
Aku hendak mengetok pintu ruangan Ayah Rei, tapi niat itu kuurungkan karena mendengar suara wanita tertawa dari dalam sana.
Aku mematung sebentar di depan pintu dan menguping pembicaran Ayah Rei dengan wanita itu yang kutebak adalah Bu Clara. Tapi yang kudapatkan hanyalah kosong. Sepertinya ruang kerja itu terlalu kedap suara sampai aku tak bisa menangkap satu pun pembicaraan mereka. Hanya sedikit sekelebat suara tawa tadi.
Aku cepat-cepat menekan tuas pintu membukanya. Aku sengaja tak mengetok karena ingin menangkap basah Bu Clara yang mengoda Ayah Rei. Dan benar saja, yang kulihat pertama kali adalah adegan di mana Ayah Rei mendorong Bu Clara sampai tersungkur ke lantai.
Aku membelalak menatap Bu Clara kaget, dan tampaknya dua orang itu juga kaget melihatku.
"Kamu keluar sekarang!" titah Ayah Rei membentak pada Bu Clara.
Bu Clara terlihat takut dan berjalan keluar ruangan itu sembari melemparkan tatapan sinis padaku.
Ayah Rei menghela napas kesal dan kembali duduk ke kursinya. Aku meletakkan setumpuk map berisi laporan keuangan bulan lalu ke meja Ayah Rei.
"Ayah nggak pa-pa?" tanyaku ragu pada atasanku itu.
Selama bekerja di Semesta Crop, aku dan Ayah Rei sudah terlatih untuk menyapa satu sama lain. Jikalau ada pegawai, kami berdua menggunakan sapaan formal. Dan kalau cuma berdua saja, kami menyapa dengan panggilan akrab.
"Kamu jangan salah sangka ya, Sophia. Saya nggak lagi ngapa-ngapain kok sama Bu Clara tadi." Jawab Ayah Rei langsung on point.
Aku tersenyum. "Sophia percaya kok sama Ayah. Ayah pasti nggak akan ngecewain Bunda."
"Menurut kamu, saya harus gimana sekarang? Jujur saja, saya juga nggak nyaman sama Bu Clara. Tapi saya juga nggak bisa pecat dia cuma gara-gara masalah pribadi. Itu nggak profesional."
"Tapi kalo masalah pribadi itu mengganggu pekerjaan, Ayah bisa kok pecat Bu Clara. Ayah cuma butuh bukti buat bikin Bu Clara keluar dari sini." Jawabku pada Ayah Rei.
"Bukti?" Ayah Rei menatapku bingung.
Aku pun mengambil ponselku di saku, kemudian menunjukkan rekaman suara yang berhasil kutangkap beberapa hari lalu. Rekaman itu berisi kata-kata rasis Bu Clara terhadap Bunda Aulia.
Ayah Rei mulai mendengarkan rekamanku. Wajahnya memerah mendengar sekretarisnya yang menghina istrinya sendiri.
"Sophia, tolong kamu kirim rekaman ini ke saya," perintah Ayah Rei padaku.
"Iya, Yah. Dan satu lagi. Ayah mendingan cek CCTV koridor yang menyorot ruang meeting. Mungkin di sana buktinya lebih kuat," ujarku.
Selesai berbincang dengan Ayah Rei sebentar, aku pun keluar dari ruangan itu mengembangkan senyum. Sudah pasti Bu Clara akan dipecat dan berhenti mengganggu hubungan Ayah Rei dan Bunda Aulia.
Aku berjalan santai hendak kembali ke meja kerjaku. Mendadak, seseorang menarik tanganku kasar membawaku ke sudut ruangan sunyi.
"Kamu nggak usah ikut campur sama urusan saya, ya!" Bu Clara terlihat marah padaku.
Aku tersenyum puas. "Bu Clara, saya ini juga anaknya Pak Rei dan Bu Aulia. Masa saya diam aja lihat orang tua saya diganggu wanita rendahan seperti Anda?"
"Kamu itu masih bocah, nggak usah sok ikut melawan saya," timpal Bu Clara.
"Sudahlah, Bu Clara. Perkataan Anda itu sangat tidak berkualitas. Mendingan Anda siap-siap dihempas dari Semesta Crop," kataku mencemooh.
Bu Clara tersenyum menyeringai. "Saya akan tetap di sini sampai tujuan saya tercapai. Kamu tau, yang berkuasa sepenuhnya itu bukan Pak Rei. Tapi Pak Abdul, pendiri perusahaan ini."
__ADS_1
Aku tau itu. Kakek Juna, Abdul Semesta, aku belum pernah bertemu dengannya. Beliau pasti sudah tua sekarang. Tapi bagaimanapun, Kakek Abdul pasti akan menyetujui pemecatan wanita licik itu. Semua bukti sudah ada, dan kurasa itu sudah cukup. Kakeknya Juna pasti akan memihak Bunda Aulia dan melindungi pernikahan putranya.
"Bu Clara jangan terlalu naif. Kita tunggu saja tanggal mainnya. Saya yakin Bu Clara akan pergi dari sini." Aku menatap wanita itu tajam.
Bu Clara terkekeh. "Sepertinya kamu cukup hebat ya di sini. Apa kamu juga punya tujuan lain seperti saya?"
"Amit-amit. Saya nggak ada niatan buruk sama sekali ke keluarga Semesta. Jangan samakan saya dengan Anda. Mutiara dengan kotoran ayam itu beda jauh."
Plak! Bu Clara menampar pipi kananku.
"Kamu saya pecat!" seru Ayah Rei tiba-tiba mengagetkan kami berdua.
"Pak Rei?" Bu Clara kelabakan.
"Beraninya kamu menampar Sophia. Kelakuan kamu juga minus sekali terhadap istri saya. Mulai hari ini kamu bisa langsung meninggalkan kantor. Saya tidak mau melihat dan berurusan lagi dengan kamu," tegas Ayah Rei pada Bu Clara.
Beberapa pegawai memperhatikan kami karena suara Ayah Rei terdengar lantang. Bu Clara yang merasa sangat malu itu pun pergi dengan tatapan hina pegawai-pegawai Semesta Crop.
"Sophia, kamu nggak pa-pa?" tanya Ayah Rei padaku tampak khawatir.
Walaupun pipiku rasanya panas, tapi aku bisa tersenyum pada Ayah Rei. "Nggak pa-pa, Yah." Jawabku. Hatiku sangat adem sekarang.
Ayah Rei pun meminta Nadia untuk membantuku mengompres pipi. Padahal aku bisa melakukannya sendiri, tapi Nadia yang diperintah Ayah Rei itu terus melayaniku dengan baik.
Aku tak punya pangkat tinggi di kantor itu, namun orang-orang sana memperlakukanku dengan sopan dan ramah. Aku harap, itu bukan karena rumor dan fakta yang menyebar jika aku ini kekasih putra Ayah Rei.
***
Keluarga Juna sampai mengundangku makan malam bersama untuk mengucapkan banyak terima kasih juga sanjungan karena ikut andil dalam mengukuhkan hubungan Bunda Aulia dan Ayah Rei. Aku merasa sungkan, tapi keluarga itu selalu membuatku nyaman dan santai.
Aku selalu tulus kepada keluarganya Juna, karena mereka juga tulus padaku. Tidak ada alasan untukku menghianati atau memanfaatkan mereka. Selama orang itu baik padaku, aku juga akan bersikap baik padanya.
Seperti itulah caraku membalas. Bukannya diberi betis hendak paha. Ya, seperti Bu Clara itu. Sudah dibantu diberikan pekerjaan yang baik, tapi malah meminta lebih dengan menggodai Ayah Rei. Dan sekarang paha tak didapat, betis pun hilang.
***
Malam ini Juna mengajakku jalan-jalan. Entah kenapa dia membawa mobil bundanya untuk menjemputku.
"Juna, kita mau ke mana?" tanyaku pada Juna yang sibuk menyetir.
"Jalan-jalan aja. Aku cuma pengen berduaan sama kamu." Jawab Juna tersenyum.
Malam ini Juna terkesan manja. Aku hanya menatap senyum laki-laki itu. Wajahnya tak pernah berubah, selalu tampan seperti biasanya.
Beberapa menit kemudian, Juna memberhentikan mobilnya di atas bukit dengan pemandangan hamparan lampu-lampu kota. Tempat itu indah sekali.
"Gimana? Kamu suka nggak?" tanya Juna menggodaku.
Aku tersenyum. "Suka. Pemandangannya cantik."
__ADS_1
Aku masih memperhatikan hamparan gedung-gedung berlampu putih itu. Rasanya aku seperti di dunia dongeng dengan kesunyian bersama seorang pangeran tengah menatap dunia yang berbeda. Hah, imajinasi seorang penulis itu terlalu dalam.
"Sophia, aku boleh tanya sesuatu ke kamu?"
"Hm?" Aku menoleh Juna menaikkan kedua alisku.
"Apa alasan kamu mau menjalin hubungan denganku?"
"Karena kamu baik dan mendekati sempurna. Aku nggak nyangka bisa ketemu sama cowok kayak kamu. Kamu itu orang terlangka yang pernah aku temuin." Jawabku memberondong ke Juna.
"Oh, ya?"
Aku mengangguk. Laki-laki itu tertawa kecil menatapku.
"Kalo alasan kamu?" tanyaku balik ke Juna.
"Karena kamu spesial." Jawab Juna tak panjang kali lebar.
"Spesial gimana maksud kamu?"
"Ya, menurut aku kamu itu beda dari cewek-cewek yang pernah aku temuin. Setelah aku cukup kenal kamu, kamu itu ternyata cewek yang mandiri, pekerja keras, dan ngangenin."
"Gombal!"
"Kok gombal, sih? Aku serius."
"Tapi aku masih banyak kekurangannya, kan.... Kamu sendiri yang bilang kalo aku kurang mahir bujuk anak kecil," ujarku sewot.
Juna tertawa kecil lagi. "Kok, yang itu diinget terus, sih? Ayolah, Sophia.... Aku nerima semua kekuranganmu, kok. Kamu juga nerima semua kekuranganku, kan?"
Aku memicing pada Juna. "Kamu tu kayaknya kekurangannya nggak ada, deh."
"Ada. Banyak malah. Kamu tau kan aku nggak bisa bikin jus? Aku juga nggak bisa masak. Aku nggak bisa-"
"Nggak bisa apa...?" Aku menyela Juna.
Juna tersenyum sok imut. "Cuma itu," katanya songong.
Aku mencibir membuang muka kembali menatap pemandangan dari depan kaca mobil.
"Kamu itu baik, Sophia. Kamu juga cantik," puji Juna padaku tiba-tiba.
Aku menoleh menatap laki-laki itu. Juna meraih tengkukku, lalu menempelkan bibirnya ke bibirku. Lima detik. Ciuman itu menjadi semakin dalam.
Juna mendorongku pelan ke sandaran kursi mobil. Bibirnya terus beraksi. Dan reaksiku, jantungku rasanya berdebar kencang.
Napasku mulai memburu dan Juna melepaskan ciumannya. Laki-laki itu menatapku lekat. "Jangan pernah pergi, Sophia. Aku cuma mau kamu sampai kita tua nanti. Percayalah, takdir kita untuk bersama."
Aku tersenyum pada Juna. "Aku percaya kamu, Juna. Karena Tuhan menyuruhku untuk percaya sama kamu." Jawabku.
__ADS_1
Kami tersenyum bersama terus menikmati pemandangan malam di atas bukit dengan hamparan gedung-gedung berlampu di bawahnya. [ ]