Stunning My Life

Stunning My Life
Wanita Hebat


__ADS_3

"Wah..., hoki banget lo! Emaknya Haris juga baik sih sama gue, tapi nggak sampe segitunya. Kalo gitu mah lampu ijo namanya. Jalan terus, Phi, sampe ke pelaminan!" seru Mini membuatku tertawa.


Malam ini seperti biasanya, aku dan Mini selalu bertukar cerita tentang hal-hal baru yang kami lalui sepanjang hari ini. Aku menceritakan sedikit sosok Bunda Aulia yang kutemui siang tadi pada Mini. Tentang bagaimana wanita itu memperlakukanku dengan sangat baik sebagai kekasih anaknya.


Aku meraih ponselku dari atas laci samping tempat tidur, lalu membuka sebuah pesan whatsapp dari nomor tak dikenal.


Anonim : Assalamu'alaikum, Sophia. Ini saya, calon mertuamu. Save ya nomor Bunda.


Aku menarik senyum lebar, kemudian membalas pesan itu.


Sophia : Wa'alaikumsalam. Siap, Bunda!


Aku pun menyimpan nomornya.


"Phi, ini IG lo kok jadi banyak banget pengikutnya?" tanya Mini terheran menatap ponselnya.


"Oh, itu. Mungkin followers-nya Juna gabut terus kepo deh sama gue." Jawabku.


Mini mendorong kepalaku. "Liat deh sekarang, lo punya 5 ribu lebih pengikut. Gilak! Ini tuh peningkatan yang drastis!"


"Padahal lo nggak posting apa-apa loh, Phi. Kok bisa gini, sih?" Mini terheran.


Aku hanya diam mendengarkan Mini. Aku masih sibuk mengobrol dengan ibunya Juna.


Bunda Aulia : Sophia, makasih lo browniesnya. Kok, kamu tau Bunda suka rasa cokelat sama pandan?


Sophia : Tau dong, Bunda. He he....


Sebenarnya waktu beli kue brownies itu aku sempat tanya ke Juna soal makanan kesukaan ibunya. Juna bilang, ibunya suka kue brownies cokelat pandan dengan topping keju.


Tapi, di toko itu hanya menyediakan rasa terpisah. Jadi aku membeli satu kotak rasa cokelat dan satu kotak lagi rasa pandan dengan topping yang sama, yaitu keju. Aku senang jika Bunda Aulia menyukainya.


"Phi, lo chatting sama siapa, sih? Nggak seru lo! Lagi diajak ngobrol juga." Mini cemberut.


"Sorry-sorry. Ini ibunya Juna chat gue." Jawabku.


"Pantesan! Ternyata calon mertua lo." Mini memutar bola mata, lalu kembali menyibuk dengan ponselnya.


Bunda Aulia : Sophia, besok bisa ketemu Bunda di butik?


Sophia : Jam berapa Bunda? Besok Sophia ada ngantor soalnya.


Bunda Aulia : Kamu sibuk, ya? Ya udah, lain waktu aja. Bunda cuma mau lihat gambar desain baju kamu. He he....


Sepertinya ibunya Juna sangat ingin melihat desain baju amatirku. Besok mungkin aku bisa menemuinya sepulang kerja.


Sophia : Enggak kok, Bunda. Oke, besok pulang ngantor Sophia langsung mampir ke butik.


Bunda Aulia : Nggak pa-pa, nih?


Sophia : Nggak pa-pa, Bunda....


Bunda Aulia : Oke. See you tommorow, Calon Mantu.


Aku tersenyum membaca pesan whatsapp ibunya Juna itu.


Sophia : See you, Bunda.


Aku dan Bunda Aulia selesai mengobrol. Juna tadi juga sempat menghubungiku, tapi dia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya saat ini. Aku pun menyuruh Juna untuk fokus dulu pada itu.


Aku menaruh kembali ponselku ke atas laci di sana. Seharusnya hari ini aku mencicil tulisan setidaknya satu sampai dua bab agar nanti aku tidak terkejar deadline lagi. Tapi entah kenapa malam ini aku tidak punya mood untuk mengarang.


"Phi, gue lihat-lihat followers lo banyak yang anak-anak kampus. Si Dinda juga follow lo tu," ujar Mini padaku. Astaga, dia masih menganalisis akun instagramku ternyata.


"Oh, ya? Bukannya dia selebgram? Ngapain ngikutin akun gue?" tanyaku terheran menoleh Mini.


Mini menolehku. "Menurut lo, dia aneh nggak, sih? Gue curiga kalo dia itu ngebet deket sama si Juna."


Mini memposisikan duduknya nyaman. Aku masih terus menyimaknya. "Secara nih, ya. Kalo gue perhatiin, pas di kampus tu si Dinda selalu sok deket gitu sama Juna."


Aku mengerucut bibir mengangguk. "Gue pikir sih dia emang suka sama Juna," kataku pada Mini.


Mini memasang wajah bingung.


"Pertama, gue lihat dia kayak berbunga-bunga gitu pas Juna nyanyi di acara First Day Campus lo waktu itu. Kedua, dia minta sama gue buat bolehin dia bawain makan siang ke Junanya sendiri waktu si Juna nyuruh gue bawain makan siang hari itu."


"Terus..., gue perhatiin cara Dinda ngomong ke Juna juga manis banget." Aku mengingat kilas balik di Sunny Cafe saat itu.


Saat itu aku berjanji temu dengan Juna, tapi aku tidak tau kenapa Dinda juga ada di sana duduk semeja dengan Juna. Juna seolah menyuruh Dinda untuk pergi dengan kalimat yang kurang menyenangkan jika didengar, namun Dinda tampak meresponnya dengan sikap manis dan santai.


"Wah, gawat tu, Phi!" celetuk Mini.


"Gawat kenapa?" tanyaku bingung.


Mini mendecak. "Ya, lo harus ati-atilah!"


"Gini ya, si Dinda itu bisa aja goda Juna dengan berbagai cara. Gue bukannya ngomporin. Tapi, cowok mana sih yang bakalan nolak cewek sebening Dinda? Ya kalo gue lihat-lihat sih si Dinda itu rada nyebelin, tapi yang namanya cowok-" Mini memotong kalimatnya sendiri mengedikan bahu mentapku.


"Apaan sih lo, Ni! Gue yakin Juna tu bukan cowok yang kayak gitu. Dia aja terang-terangan nunjukin kalo nggak suka sama si Dinda di depan gue." Aku menyangkal.


Mini terkekeh. "Lo nggak tau aja Dinda itu orangnya kayak gimana. Banyak kok pasangan-pasangan kampus yang putus gara-gara dia. Dinda tu suka ngebaperin cowok-cowok. Pas cowoknya terlanjur sayang, ditinggalin deh tu. Dia mah caper aja biar tenar."

__ADS_1


"Jangan gitu dong, Ni...."


"Jangan gitu gimana? Emang kenyataan, kok. Mana cewek-cewek kampus banyak yang suka temenan sama dia lagi. Mungkin mereka pengen kecipratan famous-nya."


Mini terdengar tak suka sekali dengan Dinda. Padahal, Dinda dulu teman sekelas SMA-nya. Mini bisa bicara seperti itu karena mungkin dia memang tau. Sekelas dengan Dinda selama tiga tahun pasti membuat Mini mampu menilai gadis itu.


"Mendingan lo nggak usah deket-deket sama tu orang deh, Phi. Kalo dia minta folback sama lo kacangin aja. Dia aja minta folback sama gue terus ujung-ujungnya di unfol. Buat apa coba??? Biar nambah followers gitu?" Mini menggeleng-geleng kepalanya dengan ekspresi bingung keheranan.


***


Siang ini sepulang kerja aku bergegas menuju De Boutique dengan yamaha fino hitamku. Bunda Aulia pasti sudah menungguku di sana.


Sesampainya di De Boutique...


Aku berjalan pelan menuju kasir. "Permisi, Mbak. Saya Sophia, siang ini saya sudah berjanji temu dengan Bu Aulia. Apa beliau ada?" tanyaku pada si pegawai kasir.


"Oh, iya. Bu Aulia sudah berpesan agar Mbak Sophia langsung masuk saja ke ruangannya. Mari Mbak saya antar."


Aku tersenyum, kemudian berjalan mengikuti pegawai butik itu.


"Ini Mbak ruangannya," ujar si pegawai ramah setelah kami sampai di depan ruang kerja Bunda Aulia.


Aku tersenyum. "Terima kasih ya, Mbak."


"Iya, sama-sama. Saya permisi dulu." Pegawai itu menunduk tipis padaku, kemudian berlalu pergi.


Aku mengetuk pelan pintu ruangan itu. Aku mendengar suara Bunda Aulia menyuruhku untuk masuk dari dalam.


Aku membuka pintu. "Assalamu'alaikum, Bunda," sapaku tersenyum mengintip dari pintu itu yang kubuka sedikit.


"Oh, hai.... Wa'alaikumsalam...." Balas Bunda Aulia tampak sedikit terkejut dengan ketibaanku. "Ayo masuk, Sayang."


Aku pun berjalan menghampiri Bunda Aulia dan mencium tangannya.


"Maaf, Bunda. Sophia tadi cepet-cepet jadi nggak bawa apa-apa ke sini," ujarku sedikit merasa tak enak pada ibunya Juna itu.


Bunda Aulia tersenyum. "Iya nggak pa-pa. Santai aja, dong. Ya udah, ayo duduk."


Aku pun duduk di sofa empuk ruangan itu. Ruangan kerja ibunya Juna terlihat leluasa. Tempat itu diatur sangat nyaman dengan beberapa tanaman zen yang memberikan kesan rileks.


Bunda Aulia memberiku sebotol aqua tanggung. Dia tampak menyetok sekardus air mineral di ruang kerjanya.


"Maaf, Sayang. Bunda adanya cuma air di sini," kata Bunda Aulia padaku.


Aku tersenyum. "Nggak pa-pa kok, Bunda. Air kan lebih menyehatkan."


Bunda Aulia tertawa ramah padaku.


"Waw, luar biasa! Ini serius kamu yang buat??? Ini bagus banget, loh!!!" Bunda Aulia terus membolak-balik lembaran kertas gambarku.


Aku tersenyum menatap respon wanita itu yang ternganga berbinar-binar melihat desain baju buatanku.


Bunda Aulia tiba-tiba menoleh menatapku. "Ini..., kamu juga yang buat?"


Aku melirik sebuah gambar yang dibuka Bunda Aulia. Di sana, sepasang desain gaun pengantin yang kubuat dulu.


"Itu...." Aku kesulitan menjelaskannya.


Bunda Aulia tersenyum tipis menaikkan kedua alisnya menunggu keteranganku.


"Itu cuma gambar iseng-iseng doang kok, Bunda."


"Iseng-iseng tapi kok bagus banget?" Bunda Aulia tersenyum menggodaku.


Aku tertawa kecil. "Bunda bisa aja."


***


Aku masih di ruangan sana bersama ibunya Juna.


"Sophia, hari ini kamu mau ikut Bunda lagi?"


"Ke mana, Bunda? Jemput Bunga?" tanyaku menebak.


Bunda Aulia tersenyum. "Bukan.... Kamu mau ikut Bunda ketemu calon ayah mertuamu?"


Aku sedikit bengong terkejut. Ketemu calon ayah metua? Maksudnya ayah Juna?


"Ayah Juna pasti senang ketemu kamu," sambung Bunda Aulia padaku.


"Em.... Iya deh, Bunda. Sophia mau ketemu calon ayah mertua." Aku tersenyum.


Bunda Aulia tertawa. "Oke, yuk berangkat sekarang."


Aku dan Bunda Aulia pun keluar dari ruangan itu menuju halaman depan De Boutique.


***


Di halaman depan De Boutique...


"Bu Aulia? Apa kabar, Bu?" sapa seorang wanita paruh baya tiba-tiba menghampiri kami.

__ADS_1


Aku terkejut. Wanita itu..., ibunya Adi. Astaga, kenapa aku harus bertemu Tante Sari lagi?


Bunda Aulia tersenyum pada Tante Sari. "Alhamdulillah. Kabar saya baik kok, Bu Sari."


Tante Sari mulai menolehku. "Loh, kamu? Ngapain kamu di sini?"


"Bu Sari kenal sama Sophia?" tanya Bunda Aulia tampak terkejut.


Seharusnya aku yang terkejut kenapa Bunda Aulia bisa terlihat dekat dengan wanita itu, Tante Sari.


Tante Sari tersenyum remeh padaku. "Saya kenal lah, Bu. Dia ini kan cewek matre yang deketin anak saya."


"Cewek matre?" Bunda Aulia mulai menolehku bingung.


"Tante Sari nggak capek nuduh saya terus?" Aku menatap wanita itu muak.


Ibunya Adi tertawa kecil. "Saya bicara fakta, ya! Kamu itu emang cewek nggak tau diri!"


Aku terdiam memandang kesal Tante Sari.


"Maaf, Bu Sari. Sophia ini anaknya baik, loh. Dia nggak seperti yang Bu Sari omongkan." Bunda Aulia mulai membelaku.


Tante Sari tersenyum manis pada ibunya Juna. "Saya nggak bohong loh, Bu. Sophia ini emang suka deketin cowok bermobil. Anak saya sekantor sama dia aja langsung digaet."


Air mataku mulai menetes mendengar itu. Orang tak berperasaan mana yang peduli dengan hati orang? Begitulah Tante Sari menurutku. Dia sungguh tidak berperasaan.


Aku cepat-cepat mengusap sudut-sudut mataku.


"Bu Sari, maaf ya, tapi Sophia ini calon mantu saya. Jadi Anda bisa kan bicara yang sopan ke calon mantu saya!?" Bunda Aulia menatap tegas ibunya Adi.


Tante Sari terkekeh. "Ya ampun, Bu. Cewek kayak gini nggak pantes jadi calon mantu Bu Aulia. Dia bukan cuma matre dan nggak tau diri, tapi pendidikannya juga kurang!" Lagi-lagi, Tante Sari mencemoohku.


"Masa anak Ibu, Juna, harus menikahi perempuan seperti ini? Dia seharusnya bisa mendapatkan yang lebih baik, Bu," tambah Tante Sari.


Aku hanya terus diam berusaha membendung air mataku.


"Bu Sari, stop!!!" pekik Bunda Aulia. Wajah wanita itu tampak marah sekali. "Saya tidak ada waktu untuk mendengarkan omongan tidak mutu Anda."


Bunda Aulia meraih pergelangan tangan kiriku. "Sophia, ayo kita pergi!" Bunda Aulia pun menggandeng tanganku masuk ke dalam mobil fortuner putih miliknya.


***


Di perjalanan ke kantor ayah Juna...


Aku memilih diam setelah hinaan Tante Sari tadi. Aku sesekali menyeka sudut-sudut mataku agar cairan bening tak keluar dari sana.


Perasaanku terluka. Aku sakit hati. Membayangkan Tante Sari menghinaku malam itu saja sudah sangat menyakitkan. Dan sekarang, tadi, aku juga harus lagi mendengar hinaannya.


"Sophia, jangan diambil hati omongan orang bodoh tadi," ujar Bunda Aulia padaku.


Aku menarik napas pendek kemudian membuangnya. Aku mencoba tersenyum pada ibunya Juna. "Iya, Bunda."


"Kamu tau, orang yang kelihatannya berpendidikan itu sebenarnya juga tidak sepintar kelihatannya. Orang tadi, dia langganan butik Bunda."


Aku terus menyimak Bunda Aulia.


"Kelihatannya dia suka bergaul sama orang-orang kaya, mungkin yang status sosialnya tinggi. Sejak awal Bunda nggak suka sama orang itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga customer butik Bunda. Bunda harus profesional, kan?"


"Terus Bunda, gimana kalo Bunda kehilangan pelanggan Bunda gara-gara tadi?" Aku mulai merasa bersalah.


Bunda Aulia tertawa. "Cuma orang itu, Bunda nggak keberatan dia nggak beli lagi di butik Bunda. Bunda masih punya banyak pelanggan...."


Aku terdiam sebentar. "Bunda, Sophia minta maaf, ya. Karena mungkin, Sophia bukan perempuan yang sempurna buat Juna."


Bunda Aulia menolehku sebentar, lalu terus fokus pada kemudinya. "Nggak ada yang sempurna di dunia ini, Sophia. Juna pun, dia juga nggak sempurna buat kamu."


Bunda Aulia tersenyum. "Makanya, Tuhan mentakdirkan laki-laki dan perempuan itu untuk bersama. Supaya mereka saling menyempurnakan satu sama lain."


"Tapi Bunda, Sophia bukan anak orang kaya. Sophia juga nggak lulus dari universitas mana pun. Sophia cuma tamatan SMK." Aku menunduk.


"Terus kenapa? Saya juga cuma tamatan SMK," ungkap Bunda Aulia membutku terkejut.


Bunda Aulia yang terkesan berpendidikan tinggi itu, ternyata cuma lulusan sekolah kejuruan? Lalu, bagaimana dia bisa sesukses ini?


"Orang tua saya kurang mampu menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi. Saya juga nggak keberatan kalo nggak bisa kuliah. Saya dulu cuma ikut kursus menjahit, dan juga beberapa seminar marketing."


Bunda Aulia terus bercerita.


"Saya ini autodidak. De Boutique, itu bisa berdiri karena kerja keras saya. Yang paling penting, terus berusaha dan jangan lupa berdoa," jelas Bunda Aulia padaku.


Aku tidak menyangka, ternyata ibunya Juna sehebat itu. Dia bisa menjadi panutan orang-orang sepertiku. Bunda Aulia menunjukkan jika ikhtiar dan doa bisa berbuah kesuksesan.


"Bunda."


"Hm?" Bunda Aulia menolehku sebentar.


Aku tersenyum. "Sophia nge-fan sama Bunda."


Bunda Aulia tertawa. "Wah, fans Bunda nambah lagi dong?"


Aku tertawa kecil. Bunda Aulia, wanita itu tidak hanya berkepribadian baik. Tapi dia, dia benar-benar orang yang hebat. [ ]

__ADS_1


__ADS_2