
Pukul setengah tujuh malam, Adi tampak menjemputku dengan sebuah mobil xenia hitam miliknya.
Adi berpamit dan meminta izin Bulik Susan untuk mengajakku ke rumahnya. Dan Bulik Susan, beliau mengizinkan.
Sebenarnya tadi sore aku memberitahu Mini tentang ini. Dan bilangnya, dia tidak setuju. Tentu, Mini kan hanya mendukung hubunganku dengan Juna, bukan dengan Adi.
Tapi bagaimanapun, aku tetap harus pergi bersama Adi. Karena aku sudah bilang ya padanya.
***
Di perjalanan ke rumah Adi...
"Sophia, kamu cantik malam ini." Adi tersenyum menolehku sebentar.
"Makasih." Balasku singkat padanya.
Aku rasa, Adi semakin jelas menunjukkan perasaannya padaku. Aku tak boleh menaruh banyak harapan pada Adi, karena itu hanya akan membuatnya sakit hati.
"Di," panggilku.
"Hm?" Adi menolehku sebentar, terus fokus pada kemudinya.
"Saya udah punya pacar," ungkapku tak ingin basa-basi.
Laki-laki itu tampak terdiam di sana. Lalu, mendadak dia tertawa. Aku menatap Adi aneh.
"It's okey. Saya nggak masalah, kok," ujar Adi.
Aku sedikit terkejut, tapi rasanya sedikit lega. Aku tersenyum menatap lurus jalanan depan.
"Cuma pacaran, kan? Jadi saya masih punya kesempatan, dong?" celetuk Adi padaku.
Aku membelalak pada laki-laki itu. Adi Bagaskara, dia niat ya mendekatiku?
Adi terlalu percaya diri. Aku bahkan tak punya niatan juga rencana untuk mengganti Juna dengan laki-laki mana pun. Tapi akan percuma jika aku mengatakan itu pada Adi.
***
Aku pun sampai di rumah Adi.
Rumah Adi tak tampak mewah atau juga sangat besar, tapi itu cukup terlihat bagus dan klasik. Ada ornamen-ornamen bunga diwarna emas pada pilar terasnya. Namun sepertinya, keluarga Adi cukup berada.
Adi pun mengajakku masuk ke rumahnya. Di sana di ruang tamu, seorang wanita paruh baya duduk tengah membaca majalah dengan style lumayan waw jika dibandingkan wanita-wanita lain seumurannya yang pernah kutemui.
Aku tebak, dia adalah ibunya Adi. Ibu Adi mengenakan kemeja polos dengan rok plisket bunga-bunga juga rambut hitam pekat keriting gantung sebahu. Dia wanita yang modis.
Ibu Adi menatapku. Aku sedikit takut karena dia tak menunjukkan senyum sama sekali.
Aku pun cepat-cepat menyalaminya. "Malam, Tante," sapaku tersenyum.
Wanita itu pun mulai tersenyum tipis. "Malam."
"Ini Tante, saya bawakan buah-buahan." Aku memberikan sekantong keresek hitam buah jeruk bercampur dengan apel juga pir. Aku tadi membelinya dengan Juna setelah makan siang. Aku kan juga merasa tak enak jika datang ke rumah Adi dengan tangan kosong.
Wanita itu tersenyum, lalu meraih buah tanganku. "Terima kasih," ucapnya.
Aku pun dipersilahkan untuk duduk, lalu disuguhi secangkir teh hangat dan beberapa camilan ringan di toples.
"Jadi nama kamu Sophia, ya?" tanya ibunya Adi padaku.
"Iya, Tante." Jawabku.
Aku belum sempat memperkenalkan diri, tapi ibunya Adi sudah menebak namaku dengan benar. Dan wanita itu juga tampak menakutkan. Maksudku, dia sedikit terlihat cuek.
Ibunya Adi mengangguk. "Nama saya Sari," jelasnya.
Aku tersenyum.
"Kamu lulusan mana, Sophia?" tanya Tante Sari.
Aku menatap Adi sebentar, lalu mulai menjawab pertanyaan itu. "Saya lulusan SMK, Tante." Jawabku jujur, tapi tak terlalu spesifik.
"Oh." Tante Sari mengerucut bibir mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Terus, orang tua kamu kerja di mana?"
Ibunya Adi tampak terus mengkorek-korek status sosialku. Aku pikir itu bukan hal yang benar untuk berkenalan dengan seseorang. Aku jadi merasa tak nyaman dan ingin pergi dari tempat itu sekarang.
Tapi karena Tante Sari sudah bertanya, aku jadi harus menjawab. "Ibu saya jualan nasi pecel di rumah, Tante. Dan Ayah saya, beliau seorang supir taksi online."
Tante Sari terdiam sebentar. "Kalo Papa Adi itu TNI. Dia meninggal waktu Adi masih SMA. Papa Adi berpesan agar Adi nanti bisa menikah dengan wanita cantik yang berpendidikan."
Aku terus mendengarkan ucapan Tante Sari.
"Adi anak saya ini," Tante Sari tersenyum menatap putranya sebentar, lalu kembali menolehku. "dia lulusan terbaik di kampusnya. Kariernya juga bagus. Jadi saya sangat memperhatikan siapa gadis yang bisa menikahinya."
Aku hanya memilih diam. Ibu Adi terlihat otoriter. Atau mungkin karena itu, Adi yang kini sudah berkepala tiga jadi tak kunjung mendapatkan pendamping hidup?
Aku mencuri pandang memperhatikan gelagat Adi. Dia tampaknya sangat tertekan dengan sikap ibunya. Tapi, Adi juga kelihatannya tak bisa melawan.
"Maaf, Sophia." Tante Sari menatapku tegas. "Sepertinya kamu tidak memenuhi standar mantu saya. Kamu cantik, tapi kok kayaknya kurang berpendidikan."
"Ma!" Adi menatap memanggil ibunya terheran, atau mungkin marah.
Aku juga sangat terheran. Ibu Adi sudah secara langsung mengataiku kurang berpendidikan. Sekarang aku mengerti kenapa Adi sering berbicara frontal, karena ibunya juga suka blak-blakan pada orang.
"Maaf, Tante. Tapi saya juga tidak ada planning dan niatan sama sekali untuk menjadi mantu Tante. Dan saya bukan wanita yang kurang atau tidak berpendidikan seperti yang Tante tuduhkan."
"Terima kasih atas undangannya malam ini, saya permisi." Aku menoleh Adi kesal, lalu bergegas keluar rumah itu.
***
Di halaman depan rumah Adi...
"Sophia!" Adi menarik pergelangan tangan kananku menghentikan.
"Apa lagi?" Aku sudah benar-benar tak ingin berurusan dengan Adi. Seharusnya sejak awal aku memang menolak tegas laki-laki itu.
"Saya anterin kamu pulang, ya?" Adi menatap mataku tampak penuh rasa bersalah.
Aku menghela udara panjang dari hidungku. Aku tak boleh begini. Mungkin sejak awal Adi hanya ingin mempertemukanku dengan ibunya, Tante Sari.
Dan kenyataan bahwa Tante Sari tak menyukaiku, itu bukan salah Adi. Lagi pula, aku ke rumah itu juga dijemput Adi dari rumah. Aku juga tidak tau kompleks tempat tinggal Adi itu, jadi aku harus pulang dengannya.
"Enak ya jalan sama pria bermobil!!! Di mana-mana cewek matre itu emang nggak tau diri!" pekik Tante Sari yang tengah berdiri menyilang tangan di depan pintu rumahnya mengataiku.
Aku pun berusaha menguatkan hati menahan emosi dan bergegas masuk ke mobil.
***
Di perjalanan pulang...
Aku benar-benar kesal dengan ibunya Adi. Aku memang sudah kebal dengan hinaan jika mengingat waktu dulu. Tapi yang dituduhkan ibunya Adi padaku itu sudah terlalu jahat dan tidak masuk akal sekali.
"Sophia, maafin Mama saya, ya."
Aku enggan menjawab Adi. Aku diam.
"Saya yakin, suatu hari nanti Mama pasti suka sama kamu. Saya bakalan bujuk Mama," celetuk Adi.
Aku terheran menatap laki-laki itu. "Nggak perlu. Kalau pun Mama kamu nggak suka sama saya selamanya, saya nggak keberatan, kok."
"Tuduhan Mama kamu ke saya itu sudah cukup buat saya sekedar tau bagaimana Mama kamu. Dan saya nggak ingin mengulang lagi untuk ketemu sama Mama kamu, Di."
"Sophia, tolong maafin Mama. Dia begitu karena sebenernya nggak ingin saya salah pilih pasangan." Adi tampak mulai membela ibunya.
Aku terkekeh. "Enggak, Di. Mama kamu kayak gitu karena dia terlalu menilai orang lain. Status sosial mereka, padahal itu bukan segalanya."
"Saya tau. Mungkin Mama jadi begini gara-gara Kakek sama Nenek saya pernah nggak setuju Mama menikah sama Papa."
Aku terus menyimak Adi.
"Keluarga Papa saya adalah orang berada. Dan keluarga Mama, mereka cuma orang kecil. Kakek dan Nenek menuduh kalau Mama hanya ingin hidup enak dengan kekayaan keluarga Papa."
"Mungkin Kakek sama Nenekmu benar," kataku spontan.
"Apa?" Adi menatapku tampak tak senang sembari menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.
__ADS_1
"Mama kamu nuduh saya cewek matre, mungkin Mama kamu sendiri yang matre."
Adi terus menyimakku.
"Dan satu lagi. Sebenernya bukan saya yang kurang berpendidikan, tapi Mama kamu. Orang yang kurang berpendidikan itu, biasanya kalo ngomong seenaknya sendiri."
Satu detik. Dua detik. Aku membeku setelah Adi menampar pipi kiriku sangat keras.
"Beraninya kamu menghina Mama saya?" Suara Adi menggarang di sana.
Aku kembali menatap Adi. Aku tidak sedih atau takut, tapi air mataku terasa meluncur keluar dari sudut-sudut sana mengaliri pipiku.
"Dan kamu, ini sebabnya kamu nggak laku-laku. Laki-laki itu bukan hanya menghargai ibunya, tapi juga semua perempuan." Aku menatap Adi marah.
"Oh..., saya lupa. Mama kamu kan mengajarinya memang seperti itu. Ibunya nggak bisa menghargai orang lain, dan anaknya mencontoh."
Adi menatapku tajam. Dia bergerak pelan mendekat ke arahku. Dan tiba-tiba, laki-laki itu menjambak rambutku.
"Adi! Lepas!" Aku berusaha menarik tangan kanan Adi yang mencengkeram kuat rambutku. Tapi saat aku semakin berusaha, tarikan itu semakin kuat dan menyakitkan.
Aku mulai menangis. Aku sekarang benar-benar takut dengan Adi. Aku tak menyangka dia bisa sekasar itu.
"Wanita seperti kamu, sangat mudah ditemukan di club-club malam." Adi terkekeh. Dia benar-benar psikopat!
Aku masih menahan sakit jambakan itu.
"Kamu jangan munafik, Sophia. Bahkan jika saya membayarmu untuk tidur bersama, kamu mau, kan? Dasar perempuan murahan!"
"Kurang ajar!" Aku terisak. "Kamu kurang ajar, Di!" sambungku memekik.
Adi semakin menarik kuat rambutku. Aku terus merintih. Pipiku masih sangat kebas setelah tamparan Adi tadi, dan lagi, kepalaku terasa perih karena cengkeramannya.
Adi masih menatapku benci. Aku hanya bisa terisak.
Lima detik. Sepuluh detik. Adi mulai melepaskan jambakannya. Dia kembali memegang kemudi mobil, lalu menatap depan. Aku masih memperhatikan laki-laki itu takut.
"Kamu turun sekarang," suruh Adi enggan menatapku.
"Apa? Turun?" Aku mencoba menghentikan tangisanku. "Kamu nyuruh saya turun di jalan sepi kayak gini?"
Adi menolehku, lalu menggebrak kemudi mobilnya membuatku tersentak. Amarah Adi benar-benar tak normal, laki-lagi itu pasti sudah gila!
Adi pun mengegas mobilnya lagi mengantarku pulang. Mungkin dia terpaksa. Karena mungkin jika aku diturunkan di jalanan sepi itu dan terjadi apa-apa denganku, dia juga yang kena getahnya.
***
Kami tiba di halaman rumah Bulik Susan. Aku cepat-cepat turun dari mobil meninggalkan Adi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dan Adi, dia juga pergi begitu saja dengan mobilnya.
Aku merapikan sedikit rambutku dengan tangan, kemudian membuka pintu rumah.
Bulik Susan dan Mini kebetulan tengah duduk di ruang tamu, dan mereka spontan melihatku.
"Sophia?" Bulik Susan langsung berdiri menatapku dengan ekspresi terkejut. Sepertinya aku terlihat cukup kacau.
Aku mulai menangis lagi. Aku ingin mengatakan semuanya ke Bulik Susan. Aku berjalan cepat memeluk bulikku sembari terisak.
"Kenapa, Sophia?" Bulik Susan mengelus kepalaku. Dia mungkin bingung dan mencemaskanku.
Aku masih memeluk bulikku itu dengan tangisan. "Adi bilang Sophia itu perempuan murahan." Aku mencoba menyuara walaupun dengan nada tersengal-sengal.
"Dia bilang kalo orang kayak Sophia ini gampang ditemuin di club-club malam, Bulik...." Isakanku semakin kencang.
"Apa??? Dasar cowok berengsek!" Suara Mini terdengar marah tak terima.
Bulik Susan melepas pelukanku, lalu menangkup wajah menghapus air mataku.
"Shuuuttt..., nggak pa-pa. Kamu nggak kayak gitu. Jangan nangis," ujar Bulik Susan lembut menenangkanku.
Air mataku masih terus bercucuran. Aku terus menatap Bulik Susan. "Adi tampar Sophia, Bulik. Dia juga jambak Sophia." Aku terisak lagi.
Bulik Susan kembali mengusap pipiku dengan tatapan sedih nan sayang. Aku masih terisak. Dan Mini, dia tampak bergegas masuk ke kamarnya.
Aku meraih pinggang Bulik Susan lagi memeluknya untuk meluapkan rasa takut yang kusimpan sejak tadi. Aku benci dengan Adi. Aku menyesal sudah sudi pergi dengan laki-laki sekurang ajar dia.
__ADS_1
Dan aku, aku bukan perempuan yang seperti Tante Sari tuduhkan. Semua fitnah itu tak benar. [ ]