Stunning My Life

Stunning My Life
Merekam Momen


__ADS_3

Minggu pagi, aku dan Juna tiba di sebuah pusat kebugaran. Juna tak memberitahu akan mengajak ke mana. Dan apa ini?


"Juna, kita ngapain ke sini?" tanyaku bingung seraya menuruni motor trail hitam milik Juna itu.


Juna melepas helmnya, kemudian menoleh menatapku tersenyum. "Udah hampir satu bulanan, aku nggak ke sini." Dia berjalan pelan mendekatiku. "So..., hari ini aku mau kamu temenin aku nge-gym," sambungnya sembari melepaskan helmku.


Aku mematung sedikit melebar mata mendengar itu. Jadi..., gue harus lihat Juna angkat-angkat barbel gitu? Gue nggak sanggup lihat dia keringetan pamer-pamer tubuh perfect-nya! Bayangin itu aja gue udah nggak kuat! Big nooo!!!


Aku menelan ludah. "Kamu serius? Enggak, ah. Aku nggak mau," tolakku pada Juna.


"Kenapa nggak mau?" tanya Juna mengernyit.


"Aku...." Aku harus gimana? Aku tak mungkin langsung bilang tak mau karena tak ingin melihat.... Ah, kacau! Bisa-bisa Juna kira aku ini cewek mesum.


"Ya, masa kamu minta ditemenin latihan fitness, sih? Aku, kan-"


"Aku kan kenapa?" Juna tersenyum menyeringai menatapku. "Kamu malu lihat perut sixpack-ku?" Lagi dan lagi, dia menggodaku.


Aku merasakan pipiku memerah di sana. "A-apaan, sih."


Juna menarik daguku mendongak menatapnya. Laki-laki itu tersenyum. "Tenang aja, Sophia. Nanti aku tutup aurat rapat-rapat supaya kamu nggak zina mata." Dia menyeringai menaikkan sebelah alisnya tepat pada kata terakhir.


Dan pada akhirnya, aku pun menemani Juna nge-gym di tempat itu. Juna tadi memang membawa tas kain berbentuk tabung dikalungkan menyamping. Tas itu sepertinya berisi pakaian ganti.


Juna memakai celana training hitam panjang dan kaos putih longgar. Dia mulai melakukan pemanasan.


Sepertinya, Juna memilih ruang fitness VIP. Ruangan itu tak besar, tapi juga tak sempit. Di sana hanya ada aku dan Juna.


"Juna, kenapa kamu nggak pilih ruangan umum aja? Harga sewa di sana pasti lebih murah, kan?" Aku mulai mengajak ngobrol Juna.


Juna masih terus melakukan pemanasan. "Di sana ramai. Aku nggak mau pacarku lihat cowok-cowok atletis di sana." Jawabnya.


Aku tertawa kecil. "Jadi kamu mau aku lihatin kamu aja, nih?"


"Iya, dong." Jawab Juna menolehku tersenyum.


Lima menit. Sepuluh menit. Juna sudah menyibuk dengan alat-alat olahraga itu. Tapi dia juga terus mengajakku bicara.


Juna merayu dan mencandaiku. Dia selalu punya akal untuk membuatku tersenyum. Juna itu seperti bundanya. Dia punya seribu satu kalimat untuk membuat orang yang bersamanya tidak merasa bosan.


"Juna, aku haus. Apa di sini ada kantin?" tanyaku.


"Ada, di pojok belakang." Jawab Juna sembari terus berlari kecil di treadmill.


"Oke. Aku ke sana dulu, ya. Kamu mau nitip apa?"


Juna menghentikan treadmillnya, kemudian menolehku. "Air putih aja." Dia tersenyum.


"Siap, Komandan!" seruku menghormatkan tangan.


Juna tertawa kecil. Aku pun beranjak melangkah pergi.


"Sophia," panggil Juna.


Aku menoleh menaikkan kedua alisku pada laki-laki itu.


"Jangan kesasar, ya. Nanti kalo kamu hilang, aku sedih," kata Juna padaku.


Aku tersenyum. "Kalo aku hilang..., kamu harus cari, dong."


Juna tersenyum menatapku.


Aku berjalan membuka pintu ruangan itu. Aku berbalik menoleh pada Juna yang masih memperhatikanku. "Juna, kalo aku nggak balik lebih dari 15 menit, kamu harus cari aku."


Juna tersenyum mengangguk.


***


Aku tiba di kantin tempat gym itu. Di sana banyak laki-laki berbadan waw yang sepertinya tengah istirahat sembari sarapan, tapi juga ada beberapa wanita.


Aku merasa malu walau tak sengaja melihat mereka. Aku pun cepat-cepat mengambil dua botol aqua tanggung dan mengantre untuk membayarnya.


Lima detik. Sepuluh detik. Terdengar kegaduhan di ruangan kantin itu. Aku pun menoleh pada sumber suaranya.


Ada dua orang pria tengah berkelahi di sana. Mereka saling menonjok dan menendang. Orang-orang di sana melerai, tapi sepertinya dua orang itu bersikeras memukuli satu sama lain.


Tapi tunggu. Dia? Rama? Kenapa Rama berkelahi dengan orang? Padahal dia baru kecelakaan semalam.


Satu detik. Dua detik. Aku menjerit setelah sebuah bangku terlempar ke arahku. Untung saja bangku itu tak mengenaiku. Seharusnya aku cari aman dan segera pergi dari sana. Tapi melihat Rama berkelahi, entah kenapa aku jadi terus memperhatikannya.

__ADS_1


Rama dan seorang pria asing itu terus bertarung. Dua detik. Rama berhasil menjatuhkan lawannya. Tapi, lawannya itu bangun lagi. Dua detik lagi. Lawannya itu berhasil menendang kaki kiri Rama.


Rama pun terjatuh. Astaga, kaki Rama pasti sakit sekali. Dia tampak sangat merintih di sana.


Orang asing itu hendak mengambil kesempatan untuk menyerang Rama lagi. Aku cepat-cepat berlari menghentikannya. "Berhenti!" pekikku mengahadang tinju orang itu.


Dan akhirnya, perkelahian itu disudahi. Orang asing itu tampak terengah-engah dengan bercak darah di pinggir bibirnya. Dan Rama, dia juga sama lelahnya.


Rama masih tersungkur di lantai putih itu menatapku terkejut. Aku pun berjongkok, lalu memapah Rama menjauh dari sana.


***


"Lo nggak pa-pa?" tanyaku pada Rama.


Kami duduk di plesteran kasar di samping luar gedung gym itu.


Rama menatapku tajam. "Lo ngapain sih sok bantuin gue segala?" tanyanya dengan ekspresi kesal.


Aku terdiam sebentar. "Gue cuma kasian aja lihat lo digebukin kayak gitu. Harusnya lo terima kasih dong sama gue." Aku memicing mata pada laki-laki itu. "Kalo gue nggak bantuin lo, mungkin sekarang lo udah di bawa ke rumah sakit."


Rama masih menatapku mengerikan. "Lo tu oon apa gimana, sih?"


"Lo bilang gue oon? Lo tu yang oon! Baru aja kecelakaan semalem udah maen tinju-tinjuan sama orang." Aku mendecak. "Lo tu sayang sama diri lo sendiri nggak, sih?"


Rama memalingkan muka terkekeh, lalu kembali menolehku. "Bodo amat!" timpalnya menekan nada suara.


"Serah lo, deh. Capek tau nggak ngomong sama cowok galak kayak lo!" Aku pun sebenarnya malas meladeni Rama. Aku beranjak berdiri, lalu melangkah-


Dan sekarang aku ambruk ke dada Rama. Laki-laki itu menarik tanganku kuat sebelum aku berhasil menjangkah satu langkah saja. Aku membelalak menatap Rama. Mata kami pun saling beradu.


Adegan itu lumayan romantis. Tapi, kenapa aku tak bisa berdebar-debar menatap Rama? Apa aku sudah benar-benar menutup hati untuk laki-laki mana pun selain Juna?


Rama itu memang songong dan galak, namun sebenarnya dia cukup tampan. Hanya saja, penampilannya kurang enak dipandang mata.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Aku pun cepat-cepat menjauh dari Rama.


"Lo apa-apaan sih tarik-tarik gue!" Aku berprotes.


Rama mendecak. "Ya, salah lo sendiri maen mau cabut aja."


"Ya, terus gue harus ngapain?" tanyaku keheranan pada laki-laki itu.


"Bentar-bentar," kataku memotong. Aku melihat jam tanganku. "Astaga!" celetukku seraya memukul jidat. Sudah lebih dari 15 menit, Juna pasti mencariku.


"Sorry, Ram, gue harus pergi. Bye," pamitku langsung berlari meninggalkan Rama.


Rama terdengar memekik memanggilku. Masa bodoh, ah. Aku harus kembali ke ruang fitness itu untuk menemui Juna.


Aku juga tak sempat membeli air. Aku ingat, dua botol air yang akan kubayar itu terjatuh karena keterkejutanku hampir kena lemparan kursi tadi.


***


Aku mencari Juna hampir ke seluruh gedung, tapi aku tak menemukannya. Juna juga sudah pergi dari ruang VIP yang disewanya.


Masalahnya, aku tidak membawa ponsel. Aku tak bisa menghubungi Juna. Aku tadi meninggalkan tasku bersama dia. Aku hanya membawa uang sepuluh ribu di saku blazerku.


Aku berjalan cepat sembari menolah-noleh menuju parkiran sepeda motor. Aku sampai di tempat parkiran itu. Motor Juna masih ada. Terus dia ke mana?


Aku memegang kepala mengernyit memejam mata. Juna pasti panik karena aku tak balik-balik. Dia sekarang pasti sangat cemas mencari-cariku.


Satu detik. Dua detik. Tiba-tiba seseorang meraih memelukku. Aku sempat terkejut, tapi ternyata itu Juna.


Napas Juna terdengar terengah-engah. Sampai-sampai aku bisa merasakan detak jantungnya berpacu sangat cepat menembus pakaian kami.


Juna masih memelukku sangat erat. "Kamu bikin aku panik tau nggak," ungkap Juna padaku.


Aku mendorong Juna pelan melepaskan pelukannya. Aku tersenyum menatap Juna. "Jangan panik. Aku nggak pa-pa, kok."


Juna mendesah. Dia tersenyum, lalu mengusap-usap puncak kepalaku.


***


Aku dan Juna dalam perjalanan ke suatu tempat. Juna akan mengajakku ke tempat rahasia lagi. Dia tidak memberitahuku akan pergi ke mana.


"Sophia, kamu tau kalo manusia cuma butuh 4 menit untuk jatuh cinta?" tanya Juna sembari terus mengendarai motornya.


"Oh, ya?" Aku menengok Juna dari kaca kiri spion motornya. Aku hanya bisa melihat mata Juna yang sedikit menyipit dari helm off road yang dipakai laki-laki itu. Sepertinya dia tersenyum.


"Itu rata-ratanya.... Tapi aku cuma butuh 5 detik buat jatuh cinta sama kamu."

__ADS_1


Aku tertawa kecil. "Oh, ya? Emang kamu sempat ngitung?"


"Sempat. Waktu itu kamu senyum. Itu yang bikin aku jatuh cinta," ungkap Juna padaku.


Aku terus tersenyum mendengarkan ocehan pacarku itu.


"Sophia, lalu kamu tau kalo hubungan seperti ini bisa berakhir?" tanya Juna lagi.


Aku terdiam. Kenapa Juna bertanya begitu? Apa dia punga pikiran untuk mengakhiri hubungan kami?


"Sophia," panggil Juna menyadarkan lamunanku.


"Mungkin." Jawabku singkat.


"Jangan pernah bohong, Sophia. Itu kunci supaya hubungan kita nggak berakhir. Kamu bisa, kan?"


Aku tersenyum. Ternyata Juna hanya mengingatkanku untuk selalu jujur padanya. Kenapa aku berpikiran negatif dulu? Sophia..., Sophia. "Oke. Kamu juga nggak boleh bohong sama aku."


Juna terdengar tertawa kecil di sana. "Oke, Pacar...."


***


"Kamu mau ajak aku photo booth?" tanyaku menebak pada Juna.


Kami berdua sampai di depan sebuah tempat photo booth di kota. Dulu tempat itu sangat digandrungi orang-orang, apalagi para remaja. Tapi setelah teknologi semakin canggih, mereka enggan menjamah tempat itu lagi.


Juna tersenyum menoleh menatapku, lalu menggandengku masuk ke sana.


Ruangan photo booth itu sempit. Tapi masih bersih, dan tampak dirawat dengan baik.


"Aku kira tempat ini udah tutup, loh."


Juna tersenyum padaku. "Tempat seklasik ini seharusnya nggak boleh tutup."


Aku masih menyimak Juna.


"Kamu tau, Sophia. Bunda sama Ayah dulu pertama kali ketemu di sini."


"Oh, ya? Jadi ini tempat bersejarah dong buat orang tuamu?"


"Iya." Juna tersenyum padaku. "Sophia, kamu mau foto denganku di sini?"


"Mau." Jawabku semangat tersenyum menoleh Juna.


Aku dan Juna pun berfoto di ruang kecil photo booth itu. Juna ini ada-ada saja. Tapi aku suka caranya menyenangkanku. Aku menghargainya.


"Juna," panggiku.


Kami masih di sana.


"Hm?" Juna menaikkan kedua alisnya menatapku.


"Kamu tau kalo Mini sama Haris putus?"


"Hah? Mereka putus? Kenapa?" Juna tampak terkejut.


"Aku nggak tau. Tapi kata Mini, semalam Haris marah-marah ke dia."


Juna masih terus menyimakku.


"Kamu kan temenan sama Haris. Apa kamu tau sesuatu?"


Juna mengedikkan bahunya. "Aku nggak tau apa-apa," katanya.


***


Juna sudah mengantarku pulang ke rumah. Aku lihat, sepertinya Mini sedang ke luar. Bulik Susan juga menyibuk di kamarnya.


Aku memperhatikan selembar foto diriku bersama Juna. Aku tersenyum menatap foto itu. Di sana, aku dan Juna saling menautkan jari membentuk lambang hati. Kami berdua tersenyum bahagia.


Aku pun memasang foto itu ke album cokelat yang kubeli beberapa waktu lalu. Aku sudah mengisi album itu dengan beberapa gambarku bersama Juna.


Itu diawali dari foto-foto selfie kami saat di tempat wisata. Album itu akan menyimpan memoriku bersama Juna. Aku harap hubunganku dengan Juna akan sampai ke jenjang pernikahan.


Aku ingin hidup berdampingan dengan Juna sampai napas kami terhenti. Bahkan aku tidak mengharapkan laki-laki mana pun lagi selain Juna Raja Semesta.


Apa aku bisa mendapatkan takdir itu nantinya? Tapi sekarang aku masih fokus untuk bekerja. Aku memang ingin menikah, tapi nanti setelah aku bisa menggapai semua impianku untuk keluargaku.


Aku mengusap foto di album itu tersenyum. Satu lagi momen indah yang berhasil terekam oleh kami. Hari ini, aku juga senang bersama Juna. [ ]

__ADS_1


__ADS_2