Stunning My Life

Stunning My Life
Kau yang Misterius


__ADS_3

Usai beberapa hari sejak hari pertama mengantorku. Siang ini sepulang kerja, aku mampir sebentar ke perpustakaan kota. Sudah hampir sebulan aku tak lagi menengok tempat itu.


“Hai, Mbak Kezi,” sapaku tersenyum pada wanita 30 tahunan pegawai penjaga meja kunjung perpustakaan.


“Loh, Sophia? Lama kamu nggak ke sini. Makin cantik aja,” puji Mbak Kezi padaku.


Aku meresponnya dengan senyum terbaikku.


Aku dan Mbak Kezi memang cukup akrab. Sejak tinggal bersama Bulik Susan dan Mini, aku jadi sering mengunjungi perpustakaan kota di sana. Aku juga menyumbangkan beberapa buku bacaan karanganku di tempat itu. Karena itulah, aku bisa dekat dengan Mbak Kezi yang sudah lama mengabdi di sana.


“Mbak, aku baca-baca dulu, ya,” pamitku pada Mbak Kezi.


Mbak Kezi tersenyum, lalu mengacungkan jempol kanannya.


***


Aku mengambil sebuah buku panduan pekerjaan kantor, lalu menaruhnya ke meja. Aku duduk, kemudian memeriksa sebentar ponselku.


Sebuah pesan whatsapp dari Mini aku baca.


Mini : Udah pulang ngantor, kan? Lagi di mana sekarang?


Sophia : Udah. Ini lagi mampir bentar di perpus kota.


Mini : Udah makan siang?


Sophia : Udah. Sholat juga udah.


Ini si Mini nggak biasanya peduli sampe kayak gini sama gue. Dia nggak lagi sakit, kan? Aku terheran.


Mini : Ada yang kangen sama lo, nih.


Sophia : Siapa? Elo?


Mini : Juna Raja Semesta!


Aku terkekeh tipis. Juna? Aku sebenarnya juga ingin melihatnya. Tapi mana mugkin? Fakta bahwa kami itu tak pernah berhubungan kabar di SMS terasa sedikit menyakitkan untukku. Aku kan pernah menolak memberitahukan kontak teleponku ke Juna.


Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas, lalu mulai membaca buku.


Baru membaca 15 menitan saja mataku sudah mengantuk. Tentu saja aku kelelahan. Sepulang kerja seharusnya aku beristirahat di rumah, tapi ini aku malah menambah beban otak secara paksa.


Aku pun menutup buku itu, lalu menidurkan kepala ke meja. Aku tertidur dan membiarkan waktu berjalan begitu saja.


Tepat setelah aku terbangun, aku mulai melihat jam dinding di perpustakaan. Pukul 3 sore. Astaga, aku pasti sudah tidur cukup lama.


Dan di saat aku mulai tersadar. Di sana, di samping kananku, aku melihat Juna memejam mata menghadap ke arahku. Laki-laki itu menggunakan tangannya sebagai bantal kepala di meja.


Aku mendekat menghampiri Juna. Aku tersenyum menatap wajah Juna yang seperti energi untukku. Dia tertidur dengan imut.


Aku mendekatkan bibirku ke telinga Juna. "Juna," paggilku berbisik. "Juna...."


Sontak, Juna terkejut mendorongku hampir terjungkal dari kursi. Tapi dengan sigap, Juna meraih pinggangku menangkapnya.


Aku dan Juna membelalak menatapi satu sama lain. Dan tentu jantungku berdebar-debar tak karuan di dalam.


“So sweet banget sih, Mbak, Mas,” tegur seorang anak remaja SMP-an pada kami terkekeh-kekeh.


Aku pun cepat-cepat menjauh dari Juna. Aku mengatur napasku menormalkan detak jantung.


“Lo kok pulang kerja bukannya tidur di rumah malah di perpus kota, sih?” tanya Juna tiba-tiba padaku.


Dia kok tau aku baru pulang kerja langsung ke perpustakaan kota? Jangan-jangan Mini kasih tau dia lagi?


“Suka-suka gue, dong.” Jawabku pada Juna.


“Oh, iya. Jaket lo masih sama gue, tuh. Gue lupa balikin waktu itu. Apa besok gue titipin aja ke Mini buat dikasihin ke lo?”


Juna tampak berpikir sebentar. “Lo bawa dulu aja. Nanti kalo gue suruh lo balikin baru lo balikin,” ujarnya.


Aku mengangguk.


Juna tampak mengambil sesuatu di tas ranselnya, lalu tiba-tiba menyodorkan ponselnya padaku. “Sekarang boleh minta nomor lo, kan?” tanyanya.


Aku tak menyangka Juna akan memintanya lagi. Aku tersenyum, kemudian mengetikkan nomor teleponku ke ponsel Juna. Setelah selesai, aku pun mengembalikan smartphone samsung itu padanya.


Juna melirikku sebentar, kemudian mulai menamai kontak teleponku. Aku jadi penasaran dia menamai kontakku apa. Tapi terserah dia aja, deh. Mau Sophia atau apa, aku tak peduli.


“Lo mau ngapain sekarang?” tanya Juna padaku.


“Mau pulang.”

__ADS_1


“Oke, yuk!” seru Juna.


“Yuk?”


“Yuk pulang,” jelasnya.


Gue pikir dia mau nganterin gue pulang. Tapi nggak guna juga, sih. Gue kan ke sini bawa motor sendiri. Aku mengedikkan bahu, lalu berjalan pergi.


Juna tampak mulai mengikutiku.


“Mbak Kezi, aku mau pinjam buku ini, dong,” ujarku sembari menyodorkan buku biru tua berjudul Panduan Kerja Kantor kepada Mbak Kezi.


“Oke.” Mbak Kezi mulai mencatat di kartu pinjamku juga buku agenda di sana.


“Udah?” tanya Juna padaku yang juga menunggu di depan meja kunjung perpustakaan itu.


“Udah.” Jawabku tersenyum padanya seraya memasukkan buku ke tas.


“Mbak Kezi, aku duluan, ya.” Aku berpamit.


“Oke. Hati-hati, Sophia.” Mbak Kezi tersenyum padaku.


“Mari, Mbak,” sapa Juna ramah pada Mbak Kezi.


Dan kami pun pergi ke halaman depan parkiran perpustakaan kota itu.


“Lo mau gue temenin pulang?” tawar Juna padaku. Pasti maksudnya, dia mengikutiku dari belakang dengan motornya.


“Nggak usah. Masih sore, kok. Jalanan masih aman.” Aku tersenyum pada Juna.


Juna maju selangkah tersenyum mengusap-usap ubun-ubunku sebentar. Aku diam terkejut. Baru pertama kalinya aku mendapatkan perlakuan seperti itu. Yang Juna acak-acak rambutku, tapi yang berantakan hatiku.


“Entar malem gue video call gimana?” Juna menatapku menyeringai.


“Gue sibuk.” Jawabku, lalu cepat-cepat menaiki motor dan pergi.


Aku tak ingin terus tampak salah tingkah di depan Juna. Selain menyelamatkan harga diriku, aku juga ingin menyelamatkan jantungku yang rasanya hampir copot. Dari tadi jedag-jedug menari-nari di dalam.


***


Malam ini aku tengah mengetik cerita di laptop. Mini pun menghampiriku yang sedang duduk di kursi kayu meja belajar khusus milikku. Dan Mini duduk di kursi belajar miliknya sendiri, lalu dia mulai memperhatikan ketikanku.


“Eh, bentar, deh. Itu kok namanya Juna semua, ya?” Mini terheran menatap tulisanku, lalu menatapku.


“Kok, jadi Juna sih namanya? Kan seharusnya Juni.” Aku pun ikut terheran.


Mini menertawaiku. “Ketawan kan lo jadi bucin sekarang. Fokus, Sophia..., fokus!!!” ejeknya masih terus menertawaiku.


Aku pun segera menyimpan file ketikanku, mematikan laptop itu, kemudian menutupnya.


“Ni, Juna itu orangnya kayak gimana kalo di kampus?” tanyaku pada Mini.


Mini berjalan membawa ponselnya, lalu meletakkan tubuhnya tidur ke kasur. “Jadi bahan puji-pujian anak-anak kampus. Dia ganteng dan kelihatan nggak terlalu tertarik gitu ke cewek.” Jawab Mini.


Aku terkekeh. Juna yang suka modus ke aku itu ‘kelihatan nggak terlalu tertarik gitu ke cewek’??? “Lo serius? Asal lo tau aja, ya. Juna itu kalo sama gue udah kayak playboy pro player aja. Dia tu kayak udah mahir banget godain cewek,” jelasku menyangkal pada Mini.


“Serius gue!!! Lo masih inget Dinda, kan?” Mini menatapku, aku pun mengangguk. “Yang secantik dia aja dicuekin sama Juna,” sambungnya.


Aku memasang muka cengo. “Dinda suka sama Juna?” tanyaku penasaran, tapi kenapa rasanya panas gini, ya?


“Ya, nggak tau juga, sih. Dia jadi bahan godaan cowok-cowok di sana. Tapi yang gue heran sih, kenapa dia kayak sok nempel-nempel gitu ke Juna?”


“Dan lo tau, Phi. Anak-anak juga banyak yang kepo soal lo gara-gara kejadian si Juna nyanyi di panggung First Day Campus. Yang ada gue ngakak kalo inget itu.” Mini terbahak.


Aku pun menghampiri Mini memukul-mukulnya dengan guling.


“Ampunnnnn…!!!” seru Mini masih tertawa-tawa.


Aku mendesah panjang, lalu ikut membaringkan tubuhku ke kasur.


“BTW, tadi Juna pinjem HP gue buat whatsapp lo bentar. Dia nanyain apa?” ungkap bertanya Mini padaku.


Aku masih lola alias loading lama. “Whatsapp gue?” Aku terheran.


“Iya. Siang tadi.”


Aku langsung beranjak duduk, lalu kelabakan mengambil ponselku. Aku kembali mengecek pesan whatsapp dari Mini siang tadi waktu aku di perpustakaan kota.


Tadi,


Mini : Udah pulang ngantor, kan? Lagi di mana sekarang?

__ADS_1


Sophia : Udah. Ini lagi mampir bentar di perpus kota.


Mini : Udah makan siang?


Sophia : Udah. Sholat juga udah.


Mini : Ada yang kangen sama lo, nih.


Sophia : Siapa? Elo?


Mini : Juna Raja Semesta!


Aku ternganga membaca kembali pesan itu. Mini merebut ponselku tiba-tiba. Dia membaca chat-ku dengan Juna yang berkedok dirinya.


“Cie cie…, ada yang kangen, nih. Siapa? Juna!” goda Mini tertawa padaku.


Aku segera merebut kembali ponselku, lalu menghapus satu per satu pesan-pesan itu. Tapi mendadak, jari-jariku refleks mengangkat sebuah panggilan video dari nomor tak dikenal.


Aku terkejut dan langsung membanting HP-ku ke kasur.


"Hai, Sophia...."


"Sophia? Kok ,gambarnya gelap, sih?" ujar seseorang dari video telepon.


Aku dan Mini bertatapan membeku. Aku pun berjalan pelan memberanikan diri mengangkat panggilan video itu menyorotkan kameranya ke wajahku.


Aku tersenyum canggung. “H-hai,” sapaku gugup.


“Lagi ngapain lo?” tanya Juna padaku.


Bocah tengil itu seriusan video call gue malem ini??? Waktu dan tempat tidak tepat. Mini di sana tampak menertawaiku sangat puas walau tanpa mengeluarkan suaranya.


“Gue, gue lagi sibuk. Udah, ya. Gue matiin ni.”


“Eh, bentar-bentar!” Juna menahanku. “Jangan lupa save nomor gue.”


“Iya-iya. Nanti gue save, kok. Udah, ya.”


Juna tersenyum di sana. “Malem, Sophia. Jangan lupa mimpiin gue nanti. See you….”


Aku tak menjawab Juna cepat-cepat mematikan panggilan videonya. Aku membanting tubuh ke kasur mengacak-acak selimut antara malu dan merinding.


Mini meningbrungku. “Cie, cie, cie…. Mimpiin gue ya, Sophia,” godanya menggelitikku.


***


Setelah pergulatan melelahkan, aku dan Mini pun berbaring telentang di kasur sana.


“Tapi kok Juna bisa beda gitu ya ke lo? Dia kek nyantai banget lepas gitu. Sedangkan di kampus, dia bisa secuek itu sama cewek,” oceh Mini terheran.


“Juna juga cuek sama lo?” tanyaku menoleh pada Mini.


Mini masih menatap langit-langit kamar. Dia mengedikkan bahu sembari mencebik. “Bukannya cuek sih kalo sama gue.” Dia menoleh menatapku. “Tapi dia suka nanyain lo.”


“Terus, menurut lo gimana?”


Mini beringsut memiringkan tubuhnya menghadapku. “Fix!!! Juna suka sama lo!”


“Kenapa harus gue?”


“Ya, lo tanya aja ke orangnya sendiri.”


“Terus kalo dia beneran suka sama gue, gue harus ngapain?”


Mini menepuk jidatnya. “Ya, kalo lonya juga suka dan kalian sama-sama suka ya jalanin hubungan, lah….”


Aku merapatkan bibirku terdiam. Aku beranjak duduk, kemudian mengambil ponselku. Aku kembali mengecek log panggilan whatsapp terbaruku. Di sana, nomor Juna yang belum kusimpan kuperhatikan.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Aku pun menyimpan nomor telepon Juna ragu-ragu.


Bagaimana bisa menyimpan nomor ponsel saja bisa semendebarkan ini? Juna, satu-satunya laki-laki asing yang nomor ponselnya aku simpan di kontak teleponku. Karena di kontakku itu, hanya ada dua nomor laki-laki yang kupunya, nomor ayah, dan Kak Bimo, suami Karina.


“Phi,” panggil Mini membuatku menoleh padanya.


“Gue yakin Juna bisa jadi orang yang tepat buat lo. Jaga hubungan baik sama dia. Korek banyak informasi kalo kalian lagi bareng,” tutur Mini.


Aku terdiam, lalu memperhatikan kembali ponselku.


Aku tak munafik. Aku tau aku punya perasaan suka pada Juna. Mengingat, laki-laki itu selalu membuatku melayang-layang karena baper.


Dan aku, aku selalu berdebar-debar dengan itu. Tapi, apakah Juna juga seperti itu denganku? Apa dia juga berdebar-debar konyol jika aku bertingkah sok manis padanya? Apa iya dia menyukaiku?

__ADS_1


Juna Raja Semesta, laki-laki itu masih sangat misterius untukku. Perbedaan sikap. Apa benar yang Mini katakan tentang Juna? Dia bisa menjadi seseorang yang hangat untukku, tapi tampak cuek dengan gadis-gadis lain. Juna, sebenarnya laki-laki seperti apa kau itu? [ ]


__ADS_2