Stunning My Life

Stunning My Life
Bersepakat dengan Ayah


__ADS_3

Aku sampai di rumah sakit. Tadi Karina memberitahuku kalau ayah dirawat di ruang terpisah. Aku kurang mengerti, seharusnya ayah dirawat saja di kelas umum, biaya di sana pasti lebih murah. Karina bilang, ini semua ide dari anak temannya ayah yang katanya mau dijodohkan denganku.


Aku mengetuk pintu sebuah ruang opname dengan tulisan Kelas 3A di atas pintunya, kemudian aku membukanya pelan. "Assalamu'alaikum," sapaku pada ayah, dan ada seorang lelaki asing di sampingnya. Sepertinya mereka tengah mengobrol.


"Wa'alaikumsalam. Sophia? Kamu udah sampe sini?" Ayah menatapku penuh kegembiraan.


Aku pun mencium tangan ayah, juga menyalami laki-laki asing itu. Aku hanya bisa tersenyum tipis padanya. Dugaanku, sepertinya laki-laki itu yang akan dijodohkan ayah denganku.


"Gimana keadaan, Ayah? Udah enakan, kan?" tanyaku pada ayah masih berdiri di samping kirinya.


"Udah. Ayah nggak pa-pa, kok." Jawab ayahku tersenyum. "Oh, ya. Sophia, kenalin ini Bara, anaknya temen Ayah," sambung ayahku memegang pundak kiri laki-laki itu yang tengah duduk di kursi samping kanannya.


Aku melayangkan senyum singkat pada anak teman ayahku itu. Sedangkan dia, dia masih terus bertingkah ramah sedari aku masuk tadi.


Suasana hening sebentar.


"Sophia, Bara ini-"


"Em, Yah. Aku mau ngobrol berdua aja sama Ayah," kataku memotong ucapan ayah. "Boleh, kan?" lanjutku ragu menatap ayah kemudian menoleh pada Bara. Aku tidak akan membiarkan ayah bercerita banyak soal laki-laki itu. Aku tidak ingin tau.


"Oh, ya. Kalo begitu, aku keluar dulu, Om," pamit Bara sepertinya merasa terusir olehku. Baguslah, dia cepat peka.


Bara tersenyum pada kami, aku dan ayah. Dia membungkuk tipis, kemudian berjalan keluar ruangan itu.


Setelah pintu ditutup Bara, aku bergegas duduk ke kursi samping kanan ayahku yang tadi ditempati laki-laki itu. Kursi itu terasa hangat, pasti Bara sudah lama sekali duduk di sana.


"Yah, Kakak bilang Ayah mau jodohin aku, ya? Sama siapa, Yah? Cowok tadi? Pokoknya aku nggak mau dijodin!" Aku mulai berprotes dengan suara kupelankan.


"Kenapa nggak mau? Bara itu tentara, loh. Dia ganteng dan pekerjaannya terhormat. Lagian kamu juga belum laku-laku, kan?"


Aku masih menautkan alis menyimak ayahku. Iya, kesan pertamaku pada Bara dia lumayan oke. Tapi bagiku, Juna yang terganteng! Dan soal aku yang kata ayah belum laku-laku. Hei, aku cuma mencari pendamping yang tepat. Dan sekarang aku sudah menemukannya, Juna.


"Dari semalem Bara bela-belain buat nemenin Ayah di sini. Kamu tau, dia yang nanggung semua biaya perawatan Ayah di rumah sakit," tukas ayahku.


Aku mulai kesal. Jadi cowok yang bernama Bara itu sudah menyogok keluargaku dengan rayuan baik hati dan tidak sombongnya? Bagaimapun, aku harus membuat ayah menghentikan perjodohan aneh ini!


"Ayah apaan, sih. Jangan mau dong dibawayarin orang lain buat hal-hal kayak gini. Kenapa Ayah mau berhutang budi sama cowok itu? Aku juga sanggup kok kalo cuma bayar perawatan Ayah di rumah sakit untuk beberapa hari aja."


"Ayah awalnya juga nolak. Tapi Bara kekeh buat bayarin, dan malah tempatin Ayah ke ruangan ini." Jawab ayah padaku.

__ADS_1


Aku mendecak memalingkan muka, lalu menoleh ayah lagi. "Ya, Ayah usaha dong buat nolaknya...! Lagian, bukannya Ayah sama Ibu punya cukup uang? Aku tiap bulan selalu transfer, loh. Ayah juga masih narik taksi, Ibu juga masih jualan, kan?"


Setiap akhir bulan aku memang selalu menjatah kedua orang tuaku. Aku mengisi rekening ibu sebesar dua sampai tiga juta per bulannya. Aku juga rutin menitipkan uang jajan mingguan untuk Lusy. Yah, walaupun itu seratus atau dua ratus ribu saja, tapi aku ikhlas memberikannya ke keponakan tercintaku itu.


"Ya, emang.... Tapi uangnya dipinjem Tante kamu," ungkap ayah membuatku sedikit terkejut keheranan.


Tanteku? Maksudnya pasti adik perempuan ayahku itu, Tante Tari.


"Ya, tapi kan nggak mungkin dipinjem semua kan, Yah? Emang Tante Tari buat apaan, sih?"


"Ayah nggak tau. Katanya sih buat modal usaha. Tapi nggak tau usaha apa." Jawab ayah membuatku menghela napas berat.


Tante Tari, adik ayahku itu adalah seorang perawan tua. Usianya hampir menginjak empat puluh tahun, tapi aku juga tak kunjung dapat kabar kalau dia mau menikah.


"Kamu juga. Nenek ngomel terus ke Ayah gara-gara kamu nggak pernah jenguk Nenek di rumahnya. Dia ngomong yang enggak-enggak ke Ayah. Katanya yang kamu lupa diri, lah, kamu yang nggak sayang sama keluarga, lah."


Aku merungut terdiam mendengarkan ocehan ayahku itu. Sejak kecil aku memang tidak dekat dengan nenekku. Dia galak dan aku tidak menyukainya.


Sebenarnya, aku menghormati ibu dari ayahku itu. Tapi karena sebuah kesalahannya yang membuatku masih sakit hati sampai sekarang, aku jadi tidak respek. Namun aku juga mencoba memaafkan kesalahan itu.


Nenek pernah menuduhku dan ibu. Aku dapat cerita dari Karina dan ibuku kalau saat ibu ketawan hamil diriku, nenek menghasut ayah jika bayi yang dikandung ibuku itu bukan anaknya. Mereka tentu tidak mengarang cerita. Untuk apa cerita seperti itu dikarang?


Tapi syukurnya, ayah mampu membentengi dirinya untuk selalu percaya pada istrinya. Ayah juga merasa jika ibu hamil itu karena ulahnya. Dan pada akhirnya nenek tetap mengotot. Hingga aku dilahirkan, aku langsung dites DNA dengan ayahku agar nenek percaya jika aku ini cucu kandungnya.


Tuduhan nenek sangat tidak berdasar. Ibuku adalah wanita baik-baik. Entah apa yang dipikirkan nenek. Tapi menurut prasangka Karina dan ibu, nenek hanya ingin ayah berpisah dengan ibu lalu kembali tinggal bersama nenek untuk menafkahinya. Jika itu benar, itu sungguh keterlaluan.


"Ya udah, ya udah. Ntar aku jenguk Nenek deh ke rumahnya." Dan dengan berat hati, aku pun mengatakan itu.


"Terus gimana, Yah? Pokoknya aku menolak dijodohin! Aku tu udah punya calon sendiri, Yah. Dan aku cuma mau sama dia, nggak ada yang lain!" tegasku pada ayah.


"Siapa...? Pasti cowok nggak jelas, kan? Ayah nggak mau ya kamu sampai salah pilih. Cukup kakakmu itu yang bikin Ayah puyeng. Tapi alhamdulillah si Bimo udah maju sekarang."


"Pilihan Sophia nggak bakalan ngecewain Ayah sama Ibu. Sophia bisa pastiin," ujarku pada ayah.


"Dia kerjanya apa? Kalo pengangguran, Ayah langsung no nih, ya."


Aku tau kenapa ayah tampak posesif soal laki-laki yang mau berhubungan denganku. Dia pasti tak ingin hidupku tak sejahtera nantinya. Orang tua mana yang ingin anaknya menderita setelah menikah? Apalagi jika anaknya itu perempuan.


"Dia sekarang masih kuliah, Yah." Jawabku sebenarnya gugup.

__ADS_1


"Masih kuliah? Jadi calonmu itu mahasiswa?" Ayah melebarkan mata tampak sedikit..., aku tidak bisa menjelaskan reaksinya. "Sophia, jadi mahasiswa itu nggak menjamin kesuksesan. Mendingan kamu sama Bara aja. Masa depannya udah jelas karena dia tentara. Dan apa itu pilihan kamu? Masa depannya masih di ambang-ambang yang nggak pasti."


Tidak! Aku yakin Juna akan sukses nantinya. Kepribadian dan latar belakang keluarganya sangat meyakinkanku. Masa depan Juna pasti luar biasa sekali.


"Enggak, Yah. Pokoknya Sophia tetep menolak dijodohin. Entah itu sama Bara yang tentara, sama dokter, pilot, polisi, atau sama pahlawan sekalipun. Sophia bakalan buktiin kalo pilihan Sophia ini yang terbaik buat Sophia."


Ayahku tampak terdiam sebentar. "Oke, Ayah nggak akan paksa kamu buat dijodohin sama Bara. Tapi kamu harus kenalin ke Ayah soal pacar kamu yang mahasiswa itu. Secepatnya!" suruh ayah membuatku..., semangat, lah!


Baiklah, aku akan buktikan jika Juna Raja Semesta itu adalah sosok pangeran berkuda yang paling tepat untukku. Lihat saja nanti, ayah, bahkan ibu dan Karina, mereka semua pasti jatuh hati dengan Juna.


"Oke! Sophia bakalan bikin Ayah kicep sama pilihan Sophia ini!" Aku menatap ayah dengan senyum kernyih percaya diri.


"Dan kalo kamu gagal, kamu harus mau Ayah jodohin sama Bara!" ancam ayahku.


Tapi, aku masih percaya diri. Aku tersenyum menyodorkan tangan kananku ke ayah. Ayah pun dengan tingkah laku percaya dirinya juga tersenyum remeh menjabat tanganku. "Deal," kata kami bersamaan.


***


Aku masih di ruang kamar rumah sakit itu. Aku tertawa kecil bercanda dengan ayah yang sudah lama tak kutemui. Laki-laki paruh baya dengan senyum manis itu terlihat bergembira sekali melihat putrinya yang kini tengah bersamanya.


Satu menit. Dua menit. "Oh, iya. Bara mana? Jangan-jangan nungguin di luar? Kamu suruh masuk, gih." Ayah memerintahku.


Karena keasikan mengobrol, kami jadi melupakan laki-laki itu. Batinku tertawa. Semoga Bara merasa bete karena dikacangin sama aku dan ayah. Jadi aku tak perlu repot-repot menolak perjodohan ini. Bara pasti sedikit kesal denganku. Dan ya, dia pun bisa menolak perjodohannya.


Tapi sepertinya tak semudah itu. Bara tampak santai memainkan ponselnya duduk di kursi depan ruangan opname ayah. Saat aku menyuruhnya untuk masuk, dia malah tersenyum ramah padaku.


Kami bertiga pun sekarang berkumpul di ruangan VIP itu. Tapi sebenarnya itu tidak bisa dikatakan ruangan VIP, sih. Di sana hanya ada dua kursi jaga, televisi, dan laci sedang, juga kipas angin. Perabotannya kurang lengkap jika dibilang ruangan VIP.


"Oh, iya. Ayah mau makan? Itu Sophia bawain makanan dari rumah, loh," kataku menoleh sebentar rantang putih yang kutaruh di atas laci kayu setinggi setengah meteran di sana.


Ayah tersenyum. "Nanti aja. Tapi kamu sama Bara kalo mau ke luar makan dulu silakan. Ayah di sini sendiri nggak pa-pa, loh."


Aku mendadak canggung menoleh Bara, lalu menoleh ayahku lagi. "Baru jam setengah 11 kok, Yah. Nanti Sophia makan siang di rumah aja."


"Ngapain? Kamu di sini aja sampe sore nemenin Ayah. Sekalian kamu bisa akrab sama Bara. Ya kan, Bar?"


Bara hanya tersenyum malu.


Cih. Ayah menyebalkan. Ayah kan tau kalau aku punya pacar, tapi kenapa dia bicara seolah membuat Bara punya kesempatan besar? Semoga laki-laki itu tak benar-benar mau dijodohkan denganku.

__ADS_1


Aku jadi heran. Setauku, banyak tentara yang suka mengenal gadis-gadis lewat media sosial, facebook contohnya. Tapi Bara ini, dia kelihatan lugu sekali.


Aku diam tak bisa menjawab ayahku. Memang apa yang harus aku katakan? Jika memang ada kesempatan untukku akrab dengan Bara, aku akan memberitahu laki-laki itu kalau aku sudah punya pacar. Dia pasti akan mengerti, kan? [ ]


__ADS_2