
Sudah sejak semalam aku dan Juna jadian. Hari ini aku dan dia pergi ke tempat bersejarah kami berdua. Tempat wisata itu, di mana dulu aku dan Juna bertemu untuk yang pertama kalinya.
Kami berboncengan dengan motor trail kawasaki hitam milik Juna. Kami sampai di tempat itu sekitar pukul 10 pagi. Dan kami pun menuju ke pemandangan tebing.
Aku dan Juna berdiri di sana menatap hamparan tebing yang masih sama hijaunya seperti dulu.
"Sophia, apa yang lo inget di sini?" tanya Juna menoleh menatap padaku.
"Yang paling gue inget, ada cowok nyamperin gue terus bilang cantik sambil ngelihat gue. Gue kira sih pujian itu buat gue, tapi ternyata buat pemandangannya." Jawabku kecewa.
Juna tertawa. "Kalo yang paling gue inget..., waktu itu gue lagi ngerjain tugas kampus. Gue ke sini buat foto-foto pemandangan," ungkapnya menatap hamparan tebing itu, lalu menoleh lagi menatapku.
Aku masih menyimak.
"Dan gue nggak nyangka bakalan jepret pemandangan yang indaaahhh... banget."
"Seindah itu?" tanyaku terus menatap Juna.
"Iya. Lo mau lihat fotonya?" tawar Juna padaku.
Aku tersenyum mengangguk-angguk. Juna pun mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto padaku. Seketika, aku terdiam menatap gambar itu.
"Ini, kan...." Aku menoleh pada Juna.
Juna tersenyum nakal. "Gimana? Indah, kan?"
Foto itu, adalah fotoku. Sepertinya saat aku menyibakkan tudung jaket mantel tortilla yang kupakai waktu itu, Juna berhasil menangkap gambarku dengan sempurna.
Di fotonya, aku tengah berdiri memejam mata seakan benar-benar menikmati kesegaran pemandangan di sana. Saat itu aku memang menikmatinya.
Bahkan dengan melihat foto itu, aku bisa merasakan hawa dingin yang merayap-rayap di samping-samping leherku.
Desiran halus menyerang hatiku lagi. Aku tersenyum, kemudian mendorong mendekatkan wajahku ke Juna. Juna tampak membeku di sana. "Iya, indah. Indaaahhh... banget. Sampe bikin yang ngefoto jatuh cinta!"
Juna tersenyum. Aku kembali menarik kepalaku normal, tapi Juna meraihnya cepat mendekatkan wajahku mendongak ke wajahnya lagi. Juna masih tersenyum menatapku.
"Gue kira waktu itu ada bidadari yang baru turun, loh. Tapi sayangnya..., bidadarinya cuek. Keseleo lagi."
Aku mendorong muka Juna cepat. "Gue keseleo gara-gara lo, ya! Dasar cowok modus!" Aku menyilang tangan mengerucut bibir.
Juna tertawa. "Tapi lo suka kan gue modusin? Jarang-jarang loh ada cewek yang dimodusin seorang Juna Raja Semesta!" seru Juna merentangkan kedua tangannya tepat pada kata 'Semesta'.
Aku ikut tertawa melihat tingkah laki-laki itu. Juna meraihku, lalu memeluk. Aku tersenyum juga membalas pelukannya.
Aku sangat menyukai tempat ini. Karena di sini, Tuhan mempertemukanku dengan laki-laki ini, Juna Raja Semesta.
Kami pun mengabadikan momen itu, dengan berfoto selfie bersama berlatarkan hamparan tebing hijau yang indah.
***
Aku dan Juna berjalan bergandengan tangan di dekat telaga. Hari ini hari Minggu, tempat wisata itu menjadi lumayan ramai.
__ADS_1
Aku dan Juna mencari sisi lengang pinggiran telaga, dan kami duduk di pembatasnya. Pembatas beton itu aman, asal juga harus berhati-hati mendudukinya.
"Juna," panggilku. Juna menoleh menaikkan kedua alisnya. "Aku boleh panggil kamu?"
"Kamu?" Juna sedikit bingung.
"Aku, kamu, itu jauh lebih sopan dan romantis ketimbang lo, gue," kataku.
Juna tersenyum. "It's okey. Apa sih yang nggak boleh buat kamu." Dia menekan jelas pada kata 'kamu'.
"Huekkk...!" seruku menutupi mulut sembari memalingkan muka.
"Apa, sih." Juna tertawa, dan itu menular padaku.
***
Hari ini aku dan Juna menghabiskan banyak waktu di tempat wisata itu. Kami bercanda, bergandengan, dan berjalan bersama.
Juna Raja Semesta, yang spontaneous, yang katanya cuek dengan cewek-cewek kampusnya, tapi bagiku dia adalah laki-laki yang hangat. Aku tak mengerti kenapa Juna bisa memperlakukanku sebeda itu.
Aku tidak tau apa istimewanya aku untuknya. Biarkan Juna sendiri yang menyimpannya. Dan aku yakin, suatu hari nanti dia akan memberitahuku alasannya.
Aku akan terus menjadi diriku sendiri. Dengan berpegang yakin pada ambisiku, juga tujuan hidupku. Aku tak ingin memakai topeng untuk terlihat baik dari segi apa pun di depan Juna.
Untuk saat ini dan seterusnya, aku hanya akan menggandeng tangan Juna. Aku akan setia, dan mempertahankan hubungan kami. Dan aku harap, Juna juga sama ingin mempertahankannya.
***
Aku membuka akun instagramku. Tampaknya akun De Boutique sudah mengizinkan akunku untuk mengikutinya. Aku melihat unggahan mereka. Dan iya, Juna tampaknya menjadi peraga pakaian mereka.
Aku sudah lama tak mengecek daftar pengguna yang mengirim permintaan untuk mengikutiku. Dan sekarang, aku ingin mengeceknya.
"Juna? Dia udah follow gue?" Aku menatap username junaraja_ sedikit kaget.
"Makanya dong, yang diikutin itu jangan cuma oppa-oppa ganteng aja! Pacar sendiri kirim akses nggak lo acc. Parah lo, Phi!" Mini menggeleng masih sibuk dengan ponselnya.
Aku tak menghiraukan ocehan Mini. Aku mulai mengacc akun Juna. Dan sepertinya, akun Haris juga sudah mengikuti akunku. Aku pun terus mengacc akun pacarnya Mini itu.
Sekarang pengikutku bukan hanya Mini, tapi juga ada Juna dan Haris. Cuma 3 orang itu, tapi setidaknya bertambah, kan?
Aku juga tak pernah mengekspose sesuatu di instagram. Jadi daftar unggahanku kosong.
Lima menit. Tling. Sebuah pesan dari Juna masuk.
Juna : Cie..., baru add akun pacarnya, nih....
Aku tersenyum.
Sophia : Aku baru tau kamu follow. He he....
Juna : Padahal udah lama.
__ADS_1
Sophia : Oh, ya? Kenapa nggak DM?
Juna : Nungguin kamunya peka sendiri.
Aku tertawa.
"Lo kenapa sih, Phi? Senyam-senyum. Kek orang sinting tau nggak?" Mini mengataiku.
Aku tersenyum menoleh Mini. "Kan kata lo cinta itu emang sinting."
Mini mendesah. "Susah deh ngomong sama orang yang lagi kasmaran."
Mini melempar bantal ke mukaku, lalu beranjak pergi keluar kamar.
Aku tak memperdulikan Mini, terus kembali mengetik pesan untuk Juna. Tapi sebelum aku selesai mengetik pesan itu, tiba-tiba banyak notifikasi instagram masuk ke akunku. Aku cepat-cepat memeriksanya.
Aku tidak tau apakah ini efek mengikuti akun Juna. Tapi sepertinya, beberapa dari followers Juna juga mulai mengirimiku permintaan akses.
Aku kembali mengecek akun instagram Juna. Tampaknya followers Juna terus bertambah. Terakhir kali aku tau ada sepuluh ribuan pengikut. Dan sekarang, sudah ada tiga puluh ribu lebih pengikut.
Notifikasi permintaan mengikuti terus bermunculan. Aku memilih untuk mengabaikannya. Nanti jika aku bertemu Juna lagi, aku akan meminta sarannya tentang ini.
***
Aku sudah berada di kantor. Aku berangkat lebih awal karena terlalu semangat dengan statusku sekarang. Tak kusangka, memiliki seorang kekasih di sampingku akan semenyemangatkan ini.
"Pagi, Bu Sophia," sapa Adi tiba-tiba menghampiriku di meja kerja.
"Pagi, Pak Adi." Balasku tersenyum menyapa.
Kantor masih sepi. Di ruang sekretariat hanya ada aku dan Adi. Hari ini aku benar-benar kepagian. Mini tadi juga sempat menggodaku karena terlalu bersemangat.
"Kamu kok tumben pagi banget?" tanya Adi padaku.
Aku cepat-cepat mencari alasan. "Hari Senin, Pak. Masih fresh."
Adi tertawa kecil, lalu tampak celingak-celinguk. Aku pun memperhatikan laki-laki itu sedikit aneh.
"Sophia," panggil Adi padaku. Kenapa dia memanggilku seperti itu? Ini di kantor, dan bisa gawat kalau ada yang tau aku dan Adi seinformal itu. "nanti siang kamu bisa temenin saya ke mall nggak?" sambungnya.
"Ke mall?" Aku terkejut. "Ngapain, Pak?" tanyaku berakhiran sedikit merasa tak enak karena tampak tak sopan.
Adi tersenyum. "Saya mau beli baju buat Mama saya. Sebentar lagi dia ulang tahun. Apa kamu bisa temenin saya pilih bajunya?"
Aku dilema. Sekarang sudah ada hati yang harus kujaga. Tapi Adi, aku juga tak bisa menolaknya karena dia termasuk atasanku.
"Gimana, Sophia?"
Aku berpikir sebentar. "Iya, Pak. Nanti saya temenin cari baju buat Mama Pak Adi." Aku tersenyum.
Adi hanya meminta itu. Dan aku sangat respek karena dia tampak sayang dengan ibunya. Dan semoga, Juna bukan tipe orang yang cemburuan karena aku ke mall bersama Adi. [ ]
__ADS_1