kenapa waktu itu lo kabur?" sambungnya bertanya menaikkan kedua alis.
Aku terdiam sebentar. "Gue..., gue cuma...."
"Cuma apa?" Juna menatapku menahan tawa.
Aku membuang muka cepat. "Gue cuma pengen kabur aja."
Juna terdengar terkekeh kecil.
"Terus, lo mau ngomong apa ke gue?" tanyaku kembali menoleh Juna.
Juna mencebik bibir berpikir. "Banyak sih yang mau gue omongin ke lo. Gue sampe bingung mau ngomong yang mana dulu," katanya padaku.
"Ya udah, ngomong yang penting dulu aja."
"Serius, nih?"
Aku mengangguk.
Juna mendecak, lalu menarik kursinya lebih dekat padaku.
"Sophia," panggil Juna menatapku lekat.
Tunggu, kenapa aku deg-degan begini? Juna mau bilang apa, ya? Jangan-jangan....
Juna mendekat ke telingaku. Juna Raja Semesta, dia hobi banget bisik-bisik. Suka banget deh bikin anak orang melayang-layang.
__ADS_1
"Lo suka kan sama gue?"
Astaga, pertanyaan apa itu? Aku langsung menarik kepalaku menjauhi Juna. "Lo kesambet, ya?" Aku menatap Juna terheran.
Juna menarik napas panjang menghelanya singkat. "Buruan jawab!" suruhnya padaku.
"Enggak tuh." Jawabku.
"Enggak tuh? Jadi lo nggak suka sama gue, nih?"
Aku terdiam. Aku sedikit tak mengerti dengan Juna. Dia laki-laki yang spontaneous dengan sifat yang sulit ditebak. Tapi lama-lama, itu membuatku sedikit mual.
"Berarti kalo gue suka sama lo..., bertepuk sebelah tangan, dong?"
"Iya." Jawabku serius membuat Juna tampak membeku di sana. "Gue nggak ada sedikit pun planning buat suka sama seorang mahasiswa kayak lo."
Juna terus menyimakku.
"Gue lebih suka sama cowok yang udah mapan, dewasa, cowok yang sederhana yang bakalan nerima gue yang
kayak gini."
Aku masih menatap Juna. "Juna, jangan suka sama gue."
"Kenapa? Kenapa gue nggak boleh suka sama lo?" Juna menatapku tajam.
"Karena lo harus fokus kuliah." Aku tersenyum tipis. "Gue juga harus fokus kerja."
Juna terkekeh tak percaya. "Jadi maksud lo, kalo kita jalin hubungan, pekerjaan lo bakalan keganggu gitu?"
Aku tak merencanakan semuanya akan berjalan seperti ini. Tapi Juna, dia memang harus fokus dengan kuliahnya.
Dan aku, aku akhir-akhir ini terus kepikiran akan laki-laki itu. Aku terus keteteran dengan pekerjaanku. Dan memikirkan Juna, itu membuat kepalaku tambah pusing.
Aku masih punya tanggungan besar untuk memperbaiki kehidupan keluargaku. Pacaran, terbelenggu dengan cowok, itu hanya akan mengacaukan semuanya.
Untuk saat ini, tujuan utamaku adalah mendapatkan banyak uang dan merubah status sosialku. Aku tak boleh lupa dengan ibu dan ayah di rumah yang sudah bekerja keras demiku.
"Apa pekerjaan sepenting itu buat lo?"
"Iya, sepenting itu. Bahkan jika gue disuruh milih nikah atau kerjaan, gue bakalan milih kerjaan," tegasku pada Juna.
"Kayaknya pemikiran lo perlu diperbaiki, deh," ujar Juna memicing menunjuk padaku.
Aku tersenyum menyeringai. "Lo ngomong gitu karena lo nggak pernah ngerasain gimana sulitnya hidup."
"Gue pernah ada di bagian di mana gue nggak bisa beli apa yang gue mau. Dan yang lo lihat sekarang, bukan gue yang dulu. Gue berubah, itu karena uang. Dan buat dapetin uang itu, gue harus kerja keras."
"Juna, cowok mana sih yang suka sama diri gue yang kayak gitu. Dan gue yakin, lo pasti juga nggak suka sama cewek yang workaholic kayak gue."
Juna masih terdiam di sana terus menatapku. Satu detik. Dua detik. Dia mulai memalingkan muka.
Mungkin hubunganku dan Juna hanya sampai di sini. Juna juga harus sukses. Aku juga harus sukses.
Kami masih muda. Kami hanya perlu menatap masa depan cerah tanpa harus terikat beban. Walaupun itu,
mungkin menyesakkan.
__ADS_1
"Gue pergi dulu." Aku pun meninggalkan Juna yang senantiasa masih diam.
Aku menuju parkiran, memakai helmku, lalu mengegas Fino pergi.
Aku berusaha untuk tak menangis. Dadaku sesak. Hidungku pengar menjalar ke dahi. Bahkan sebelum
hubunganku dengan Juna dimulai, aku sudah mengacaukannya.
Aku menyesal dengan hari ini. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Sesuatu mulai mengalir dari ujung-ujung mataku. Tapi itu, terasa hampa.
***
Malam ini seperti biasanya, aku sibuk dengan laptopku dan Mini sibuk dengan tugas kampusnya.
Aku harap, ini adalah awal yang baik untuk karierku ke depan. Aku masih sedikit memikirkan Juna. Tapi aku
yakin, seiring waktu berjalan nantinya, aku akan melupakan laki-laki itu.
Seminggu. Dua minggu. Hari-hariku seperti biasanya. Hanya ada tugas kantor, mengarang cerita, menggambar desain baju. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengisi rasa bosan. Dan lama-lama, hal itu juga terasa sama membosankannya.
Dulu saat hubunganku dengan Juna masih baik-baik saja, aku selalu punya cerita dengannya. Setiap momen-momen kecil, entah kenapa itu begitu berarti dan menyenangkan.
Aku pikir, aku dulu tak masalah dengan status single. Dulu saat aku masih sekolah, teman-temanku selalu ribut dengan hal percintaan. Aku dulu pikir, pacaran bukan hal yang harus agar kita semangat menjalani hari.
Dan sekarang aku bukan pelajar lagi. Dulu aku hanya membutuhkan cinta keluarga dan teman. Tapi sekarang, rasanya tetap kosong walaupun aku memiliki semua itu.
Ibu, ayah, dan Karina setiap hari menghubungiku dengan pesan-pesan singkat di whatsapp. Sesekali, kita juga bertelepon video.
Bulik Susan dan Mini juga masih menyayangiku seperti dulu. Mereka tak pernah berubah.
Aku menyesal, kenapa aku sebodoh ini? Aku memang belum mendapatkan semuanya sepenuhnya. Aku hanya
mendapatkan pekerjaan yang lancar dan gaji. Atau mungkin, aku terlalu serakah dengan mengatakan hanya itu yang kudapatkan sekarang?
Aku menyia-nyiakan kesempatan emas dengan membuang laki-laki sebaik Juna. Betul kata Bang Haji Rhoma, kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga. Terlalu melankolis.
Sekarang aku mengerti kenapa teman-temanku dulu mengeluh dengan status jomlonya. Karena faktanya, jadi jomlo itu tak enak. Apalagi di tahap kehidupanku yang sekarang.
Sepertinya aku sedang terserang penyakit jones. Menyedihkan.
***
Sudah hampir satu bulan sejak kejadian di Sunny Cafe dan Juna tak pernah lagi menghubungiku. Tapi aku masih menyimpan nomornya, kok.
Malam ini aku dan Mini tengah asik menonton drama korea di laptop.
"Ni, minggu depan lo ada acara nggak?" tanyaku pada Mini setelah menerima whatsapp dari Karina.
"Enggak ada. Kenapa?" Mini masih fokus terhanyut ke drama itu.
"Ini... minggu depan Lusy ulang tahun, Karina nyuruh kita dateng. Lo bisa, nggak?"
Mini pun menolehku. "Lusy ulang tahun?"
Aku mengangguk. "Iya. Dia udah 2 tahun aja. Nggak kerasa." Aku menundukkan pandang tersenyum, lalu menoleh Mini kembali. "Cuma acara ulang tahun kecil, kok. Paling makan-makan sama orang rumah."
Mini mencebik bibirnya tampak berpikir. "Kayaknya minggu depan gue juga free, deh." Dia tersenyum. "Okelah. Gue juga pengen ketemu Lusy." [ ]
__ADS_1