
Aku dan Juna sampai di parkiran rumah sakit. Aku sibuk melepas helm ink milik Karina itu. Satu detik. Dua detik. Juna meraih pengait helmku membantuku melepaskannya.
Aku tersenyum pada Juna. Semua hal yang dilakukan Juna untukku selalu berkesan. Sekecil apa pun hal itu. Termasuk melepaskan pengait helm yang sulit kubuka.
"Makasih, Juna," celetukku saat Juna menaruh helm itu ke spion motornya.
"Sama-sama, Pacar...." Jawab Juna padaku.
Kami pun mulai berjalan bersama melewati lorong rumah sakit. Aku sesekali mencuri pandang memperhatikan Juna. Dia tak terlihat gugup atau apa. Tapi aku juga tidak tau pasti bagaimana perasaannya sekarang.
"Sophia, aku nervous mau ketemu calon ayah mertuaku," ujar Juna seraya menggandeng tangan kiriku tiba-tiba.
"Tenang aja Juna, ayahku nggak galak, kok. Cuma dia ya gitu. Kamu bakalan tau sendiri kok nanti." Jawabku pada Juna berusaha menenangkannya.
Mendadak aku teringat. Apa Bara masih di ruangan ayah? Kalau iya, bagaimana respon Juna nanti? Tidak-tidak. Juna kan orang yang percaya diri dan tidak mudah terintimidasi. Dia pasti bisa mengatasi itu.
***
Sesampainya di depan ruangan opname ayah, aku mengetuk pintunya pelan kemudian masuk disusul oleh Juna.
Juna memberi salam ke ayah dan mencium tangannya. Aku lihat, Bara sudah tidak ada di ruangan itu. Dia sudah pergi, baguslah. Setidaknya dia mengurangi beban Juna untuk meluluhkan hati ayahku.
"Ini siapa, Sophia?" tanya ayah bertingkah seperti terpojok.
Awalan yang bagus. Aku perhatikan reaksi ayah sedikit lucu tadi. Saat aku dan Juna tiba, dan saat Juna tersenyum menyapa ayah lalu mencium tangannya, ayah kelihatan sedikit ternganga. Visual dan karisma pacarku memang ampuh sekali pastinya.
Aku tersenyum melirik Juna.
"Saya temennya Sophia, Yah. Nama saya Raja." Juna tersenyum.
What??? Aku ternganga keheranan mendengar jawaban Juna itu. Sudah mengaku sebagai Raja, memberitahu ayah jika statusnya hanya temanku. Dan lagi, memanggil ayahku sangat santai dengan sebutan Yah? Ayah?
Ayahku tampak diam dengan ekspresi bingung. Lima detik. "Kamu cuma temennya Sophia? Temen dari mana?" tanya ayahku pada Juna.
Juna lagi-lagi tersenyum ramah. Aku yakin, Juna pasti sudah merencanakan sesuatu yang gila. Dia kan lain daripada yang lain.
"Saya dan Sophia sama-sama pegawai di Semesta Corp. Perusahaan swasta milik Abdul Semesta." Jawab Juna mengarang sekali. Sejak kapan dia juga jadi pegawai di kantor ayahnya? Dan lalu, Abdul Semesta? Dia pasti kakeknya Juna.
Aku hanya terus keheranan menatap Juna.
"Loh, kamu bukannya di instansi pemerintah kerjanya?" tanya ayah tiba-tiba menoleh menatapku.
Semua anggota keluargaku tentu belum tau soal aku yang sudah mengundurkan diri dari kantor tempatku bekerja yang dulu. Aku memicing pada Juna. Cerita palsunya hanya menambahi kekacauan saja.
Aku segera tersenyum pada ayah. "Sophia udah resign dari instansi itu, Yah. Udah hampir 2 bulan Sophia pindah kerja ke Semesta Corp." Jawabku.
"Kenapa kamu pindah? Ada masalah, ya?" Ayahku mulai mengorek-ngorek informasi.
"Enggak kok, Yah. Sophia pindah karena gaji di Semesta Corp 2 kali lebih besar dari kantor yang sebelumnya. Kerjaannya juga lebih santai dan nggak terlalu formal." Untung saja aku langsung terpikirkan alasan yang jitu untuk ayah.
Semesta Corp memang memberiku upah yang lebih banyak dari instansi pemerintah tempat kerjaku dulu. Ayah Rei juga tidak menempatkanku sebagai pegawai biasa di sana.
Ayah tampak terdiam masih terus menatapku. Dan kemudian, dia kembali menoleh pada Juna. "Terus? Apa jabatan kamu di perusahaan itu?" sambung Ayah bertanya lagi ke Juna.
"Saya bawahan CEO di sana." Jawab Juna tersenyum.
Sekarang aku mulai mengikuti cerita ngawur Juna itu. Iya dia benar, dia adalah bawahan CEO Semesta Corp. Karena CEO-nya kan ayahnya sendiri. Aku jadi mulai menahan tawa.
"Kenapa nggak kamu aja yang jadi CEO-nya?" Ayah terdengar menggoda Juna, tapi ekspresinya datar sekali.
"Saya aminin aja doanya Ayah. Insya'allah beberapa tahun lagi saya naik jabatan jadi CEO-nya." Jawab Juna membuatku tak kuat. Aku sangat ingin tertawa. Dan ayah, dia di sana ternganga keheranan menatap Juna.
"Kamu kok santai banget panggil saya Ayah? Emang saya Ayah kamu?" Ayahku mulai sewot pada Juna.
Juna tampak tetap tenang dengan senyum manisnya. "Tadi Sophia sendiri yang suruh saya panggil Ayah ke Bapak. Biar makin akrab katanya." Jawab Juna pada ayah, kemudian menoleh menatapku.
Aku tau Juna pasti sedang mengkodeku untuk buka suara membantunya. "Iya, Yah. Sophia sama Juna udah deket banget. Jadi Sophia suruh Juna panggil Ayah, Ayah aja." Aku tersenyum menyipitkan mata.
__ADS_1
"Terserah kalian, deh." Ayahku tampak masih bingung keheranan. "Dan kamu, siapa tadi nama kamu?" tambah ayah menanyai Juna.
Juna tersenyum. "Raja, Yah."
"Oke, Raja. Hobi kamu apa? Badan kamu bagus. Kamu suka olahraga, ya?" tanya ayah mulai santai pada Juna.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Ayah sudah tertawa-tawa mengobrol bersama Juna.
Aku terus duduk memperhatikan mereka yang entah membahas apa, aku juga tidak terlalu mengerti. Yang soal mesin mobil, soal taekwondo, dan apa pun itulah.
Ini aneh, ayah kelihatan open sekali ke Juna. Padahal tadi? Juna juga tampak akrab menceritakan hal-hal lucu ke ayah. Dan ayah tampak tertawa antusias sekali.
Satu menit. Dua menit. "Yah, saya ke kamar mandi dulu, ya," pamit Juna pada ayahku.
"Iya, sana-sana. Saya juga jadi belet pipis gara-gara kamu bikin ketawa terus," kata Ayahku lalu menyeka singkat sudut tengah matanya.
"Ayah mau ke kamar mandi dulu?" tanya Juna.
"Ya udah, deh. Boleh." Jawab ayahku.
Aku dan Juna pun membantu ayah bangun dari ranjang. Sebenarnya ayah bisa berdiri sendiri, sih. Dia bisa makan sendiri, berjalan ke kamar mandi sendiri. Tapi yang namanya orang sakit, ya harus sedikit dipegangi.
"Udah-udah, Sophia. Biar Raja aja yang bantu Ayah," ujar ayah saat aku ingin memapahnya ke kamar mandi, dan kebetulan si Juna juga mau memapahnya.
Penolakan apa ini? Ayah lebih memilih di bantu Juna daripada anaknya sendiri? Tapi, okelah. Itu berarti ayah nyaman dengan Juna.
Juna pun membantu ayah memasuki toilet yang sudah ada di ruangan itu. Juna menunggu ayah sebentar karena kaki ayah kan masih diperban. Dan jalan ayah juga masih junjang-junjing.
Juna kembali memapah ayah ke kasur, dan dia kemudian masuk ke toilet.
Aku duduk di kursi samping kanan ayah menatapnya tersenyum. "Yah, gimana temen Sophia? Keren, kan?" tanyaku mencoba menghasut ayah. Aku ingin tau responnya.
"Dia oke, ganteng juga. Seharusnya kamu pacarannya sama dia aja. Udah punya kerjaan, bawahannya CEO lagi. Itu pacar kamu apaan, masih mahasiswa, belum tentu juga sukses punya kerjaan yang bagus."
Aku terus menatap ayah dengan senyuman. Sebenarnya aku menahan tawa. Secara tak langsung, ayah sudah setuju jika aku pacaran dengan Juna. Aku jadi kepo tentang kenapa Juna membohongi ayah soal dirinya. Apa strategi dan niat dari laki-laki itu?
"Udah pamit pulang dia. Katanya nanti sore balik lagi ke sini." Jawab ayah membuatku mengangguk.
Satu detik. Dua detik. Juna keluar dari toilet kembali menghampiri kami.
"Udah, Raja?" tanya ayah tersenyum menggoda ke Juna.
"Udah, Yah." Jawab Juna tapi dengan senyuman manis.
Juna pun duduk di kursi samping kananku.
"Raja, kamu tau nggak pacarnya Sophia?" tanya ayahku tiba-tiba.
Aku dan Juna saling menoleh.
"Tau, Yah." Jawab Juna menoleh menatap ayah.
"Dia gimana orangnya? Baik kayak kamu nggak? Gantengan kamu apa dia?"
"Saya nggak terlalu tau sih, Yah. Ya tapi..., sebelas dua belas lah sama saya."
Si Juna ngelawak aja terus! Batinku hanya bisa menggeleng-geleng mendengarkan obrolan ayah dan Juna. Ibaratnya, ayah itu tabung gasnya dan Juna itu kompornya. Cocok, deh.
"Masa, sih.... Kalo gitu kenapa nggak kamu aja yang macarin anak saya?" Ayah menolehku. "Bukannya anak saya ini lumayan cantik?" tambahnya bertanya.
Juna menoleh ke kiri menatapku. "Emang Sophia mau sama saya, Yah?" tanya Juna enggan menatap ayah tapi justru tersenyum menyeringai padaku.
"Nggak tau ni. Kayaknya seleranya Sophia yang masih sekolah-sekolah. Saya mau jodohin dia sama tentara malah ditolak. Padahal anaknya oke. Tunggu aja nanti kalo sampe dia ngenalin pacarnya ke saya dan ternyata malah di bawah standarnya si tentara itu." Ayah masih menatapku mulai mengancam.
Ini kenapa ayah dan Juna jadi melirikku? Mereka memberikan tatapan aneh yang membuatku sedikit terintimidasi.
"Te-terus kalo pacarku orangnya kayak Raja gimana?" celetukku pada ayah mencoba keluar dari keterpojokan itu.
__ADS_1
"Ya nggak mungkin lah pacar kamu kayak Raja. Kamu bilang dia masih kuliah, sedangkan Raja ini kan udah kerja," timpal ayah padaku. "Tapi kalo Raja ini pacar kamu, ya lain ceritanya. Mungkin ayah bisa batalin perjodohannya."
Aku hanya bisa diam mendengarkan omelan ayah padaku. Aku melihat ekspresi Juna seperti menahan senyum-senyum.
***
Aku dan Juna duduk bersama di kantin rumah sakit itu. Ternyata Juna belum makan siang. Padahal ini sudah jam 14.00 lebih. Untung saja ayah menanyainya tadi, kalau tidak Juna pasti hanya diam saja menahan lapar.
"Juna, kamu ngapain sih pake acara bohong-bohong segala ke Ayah?" Aku mulai menanyai Juna yang tengah makan lahap itu.
Juna mengunyah makanannya kemudian menelan. Dia tersenyum padaku. "Aku pakai tips dari ayahku.... Kamu tenang aja. Semuanya bakalan beres kok nanti. Dan ayah kamu, dia bakalan setuju sama hubungan kita."
"Kamu itu selalu ada-ada aja. Tapi aku juga nggak nyangka sih respon Ayah bisa sebagus itu."
"Pokoknya serahin aja semuanya ke Juna Raja Semesta," ujar Juna membuatku tertawa kecil.
Juna pun terus melanjutkan makan siangnya yang sudah telat itu. Dan aku hanya duduk di sana menemaninya.
"Ngomong-ngomong, siapa sih tentara yang mau dijodohin sama kamu? Aku jadi kepo," celetuk Juna padaku.
"Hm.... Ya yang namanya tentara, ya kayak gitu. Tinggi, kekar, lumayan. Namanya Bara. Aku udah sempet kenalan kok sama dia."
"Tapi baik nggak...?" Juna bertanya.
"Baik. Dia katanya mau bayarin semua biaya perawatan Ayah di sini. Tapi aku nggak enak. Mungkin nanti aku bakalan bicara sama dia buat batalin niatnya itu."
Juna masih setia menyimakku.
"Dia juga bilang, dia sebenernya mau dijodohin sama aku. Tapi aku bilang sama dia, kalo aku udah punya pacar. Dia terima, kok. Dia bakalan bicara ke Ayah sama papanya buat batalin perjodohan kita," jelasku ke Juna.
"Siapa sih yang nggak mau dijodohin sama kamu!? Tapi kan kamu cuma buat aku."
"Kamu tu laper-laper sempet banget ya buat ngegombal!" seruku menatap Juna.
Juna tertawa kecil menepuk pelan pipi kananku. Beberapa menit kemudian, Juna selesai menyantap makanannya.
"Sophia, kamu tunggu di sini sebentar, ya. Jangan ke mana-mana, nanti aku ke sini lagi."
"Kamu mau ke mana?" tanyaku pada Juna yang terkesan terburu-buru.
"Ada urusan sebentar. Nanti aku balik lagi, kok." Jawab Juna tersenyum.
Aku pun menunggu Juna yang katanya sebentar itu.
Sekitar dua puluh menitan, Juna kembali. "Maaf ya lama," celetuk Juna padaku.
"Iya, nggak pa-pa. Udah mau sore, kamu mau balik, kah?"
"Hm.... Abis azan asar aja. Sekalian aku sholat dulu di masjid sini." Jawab Juna padaku.
Dan selesai salat asar, Juna pun berpamit pulang pada ayah. Dia mengantarku pulang ke rumah dulu sekalian berpamit dengan ibu dan Karina.
***
"Hati-hati, ya. Nanti kalo sampe rumah whatsapp aku," suruhku tersenyum pada Juna.
Kami ada di halaman depan rumahku.
"Siap, Pacar...! Kamu nanti balik lagi kan ke rumah Bulik Susan?" Juna bertanya padaku seraya memasang helmnya ke kepala.
"Iya, balik lagi, kok. Tapi belum tau kapan. Nungguin Ayah pulang dari RS aja." Jawabku ke Juna.
"Oke, deh. Jangan lama-lama pulangnya, nanti aku rindu."
Aku tersenyum. "Iya, Pacar...."
Juna pun mengucap salam dan mulai mengegas Kawkaw pergi. [ ]
__ADS_1