Stunning My Life

Stunning My Life
Laki-Laki Sombong


__ADS_3

Aku terus mengendarai Fino dengan perasaan kalut. Sebenarnya aku tidak seberani itu. Aku takut jika Dinda sangat bersikeras untuk merayu Juna.


Aku jadi teringat sesuatu.


"Gini ya, si Dinda itu bisa aja goda Juna dengan berbagai cara. Gue bukannya ngomporin. Tapi, cowok mana sih yang bakalan nolak cewek sebening Dinda? Ya kalo gue lihat-lihat sih si Dinda itu rada nyebelin, tapi yang namanya cowok-" Mini memotong kalimatnya sendiri mengedikan bahu mentapku.


"Apaan sih lo, Ni! Gue yakin Juna tu bukan cowok yang kayak gitu. Dia aja terang-terangan nunjukin kalo nggak suka sama si Dinda di depan gue." Aku menyangkal.


Mini terkekeh. "Lo nggak tau aja Dinda itu orangnya kayak gimana. Banyak kok pasangan-pasangan kampus yang putus gara-gara dia. Dinda tu suka ngebaperin cowok-cowok. Pas cowoknya terlanjur sayang, ditinggalin deh tu. Dia mah caper aja biar tenar."


Aku terlarut dengan bayang-bayang ucapan Mini. Satu detik. Dua detik. Aku mengerem Fino mendadak karena sebuah motor ninja berwarna hitam tiba-tiba berbelok dari kiri perempatan.


Brak! Pengendara motor itu juga tampak terkejut sampai ambruk dengan motornya ke jalanan beraspal itu. Aku pun cepat-cepat menuruni Fino dan membantu orang itu.


"Kamu nggak pa-pa?" tanyaku panik hendak membantu orang berjaket denim itu berdiri.


Tapi, "Arrrgh!" sergah orang itu terdengar frustrasi mendorongku kuat menjauhinya.


Aku tersungkur dengan terkejut. Aku menggunakan telapak tangan kananku untuk menopang tubuhku agar tak ambruk ke aspal. Tapi malangnya, sekarang telapak tanganku terasa perih.


"Nggak usah pegang-pegang gue! Gue bisa berdiri sendiri," ujar orang itu terkesan galak.


Aku pun kemudian berdiri dan dengan perasaan mangkel membiarkan orang sombong itu menolong dirinya sendiri.


Orang itu mengebas-ngebas membersikan pakaiannya dari debu-debu jalanan. Dia masih mengenakan helm full face gelap dengan pakaian seperti berandalan. Celana jeans sobek-sobek di bagian dengkulnya, kaos hitam bergambar tengkorak, dan jaket denim juga dengan model sobek-sobek.


Orang itu melepas helmnya, lalu menoleh menatapku. "Lo punya mata nggak, sih? Lo liat sekarang!" Dia menunjuk motor ninjanya yang ambruk ke aspal. "Motor gue rusak gara-gara lo!" pekiknya padaku.


Aku jadi jengkel dengannya. Padahal aku mengendarai Fino dengan kecepatan tiga puluh km/jam, itu pelan. Dan cowok ngeselin itu yang sebenarnya mengebut dan tidak tengok kiri-kanan saat membelok.


Mana jalanan sudah sepi. Kalo ada saksi mata, aku yakin cowok itu yang akan disalahkan.


"Lo sendiri naik motor ngebut-ngebut gitu. Terus maen belok sembarangan lagi. Ini tu jalan umum, bukan jalan pribadi lo." Aku menyanggah.


Cowok itu mendecak kesal. "Terserah lo, deh." Dia pun mencoba melangkahkan kakinya hendak menghampiri motornya yang masih tidur di jalanan. Tapi, "Aw...," keluhnya terdengar pelan.


"Kenapa? Nggak bisa jalan?" Aku tersenyum mengejeknya.


Laki-laki itu hanya terus memasang wajah marah sedari tadi. Aku pun berjalan pelan menghampirinya, kemudian mengalungkan tangan kiri laki-laki itu ke leherku. Dia menolehku terkejut.


"Dasar cowok sombong!" celetukku menatap si cowok sombong, kemudian memapahya minggir dari tengah jalan.


Di sana ada sebuah warung yang sepertinya sedang tutup. Di depan warung itu ada sebuah bangku kayu memanjang. Aku pun mendudukkan laki-laki itu di sana.


"Lo punya HP, kan? Mendingan sekarang lo telepon keluarga atau temen lo buat ke sini," suruhku kemudian beranjak hendak pergi.


"Gue nggak punya keluarga, tuh," celetuk orang itu membuat langkahku terhenti.


Aku kembali menolehnya. "Tapi lo punya temen, kan!" seruku terus mencoba pergi dari sana.


Cowok itu terdengar terkekeh. Aku menghentikan langkahku lagi. "Temen apaan!" katanya.


Aku membuang napas pendek, lalu berjalan ke arah Fino. Aku menuntun Fino meminggirkannya ke dekat warung. Dan kemudian, aku mendekati motor ninja si laki-laki itu.

__ADS_1


Aku mencoba mendirikan motor besarnya. Tapi sepertinya, aku yang kurus ini tak cukup kuat mengangkat beban seberat motor besar itu.


Aku masih terus mencoba melakukannya. Aku berhasil mengangkatnya sedikit. Dan lalu, brak! "Ops...." Aku tak sengaja membantingnya.


Aku menoleh menatap laki-laki itu di sana. Dia tampak ternganga melihat motornya membentur jalanan itu lagi.


Aku menelan ludah. Aku kembali mengangkat motor itu lagi. Dan, brak! Motornya terbanting lagi. Aku mengerutkan dahi memejam mata, lalu menoleh menatap laki-laki itu lagi. Dia mulai memasang wajah mengerikan padaku.


Lima detik. Seorang pengendara motor tiba-tiba melintas. Aku pun menghentikannya meminta bantuan untuk ikut membangunkan motor ninja besar itu dari jalanan.


Motor ninja itu pun berhasil dipinggirkan. Aku melihat banyak goresan di beberapa bagiannya. Aku jadi merasa bersalah karena tak sengaja membantingnya dua kali ke aspal.


Aku kembali menghampiri laki-laki asing itu. Aku duduk di samping kirinya.


"Wah, parah lo! Lo ambrukin motor gue 2 kali???" Laki-laki itu mendecak. "Gue nggak mau tau, lo pokoknya harus ganti rugi!"


Aku membelalak menoleh laki-laki itu. "Kok gitu, sih? Niat gue tu baik buat bantuin lo." Aku terkekeh. "Emang seharusnya gue langsung tinggalin aja lo tadi. Sia-sia tau nggak ngebantuin orang songong kayak lo!"


"Terus? Ngapain lo masih di sini? Kalo mau pergi ya pergi aja. Gue nggak minta bantuan lo, kan?" Jawab laki-laki itu.


Aku menatapnya heran. Aku membuang muka, lalu bergerak melangkah pergi. Mendadak, pergelangan tangan kananku ditahan oleh laki-laki itu. Aku sontak menoleh menatapnya.


"Obatin kaki gue dulu, baru lo boleh pergi," ucapnya membuatku ternganga.


Dan pada akhirnya, aku harus menyudikan diri mengobati lutut kiri laki-laki sombong itu.


Aku tadi harus menyusahkan diri untuk pergi ke apotek terdekat di sana bersama Fino. Dan parahnya, laki-laki itu tak percaya jika aku hanya pergi beli obat dan kembali lagi untuknya. Dia pikir, aku akan kabur meninggalkannya.


Aku juga punya empati. Mana mungkin aku seperti itu. Sampai-sampai, aku harus meninggalkan ponsel, KTP, dan tasku. Orang itu hanya membiarkanku pergi dengan dompet berisi uang.


***


Luka itu selesai kuplester. Aku tersenyum, lalu mendongak menatap laki-laki itu. "Masih sakit nggak?" tanyaku padanya.


Laki-laki itu terdiam sebentar menatapku. "Ya masih sakitlah!" Jawabnya bernada suara tinggi. "Tapi, makasih," sambung laki-laki itu malu-malu.


Aku berdiri, lalu tersenyum ke dia. "Sama-sama. Kalo gitu gue balik dulu, ya."


Laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya padaku. "Gue Rama."


Aku menaikkan sebelah alisku. Tadi saja galaknya minta ampun, sekarang malah mengajak kenalan.


"Sophia," ujarku tak menjabat tangan laki-laki itu yang katanya bernama Rama. Aku memasukkan sisa plester, kapas, dan antiseptik ke dalam kantong keresek.


Rama terkekeh. "Sombong banget lo nggak mau salaman sama gue."


"Gue bukannya nggak mau salaman sama lo. Tapi lo liat ni!" Aku mendorong telapak kananku ke depan wajah Rama menunjukkan luka gores yang terasa masih perih. "Gara-gara lo dorong gue tadi, tangan gue jadi kayak gini."


Wajah Rama mulai tampak bersalah. Dia menarik tanganku membuatku terduduk di bangku sampingnya. Aku diam terus memperhatikan Rama mulai mengobati luka di tanganku.


Dasar cowok aneh! Batinku.


Rama menoleh menatapku setelah selesai menutup lukaku dengan plester. "Kenapa diem aja? Lo nggak bilang makasih sama gue?" tanyanya lagi-lagi bermuka songong.

__ADS_1


Aku menarik senyum sok manis ke Rama berusaha menghargainya, walaupun sebenarnya dia sangat menyebalkan. "Makasih."


Aku memalingkan muka, lalu benar-benar pergi meninggalkan laki-laki asing itu yang entah kenapa aku tiba-tiba bisa mengenalnya.


***


Aku tiba di rumah Bulik Susan. Aku berjalan masuk ke ruang kamar. Di sana, Mini tampak termenung duduk bersandar bantal di kasur.


"Lo kenapa, Ni?" tanyaku pada Mini yang terkesan tak seceria biasanya.


Mini sontak menolehku. Dia mendadak bertingkah merengek berjalan menghampiriku. "Gue putus sama Haris...," ujar Mini memelukku.


"Kok, bisa?" Aku terkejut. Aku mendorong Mini terus memegang kedua lengannya. "Ngapain kalian putus? Ni, kalian udah jalin hubungan lama banget, loh." Aku menautkan kedua alisku menatap Mini.


Wajah Mini masih sedih. "Gue sebel sama Haris gara-gara dia marah-marah sama gue. Masa sih ya, dari berangkat malming Haris jutek terus ke gue. Dia nggak kayak biasanya, Phi." Mini mencebik memasang ekspresi sedih.


Aku mendudukkan Mini ke pinggir kasur, lalu aku pun duduk di sampingnya. "Emang Haris kenapa? Kalian ada masalah sampe Haris jutek kayak gitu?" tanyaku lembut pada Mini.


"Gue nggak tau dia kenapa. Gue udah terlanjur kesel banget. Gue minta putus tapi si Harisnya diem aja. Gue tinggalin aja dia pulang. Gue tadi balik naik ojol," ungkap Mini.


"Ya ampun, Mini.... Kalo gitu sama aja kalian belum putus. Haris belum ambil persetujuan buat ngakhirin hubungan lo sama dia, kan? Jangan kegabah dong, Ni. Mungkin Haris punya masalah atau tekanan berat gitu. Makanya dia jutekin lo hari ini. Biasanya dia juga nggak gitu, kan?"


Mini terdiam tampak bingung memikirkan sesuatu.


Aku menepuk punggung Mini. "Udah, mendingan lo sekarang istirahat aja. Udah malem. Besok lo harus bicara baik-baik sama Haris."


***


Aku menyelesaikan salat isya, lalu membaringkan tubuh ke ranjang. Mini sudah tertidur setelah sempat bersedih tadi.


Sebenarnya aku ingin bercerita soal Dinda ke Mini. Tapi Mini, dia hari ini terlalu banyak pikiran pastinya. Sangat disayangkan jika hubungan Mini dan Haris harus kandas. Aku harap, mereka bisa berpikir dingin dan kembali harmonis.


Aku meraih ponselku dari atas laci, kemudian membukanya. Sebuah pesan dari Juna kubaca.


Juna : Lagi apa, Pacar? Maaf ya nggak jadi ajak kamu keluar malam ini. Bunda tiba-tiba ngajakin ke rumah Nenek soalnya.


Sophia : Iya, nggak pa-pa.


Juna : Hm..., gimana kalo besok kamu ikut aku?


Sophia : Ke mana?


Juna : Besok pagi jam setengah 7 aku jemput kamu. Udah malem, kamu harus tidur.


Aku tersenyum.


Sophia : Hm..., aku juga udah ngantuk. Good night, Pacar. Sweet dream....


Juna : Kamu juga. Bilang I love you nggak, nih?


Sophia : I love you....


Dan aku pun mulai memejamkan mataku. Aku sangat mengantuk sampai tak sempat membaca balasan pesan dari Juna.

__ADS_1


Aku masih bisa merasakan menggenggam ponselku sembari tersenyum. Hari ini cukup melelahkan. [ ]


__ADS_2