Stunning My Life

Stunning My Life
Kesal


__ADS_3

Pagi ini sebelum berangkat kerja aku menyempatkan diri untuk menjenguk Rama di rumahnya. Aku sudah menghubungi kantor jika akan datang terlambat. Aku hanya ingin memeriksa kalau Rama benar-benar diantar dengan selamat oleh supir taksi semalam.


Aku merasa khawatir karena luka babak belur Rama bisa saja membuat kaget Oma Laras. Wanita itu sudah tua dan aku tak bisa membayangkan reaksinya ketika melihat putra bungsunya pulang dengan keadaan memar-memar.


Terlebih lagi semalam Juna sedikit tampak marah padaku. Walaupun dia tak memberondong dengan pertanyaan atau sikap yang kentara, aku tetap bisa membaca pikirannya. Juna sering menyuruhku untuk jangan dekat-dekat dengan Rama karena itu bukan pergaulan yang baik.


Aku juga menyembunyikan kegelisahan dan rasa penasaranku tentang keadaan Rama supaya Juna merasa dihargai. Kenapa aku sibuk cemas dengan keadaan laki-laki lain jika pacarku ada di sana? Lebih baik aku diam untuk menjaga hati Juna agar tetap aman.


Aku mengetuk pintu rumah itu sembari beruluk salam. Tak selang lama, Oma Laras datang membukakan pintu untukku.


"Pagi, Oma," sapaku tersenyum.


"Sophia?" Oma Laras tampak sedikit terkejut melihat kedatanganku.


Aku dipersilakan masuk dan diajak duduk di ruang tamu sana.


"Maaf Oma saya bertamu pagi-pagi," kataku sungkan. Ini belum ada jam setengah tujuh pagi dan aku terburu-buru agar menghemat waktu.


"Nggak pa-pa, kok. Ada apa ya, Sophia?" tanya Oma Laras padaku.


"Em..., Rama ada di rumah kan, Oma?"


"Iya, dia ada di rumah."


"Rama nggak pa-pa, Oma?" tanyaku lagi membuat Oma Laras beraut muka aneh. Aku cepat-cepat mencoba menjelaskan. "Jadi semalem saya lihat Rama berantem sama orang, Oma. Dia babak belur terus pingsan. Dan saya pun pesan taksi minta sopirnya buat anter Rama sampe rumah."


"Oh...." Oma Laras mulai mengerti.


"Semalem saya nggak bisa nemenin Rama pulang karena ada urusan. Jadi saya ke sini buat pastiin kalo sopir taksinya bener-bener udah nganter Rama sampe ke rumah. Maaf, Oma," kataku tak enak.


Oma Laras tersenyum. "Nggak pa-pa. Oma justru makasih banget karena kamu udah pesenin taksi buat Rama pulang."


"Iya Oma, sama-sama."


Wanita berkonde itu tersenyum.


"Sebentar ya Oma buatin kamu minum dulu," ujar Oma Laras padaku tiba-tiba.


"Nggak usah, Oma. Saya ke sini cuma mau pastiin kalo Rama udah ada di rumah. Sebenernya saya mau berangkat kerja."


"Oh, ya? Aduh, Oma jadi nggak enak sama kamu."


Aku menarik senyum tipis.


Oma Laras menghela napas pendek. "Kamu nggak usah khawatirin anak bungsu Oma itu, Sophia. Dia sering kok pulang-pulang udah babak belur gitu. Awalnya saya juga khawatir, tapi lama-lama saya kebal karena Rama menolak saya perhatikan."


Aku tertegun. Aku kira Oma Laras akan syok melihat Rama pulang-pulang udah kayak panci gosong. Ternyata dugaanku salah.


"Sophia, saya boleh minta bantuan kamu sebentar nggak?"


"Bantuan apa, Oma?"


"Dari semalem Rama nggak mau saya obatin lukanya. Dia juga belum keluar kamar sampe sekarang. Saya ajak sarapan juga nggak mau. Saya harus antar Leo ke sekolah. Kamu mau nggak bujuk Rama dulu? Saya takut kalo dia kenapa-napa di kamar," ujar Oma Laras padaku.


"Oma, aku udah siap!" seru Leo menyela tampak menuruni anak tangga.


"Tante?" Leo menatapku tersenyum lebar.


"Hai...," sapaku ramah pada anak kecil berseragam merah putih itu.


"Leo, ayo salim sama Tantenya," suruh Oma Laras pada cucunya.


Leo pun menghampiri mencium punggung tanganku. Aku mengelus rambut bocah itu pelan.


"Gimana, Sophia? Kamu mau, kan?" sahut Oma Laras menatapku memohon.


"I-iya, Oma." Jawabku terpaksa. Kalau bukan karena Oma Laras yang meminta bantuan, aku ogah sekali membujuk rayu Rama yang menyebalkan itu.


***


Aku mengetok pintu kamar Rama sembari membawa senampan makanan. Aku mengulangi ketokan itu beberapa kali, tapi tak ada respon sama sekali. Aku pun langsung menekan hendel lawang dan menyerobot masuk ke ruang kamar Rama.


Rama tampak masih memejam berbaring di kasurnya. Aku menaruh nampan makanan itu ke atas laci kosong samping tempat tidur Rama. Aku mengedarkan pandang menyapu seisi ruang pribadi laki-laki itu. Kamar Rama terkesan berantakan.


Aku seharusnya membangunkan Rama dan segera pergi dari sana, tapi hal itu enggan kulakukan. Aku malah berjalan mendekati sebuah rak setinggi satu setengah meteran yang dipenuhi buku.


Aku tidak tau jika Rama yang berpenampilan seperti preman dan terlihat bodoh itu sebenarnya punya banyak koleksi bacaan. Aku mulai mengotak-atik buku-buku itu. Lima detik. Aku tak sengaja menjatuhkan beberapa buku ke lantai karena menarik sebuah buku dari rak.


"Siapa lo?" pekik Rama membuatku menoleh.


Aku menatap Rama sebentar yang tampaknya sangat terkejut melihatku berada di kamarnya. Aku mengembalikan buku-buku itu dan menghampiri Rama.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Rama sewot.


Aku mengambil senampan sarapan yang kutaruh di atas laci tadi. Aku duduk di pinggir kasur menghadap ke arah Rama. "Oma nyuruh gue buat lihat keadaan lo. Nih, sarapan dulu," kataku menyodorkan makanan ke Rama.

__ADS_1


Rama yang sudah duduk menyandar bantal mulai meraih nampan sarapannya. Aku tersenyum karena dia tampak menurut walaupun wajahnya masih terkesan bingung. Luka lebam Rama tak membengkak, dia kelihatan baik-baik saja.


"Lo ngapain sih ke sini?"


Aku mendesah. "Gue ke sini tu cuma mau mastiin kalo lo beneran diater pulang sama sopir taksi semalem. Siapa tau kan lo diturunin di pinggir jalan terus ditinggalin sama si sopir taksinya." Jawabku berkilah.


Rama menyeringai. "Jadi lo khawatir sama gue?"


"Idih..., pede amat lo!" Aku memalingkan muka.


Rama mulai memakan sarapannya. Aku terus memperhatikan laki-laki itu. "Ram, lo sekarang lagi ngapain? Kerja atau kuliah?" tanyaku.


Rama terdiam, lalu kembali menyendoki sarapannya. "Nggak dua-duanya."


"Jadi lo pengangguran?"


"Peduli apa lo kalo gue pengangguran?"


"Cuma nanya!" seruku membalas kesewotan laki-laki itu.


Rama meletakkan nampan makanannya ke atas meja.


"Kok, nggak dihabisin?" tanyaku ke Rama.


Rama hanya diam menyilang tangan menatapku tajam.


"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu?"


"Sophia, gue boleh temenan sama lo?" tanya Rama sembari melemaskan pandangannya.


Aku terkekeh. "Lo nggak lagi kesurupan, kan? Lo ngajakin gue temenan? Yang bener aja lo?"


Rama beringsut mendekatiku. "Iyalah. Gue nggak mungkin kan ngajakin lo pacaran? Kan lo udah punya pacar," ujar Rama membuat ekspresiku membeku.


Tiba-tiba Rama tertawa. Aku menatap laki-laki itu aneh. "Jangan tegang gitu napa, sih? Ya kali gue mau temenan sama lo." Rama menggeleng jijik masih terkekeh geli.


Aku mendorong muka laki-laki itu sebal.


"Aw...," rintih Rama memegangi luka memarnya. "Kasar banget sih lo jadi cewek? Sikit, nih!"


"Biarin! Siapa suruh jadi cowok suka nyebelin. Udah, ah. Males gue sama lo. Bye!" Aku menekan nada suara melengos berdiri meninggalkan Rama.


Aku terkesiap. Rama baru saja menarik tanganku membuatku jatuh ke kasurnya. Dan lagi, laki-laki itu juga terhuyung ambruk menghimpit di atasku.


Wajah kami sangat dekat. Mata Rama tak henti memandangku. Aku hanya terus membelalak. Secepatnya aku mendorong dada Rama menjauh dariku.


"Gu-gue pergi dulu," pamitku pada Rama yang masih terbengong.


Aku pun buru-buru meninggalkan rumah besar itu.


***


Siang ini sepertinya Juna sedang mengerjaiku. Dia sengaja menitipkan tugas kampusnya ke Ayah Rei dan memintaku untuk mengantarkannya ke kampus.


Ayah Rei tadi menyuruh Pak Nur, seorang supir kantor untuk mengantarku ke kampusnya Juna. Awalnya aku menolak, tapi Ayah Rei terus memaksa. Pak Nur juga tak mungkin mengabaikan perintah bosnya.


"Pak Nur balik lagi aja ke kantor. Nanti saya pulang bisa naik taksi," kataku pada Pak Nur setelah turun dari mobil van hitam itu.


"Saya nggak berani, Mbak Sophia. Nanti Pak Rei marah sama saya."


"Enggak bakalan, Pak Nur...," tegasku tersenyum.


"Ya udah, kalo gitu saya nurut aja sama Mbak Sophia. Hati-hati ya, Mbak. Saya balik lagi ke kantor, nih."


"Siap, Pak Nur!" seruku.


Pak Nur pun berlalu dengan mobilnya.


***


Aku mengedarkan pandang duduk di pinggiran beton pembatas taman. Aku mengeluarkan ponselku, lalu mulai mengirim pesan untuk Juna.


Sophia : Aku udah sampe.


Tulisku sembari melampirkan sebuah foto tempat itu.


Juna : Tunggu bentar, ya. 10 menit aku ke sana.


Sophia : Oke.


Satu menit. Dua menit. "Eh, ada pacar tak dianggap. Ngapain nih ke sini?" celetuk seseorang membuatku menoleh.


Aku sedikit terkesiap melihat Yola dan Salsa sudah berdiri di samping kiriku. Aku pun beranjak berdiri menyamai dua orang itu.


"Maksud kamu apa bilang kayak gitu?" Aku menatap tajam Yola.

__ADS_1


"Santai, dong.... Mukanya nggak usah asem gitu. Kenapa? Ngerasa jadi pacar tak dianggapnya Juna, ya?" cemooh Yola padaku.


Aku menyeringai memutar bola mata. "Kamu kok kayaknya tertarik banget sama hubungan saya dengan Juna?"


Yola tertawa aneh. "Heh, lo nggak usah sombong kayak gitu, ya! Lo tau nggak, gara-gara lo Dinda di-bully sama anak kampus."


"Apa hubungannya sama saya?" Aku mengedikkan bahu.


Salsa mendecak. "Ya ada, lah! Gara-gara lo permaluin Dinda di Sunny Cafe waktu itu, dia jadi bulan-bulanan sampe sekarang. Kita sebagai sahabatnya nggak terima lo perlakuin Dinda kayak gitu."


Aku tertawa kecil. "Maaf, loh. Tapi saya nggak pernah tuh ada niatan mempermalukan sahabat kalian. Bukannya kalian sendiri yang bikin Dinda malu? Kalian kan yang nyuruh Dinda berdiri waktu itu? Terus ternyata yang dimaksud Juna bukan Dinda, tapi saya."


Yola dan Salsa saling menatap. Aku tau mereka malu dengan diri mereka sendiri.


"Udah deh nggak usah cari banyak alasan! Lo sebenernya ngapain ke sini? Mau hina Dinda? Atau mau caper ke Juna?" Yola tak henti mencaciku.


Aku tetap mencoba tersenyum. "Saya ke sini mau nganterin tugasnya Juna yang ketinggalan."


Yola tertawa disusul oleh Salsa yang tak kalah tak jelasnya. Aku hanya meneleng kepala bingung keheranan.


"Jadi lo ke sini cuma disuruh Juna buat nganterin tugas yang ketinggalan? Wah, lo tu ternyata bukan cuma pacar yang tak dianggap ya, tapi juga babu!" Terkutuklah Yola menghinaku seperti itu.


"Guys...! Sini-sini ngumpul, deh. Ini loh ada pacar tak dianggapnya Juna...," pekik Yola memanggil anak-anak kampus di sekitaran kami.


Aku hanya terus menatap gadis itu tajam. Beberapa mahasiswi dan mahasiswa sudah bergerombol menatapiku.


"Oh..., jadi dia toh pacarnya Juna?"


"Pake pelet apa Mbak bisa gaet Juna?"


"Gue kira cantiknya melebihi Raline Shah, ternyata standar."


Perkataan nyelekit terus besahutan. Yola dan Salsa menatapku puas. Sudut-sudut mataku membendung air mata. Tidak, aku tidak akan menangis di depan orang-orang tak berperasaan itu.


Yola berjalan menghampiriku. Bibirnya tersenyum menyeringai. "Nggak usah sok percaya diri deh lo. Emang enak dikecengin orang-orang?" katanya pelan, kemudian aku cepat menangkis tangannya yang hendak mendorongku.


Yola terkekeh. "Lo jadi orang sok banget kenapa, sih? Nggak usah besar kepala gitu cuma gara-gara jadi ceweknya si Juna. Paling bentar lagi diputusin!"


Aku yang tak tahan dengan perlakuan Yola sontak mengangkat tangan kanan hendak menampar gadis itu. Tapi, tiba-tiba Juna menahan tanganku menghentikan.


"Ya ampun.... Guys, kalian lihat kan cewek ini mau gampar gue? Juna, mendingan lo buruan putus deh sama nih cewek. Dia arogan banget! Entar lo diapa-apain sama dia gimana?" Yola memasang wajah memelas pada Juna.


"Aw...!" teriak Yola setelah Juna mendorongnya sampai terjerembab ke halaman berpapin itu.


Juna menatap tajam orang-orang di sekitar kami. Mereka tampak menunduk-nunduk lalu mulai berhamburan bubar dan pergi. Namun, Yola dan Salsa masih menetap.


"Sampe gue tau lo berdua bully Sophia kayak gini lagi, gue pastiin nilai kuliah lo berdua nggak bakalan aman. Lo berdua tau kan siapa gue?"


Yola dan Salsa menciut. Mereka tampak gusar dengan ancaman Juna. Mata mereka masih menatapku tak suka.


"Ngapain masih di sini? Sana pergi," usir Juna pada dua gadis itu.


"Kamu nggak pa-pa?" tanya Juna padaku setelah kepergian Yola dan Salsa.


Aku menatap kesal wajah Juna seraya mendorong sebuah makalah biru muda yang kubawa ke dadanya. Juna pun menggapai tugasnya itu.


"Lain kali nggak usah nyuruh aku ke sini lagi," tegasku pada Juna, kemudian beranjak pergi.


Aku berjalan terus tak menghiraukan suara Juna yang memanggil-manggilku.


"Sophia, aku minta maaf," kata Juna menyahut tangan kiriku.


Aku melerainya cepat. Juna terus mengikutiku keluar dari kampusnya. Aku berjalan sedikit menjauh dari pintu gerbang berdiri di pinggir trotoar. Aku menyibuk dengan ponselku untuk memesan taksi online.


"Sophia..., jangan marah, dong." Juna menggerutu padaku.


Aku menoleh pada Juna. Dia tampak tersenyum sok imut padaku. "Aku mau balik ke kantor. Kamu masuk sana," suruhku pada Juna agar dia kembali ke kampus.


Juna menggeleng. "Aku bakalan masuk kalo kamu udah maafin aku."


Aku mendecak. "Iya-iya aku maafin."


"Kok, nggak ikhlas gitu?"


Aku terdiam enggan menatap Juna.


"Sophia," panggil Juna padaku. "Sophia...." Juna mencolek pipiku.


Aku menepis tangan Juna. "Kamu tu sama nyebelinnya kayak mereka tau nggak," kataku menatap malas Juna.


"Kok gitu? Aku kan cuma mau disamperin sama kamu aja. Aku juga nggak tau kalo kejadiannya bakalan kayak gini. Ayolah, Sophia...."


Aku semakin kesal dengan Juna. Dia seperti tak bisa memahami posisiku sekarang. Teman-temannya menghujatku karena dia mengisengiku untuk membawakan tugas kampusnya. Dan lagi, gara-gara momen menyedihkan ini aku juga harus menunda tugas kantorku yang menumpuk.


"Kamu tu ngerti nggak sih sama posisiku sekarang?"

__ADS_1


Juna terdiam. Lalu taksi yang kupesan tiba. Aku pun bergegas pergi meninggalkan Juna yang masih mematung di sana. [ ]


__ADS_2