
"Yang itu...!"
"Ini?"
"Bukan, sebelahnya."
"Ini?"
"Bukan..., sebelahnya lagi."
"Ini?"
"Iya. Udah empuk belum?"
"Udah nih kayaknya."
Usia kandunganku mengijak bulan ketiga. Aku sedang ngidam-ngidamnya. Untung di pekarangan depan rumah ada pohon mangga.
Setiap hari aku meliur menatap mangga-mangga gadung yang bergelantungan di atas sana. Biasanya orang hamil itu suka mangga muda, tapi aku lebih ingin makan mangga yang manis dan matang dari pohonnya.
"Kamu, ah. Gampangan juga pake penyodor tinggal gaet buahnya. Ini malah nyuruh suami panjat-panjat." Juna yang baru turun dari pohon mangga dua setengah meteran itu menggerutu.
"Ye..., ini kan yang minta anak kamu di perut. Bukan aku."
Juna menghela napas berat. Dia menggeleng. Dia sudah sangat hafal, begitulah kilah seorang ibu hamil. Menggunakan permintaan si anak di perut adalah alasan termasuk akal agar suami menuruti kemauannya. Tapi serius, aku memang sedang ngidam.
Ini bukan apa-apa daripada kemarin-kemarin. Beberapa hari lalu aku ngidam rambut nenek. Maksudku adalah permen gulali basah, arbanat.
Aku menyuruh Juna berkeliling jalanan kota mencari-cari jajanan itu. Dia pergi pagi, pulangnya sore. Untung bukan pergi pagi pulang pagi kayak lagunya Armada. Dan pada akhirnya aku mengomel karena dia lama sekali sampai rumahnya.
Dan ngidam paling konyolku adalah, aku menyuruh Juna memasak. Suamiku itu bisa dikatakan laki-laki yang serba bisa. Tapi kalau urusan masak, dia angkat tangan cepat-cepat.
Malam-malam sekali aku terbangun dari tidur. Perutku lapar, dan ingin sekali makan nasi goreng. Nasi goreng istimewa buatan Juna Raja Semesta.
Aku mengusik tidur nyenyak Juna membangunkannya. Mata laki-laki itu mengerjap-ngerjap. Dan ya, aku menyuruhnya membuat nasi goreng di malam-malam buta.
Aku diam menunggu Juna di meja makan dan suamiku itu menyibuk dengan peralatan dapur, juga dengan ponselnya. Nggak bisa masak? Tanya di mbah google, dong...!
Pertanyaan pertama yang dilontarkan Juna saat aku menyendok sesuap nasi goreng itu adalah, gimana rasanya? Sebagai ibu hamil, aku jujur saja. Nggak enak, begitu jawabku.
Tapi yang namanya ngidam, enak tak enak tetap aku makan, kok. Si bayi cuma ingin nasi goreng buatan tangan ayahnya.
"Ya udah, yuk masuk," ajak Juna merangkul punggungku dengan tangan kanannya membawa sebuah mangga yang mulai menguning.
Aku dan suamiku pun masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang keluarga. "Astaga, Zein...," ujar Juna membelalak mata. Aku cepat-cepat tersenyum padanya mengisyaratkan untuk diam tak menegur Zein.
Aku menghampiri Zein yang tengah asik mencorat-coret tembok dengan krayon. Aku duduk ke lantai pelan-pelan memegangi perutku mensejajarkan badan setinggi anak laki-laki berumur dua tahunan itu.
"Zein lagi gambar apa?" tanyaku lembut pada putra pertamaku. Ya, saat ini aku tengah hamil anak kedua.
"Gambal jalan panjang. Jen mau buat jembatan juga." Jawab Zein terdengar lucu. Dia masih sedikit pelo.
Aku tersenyum mengelus kepala Zein menatapnya sayang. Zein masih terus melanjutkan menggores krayon warna-warni ke tembok putih itu.
"Zein mau gambar mobil nggak buat Bunda?" tanyaku.
Zein menoleh tersenyum padaku. Kepalanya mengangguk.
"Kalo gitu nanti Bunda beliin Zein buku gambar yang buesarrr, ya."
"Zein gambarnya harus di buku, jangan di tembok," tuturku tersenyum.
__ADS_1
"Bunda malah ya cama Jen?" tanya putraku terlihat takut.
Aku tersenyum menangkup wajah anak itu. "Bunda nggak marah sama Zein. Zein kan anak baik. Anak baik nggak akan dimarahi sama Bunda."
"Zein ikut Ayah, yuk!" seru Juna ikut menghampiriku dan Zein. "Ayah punya buku gambar buesarrr. Nanti Zein bisa gambar mobil besar di sana."
Wajah Zein bahagia. Juna pun segera menggendong tubuh anaknya. Lalu berlari-lari kecil menghibur menuju ke ruang kerjanya. Juna pasti akan mengorbankan satu buku gambar ukuran jumbo miliknya untuk Zein menggambar.
***
Aku mengusap-usap punggung Zein menidurkannya. Pukul delapan malam putraku itu selalu kuusahakan untuk segara tidur. Tak baik untuk anak kecil jika tidurnya terlalu malam-malam.
Zein sudah terlelap. Aku beranjak dari kasur berjalan menuju ke dapur.
Aku membuat segelas susu dan segelas teh hangat untuk Juna. Dia sekarang sedang sibuk di ruang kerjanya. Suamiku sangat bekerja keras untuk keluarga kecilnya ini.
Aku membawa dua minuman hangat itu ke ruangan Juna.
"Loh, kamu nggak istirahat sama Zein?" tanya Juna padaku. Wajahnya tampak lelah dengan mata yang sedikit memerah karena kantuk juga sinar layar laptop.
Aku menaruh secangkir teh hangat ke pinggir meja Juna, kemudian duduk ke sofa empuk ruangan itu. "Aku belum ngantuk." Jawabku, lalu meneguk sedikit susu cokelat di dalam gelas yang kugenggam.
"Kamu harus banyak istirahat. Aku nggak mau ya kalo kamu sampe kecapekan."
"Iya...." Jawabku pada Juna.
Saat hamil Zein dulu, aku pernah mengalami sedikit pendarahan. Saat itu aku benar-benar panik, begitu juga Juna. Kami tak tau apa-apa.
Tanggal menstruasiku memang tak teratur, bahkan bisa telat sampai dua bulan. Dua tahun setelah pernikahan kami, aku dan Juna baru memiliki Zein. Sekitar tiga puluh menit setelah aku dan Juna melakukan hubungan suami istri, perutku mulai terasa sakit.
Kala itu aku merintih, aku menangis hingga membuat Juna begitu panik nan bingung. Dan setelah periksa ke dokter, ternyata aku positif hamil. Bahkan sudah berjalan dua bulan. Syukurnya bayi di perutku tak kenapa-napa.
Sejak menikah dengan Juna, Bunda Aulia memasrahkan tempat konfeksi sepenuhnya padaku. Dan De Boutique, aku turut andil lima puluh persen untuk mengelolanya.
Lalu bagaimana dengan Bunga? Gadis itu awalnya masih menetap di Belanda. Dia kuliah di Negeri Kincir Angin itu. Impiannya sudah tercapai untuk mengunjungi Keukenhof Garden.
Adiknya Juna itu hobinya travelling. Bunga sangat pandai. Dia mampu menguasai lima bahasa asing, Inggris, Prancis, Korea, Belanda, dan Turki.
Dan setelah kabar jika aku mulai rehat dari De Boutique, Bunga pun pulang ke Indonesia untuk membantu ibunya mengelola usaha. Kalau soal Semesta Crop, aku sudah lama berhenti kerja di sana karena Juna si calon CEO barunya adalah suamiku.
Diwaktu-waktu sibuknya Juna Raja Semesta, akhirnya ibuku dan Bunda Aulia lah yang bergantian turun tangan merawat si tubuh berbadan dua ini. Tapi itu dulu, saat aku hamil Zein. Kalau sekarang aku lebih suka berduaan di rumah bersama putraku kala Juna sibuk mengantor.
***
"Hai, ponakan ganteng...!" seru Mini memeluk putraku Zein begitu gemas.
Aku dan Juna beserta putra kami sengaja ketemuan dengan Mini dan suaminya, siapa lagi kalau bukan Haris. Mini dan Haris menikah tahun lalu. Sekarang Mini sedang bunting tua.
Kami berlima duduk di ruang pribadi rumah makan yang Juna dan Haris kelola.
"Bunda, kenapa pelut Tante Mini besal begitu?" tanya Zein padaku.
"Di perutnya Tante Mini ada adek kecil. Sama kayak di perutnya Bunda. Nanti Zein punya 2 adek. Bisa main bareng, deh." Jawabku pada Zein yang masih menatapku.
"Jadi Jen bakalan punya adek 2?" Zein menyodorkan simbol 2 jari tangan kanannya ke depan wajahku.
Aku tersenyum mengangguk-angguk.
"Isss..., pinternya ponakan Tante Mini. Gemes banget." Mini terus memeluk putraku.
***
__ADS_1
"Huek!" seruku menutup mulut menahan mual berdiri di depan wastafel toilet. Aku baru saja memuntahan sedikit makanan dari restoran suamiku sendiri. Entah kenapa bau ayam goreng terasa begitu menyebalkan di hidungku.
Aku tadi sudah berpamit pada Juna untuk ke kamar kecil. Aku menahan sensasi diaduk di perutku. Ekspresiku mungkin datar sampai Juna dan yang lainnya tak tau kalau aku begitu mual.
Setelah berhuek-huek, tubuhku mulai lemas. Aku hampir jatuh, untung saja seseorang segera menahan tubuhku.
"Are you okey?" tanya seorang perempuan bule padaku.
Mual-mualku seperti langsung terhenti menatap perempuan berkulit putih dengan hidung mancung itu. Dia cantik sekali. Aku terpaku menatapnya. Kenapa seorang bule nyasar ke toilet tempat makan bintang empat ini?
"Are you sick?" tanya bule itu menatapku khawatir.
"No, I'm fine." Jawabku mencoba tersenyum.
"Let me help you," tawar bule itu memegangi pundakku mengajak ke luar toilet.
"Thank you so much."
"No problem." Bule itu tersenyum.
Untung saja aku mengerti sedikit soal bahasa Inggris. Bagus, untuk antisipasi kalau tak sengaja ketemu bule seperti ini.
"Sayang, kamu nggak pa-pa?" tanya Juna tiba-tiba menghampiriku yang tengah duduk di meja nomor 25 bersama bule yang namanya belum kuketahui. Juna menatapku khawatir. Sepertinya wajahku mulai pucat.
"Dia siapa?" tanya Juna lagi menatap bingung si bule di samping kiriku.
Aku menoleh pada bule itu. "What's your name?" tanyaku padanya.
"I'm Karel." Jawab bule itu tersenyum padaku.
"Karel? Thank you for helping me."
"It's okey." Karel tersenyum mengedikkan bahu.
"Tadi aku hampir pingsan di toilet. Dia yang bantuin aku," ungkapku pada Juna.
Satu detik. "Karel, why you-"
Aku menatap terkejut laki-laki yang baru saja memotong pembicaraannya sendiri. Laki-laki itu juga menatapku tampak sama terkejutnya. Rama, aku melihat laki-laki itu lagi. Setelah bertahun-tahun lamanya kami tak berkontakan sejak laki-laki itu pergi ke Amsterdam. Dan akhirnya, sekarang....
***
Tiga keluarga kecil akhirnya berkumpul bersama. Tak ada rasa cemburu, tak ada dendam kesumat, tak ada kekecewaan sedikit pun di antara kami. Awalnya saja canggung. Lima menit. Sepuluh menit. Kami bisa mengobrol santai.
Aku dan Juna bahagia memperkenalkan anak tampan nan pandai kami kepada mereka, Rama dan Karel. Zein Putra Juna Semesta, putra pertama kami yang kuakui begitu imut.
Karel, dia adalah tunangan Rama. Sungguh beruntung Rama bisa bertemu perempuan berdarah Amsterdam itu. Dia cantik, tinggi semampai.
Tapi sayang, Karel belum bisa bahasa Indonesia. Katanya, dia hanya tau sedikit. Namun perempuan itu begitu ramah. Dia terus tersenyum walaupun aku tau dia tak mengerti apa yang kami orang-orang pribumi tengah obrolkan.
Ceritaku tak akan pernah berakhir di sini. Saat kehidupan terus berlanjut, di situ kisah demi kisah mengalir secara alami. Hanya saja, sampai di sini aku belajar banyak hal. Aku mengenal berbagai macam sifat orang. Aku jadi mengetahui sesuatu yang buruk, dan sesuatu yang baik.
Sebenarnya aku juga bukan orang yang baik dalam segala aspek. Tapi percayalah, menjadi orang yang lebih baik lagi bisa mengantarkan kita ke sesuatu yang sangat membahagiakan. Takdir akan terasa begitu indah ketika aku merasa cukup dengan semuanya.
Memiliki Juna dan orang-orang baik di sekitarku adalah keberuntungan yang tak ternilai harganya. Keluarga yang tenteram dan sejahtera. Nikmat besar yang sebelumnya tak pernah aku berpikir bisa merasakannya.
Suamiku bilang, semua yang ada sekarang adalah hadiah dari Tuhan. Karena aku, mejalani hidup dengan menakjubkan. Apa pun masalahnya, aku dan Juna selalu berusaha mengatasinya dengan damai.
Aku tak ingin dipuji banyak-banyak. Daripada kata cantik, aku lebih suka kata baik. Daripada kata keren, aku lebih suka kata hebat. Aku senang bisa menjadi sesuatu yang kunginkan. Sesuatu yang positif untuk kedua orang tuaku, orang-orang di sekitarku, dan untuk suami juga anak-anakku.
TAMAT
__ADS_1