
Hari ini aku dan Juna makan siang bersama di warung lesehan pinggir jalan. Laki-laki itu tiba-tiba saja menjemputku di kantor ayahnya. Ini sudah dua hari sejak Juna membuatku bingung dengan sikapnya.
Kemarin Juna menjelaskan jika dia sedang ada masalah keluarga. Aku bertanya masalah apa itu, tapi Juna enggan menjawab. Padahal aku sudah berburuk sangka pada laki-laki itu. Aku pikir, dia sudah bosan menjalin hubungan denganku.
"Juna, kamu kenapa sih murung gitu?" tanyaku.
Juna mencoba tersenyum. Tapi senyuman itu tak sekuat biasanya. Senyuman itu hanya terkesan lemas dan malas.
Aku menatap Juna. "Kamu kalo ada masalah cerita ke aku. Kamu sendiri kan pernah bilang, kalo kita nggak boleh bohong-bohongan."
"Kamu tau, kenapa pasangan di luar sana banyak yang kurang bahagia sama pasangannya sendiri?"
Juna melebarkan mata masih menyimakku.
"Karena dua-duanya minta dingertiin. Tapi merekanya sama-sama nggak mau cerita soal masalah mereka yang perlu dingertiin itu. Kalo gitu kan jadi repot." Aku tersenyum pada Juna. "Ayo cerita, Juna.... Biar aku bisa ngertiin kamu."
Juna tertawa kecil. "Aku malah jadi pengen nyium kamu, tau nggak? Tapi nggak enak sama bapak penjual nasinya."
Aku membelalak menatap Juna. Pipiku rasanya bersemu merah. Dasar laki-laki!
Juna mendesah panjang. "Sophia, kamu tau sekretaris baru ayahku?"
"Hm, tau. Kenapa?"
"Dia bikin Ayah sama Bunda ribut." Jawab Juna membutku terkejut.
"Maksud kamu?"
"Ya, gitu." Juna mengerling.
Sepertinya aku tau maksud Juna. Sekretaris baru Ayah Rei? Berarti Bu Clara. Dia sepuluh tahun lebih tua dariku. Apa mungkin, jika Bu Clara menggoda Ayah Rei dan membuat Bunda Aulia cemburu?
"Dulu waktu aku masih kecil dan belum ada Bunga, aku pernah lihat sekali Ayah sama Bunda cekcok di kamar. Ayah nuduh Bunda selingkuh," cerita Juna padaku.
Aku terus menyimaknya.
"Bunda sebenernya bukan tipe orang yang cemburuan dan nggak percayaan sama Ayah. Justru sebaliknya. Tapi aku juga nggak tau, kenapa Bunda kelihatan cemburu banget sama sekretaris barunya Ayah. Bunda sampe minta Ayah pecat sekretarisnya itu."
Dadaku berdesir. Aku kira, keluarga Juna adalah keluarga yang selalu harmonis dan enggan menerima masalah yang seperti ini. Sepertinya prediksiku salah. Tapi aku berani sumpah, mereka semua kelihatan bahagia dan menjalani hidup dengan damai.
"Terus? Gimana tanggapan ayahmu soal Bunda yang minta sekretarisnya buat dipecat?" tanyaku pada Juna.
"Ayah bilang, dia nggak bisa. Karena sekretaris itu yang rekomendasiin Kakek sendiri. Katanya sih anak bungsunya temen Kakek."
"Terus respon bundamu?"
"Ya, Bunda akhirnya pasrah. Ayah nuntut kalo Bunda harus percaya sama Ayah. Tapi Bunda kelihatannya malah kepikiran terus."
Aku menunduk. Pantas saja Bunda Aulia kelihatan lesu waktu itu. Tapi apa yang membuat wanita setegar Bunda Aulia bisa secemburu itu? Jika aku lihat, Bu Clara itu tak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Bunda Aulia yang super hebat itu.
Aku tersenyum menepuk-nepuk pundak kanan Juna. "Kamu tenang aja, aku bakalan bantu bundamu buat nggak kepikiran lagi sama masalah ini. Aku bakalan selidiki semuanya dan bikin kedua calon mertuaku harmonis."
"Emang kamu punya rencana apa?" tanya Juna padaku tersenyum remeh atau juga menggoda.
"Ada, deh. Kamu tunggu aja hasilnya." Jawabku pasti.
***
Di Semesta Crop...
__ADS_1
Sudah berjalan seminggu lebih, aku setiap hari menguntit diam-diam perangai Bu Clara ke Ayah Rei. Dan ya, wanita itu ternyata ingin merusak rumah tangga Ayah Rei dan Bunda Aulia.
Bu Clara tampak tak memberikan sikap terang-terangan menggoda Ayah Rei. Tapi dia beraksi secara halus dan mendetail hingga Ayah Rei terlihat tak bisa menangkap maksud dari wanita itu. Namun sepertinya yang kulihat itu tak salah, Ayah Rei sebenarnya risih dengan keberadaan Bu Clara di dekatnya.
Aku hendak pergi ke pantri, namun tak sengaja melihat Bu Clara masuk ke toilet kantor. Aku pun mengurungkan niat dan mengikuti wanita itu.
"Halo, Bu Clara," sapaku tersenyum basa-basi pada Bu Clara yang terlihat menata riasannya di cermin toilet.
Aku berpura-pura mencuci tangan di wastafel samping kiri wanita itu.
"Oh? Halo, Sophia...," sapa balik Bu Clara ramah.
"Gimana Bu kerja di sini? Bu Clara baru beberapa hari, kan? Apa salah satu tujuannya udah tercapai?" tanyaku tersenyum.
"Ya, saya senang bisa kerja di sini. Tapi salah satu tujuan apa maksud kamu? Kalo gaji saya sih tentu belum keluar." Jawab Bu Clara polos.
Aku tertawa kecil membuat wanita itu tiba-tiba menatapku aneh. "Selain kerja untuk dapat upah, Bu Clara pasti punya tujuan lain, kan?" sindirku.
"Maksud kamu apa?" Wajah Bu Clara mulai tak senang padaku.
Aku yang tadinya menatap Bu Clara lewat cermin, sekarang menoleh ke kanan tersenyum menatap wanita itu yang berdiri menghadapku. "Inovasi. Bu Clara pasti punya tujuan untuk memajukan Semesta Crop, kan?"
Mendengar ucapanku yang seperti itu, Bu Clara mulai beraut santai dan tersenyum kembali padaku. Aku tak menyangka jika membodohi orang licik itu bisa segampang ini. Aku tau salah satu tujuan Bu Clara ada di sini selain mendapatkan gaji dari kantor, dia sebenarnya juga ingin mendapatkan CEO kantornya.
"Ya, saya tentu punya rencana untuk memajukan Semesta Crop." Jawab Bu Clara ramah, tapi terbesit tatapan seram.
Aku menyudahi cuci tanganku, kemudian tersenyum pamit ke Bu Clara.
"Sophia," panggi Bu Clara menghentikan langkahku.
Aku menoleh padanya.
Bu Clara tersenyum. "Kamu punya hubungan sama anak sulungnya Pak Rei, ya?" tanyanya padaku tiba-tiba.
***
Beberapa hari kemudian, aku tak sengaja melihat Bunda Aulia dan Bu Clara tampak menepi berbincang berdua di salah satu koridor sepi Semesta Corp.
Aku berjalan mendekati mereka bersembunyi. Aku pun mulai menguping dan menyiapkan ponselku.
"Sekeras apa pun kamu berusaha menggoda suami saya, dia tidak akan mau sama kamu." Suara Bunda Aulia terdengar tegas.
Bu Clara tertawa. "Anda tidak salah sepercaya diri itu? Pak Rei itu sehat, dia tidak mungkin menyia-nyiakan wanita muda seperti saya."
"Ya, suami saya sehat karena dia setia sama saya. Kamu itu yang tidak sehat. Bisa-bisanya seorang wanita bicara seperti itu. Apa kamu tidak punya prinsip hidup? Apa kamu tidak merasa berdosa ingin merebut suami orang? Dia bukan hanya suami orang, tapi anak-anaknya juga sudah besar."
Aku merasa miris mendengar perbincangan itu.
"Apa saya peduli dengan ocehan Anda? Tidak. Sekeras apa pun Anda menasihati saya, saya tetap menjadi saya," ujar Bu Clara.
"Baiklah, saya akan biarkan kamu menjadi diri kamu sendiri. Dan mari kita lihat, apakah Tuhan meridhoi seorang iblis menghancurkan rumah tangga saya."
Aku tersenyum mendengar tanggapan Bunda Aulia yang seperti itu kepada Bu Clara.
"Jangan sok bicara seperti itu. Kita lihat kenyataan saja. Bunga segar lebih banyak yang ingin memetik daripada bunga yang sudah layu. Anda itu sudah tua, tidakkah Anda berpikiran jika Pak Rei akan bosan dengan Anda?"
"Wanita tua sudah tidak memuaskan lagi di ranjang."
Plak! Aku mendengar suara pipi ditampar. Aku mengintip sedikit, ternyata Bunda Aulia baru saja menampar Bu Clara.
__ADS_1
"Beraninya kamu membahas topik yang seperti itu. Dasar wanita terkutuk! Saya pastikan kamu tidak akan bisa merebut apa pun yang sudah saya miliki sekarang, termasuk suami saya." Bunda Aulia menyeringai.
Aku masih mengintip mereka. Entah kenapa aku juga ingin menampar Bu Clara. Dia benar-benar menyebalkan dan hina.
"Kamu salah sudah menjadikan saya lawan. Kamu," Bunda Aulia menunjuk wajah Bu Clara. "tidak ada apa-apanya bagi saya!"
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Setelah beradu tatapan tajam, Bunda Aulia pun berjalan pergi dari tempat itu. Aku cepat-cepat bersembunyi agar tidak ketahuan.
Bunda Aulia sudah menjauh, tapi Bu Clara masih berdiri di sana dengan wajah tertekuk marah memegangi pipi kanannya. Aku pun berjalan menghampiri wanita itu.
"Sophia?" Bu Clara tampak syok melihatku.
Aku tersenyum manis pada Bu Clara, lalu dengan cepat dan sigap menampar pipi kiri wanita itu.
"Sophia! Kamu gila, ya!" hardik Bu Clara padaku.
Aku menatap wanita itu malas, lalu berjalan pergi meninggalkannya. Biarkan saja kedua pipi Bu Clara memerah dan kebas. Dia pantas mendapatkan itu!
Bu Clara memang terlihat masih muda. Tapi jika Bunda Aulia seumuran Bu Clara, tentu Bunda Aulia jauh lebih cantik. Bahkan jika aku bandingkan sekarang, Bu Clara itu hanya terlihat menor dengan riasan tebal, sedangkan Bunda Aulia, dia selalu cocok dengan make up naturalnya.
Bu Clara bukan hanya mengajak perang Bunda Aulia sekarang, tapi juga mengajakku perang. Bunda Aulia itu adalah bundaku juga, aku akan membantunya menunpas kalah Bu Clara.
***
Malam ini aku sibuk di kasur tengah mengetik cerita di laptop. Mini juga tampak sibuk mengerjakan tugas kuliahnya di meja belajar.
Tling. Tling. Tling. Suara notifikasi whatsapp terdengar dari ponselku. Aku tersenyum hendak membuka pesan itu yang kusangka adalah Juna, tapi ternyata bukan.
Nomor tidak dikenal : P
Nomor tidak dikenal : Ini Sophia, kan?
Nomor tidak dikenal : Gue Rama.
Aku terheran membaca pesan beruntun itu.
Sophia : Dapat nomor gue dari mana?
Rama : Dikasih sepupu lo.
Aku melempar bantal ke Mini membuat gadis itu kaget menoleh padaku.
"Lo apa-apaan sih, Phi!" pekik Mini kesal padaku.
"Lo tu yang apa-apaan! Lo ngasih nomor gue ke cowok yang namanya Rama, kan?"
Mini mulai gugup. "Abisnya dia maksa. Gue udah nolak tapi dianya malah ngancem. Gue kasih aja deh daripada ngadepin cowok gangster kayak dia."
Entah bagaimana Rama bisa menemui Mini dan meminta nomorku. Aku mendecak, lalu mengetik pesan balasan ke Rama.
Sophia : Kok, sepupu gue bilangnya diamcem sama lo? Lo maksa dia buat kasih nomor gue, maksud lo apaan?
Rama : Santuy, dong.... Gue nggak ada niatan ngancem sepupu lo itu. Gue minta nomor lo gara-gara Oma nanyain lo.
Sophia : Oma nanyain gue? Kenapa?
Rama : Kagak tau. Tanya aja sama orangnya sendiri.
Sophia : Ngibul kan lo!!!
__ADS_1
Rama : Kalo nggak percaya ke sini aja ke rumah gue. Ngobrol tu sama Oma ngapai nanyain lo!
Aku hanya membaca pesan Rama itu. Kenapa Oma Laras menanyaiku? Aku menggeleng kepala mencoba tak berpikiran yang bukan-bukan. Aku menyimpan nomor Rama, lalu kembali menyibuk dengan laptopku. [ ]