Stunning My Life

Stunning My Life
Ingin Memiliki Sesuatu


__ADS_3

Malam ini aku berkutat dengan pensil dan kertas-kertas gambar. Aku mulai menarik garis-garis tipis membenarkan sketsa baju yang baru saja kubuat. Besok pagi aku harus menyerahkan lima inovasi rancangan blouse kepada Bunda Aulia.


"Phi, lo lihat IG deh sekarang!" seru Mini tiba-tiba. "Omaigat!" Dia menatapku dari atas kasur tersenyum lebar membulat mata.


Aku segera meraih ponselku. Aku masih duduk di kursi meja belajar, kemudian melakukan apa yang diperintahkan Mini.


Aku menggeser layar beranda instagaramku ke atas. Tepat di urutan ketiga aku melihat sebuah unggahan ganda akun Juna.


Foto pertama menampilkan adegan Juna mengalungkan tangannya ke pinggangku. Walaupun gambarnya full body dan ditangkap dari samping, tapi ekspresi kami terlihat jelas. Juna menatapku intens, dan aku tersenyum juga menatap laki-laki itu. Tanganku berpegangan pada lengan atasnya.


Foto kedua menampilkan adegan yang tak kalah romantis. Juna memelukku. Walaupun itu sudah terabadikan dengan potret, tapi aku masih bisa merasakan kehangatannya.


Dan slide ketiga, slide terakhir. Di sana Juna menangkup wajahku tersenyum begitu ceria. Tanganku memegang lengannya. Ekspresiku mendongak menatap Juna dengan senyum simpul.


Belajar foto prewed bareng @justsophia_, tulis Juna di caption dengan lambang hati di akhirannya.


Aku tersipu. Tersenyum-senyum mendapati unggahan itu. Kakiku menggedruk-gedruk ke lantai. Ah, aku meleleh.


"Girang banget lo, Phi," celetuk Mini padaku.


Aku tak merespon, hanya tersenyum mengetuk-ngetuk unggahan Juna berkali-kali hingga gambar love warna pink terus bermunculan di tengah-tengah foto itu.


Mini terbahak. "Coba deh lo lihat komen-komen netizen. Sumpah kocak!"


Dan aku juga memang sudah penasaran bagaimana reaksi fan-fan Juna setelah melihat posting-an idolanya itu. Aku pun segera mengeklik logo komentar.


nana.gulali : Potek sudah hatiku. Ternyata benar Bang Juna udah punya pacar. Hu hu....


lhpsr_ : Wih..., akhirnya di up ke publik. Jadi kapan nih sahnya?


nawang.tuti : Eh, bentar-bentar. Kok style-nya mirip Goblin ama pengantinnya, ya? Wkwk. Background nya bagus banget...! Foto di mana, Kak? Nggak lagi di Korea beneran, kan?


netijen.nggakjulid : Beruntungnya si Embak. Gue jadi ngiri.


istrisahnyaleeminho : Aku melihat Goblin dan Ji Eun Tak berpelukan di sana.


fitri_rembulan : Belajar foto prewed? Udah mau nikah, kah???


mimiperi.mungil : Ternyata kamu beneran selingkuhin aku ya, Mas? Aku jijik sama kamu! Jijik!!! #cumabercanda


Sontak aku cekikikan. Astaga, orang-orang medsos lucu sekali. Tak sampai di situ saja, aku terus mengeksplor komentar-komentar itu.


dndsn.spam : Ceweknya murahan banget mau dipeluk-peluk gitu.


Balasan untuk dndsn.spam dari mitami_ : Perasaan ni akun komennya hujatan mulu, deh.


Balasan untuk dndsn.spam dari claudiariana : Orang cerdas kalo ngomong suka salah. Eh???


aprilla.mcqueen : Jadi beneran @justsophia_ ini pacarnya si Juna, ya? Dia cantik, tapi kenapa akunnya seprivasi itu?


taracantika_ : Aduh... bikin cembokur aja. Serasi banget kalian...! Hu hu.


Nandonat.donatnat : Jadi kapan nih prewed benerannya? Aku selalu nunggu konten upload-an kamu, loh. @junaraja_


ylsls_ : Gue yakin bentar lagi putus. Wkwk. #merekamasihpacaran


nia.rmdhn : Semoga langgeng ya sampe ke pelaminan. Amin....


Aku membuang napas tersenyum tipis. Reaksi fan-fan Juna tak terprediksi. Ada yang open dengan hubungan kami mendoakan sesuatu yang positif, ada yang sekedar bertanya-tanya, ada juga yang menulis kalimat buruk. Tapi sudahlah, biarkan saja.


Aku mengeklik opsi profil. Aku mulai mengganti foto profil instagramku. Aku memasang sebuah selfie yang menurutku terkesan manis. Dan lalu, aku mengunggah sebuah foto.


Aku tak menulis keterangan apa pun. Aku mengekspose sebuah gambar di mana aku dan Juna berpegangan tangan. Aku dan Juna tertawa dengan tubuh menghadap kamera. Aku menatap kamera itu, tapi Juna menoleh ke kanan menatapku. Foto itu seperti candid.


Selang beberapa menit, unggahanku mulai bertaburkan like dan beberapa komentar. Dan lagi, permintaan mengikuti juga berdatangan.


Tling. Sebuah pesan masuk dari Juna mulai kubaca.


Juna : Cie..., posting foto bareng pacarnya, nih...?


Goda Juna di pesan itu. Aku tertawa kecil.


Sophia : Aku kan juga pengen aktif kayak kamu. Ha ha....

__ADS_1


Juna : Seharusnya foto itu kamu beri caption 'Forever and always my Goblin @junaraja_'.


Sophia : Nggak usah aneh-aneh. Ntar aku jadi bulan-bulanan netizen lagi.


Juna : He he, gitu tu susahnya punya pacar selebriti medsos!


Sophia : Selebriti dari Hongkong!


Juna : Dari Indonesia, dong....


Juna : Hm..., suatu kehormatan sekali bisa muncul di first posting-an kamu. Nggak nyangka aku bisa sespesial itu.


Aku mencebik bibir. Aku tau, pasti Juna menulis pesan itu dengan gaya kepercayaan dirinya yang mengembang-ngembang. Aku hendak membalas pesan Juna, tapi tiba-tiba sebuah pesan dari Rama masuk. Aku pun mengurungkan niat dan membuka pesan Rama dulu.


Rama : Besok malem lo sibuk nggak?


Sophia : Nggak ada kata nggak sibuk buat gue. Kenapa?


Rama : Gaya lo!


Rama : Gue mau ngobrol sama lo.


Sophia : Ngobrol apa? Chat aja langsung.


Rama : Ya nggak enak, lah. Enakan juga ngomong empat mata. Gimana? Bisa nggak?


Sophia : Penting, ya?


Rama : Penting banget banget banget!


Aku mengerucut bibir.


Sophia : Ya udah, oke.


Rama : Oke. Besok gue jemput lo, ya.


Sophia : Jemput gue? Ngapain? Lo mau ajakin gue ngobrol di mana, sih?


Aku berpikir sebentar. Aku tersenyum, kemudian membalas pesan Rama.


***


Sophia : Juna, besok malem Rama ngajakin aku ke luar.


Setelah aku selesai chatting dengan Rama, aku segera menghubungi Juna.


Juna : Ke luar ke mana?


Sophia : Deket-deket sini aja, kok. Rama mau ngobrolin sesuatu katanya.


Juna : Ngobrolin apa?


Sophia : Nggak tau.


Juna tampak lama mengetik balasan pesan.


Juna : Hm..., terserah kamu. Tapi awas aja kalo si Rama macem-macem sama kamu!!!


Sophia : Nggak bakalan, kok. Jadi boleh nih aku ke luar sama Rama?


Juna : Hm..., asal kamu janji bakalan baik-baik aja.


Sophia : Iya, janji.


***


"Phi, lo seriusan mau jalan sama dia? Juna nggak marah?" Mini berbisik seraya memegang lengan tangan kananku.


Malam ini aku akan ke luar bersama Rama. Laki-laki itu sudah menungguku di halaman depan bersama motornya. Mini menyempatkan diri mengantarku menghampiri Rama.


"Udah tenang aja, gue udah bilang Juna, kok." Jawabku juga berbisik pada Mini.


Rama berdeham melihat gelagatku dan Mini yang mungkin terkesan menggunjingnya.

__ADS_1


"Ni, gue pergi dulu, ya," pamitku pada Mini tersenyum.


Mini mengangguk. "Heh! Awas ya lo macem-macem sama sepupu gue!" celetuknya memicing menunjuk-nunjuk pada Rama.


"Ni, apaan, sih." Aku menghentikan tindakan kurang sopan sepupuku itu.


Rama hanya diam.


"Udah sana masuk," ujarku mendorong-dorong Mini supaya kembali ke dalam rumah. Dia pun pergi dengan menolah-noleh ke belakang mengerenyotkan bibir menatap Rama tak suka.


"Maafin sepupu gue, ya." Dan aku yang merasa tak enak atas perilaku Mini harus memintakan maaf pada Rama.


"Nggak pa-pa, kok." Jawab Rama tersenyum.


Aku sudah menjelaskan pada Mini kalau Rama itu sebenarnya orang yang baik. Tapi tetap saja, Mini tak percaya. Penampilan Rama yang terkesan berandalan juga kesan kala itu saat Rama mengancam Mini untuk memberikan nomor teleponku membuat sepupuku itu langsung mengecap Rama sebagai bad boy, laki-laki yang buruk.


Dan Juna, aku tau sebenarnya dia punya rasa cemburu dan tak suka jika aku dekat-dekat dengan Rama. Apa lagi aku sudah mengkonfirmasi kalau sekarang aku dan Rama berteman. Juna pasti merasa sebal, tapi kejujuranku mungkin akan sedikit mengobatinya.


Sekeras apa pun aku menceritakan kebaikan Rama pada Juna dan Mini, mereka akan menganggapnya hanya setting-an. Mempercayai itu sangat sulit kalau tidak terjun langsung melihatnya secara real.


Aku sangat salut dengan Juna. Aku tau Juna menahan ego untuk melarangku ini dan itu. Tapi dia memilih mengurungkannya. Dia memberiku kebebasan, walau aku tau itu membuatnya cemas dan khawatir.


***


Aku dan Rama sampai di sebuah warung tenda. Ya, kami berdua akan mengobrol sembari makan malam di sana. Aku memesan dua porsi ayam bakar dan dua gelas es teh.


"Jadi lo mau ngobrolin apa?" tanyaku menyangga dagu menatap Rama yang duduk di kursi depanku.


"Gue mau minta saran dari lo, nih." Rama memposisikan duduknya nyaman. "Menurut lo, sekarang gue harus ngapain?"


"Maksud lo?"


Rama mendesah. "Ya apa saran lo supaya hidup gue kembali lurus nggak bengkok kayak gini," jelasnya padaku.


"Oh...." Aku mengangguk. "Ya terserah lo. Lo maunya gimana? Mau belajar dulu, atau langsung action ke kerjaan?"


"Em...." Rama berpikir. "Enaknya gimana?" Dia melebar mata.


Aku mendecak. "Lo gimana, sih? Ya menurut lo sendiri enaknya gimana?"


Rama tertawa kecil. Dia menyeringai. "Gue tu beneran nggak tau harus ngapain, makanya nanya ke lo!" Rama mendengus kesal.


Aku memutar bola mata. "Rama," panggilku melunakkan suara. "sekarang lo bilang ke gue, lo tu sukanya apa?"


Rama menatapku diam sebentar. "Elo." Jawabnya membuat batinku terperanjat.


Rama mendadak tertawa. "Maksud lo apaan, sih? Suka apa...?"


Astaga, aku ingin sekali mementung kepala laki-laki itu. Dia sengaja mengulur-ngulur kesabaranku atau memang benar-benar tak mengerti?


Aku menghela napas berat. "Hobi. Hobi lo apa? Apakah ada sesuatu yang mau lo kerjain? Cita-cita, atau apa pun yang sebenernya pengen lo lakuin?"


Rama mengerling. "Dulu sih gue diminta Oma buat nerusin perusahaan Bokap. Dan ya, tentu gue fokusnya ke situ. Tapi setelah semua yang menimpa keluarga gue, gue jadi uring-uringan buat nerusin perusahaan itu. Sekarang sih lagi dihendel sama Om Tara, adiknya Bokap."


"Terus gimana? Lo mau nerusin perusahaan Bokap lo?" tanyaku pada Rama.


"Harusnya sih gitu. Oma juga sering ngomel ke gue buat belajar sama Om Tara." Rama menundukkan pandang. "Gue itu diadopsi supaya bisa nerusin perusahaan Bokap. Mereka nggak bisa punya anak lagi gara-gara Bokap sakit. Anak mereka cuma satu, kakak gue. Dan sekarang dia udah nggak ada. So..., gue jadi bertanggung jawab penuh atas perusahaan."


Jadi Oma Laras dan suaminya tak bisa memiliki keturunan lagi karena suami Oma Laras sakit? Mungkin mereka menginginkan anak laki-laki untuk melanjutkan kepemimpinan perusahaannya. Dan maka dari itu, Rama pun diadopsi. Mungkin begitu ceritanya. Eh?


Aku mencoba tersenyum pada Rama menyemangatinya. "Ya, kalo gitu mendingan lo belajar dulu. Lo harus bener-bener paham sama perusahaan Bokap lo supaya nggak down nantinya."


Rama menatapku terdiam sebentar. "Sebenernya Oma nyuruh gue kuliah ke Amsterdam," ujarnya terlihat begitu berat.


"Ya bagus, dong. Kuliah aja di sana," saranku.


"Gue nggak bisa. Ada sesuatu yang seharusnya gue milikin dulu." Rama tersenyum kecut. "Tapi gue nggak yakin kalo sesuatu itu bisa gue milikin."


"Emang apa sesuatu yang harus lo milikin itu?" tanyaku penasaran pada Rama.


Rama menatapku tajam. Ngeri. Satu detik. Dua detik. Hidangan ayam bakar pun tiba. Kalau es tehnya sih sudah sedari tadi siap.


Yah, Rama malah mulai menyibuk dengan ayam bakar itu. Aku jadi makin penasaran dengan sesuatu yang ingin Rama miliki itu. Sepertinya dia tak akan menjawabku. [ ]

__ADS_1


__ADS_2