Stunning My Life

Stunning My Life
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Malam ini aku dan Mini tengah asik di kamar menonton film Temptation of Wolves yang dibintangi ahjussi ganteng, Kang Dong Won.


Kami berdua sangat fokus pada adegan di mana Kang Dong Wong memakai kacamata hitam mengendarai motornya mengebut dengan rambut diterpa angin kencang. Aktor Negeri Gingseng itu sangat keren dan tampan. Dia tentu masuk ke dalam list biasku dan Mini.


Satu menit. Dua menit. Dering ponselku memecah suasana tegang film itu. Karina? Batinku terherah. Kenapa kakak perempuanku itu tiba-tiba menelepon? Aku pun segera mengangkatnya.


"Halo," sapaku pada Karina.


Telepon itu terdengar sunyi. Aku mengkode Mini untuk memelankan volume suara laptopnya.


"Halo, Kak?" panggilku lagi di telepon itu.


Phi, Ayah kecelakaan. Kata Karina dengan nada menahan tangis membuatku terperanjat membelalakkan mata.


"Te-terus, gimana keadaan Ayah?" tanyaku cemas menautkan alis membuat Mini menge-pause video film itu lalu menoleh memperhatikanku.


Ayah masih di IGD. Aku sama Bimo belum boleh masuk, perawatnya juga belum keluar. Jelas Karina padaku.


Aku mengerjap mengerutkan dahi menyibak rambutku ke belakang mulai frustrasi.


"Terus Ibu gimana?"


Ibu di rumah jagain Lusy. Kamu besok pulang, ya. Kasian Ayah sama Ibu, akhir-akhir ini mereka juga mikirin kamu terus.


"Iya, besok pagi aku langsung berangkat ke sana. Nanti Kakak kabarin aku lagi ya soal keadaan Ayah."


Iya. Jawab Karina singkat, kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Aku menunduk mencengkeram dahiku. Aku harap ayah baik-baik saja dan tak memiliki luka serius karena kecelakaan itu.


"Kenapa, Phi?" tanya Mini menatapku khawatir.


"Ayah kecelakaan, Ni."


"Hah? Terus gimana keadaan Pakde Budi? Kecelakaannya nggak parah, kan?" tanya Mini beruntut padaku.


Aku mendecak seraya berdiri. "Gue nggak tau, Ni. Gue khawatir banget sama Ayah. Mana besok pagi ayahnya Juna ngajakin gue meeting bareng kliennya lagi." Aku menggigit bibir bawahku mulai kebingungan.


Besok adalah hari kerja yang sibuk. Beberapa hari lalu aku sudah bersepakat dengan Ayah Rei untuk menemaninya meeting bersama klien penting sekitar jam sembilan pagi. Besok siang Bunda Aulia juga ingin bertemu denganku untuk membahas seputar promosi penjualan pakaian hasil rancanganku di butiknya.


Dan terpaksalah, aku harus menghubungi mereka semua di jam setengah sembilan malam ini. Aku tak bisa mengesampingkan keluargaku hanya untuk kelancaran karierku. Dan saat ini pikiranku benar-benar kalut karena kabar ayah yang kecelakaan.


***


Semalam aku kesulitan untuk tidur. Aku cemas, begitu juga Mini dan Bulik Susan. Mereka tentu juga khawatir dengan keadaan ayah.

__ADS_1


Karina baru mengabariku lagi sekitar pukul empat pagi. Dia bilang, alhamdulillah luka ayah tak parah. Aku juga bersyukur dan bernapas sedikit lega mendengar informasi itu.


Semalam aku meminta izin Ayah Rei untuk cuti bekerja hari ini, dan entah sampai kapan. Aku tak mungkin hanya menginap di rumah selama sehari saja. Keluargaku pasti berprotes, apalagi dengan keadaan ayah yang sekarang sedang sakit.


Dan beruntungnya, Ayah Rei sangat pengertian padaku. Dia bilang agar aku fokus saja dulu dengan keluargaku. Soal kerjaan, ada Nadia dan pegawai-pegawai lain yang siap menggantikan tugasku untuk sementara waktu.


Tentang Bunda Aulia, dia juga menunda pembahasan promosi itu. Dia titip salam dan mendoakan ayahku agar segera sembuh.


Aku berangkat pulang kampung dari rumah Bulik Susan sekitar pukul enam pagi. Bulik Susan dan Mini hanya bisa berharap supaya ayah cepat pulih. Mereka tentu tak bisa meninggalkan tanggung jawab pekerjaan dan tugas kuliah Mini sekarang.


Aku tak keberatan jika Bulik Susan dan Mini tak ikut menengok ayah. Lagi pula, keadaan ayah juga baik-baik saja walaupun dia masih dirawat di rumah sakit sekarang.


Aku pergi dengan taksi. Semalam Juna juga menghubungiku terlihat sama khawatirnya dan ingin mengantarku untuk pulang kampung, tapi aku menolak tawarannya. Aku tak ingin merepotkan Juna dan membuatnya kecapekan.


***


Sesampainya di rumah...


Aku menaruh dua tas ransel padat ke kamarku. Aku membawa beberapa baju ganti dan barang-barang keperluanku untuk persediaan beberapa hari di rumah.


Aku tidak pasti akan tinggal sampai berapa hari di sana. Mungkin sampai ayah pulang dari rumah sakit dan keadaannya sedikit mulai membaik.


Aku tadi sempat bingung dan terkejut. Ayah masih di rumah sakit, tapi ibu, Karina, dan Bimo, mereka semua tampak santai di rumah.


Karina sibuk mengurus anaknya. Bimo sibuk dengan pekerjaan barunya. Belum lama ini suami kakakku itu diangkat sebagai mandor di sebuah proyek perumahan.


Dan kalau ibu, dia sedang menyibuk di dapur menyiapkan sarapan yang telat untuk kami semua.


Kata Karina, ada seorang anak teman ayah yang saat ini menemani ayah di rumah sakit. Ayah juga tak parah, dia hanya luka-luka kecil. Tapi kakinya mendapat perban karena pegelangan kanannya sedikit bergeser. Syukurnya tidak patah. Dokter menyarankan untuk rawat inap beberapa hari saja.


Menurut informasi yang kudapatkan, ayah kecelakaan karena menghindari pengendara motor yang mabuk. Dia membanting setir taksinya hingga menabrak pohon.


***


Aku tengah bersiap-siap di kamar hendak pergi ke rumah sakit umum daerah untuk menjenguk ayah. Tiba-tiba, Karina masuk menghampiriku.


"Nitip buat Ayah," ujar Karina menaruh rantang makanan ke meja kayu di kamarku. Dan lalu, dia duduk di pinggir kasur samping kiriku tampak memperhatikanku yang tengah memasang high heels hitam di kedua kakiku.


"Kamu tu udah tinggi, ngapain pakai heels segala?" tanya Karina padaku.


Sebenarnya bukan apa-apa. Aku hanya sudah terbiasa memakai sendal berjinjit atau sepatu berhak tiga sampai lima senti-an.


Soal tinggi badan, aku rasa, aku tak terlalu tinggi, itu hanya cukup. Tapi Karina dan aku jika dibandingkan tinggi badannya, tentu aku yang memimpin.


Aku 160 senti, dan Karina 155 senti. Aku juga tidak tau kenapa tinggiku bisa melebihi Karina, padahal aku ini adiknya. Mungkin sudah takdir.

__ADS_1


Aku mendesah. "Udah kebiasaan ngantor soalnya." Jawabku ke Karina.


Karina tersenyum kecut. "Aku denger kamu mau dijodohin tuh sama Ayah," celoteh Karina mendadak membuatku syok melebarkan mata padanya.


Karina tersenyum mengejekku. "Ayah nyariin kamu jodoh yang katanya tentara."


"Hah??? Kakak nggak lagi bercanda, kan? Apaan sih pake jodoh-jodohan segala. Ini tu jamannya kencan buta dari internet. Nggak jaman ah jodoh-jodohan. Kuno!" seruku merasa tak terima jika ayah memang ingin menjodohkanku.


"Makanya, kamu buruan cari pacar biar nggak dijodohin sama Ayah. Dia udah sepakat-sepakatan sama temennya loh kalo nggak salah." Lagi-lagi Karina membuatku puyeng dengan ceritanya yang terkesan tak mengada-ngada itu.


"Sepakat-sepakatan gimana? Maksudnya aku bakalan dijodohin sama temennya Ayah gitu?" tanyaku bingung.


Karina tertawa. "Bukan.... Ya, sama anaknya, lah. Kalo temen Ayah sih udah beruban. Emang kamu mau nikah sama bapak-bapak beruban?" goda Karina padaku.


Aku mengernyit mendecak. "Nggak mau, ah. Aku nggak suka dijodoh-jodohin. Mau itu bapak-bapak beruban atau tentara sekalian, aku tetep no! Lagian aku udah punya calon, kok," ungkapku membuat Karina melebarkan mata tersenyum merekah menatapku.


"Oh, really? Kok kamu nggak cerita sama Kakak, sih? Siapa? Ganteng, nggak?" Karina tampak sangat penasaran.


Aku tersenyum pada Karina. "Kalo ganteng mah pasti! Pokoknya calonku ini spesial banget!"


"Ya udah, buruan diajakin ke sini. Entar keburu Ayah deal-in kamu sama tentara itu, loh," ujar Karina membuatku sedikit takut. Please..., aku tidak mau dan tidak ingin dijodohkan!


"Aku ngomong sama Ayah dulu aja, deh. Lagian aku nggak pengen cepet-cepet nikah. Pokoknya aku juga menolak keras perjodohan ini!!!"


Karina masih menatapku dengan lengkung tipis di bibirnya. Satu detik. Dua detik. Dia memicing memperhatikan kalung emas yang kupakai.


"Kamu pakai kalung?" Karina terheran.


Selama ini aku memang enggan memakai perhiasan. Paling-paling, aku hanya memakai anting dan jam tangan saja. Soal cicin, gelang, atau juga kalung, aku tidak tertarik memakai yang seperti itu.


Aku menunduk mencoba menatap sebuah liontin kecil yang kupegangi. Kemudian, aku tersenyum. "Ini dari calonku," kataku pada Karina.


"S love J." Karina membaca simbol liontin itu. "J siapa?" sambungnya bertanya.


"Juna." Jawabku tersenyum.


Karina mencebik bibir menatapku. "Oh..., namanya Juna. Bagus," pujinya mengangguk pelan.


Batinku tertawa. Aku ingin tau bagaimana respon kakakku itu jika mengetahui nama lengkap Juna. Akankah dia terkagum karena keestetikan nama lengkap Juna? Karena selama ini, aku dan Karina tak punya nama lengkap.


Entah kenapa ayah dan ibu hanya menamai kami dengan satu kata saja. Aku sebagai Sophia. Dan kakakku, juga hanya sebagai Karina. Yah, itu terlalu singkat tapi sangat dalam artinya. Nama kami sama-sama berarti murni dan suci.


"Ya udah, aku berangkat ke rumah sakit dulu ya, Kak."


"Iya, hati-hati," tutur Karina padaku.

__ADS_1


Aku pun mulai berpamit pada orang rumah. Aku pergi dengan motor vario putih milik Karina menuju rumah sakit. [ ]


__ADS_2