
Aku dan Rama saling diam. Suasana mulai canggung. Kami masih duduk berdua di kursi kayu itu.
"Sejak kapan lo berbaur sama anak-anak panti sini?" tanyaku pada Rama memecah keheningan.
Rama menolehku. Dia diam sebentar. "Sejak gue tau kalo gue pernah tinggal di sini."
"Maksud lo?" Aku bingung menautkan alis menatap Rama.
"Lo inget kan waktu pertama gue sama lo ketemu?"
Aku mengangguk.
"Waktu itu gue abis cekcok sama Oma." Rama menunduk, dia tampak sedih. Dan lalu, dia tersenyum pahit menatapku. "Oma bilang, dia nyesel pungut gue dari panti asuhan ini."
"Dan waktu itu juga, gue baru tau kalo gue ini bukan anak kandungnya Oma."
Sungguh, semua tentang Rama begitu menyayat. Aku merasa iba. Dia terkesan tegar dan kuat dengan semua beban hidupnya. Tapi mungkin, dia juga sebenarnya rapuh di dalam.
"Apa karena itu lo manggil ibu lo sendiri dengan sebutan Oma?" tanyaku.
Rama mendecak. "Enggak. Gue panggil ibu gue dengan sebutan Oma udah lama. Sejak Leo lahir. Tujuannya sih supaya si Leo anggep gue kakaknya."
Aku mengangguk. Tapi kenapa Oma Laras tega sekali bilang seperti itu pada Rama? Selama ini yang aku lihat, Oma Laras itu terlihat begitu menyayangi Rama. Kalaupun Rama memang bukan anak kandungnya, seharusnya dia juga tak berbicara seperti itu.
"Woi!" seru Rama memecah lamunanku. "Kenapa lo?"
"Nggak pa-pa." Jawabku. Satu detik. Dua detik. "BTW, kenapa Oma Laras bisa ngomong kayak gitu ke lo? Dia nggak mungkin kan jahat sama lo? Gue lihatnya ibu lo itu wanita yang lembut, sabar, juga penyayang."
Rama mengerucut bibir. "Mungkin dia emosi gara-gara gue nggak bisa diatur," gumamnya.
Aku sedikit memicing. Mungkin kepribadian Rama yang pemberontak itu membuat Oma Laras marah. Dan wanita itu jadi geram juga tak sadar sudah melontarkan kata-kata menyakitkan untuk Rama. Itu kesimpulanku.
Kami saling membisu lagi. Sepuluh detik. "Oh, ya. Mana kalung gue?" Tangan kananku menengadah ke depan Rama.
"Kalung apaan?" Rama berkelakar.
"Kok kalung apaan, sih? Cepetan balikin kalung gue!" seruku.
"Syaratnya kan belum selesai. Nanti kalo udah selesai baru deh gue balikin kalung lo," ujar Rama padaku.
***
Aku dan Rama kembali ke gazebo.
"Udah selesai makannya?" tanya Rama pada anak-anak panti.
"Udah, Kak." Jawab salah seorang anak laki-laki tersenyum.
"Kak Rama, main gitar, dong...."
"Iya, udah lama Kak Rama nggak nyanyi buat kita."
"Ayo Kak nyanyi...."
Anak-anak itu berseru mememohon pada Rama.
"Lo bisa main gitar sama nyanyi?" tanyaku tersenyum menggoda Rama.
"Bisalah." Jawab Rama songong.
"Idih...." Aku mencibir.
Rama mengambil sebuah gitar cokelat yang bersandar di sisi gazebo itu. Dia tersenyum seolah gitar itu begitu spesial. Atau dia memang sangat suka bermain gitar?
"Kalian mau Kak Rama nyanyi lagu apa?" tanya Rama pada anak-anak itu.
Anak-anak itu menolah-noleh menatapi satu sama lain.
"Lagu romantis, Kak!" seru salah seorang anak perempuan. Dia kemudian menatapku tersenyum. "Kak Rama nyanyiin lagu romantis buat Kak Sophia."
Aku mengerjap. "Kok gitu, sih? Kak Rama kan mau nyanyi buat kalian. Bukan buat Kakak." Aku bergumam pada kalimat terakhir.
"Nggak pa-pa. Kak Sophia kan pacarnya Kak Rama, jadi Kak Rama nyanyinya buat Kak Sophia aja," tukas salah seorang anak itu.
"Iya setuju!" seru salah seorang anak lainnya.
"Tapi-"
"Udah turutin aja," sela Rama memotongku.
Aku pun mengalah. Rama mulai memetik senar gitar itu membuat sebuah intro musik. Dia juga mulai menatapku.
When you were here before
Couldn't look you in the eye
You're just like an angel
__ADS_1
Your skin makes me cry
You float like a feather
In a beautiful world
I wish I was special
You're so fuckin' special
But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
I don't care if it hurts
I wanna have control
I want a perfect body
I want a perfect soul
I want you to notice
When I'm not around
You're so fuckin' special
I wish I was special
But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here, oh, oh
She's running out the door
She's running out
Run...
Whatever makes you happy
Whatever you want
You're so fuckin' special
I wish I was special
But I'm a creep
I'm a weirdo
What the hell am I doing here?
I don't belong here
I don't belong here
(Creep oleh Radiohead)
Batinku terperangah. Aku melihat tatapan dalam Rama menusuk wajahku. Ketika dia melantunkan lagu itu, rasanya seperti curhat.
Lagu lawas itu dinyanyikan Rama begitu lembut bertolak belakang dengan penyanyi aslinya yang terkesan ngerok. Aku tau lagu itu.
Anak-anak itu bertepuk tangan setelah Rama mengakhiri musiknya. Aku bergegas memalingkan mata karena Rama masih menatapku walaupun lagunya sudah selesai.
"Wah..., suara Kak Rama selalu merdu. Tapi kita nggak tau arti lagunya, Kak," celetuk seorang anak perempuan.
Rama tersenyum mengusap puncak kepala anak itu yang berada tak jauh di depannya. "Makanya, kalian harus belajar bahasa Inggris."
"Udah malem. Kalian masuk dan tidur, ya," tutur Rama pada anak-anak panti itu.
"Iya, Kak...." Mereka menjawab Rama serempak. Anak-anak itu pun berhamburan pergi.
Aku dan Rama masih di gazebo. Kami mulai canggung lagi.
"Ram, mana kalung gue? Gue juga harus pulang. Udah malem," kataku pada Rama.
Rama pun mengeluarkan dompetnya. Dia tampak menyimpan kalungku di sana. Aku tersenyum lebar menatap kalung itu. Akhirnya aku bisa memakainya lagi.
__ADS_1
"Sini!" seruku hendak merayuk kalung itu, tapi Rama menarik ulur. Aku menatap laki-laki itu cemberut.
"Seberapa berharganya sih kalung ini buat lo?" Rama menatap kalung itu remeh.
"Sangat-sangat berharga banget! Mana, siniin!" Aku menyahut kalung itu.
Aku tersenyum lega karena bisa memegang liontin kalung itu lagi. Walaupun lingkaran lehernya putus, tapi setidaknya masih bisa diperbaiki. Aku pun menyimpannya di dompetku.
"Udah?" Rama menatapku malas.
"Udah, lah. Emang mau ngapain lagi?"
"Yuk, ikut gue." Rama menarik tanganku pergi dari gazebo itu.
***
Rama mengajakku menemui seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia pengelola panti asuhan di sana.
"Mas Rama, terima kasih ya sudah menghibur anak-anak malam ini," ujar wanita paruh baya itu tersenyum ramah.
"Sama-sama, Bu." Rama tersenyum.
Wanita paruh baya itu kini menatapku. "Ini... siapa?" tanyanya menoleh Rama.
"Saya Sophia, Bu. Temennya Rama." Jawabku tersenyum.
"Oh.... Iya-iya. Terima kasih ya Mbak Sophia juga ikut menjenguk anak-anak panti sini."
"Ah, iya." Jawabku tersenyum basa-basi. Sebenarnya aku merasa tak enak hati karena tak membawa apa-apa untuk anak-anak panti itu. Ini semua mendadak karena Rama tak memberitahuku sejak awal.
"Ya sudah Bu, kami pamit dulu. Sudah malam soalnya," celetuk Rama.
"Iya-iya. Hati-hati ya Mas Rama sama Mbak Sophia," tutur wanita itu.
Aku dan Rama pun berpamit bersalaman dengan pengelola panti itu kemudian pergi.
***
"Lo ngapain senyum-senyum gitu?" tanya Rama padaku.
Kami berjalan beriringan menuju tempat parkir motor.
"Gue seneng aja lo ajakin ke sini. Gue jadi lebih ngerasa bersyukur karena punya keluarga walaupun hidup kita sederhana," ujarku pada Rama.
Rama tersenyum. "Makasih, ya. Gue juga seneng malam ini karena bisa sedikit curhat sama lo."
"Iya, sama-sama."
Obrolanku dengan Rama selesai tepat saat kami tiba di tempat parkir. Kami berdiri berhadapan.
"Sophia, gue boleh temenan sama lo?"
Aku terdiam mencoba mencerna situasi sekarang. Aku terkekeh. "Nggak usah bercanda gitu lagi kali. Nggak lucu!"
"Gue serius." Wajah Rama datar. Dia benar-benar tak sedang bercanda.
"Oke.... Boleh-boleh aja."
"Beneran? Lo mau temenan sama orang kayak gue?"
"Maksud lo?" Aku menautkan alis.
"Ya, secara lo kan udah tau soal gue, soal keluarga gue. Lo nggak ilfil gitu?"
Aku membuang napas pendek. "Ngapain juga gue ilfil? Siapa lo itu nggak penting. Yang penting kan lo itu orangnya baik. Kalo lo itu emang tampang berandalan dan jiwa lo juga berandalan, gue ya nggak mau lah temen sama lo."
"Isss...." Rama mendorong jidatku.
"Apa, sih!" Aku menatap Rama sebal.
"Terus pacar lo gimana? Dia nggak marah kan lo temenan sama gue?"
"Ngapain juga dia marah? Kita kan cuma temenan."
"Ya bisa aja kan dia salah paham terus cemburu." Rama menyindir.
"Sorry, ya. Gue sama Juna itu berkomitmen, jadi nggak ada yang namanya cemburu-cemburuan!"
Rama terkekeh. "Gue nggak percaya, tuh. Masa lo sendiri nggak pernah ngerasain cemburu kalo pacar lo deket sama cewek lain? Setau gue sih, cemburu itu tanda cinta. Kalo dia nggak cemburu berarti dia nggak cinta dong sama lo?"
Aku termenung sebentar, kemudian mendecak. "Udah deh nggak usah jadi kompor! Sana-sana pulang!" Aku mendorong-dorong Rama.
Dan, bruk. Kami berdua jatuh dengan badanku yang menimpa Rama. Telapak tangan kananku mendarat pada dada kiri Rama. Debaran jantung itu lagi, aku kali ini merasakannya sangat jelas.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Aku cepat-cepat melepas tatapanku pada Rama dan menyingkir berdiri.
"So-sorry," kataku pada Rama enggan menatapnya.
__ADS_1
Aku pun bergegas memakai helm dan mengegas Fino pergi. Rama tampak mengikutiku dengan motor ninja hitamnya. Hah, syukurlah motor itu tak hilang. [ ]