Stunning My Life

Stunning My Life
Menguntit Medsos


__ADS_3

Aku berencana membelikan Lusy sebuah baju untuk hadiah ulang tahunnya. Mini merekomendasikan sebuah butik yang lumayan terkenal di kota. Kata Mini, di sana desain dan kainnya berkualitas dengan harga yang miring.


De Boutique, aku sampai di sana. Aku pun masuk, lalu melihat-lihat pakaian mereka.


Butik itu tampak simpel namun terlihat mewah. Tempatnya diatur minimalis. Dan baju-baju yang dipajang di sana terlihat rapi juga mengesankan.


Mini benar, butik itu menawarkan kualitas baju premium dengan harga standar. Itu tak mahal, tapi juga tak murahan.


Mereka menyediakan pakaian untuk hampir semua kalangan. Mulai dari balita, anak-anak, hingga fashion


kekinian perempuan serta laki-laki.


Aku akui barang mereka sangat bagus. Butik itu juga tak sepi. Kebanyakan, remaja putri mengantre di kasir sana.


Aku mulai memilah dan memilih baju untuk Lusy. Satu menit. Dua menit. Seorang wanita berhijab menghampiriku.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu ramah tersenyum padaku.


Aku sedikit bengong. Wanita itu tak tampak seperti pegawai butik itu. Gaya pakaiannya seperti seorang bos


dengan setelah blazer abu-abu polos, dalaman putih, dan jilbab kain bermotif.


Walaupun aku saat ini juga mengenakan blazer, tetapi tetap saja, wanita itu punya karisma yang kuat.


Aku segera tersenyum. "Saya mau mencari pakaian balita perempuan untuk usia 2 tahun," kataku pada wanita itu.


Wanita itu terus tersenyum ramah. "Mari ikut saya," ajaknya padaku, kemudian berjalan ke sisi kanan. Aku pun mengikutinya.


Wanita itu terlihat membolak-balikkan dress-dress kecil di gantungan. Dia menarik satu, lalu menunjukkannya padaku.


"Kalau yang ini bagaimana? Ini simpel tapi girly. Warnanya juga fresh," ujar si wanita itu.


Aku mengambil sopan dress kecil biru muda dari tangannya. Lusy punya kulit putih bersih, dan warna itu pasti akan cocok untuknya. Desain dressnya juga cantik dengan renda bunga-bunga.


Aku tersenyum menatap pakaian mungil yang kupegang, lalu kembali menatap wanita cantik berhijab itu. "Baiklah, saya ambil yang ini."


Wanita itu tersenyum, kemudian meraih dress kecil itu lagi. "Oh, iya. Apa ini untuk kado anak? Kalau iya, kami juga menyediakan jasa bungkus kado. Apa mau dibungkuskan sekalian?" tawar wanita itu padaku.


Aku berpikir sebentar. "Ya udah nggak pa-pa, langsung dibungkuskan saja." Aku tersenyum. "Tolong berikan pita besar di atasnya. Itu untuk keponakan saya."


Wanita itu terdiam sebentar, lalu tersenyum lagi. "Baik, kami akan mengemas secantik mungkin. Tolong tunggu sebentar."


Aku menjawab dengan senyum yang sama. Dan lalu, wanita itu pun pergi menuju kasir membawa dress kecil yang kupilih.


Aku masih menunggu baju Lusy dibungkus sembari melihat-lihat kaos-kaos kasual di butik itu. Lima menitan, aku pun menuju kasir untuk membayar.


"Total pembayaran 150 ribu rupiah dengan diskon 50 persen, jadi 75 ribu rupiah."


"Hah?" Aku sedikit kaget mendengar ucapan pegawai kasir itu. "Diskon 50 persen? Emang lagi promo, Mbak?" tanyaku bingung.


Aku tak bisa menjamin butik itu mendapatkan keuntungan dengan memberikan potongan harga sebesar itu.


Pegawai itu tersenyum. "Bukan, Mbak. Tadi Bu Aulia menyuruh untuk memberikan diskon 50 persen pada


barang ini sekaligus bungkus kadonya," ungkap si pegawai membuatku semakin bingung.


Aku tercengang, lalu segera membayar. Bu Aulia? Atau wanita tadi bos mereka? Untuk apa memberikan diskon sebesar itu padaku?


Pegawai kasir itu memberikan barangku juga selembar poster iklan kecil De Boutique sebagai promosi. Aku pun menerimanya.


Aku menuju parkiran dengan pikiran yang masih bertanya-tanya.


Aku menggantungkan paper bag berisi kado Lusy ke cantolan barang, terus memeriksa poster kecil yang


diberikan pegawai butik tadi padaku. Aku tadi hanya menerimanya, dan belum sempat melihat.


"What??? Juna???" Aku terkejut sedikit memekik.


Juna, aku melihat laki-laki itu berpose dengan seorang gadis di selembaran yang kudapatkan memperagakan sebuah baju. Aku menatap butik itu terheran. Apa Juna bekerja sebagai model produk mereka di sana?


***


Siang ini aku termenung di kasur kamar memandangi poster iklan yang kuterima dari De Boutique. Di poster itu tertulis username akun instagram butiknya. Aku pun segera mengakses.

__ADS_1


Aku mendesah setelah melihat jika akun itu diprivat. Aku pun mengeklik opsi follow dan harus menunggu


beberapa waktu untuk dapat melihat unggahannya. Bukan apa-apa, aku hanya kepo soal Juna.


"Sophia..., I am back home...," pekik Mini yang baru memasuki ruang kamar menghampiriku.


"Eh, Ni." Aku menoleh Mini yang juga menolehku. "Soal butik yang lo rekomendasiin ke gue itu..., lo ada tau


sesuatu nggak?"


Mini tampak bingung. "Sesuatu apaan? Nggak ada tu. Emang kenapa, sih? Lo udah ke sana?"


"Udah, tadi. Tapi...."


"Tapi kenapa?"


Aku pun memberikan selembaran poster itu ke Mini.


"Hah? Juna? Dia ngapain ngememe di sini?" Mini terkekeh.


"Apa dia jadi model tu butik, ya? Dan anehnya, tadi gue itu dikasih diskon sama... kalo nggak salah sih dia bos di butik itu," ujarku pada Mini.


"Lo dikasih diskon? Berapa?" tanya Mini.


"50 persen."


"Hah? Serius???" Mini membelalak terheran masih berdiri menatapku.


Aku mengangguk. "Iya, serius. Lo aja nggak percaya, apalagi gue tadi pas mau bayar."


"Bentar deh bentar," kata Mini seraya duduk di sampingku. "Setau gue sih, denger-denger dari gibahan cewek-cewek kampus, keluarganya Juna tu punya usaha fashion gitu. Entah butik atau apa, gue nggak tau."


Aku dan Mini saling menatap. "Jangan-jangan...," ucapku dan Mini bersamaan.


***


Malam ini aku dan Mini sibuk dengan ponsel masing-masing. Aku yang selalunya tak pernah kepo dengan orang di media sosial, mendadak stalking akun instagram Juna.


Aku memang punya akun instagram. Tapi, akun itu aku privasi. Aku hanya mengikuti sekitar 50 username, dan itu semua terdiri dari online shop dan selebritas Korea.


hanya mengizinkan akun Mini saja.


Karena akun Juna juga diprivasi, aku pun menggunakan akun Mini untuk mengorek-ngorek unggahannya.


Sebabnya, Mini dan Juna sudah saling follow.


Juna, dia punya lebih dari sepuluh ribu pengikut di instagram. Dan yang dia ikuti, akun Mini, akun Haris, dan tiga akun asing yang diprivasi, salah satunya adalah akun De Boutique.


Kenapa cuma lima akun itu saja? Lalu Mini dan Haris, apa istimewanya mengikuti mereka? Apa Juna nge-fan


sama dua sejoli itu? Ya, kali?


"Ni, lo sama Haris kok berasa spesial banget bisa di-follow sama Juna gitu?" tanyaku menatap Mini memicing.


Mini tertawa masih menggeser-geser unggahan foto-foto Juna membantuku menggali informasi. "Ya, nggak taulah." Mini menolehku tersenyum. "Mungkin gara-gara lo."


"Apa, sih. Nggak nyambung tau nggak!"


Mini mendecak. "Lo tau nggak? Sebenernya gara-gara Juna follow gue sama Haris, kita berdua jadi sering digibahin sama anak-anak kampus," ungkapnya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tau tu orang-orang sirik. Gue follow Juna juga nggak minta folback sama dia. Dianya sendiri yang folback gue."


Aku menghela napas dari hidung.


"Tapi ya aneh, sih. Dinda yang selebgram itu aja follow Juna nggak di-folback. Tapi gue sama Haris yang cuma punya pengikut ratusan di-folback sama dia. Tu orang bermasalah deh kayaknya!"


"Ngawur! Emang kalo selebgram, pengikut banyak, orangnya cantik atau ganteng, harus banget kita folback?"


Mini masih menyimakku.


"Kumpulin like sama followers di medsos itu cuma bikin penyakit sosial, Ni. Padahal hidup tanpa followers medsos rasanya lebih damai dan tenteram. Contoh dong gue!!!"

__ADS_1


Mini terbahak. "Apaan, deh? Followers lo aja cuma gue! Itu sih namanya nggak keren...." Mini mengacungkan jempolnya ke bawah padaku.


"Serah lo deh, Minion."


Kami pun masih terus scrolling unggahan Juna di instagram. Ada sekitar 500 foto dengan beberapa video. Tak disangka, ternyata Juna suka update di medsos.


Tapi, Juna jarang mengunggah foto selfie. Ada banyak foto-foto pemandangan yang sepertinya hasil bidikan Juna sendiri.


Ada juga beberapa foto full shot Juna yang sepertinya hasil jepretan orang. Dan di foto-foto itu, dia sering


menandai dua username asing. Dan dua username itu, adalah akun yang sama dengan yang Juna ikuti.


"Ini siapa sih flowerqueen_ sama lmntr_? Apa ini akun keluarganya Juna?" tanyaku menebak membaca dua akun asing yang diikuti Juna itu.


Aku tak bisa mengakses dua akun itu karena sama-sama diprivasi. Foto profil mereka juga tak jelas.


Untuk flowerqueen_, dia memasang gambar seorang gadis tersenyum dengan seikat bunga mawar menutupi


sebagian wajahnya. Tapi jika dilihat-lihat dan diperhatikan, gadis itu mirip sekali dengan perempuan yang berpose bersama Juna di poster iklan De Boutique.


Dan lmntr_, dia memajang sebuah gambar desain pakaian dengan tanda tangan besar menindas gambaran cantik itu.


Juna, bukan hanya dia yang misterius, tapi orang-orang yang diikutinya pun sama misteriusnya. Kecuali untuk Mini dan Haris. Ha ha.


"Phi," panggil Mini padaku.


"Hm?" Aku menoleh Mini.


"Ini kayaknya ibunya si Juna, deh." Mini menunjukkan sebuah foto padaku.


Aku membelalak setelah melihat foto itu. Juna tersenyum merangkul sayang seorang wanita berhijab yang juga tersenyum di sana sembari merapatkan matanya imut.


Wanita itu, adalah orang yang kutemui di butik tadi, Bu Aulia. Ya, aku masih sangat ingat namanya saat disebutkan pegawai kasir butik itu.


"Dia ibunya Juna???" Aku ternganga.


"Emotikon love, Bunda selamanya." Mini membaca caption yang ditulis Juna di unggahan foto itu.


Aku mengernyit.


"Lo kenapa, Phi?" tanya Mini menatapku aneh.


"Ni," Aku menoleh Mini lagi. "sekarang gue harus gimana?"


Mini masih menyimakku.


"Hubungan gue sama Juna udah break. Bahkan itu udah ancur sebelum kita mulai hubungan. Tapi gue, gue


masih ngarepin dia, Ni."


Mini mendecak. Mini memang sudah tau tentang ceritaku dan Juna di Sunny Cafe kala itu karena aku curhat dengannya beberapa waktu lalu.


Aku sebenarnya tak ingin memberitahu Mini tentang semuanya. Tapi, Mini terus bertanya kenapa Juna tampak tak menghubungiku lagi. Mini juga mengatakan jika aku terlihat lesu tak seperti biasanya.


"Lo juga, sih...." Mini terlihat tak bisa menyalahkanku. Dia mungkin mengerti kenapa aku mengatakan itu pada Juna. Mini hampir tau segalanya tentangku.


"Juna juga kenapa oon gitu? Dia bukannya tegas sama perasaannya malah muluk-muluk kek bocah." Mini


menatapku. "Sumpah loh, Phi! Juna tu kalo di kampus bilang no ya no, yes ya yes. Gue heran deh, kalo sama lo kok bisa beda gitu, ya?"


Aku mencebik bibir mengedikkan bahu pada Mini.


"Ya, terus gue harus gimana, dong...?" tanyaku masih bingung sendiri.


"Entar deh, gue bantu ngomong ke dia."


Aku membelalak. "Lo mau ngomong apa ke dia??? Jangan ngadi-ngadi lo, Ni!"


"Juna tu juga salah! Dia bukan anak kecil, lo juga bukan anak kecil. Seharusnya serius dong kalo mau jalin hubungan. Kalo cuma kode-kodean terus kan nggak lucu! Bukannya lo selalu kasih pencerahan buat hubungan gue sama Haris? Terus kenapa sekarang lo sendiri yang gagal, Phi?"


Aku hanya bisa diam mendengarkan Mini.


"Kalo lo pikir Juna itu cowok yang paling tepat buat lo, perjuangin dia. Dapetin Juna, Phi! Gue yakin lo pasti bisa."

__ADS_1


Entah kenapa yang dibilang Mini itu terdengar benar. Namun itu mendadak menjadi beban untukku. Pekerjaanku sudah rumit, ditambah lagi masalah percintaan yang konyol ini.


Tapi..., aku tak boleh kehilangan Juna. Aku pasti bisa memperbaiki semuanya. Ini belum terlambat. [ ]


__ADS_2