
Aku dan Bunda Aulia masih berpelukan di sofa ruangan itu. Satu detik. Dua detik.
"Loh, kok pada pelukan nggak ajak-ajak Juna, sih?" Suara Juna pun mengejutkanku dan Bunda Aulia.
Juna mendadak masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu. Dia berjalan menghampiri kami, aku dan Bunda Aulia. Dan kemudian, "Good morning, everyone...," sapa Bunga yang mendadak juga muncul.
Bunga menatapku terkejut dengan ekspresi ternganga. "Kak Sophia? Ya ampun..., kok bisa pas gini, sih?" Dia pun ikut menghampiri kami juga duduk di sofa itu.
Dan sekarang di ruangan itu ada aku, Bunda Aulia, Juna, juga Bunga.
"Ini pada ngapain kok ke sini semua?" tanya Bunda Aulia menoleh anak-anaknya.
"Juna mau nyelesaiin tugas kampus di rumah temen, Bunda. Tapi mampir ke sini dulu...." Jawab Juna kemudian menatapku tersenyum.
"Iya-iya..., ke sini dulu ngapelin sang pujaan hati," celetuk Bunga mencandai kakaknya.
Bunda Aulia tertawa kecil. "Ya udah, sana berangkat. Selesain tugas kampusnya dulu, baru nanti Bunda izinin main sama Sophia."
"Siap, Bunda...." Jawab Juna terus berpamit mencium tangan ibunya.
Tiba-tiba Juna juga menyodorkan tangannya padaku. Aku menatap laki-laki itu bingung. "Calon Istri, aku pergi nugas dulu, ya," ucapnya padaku.
"Ayo dong Kak Sophia, calon suaminya udah nunggu buat disalamin, tuh," celetuk Bunga lagi tampak menahan tawa.
Juna ini ngelawak atau gimana, sih? Aku kan jadi malu sama Bunga juga ibunya.
Aku menjabat tangan Juna pelan-pelan juga ragu. Juna yang tak sabaran itu langsung menyambar tanganku dan menciumkan punggung tangannya ke bibirku. Aku hanya bisa diam sedikit membelalak terkejut.
"Assalamu'alaikum," pamit Juna tersenyum, lalu bergegas pergi.
***
Aku dan Bunga berjalan bersama di pinggir trotoar jalanan itu. Kami hendak membeli minuman boba yang kata Bunda Aulia tak jauh dari butiknya.
"Bunga, kamu kok tinggi banget, sih? Kamu baru kelas 9 SMP, kan?"
Bunga tersenyum padaku. "Aku 165 senti. Emang Kak Sophia berapa?"
"165 senti? Kamu mau jadi model? Kakak cuma 160, loh. Kamu tau kalo rata-rata tinggi orang Indonesia cuma 159 senti?" Aku kagum.
Adiknya Juna itu selain cantik juga punya pawakan yang bagus. Anak-anak Bunda Aulia dan Ayah Rei memang bibit unggul semua, deh. Ha ha.
Bunga tertawa. "Iya, aku mau jadi model. Model butiknya Bunda...." Jawabnya.
Aku tertawa kecil. "Itu juga salah satu peluang buat kamu."
Gadis itu pun tertawa lagi.
"Kak Sophia," panggil Bunga.
Aku menoleh pada gadis itu.
"Selain Kak Juna, Kakak suka apa?"
"Hah? Maksud kamu apaan, sih?" Aku sedikit bingung juga tertawa kecil mendengar pertanyaan Bunga itu.
"Ya maksudnya, hobi Kak Sophia itu apa aja?" Bunga mencoba memperjelas pertanyaannya padaku.
"Hm..., Kakak suka gambar, nulis," Aku tersenyum melirik Bunga. "suka kamu juga," tambahku.
Bunga tertawa kecil lagi menatapku. "Selain itu? Ayolah, Kak...."
"Apa, ya? Korea-koreaan mungkin." Jawabku.
"Wah, bau-bau K-Popers, nih...." Bunga menggodaku.
"Emang kamu enggak?" tanyaku balik menggoda Bunga.
Gadis itu mendecak. "Ya tentu..., iyalah!"
Dan kami tertawa bersama lagi. Aku dan Bunga masih berjalan pelan menuju kedai boba. Kami larut dalam obrolan sampai tak merasa sudah berjalan cukup jauh. Kedai minuman itu juga tak kunjung kami temukan.
"Kak Sophia, kapan-kapan main ke rumah dong temenin aku bikin video youtube," pinta Bunga padaku.
"Loh, kamu ngekonten di youtube?" tanyaku terkejut.
Bunga mendecak. "Kak Sophia nggak tau? Ayolah, Kak. Calon adik iparmu ini kan, calon youtuber sukses!"
"Oh, ya? Aku beneran baru tau, loh. Kakakmu juga nggak ngomong apa-apa soal adiknya yang jadi youtuber," ungkapku pada Bunga.
__ADS_1
Juna memang tak pernah bercerita panjang lebar tentang adiknya padaku. Tapi, Juna juga tak pernah kok menjelek-jelekkan adiknya itu di depanku. Justru, kadang-kadang dia menggunakan Bunga sebagai latar belakang gombalannya untukku.
"Kak Juna mah emang nggak pernah promosiin aku. Nyebelin banget dia," oceh Bunga memasang wajah cemberut membuatku tersenyum gemas melihatnya.
"Oke, deh. Kalo ada waktu senggang nanti Kakak temenin kamu bikin video youtube. Emang konten kamu apa aja?" tanyaku pada Bunga.
"Suka-suka aku aja sih, Kak. Paling kalo nggak dance, ya nyanyi, nge-vlog, atau video ngelukis." Jawab Bunga.
Aku mengangguk. Ternyata adiknya Juna itu punya banyak bakat. Sepertinya dia punya genre yang berbeda dari anak-anak lain seusianya. Aku bisa menilainya mulai dari penanpilan gadis itu yang terkesan girly tapi tak pasaran.
Juna dan Bunga, sepertinya mereka dididik sangat baik oleh kedua orang tuanya. Tuhan kelihatan sayang sekali pada keluarga mereka. Apa aku salah jika punya sedikit perasaan cemburu? Tapi aku juga bahagia bisa mengenal mereka.
"Kamu bisa dance?" tanyaku.
Bunga tersenyum, kemudian menatapku memicing. "Nggak cuma dance, aku juga bisa nge-rap. All rounder deh pokoknya, kayak Jennie Blackpink," kata Bunga membuatku tertawa.
"Jennie Blackpink? Kamu juga suka dia?"
"Kakak juga suka?" Bunga melebarkan matanya padaku.
Aku mengedikkan bahu. "Kenapa enggak?"
"Mantap deh, Kak Sophia. Pokoknya nanti kita harus dance Boombayah barengan!" seru Bunga padaku.
"Kok, jadi dance Boombayah barengan, sih? Kakak nggak bisa nge-dance."
Bunga tertawa terus berlari kecil meninggalkanku. Aku pun ikut berlari kecil menyamai kecepatan gadis itu. Satu menit. Dua menit. Kami pun sampai di kedai boba itu.
***
Di kedai minuman boba...
Aku duduk menyendiri memperhatikan Bunga di salah satu meja kursi yang disediakan di tempat itu. Bunga tengah mengantre memesan beberapa minuman untuk kami dan orang-orang di De Boutique. Tadi Bunda Aulia menyuruh untuk juga membelikan pegawai-pegawainya.
Lima detik. Sepuluh setik. Mendadak seseorang tersandung meja depanku membuat minuman yang dibawanya menumpahi bajuku.
Aku tesentak kaget juga membelalak melihat blazer kremku ternodai minuman berwarna cokelat itu.
"Sorry-sorry, aku nggak sengaja," ujar orang yang menumpahkannya membuatku menoleh.
Dinda? Aku melebarkan mata menatap gadis itu masih terkejut.
Aku masih terdiam menatap Dinda. Aku tidak yakin jika gadis itu tak sengaja tersandung dan menumpahkan minumannya ke bajuku. Ekspresinya sangat berbohong sekali.
Satu detik. Dua detik. Dinda mendadak basah kuyup di sana. Bunga, gadis itu baru saja menyiramkan segelas penuh boba brown sugar ke wajah Dinda.
Bunga tersenyum menatap Dinda yang masih beraut muka terkejut itu. "Sorry, aku nggak sengaja."
Orang-orang di sana mulai memperhatikan kami. Aku masih diam. Dinda pun mulai memasang wajah marah ke Bunga. Dan Bunga, dia terlihat santai sekali.
"Maksud kamu apa siram-siram saya?" tanya Dinda pada Bunga.
"Saya kan udah bilang, saya nggak sengaja." Jawab Bunga tersenyum.
Dinda terdiam.
"Mbak, minumannya ini yang bayar dia, ya," ujar Bunga sedikit memekik pada penjual minuman boba seraya menunjuk Dinda.
Lalu, Bunga menarik tanganku membawaku pergi dari tempat itu.
***
"Bunga, kamu nggak boleh kayak gitu. Dia temen kampusnya kakakmu, loh." Aku melepas blazerku yang basah melipat menyampirkannya ke lengan kiriku.
Kami berjalan pelan di halaman depan kedai boba itu menuju gerbang keluar.
Bunga terkekeh. "Terus kenapa? Dia tu nyebelin banget. Namanya Dinda, kan?"
"Kok, kamu tau?" tanyaku pada Bunga.
Bunga mendesah. "Taulah, Kak. Dia kan pernah ke rumah sama temen-temen kampusnya Kak Juna yang lain," jelas gadis itu.
Aku dan Bunga masih berjalan kembali ke De Boutique. Kami tak jadi membeli minuman karena tragedi siraman es boba.
"Dia sok deket banget sama Kak Juna. Mana temen-temennya kelihatan suka godain lagi. Aku juga udah lihat video di Sunny Cafe. Cewek itu nggak tau diri banget."
"Video di Sunny Cafe?" Aku menautkan alis menatap Bunga.
Bunga mendadak tersenyum menyeringai padaku. "Darimu kutemukan cinta.... Arti kasih dan sayang...," seru Bunga bersenandung.
__ADS_1
Aku mendadak tersenyum. "Oh..., video itu."
"Iya, video itu. Bunda sama Ayah juga udah nonton, loh," ungkap Bunga padaku.
"Hah? Serius?"
Bunga mengangguk. "Aku ngakak banget waktu itu. Seharian penuh Kak Juna kena goda Bunda sama Ayah loh, Kak."
Aku hanya bisa tertawa kecil mendengar cerita adiknya Juna. Aku pikir, Bunga sedikit tau tentang kepribadian Dinda yang memang sedikit mengesalkan lewat video di Sunny Cafe kala itu. Lebih baik aku diam dan membiarkan Bunga menilai Dinda sesuai apa yang dia mau. Asal itu benar dan tidak keterlaluan.
***
Aku dan Bunga sampai di De Boutique. Dan kebetulan sekali, Juna tampak baru sampai di parkiran butik itu tengah melepas helmnya.
"Loh, kalian abis dari mana?" tanya Juna padaku juga Bunga.
"Niatnya sih mau beli es boba, tapi nggak jadi." Jawab Bunga pada kakaknya.
"Kenapa kok nggak jadi?" Juna penasaran. Kemudian, dia memperhatikanku. "Itu juga kenapa baju kamu kelihatan cokelat-cokelat?" tanyanya padaku.
Blazer kremku memang basah terkena tumpahan minuman cokelat milik Dinda tadi. Tapi syukurnya, kemeja polos biru muda yang juga kupakai tak ikut basah karena minuman itu. Walaupun, kemeja itu sedikit terkena cipratan noda minumannya.
"Ah, ini tadi nggak sengaja kena tumpahan es orang." Jawabku pada Juna.
"Nggak sengaja apanya? Aku tadi sempet lihat dia sengaja kok numpahinnya," sela Bunga menyangkalku.
"Ini pada bahas apa, sih?" Juna tampak bingung menatap Bunga, lalu menatapku.
"Itu si Dinda temen kampusnya Kakak. Bikin orang emosi tau nggak. Aku siram aja tu mukanya pake boba brown sugar. Biar otak sama akhlaknya jadi adem," jelas Bunga ke Juna.
"Oh, ya?" Juna melebarkan mata tersenyum menyeringai menatap Bunga.
"Yes. She's so really bad!" Bunga memutar bola matanya, lalu berjalan pergi meninggalkan kami.
Juna menatapku memicing mata keheranan. Aku membalas laki-laki itu dengan mencebik bibir mengedikkan bahu. Kemudian, kami tertawa kecil bersama.
"Sophia, kamu mau ikut aku ke tempat spesial?" tawar Juna tiba-tiba.
"Ke mana?" tanyaku.
Juna tersenyum, kemudian menggandeng tanganku pergi.
***
Aku sedikit terkagum setelah sampai di tempat spesial yang Juna maksudkan. Di atap gedung butik itu, di sana dibuat sebuah teras kecil dilengkapi tempat duduk juga meja. Di sana juga dipasangi bohlam besar di setiap sudutnya.
Juna kembali menggandengku mengajak duduk di sebuah kursi besi bercat hitam.
"Sophia, kamu tau kalo tempat ini sangat indah jika malam hari?" tanya Juna menoleh menatapku.
"Enggaklah." Jawabku memposisikan duduk nyaman menatap Juna lekat. "Kalo katamu malam hari di sini indah, seharusnya kamu ajak aku ke sini pas malam aja."
"Oke, tapi kapan-kapan aja. Aku cuma mau kasih tau kamu soal tempat ini," kata Juna padaku.
Aku tersenyum.
Juna membelai rambutku pelan. "Sophia, apa Dinda suka gangguin kamu?" tanyanya menatapku.
"Enggak. Tadi aja cuma kebetulan kok ketemunya."
"Kalo dia gangguin kamu, siram aja pakai boba brown sugar. Kata Bunga, biar otak sama akhlaknya adem, kan?"
Aku tertawa kecil. "Hus..., nggak boleh tau kayak gitu. Tapi Bunga berani banget loh dia."
Juna tersenyum. "Adikku itu memang begitu. Dia keren kan kayak kakaknya!? Kamu tau kalo dia pernah pukulin tukang parkir di pasar?"
"Oh, ya? Kok bisa?" Aku melebarkan mata pada Juna.
"Karena Bunda digodain tukang parkirnya." Jawab Juna padaku.
Aku diam sebentar. "Bunda sama adikmu itu memang cantik. Kamu harus jagain mereka."
"Dan aku juga harus jagain kamu," timpal Juna padaku.
Aku tersenyum. Kami berdua terus melanjutkan mengobrol di sana. Aku bercerita sedikit tentang Bunda Aulia yang akan mempromosikan desain bajuku ke tokonya pada Juna. Juna juga sedikit bercerita tentang beberapa hal konyol yang dialaminya akhir-akhir ini padaku.
Kami berdua tertawa dan tersenyum bersama di sana. Aku tau jika kebahagiaan itu akan ada masa berakhirnya. Tapi untuk apa aku memikirkan itu. Sekarang aku hanya harus memanfaatkan saat ini dengan baik.
Aku tidak tau apa yang akan direncanakan Tuhan untukku di waktu ke depan. Aku hanya perlu menikmati setiap momennya, juga perlu berhati-hati. [ ]
__ADS_1