
Selesai salat zuhur, aku dan Bara makan siang bersama di kantin rumah sakit. Ini semua gara-gara ayah yang bersikeras mendesakku. Ya, sudahlah. Ini cuma makan siang, dan aku juga mau bicara dengan Bara.
"Sophia, Om Budi bilang, kamu tinggal bareng bulikmu, ya?" Bara mulai basa-basi mengajakku mengobrol.
"Iya." Jawabku singkat tak menatap laki-laki itu terus menyibuk dengan makan siangku. Aku berusaha cuek agar Bara kesal denganku.
Bara tampak diam. Lima detik. Sepuluh detik. "Aku seneng bisa ketemu kamu," celetuknya membuatku sedikit tersedak makanan.
Aku terbatuk-batuk kecil, lalu cepat-cepat minum. Aku menoleh menatap Bara yang juga menatapku.
"Kamu nggak pa-pa?" tanya Bara padaku.
Aku berdeham. "Nggak pa-pa." Jawabku tersenyum. Aku tidak ingin salah tingkah di depan laki-laki tinggi dengan cukuran rambut ala-ala tentara itu. Dia kan memang tentara.
Kami pun saling membisu. Aku tau Bara juga gugup di sana. Sebenarnya aku ingin tekekeh-kekeh kecil.
Melihat visual Bara yang tegas berwibawa dengan kaos ketat berwarna abu-abu tua dan celana jeans longgar yang menunjukkan tubuh sempurnanya, rasanya dia pantas untuk percaya diri. Tapi Bara, wajahnya tidak dapat dibohongi jika dia tampak sangat gugup makan siang bersamaku.
"Bara," panggilku ke laki-laki itu membuatnya menoleh menatapku.
"Kamu tau kan kalo kita mau dijodohin?" tanyaku pada Bara.
"Aku denger sih begitu. Om Budi sama Papa kayaknya udah ngobrolin tentang perjodohan kita." Jawab Bara terdengar jujur.
"Terus? Apa kamu mau dijodohin sama aku? Kita baru kenal loh sekarang. Dan kamu nggak tau aku itu orangnya kayak gimana. Begitu pun sebaliknya, aku juga nggak tau kamu itu orangnya kayak gimana."
Aku mencoba bernegosiasi dengan Bara pelan-pelan. Sepertinya laki-laki itu tidak neko-neko. Aku tak pantas mencuekinya dan berbicara tanpa aturan.
Bara tersenyum. Sekarang sikap dia sedikit rileks. "Kalo soal itu, kan kita bisa akrab pelan-pelan buat saling mengenal."
Bara menghirup napas panjang membusungkan dadanya, lalu menghelanya ringan. "Aku akui, saat ini aku single. Om Budi selalu cerita tentang kamu, dan aku, yah.... Aku sih nggak keberatan dijodohin sama kamu," ungkap Bara membuatku terkejut.
"Tapi-"
"Tapi kamu udah punya pacar, ya?" tanya Bara memotong ucapanku.
"Iya, aku udah punya pacar." Jawabku pada Bara sedikit merasa tak enak.
"Ya udah, kalo gitu aku nggak bisa apa-apa. Kamu udah punya pacar..., dan aku belum. Aku nggak egois, kok. Kalo emang perjodohannya harus dibatalin, ya dibatalin aja," ujar Bara tersenyum.
Tak kusangka, laki-laki yang bernama Bara itu memiliki hati yang lapang dan tenang. Namanya yang terkesan berapi atau juga keras seperti batu, eh. Tidak, tapi Bara baik sekali. Dia tak menuntut untuk harus dijodohkan denganku walaupun sebenarnya dia mau, sih.
"Maaf ya, Bar. Aku jadi nggak enak sama kamu. Lagian ini tu terlalu mendadak. Ayah sebelumnya juga nggak pernah rencanain perjodohan-perjodohan kayak gini. Dan aku nggak bisa ninggalin pacarku. Jadi..., aku bener-bener minta maaf sama kamu."
Lagi-lagi, Bara melemparkan sikap ramah nan tenang dengan senyuman yang terkesan manis itu. "Iya, nggak pa-pa. Santai aja, Sophia."
Aku pun tersenyum. "Aku doain deh, semoga kamu dapet jodoh yang lebih baik lagi daripada aku," tuturku pada Bara.
"Aminin aja, deh." Jawab Bara tertawa kecil, lalu disusul olehku.
Aku dan Bara melanjutkan makan siang. Kami berdua sekarang sudah tak secanggung tadi. Oke, satu masalah aku anggap selesai. Dan sekarang masih ada PR lainnya. Aku harus membuat keluargaku menyukai Juna, terutama ayah.
"Jadi kamu beneran kan mau batalin perjodohan kita?" tanyaku pada Bara memastikan lagi. Aku memang butuh kepastian yang tegas dari laki-laki itu supaya semuanya nyata clear-nya.
__ADS_1
"Ya, nanti aku bilang ke Papa sama Om Budi." Jawab Bara terkesan datar tak bersemangat seperti sebelumnya.
Apa perkataanku menyinggungnya, ya? Sebenarnya aku terkesan menolak mentah-mentah laki-laki itu. Padahal dia tidak buruk. Semoga Bara tidak baperan. Aku hanya ingin melindungi hubunganku dengan Juna.
Bara menolehku yang masih memperhatikannya itu. Dia tersenyum. Aku pun membalasnya, kemudian memalingkan muka kembali menyibuk dengan nasi sotoku yang sudah mulai dingin.
Satu detik. Dua detik. Ponselku berdering singkat. Ternyata ada miscall dari Karina. Lalu, aku melihat ada sebuah pesan whatsapp panjang dari kakakku itu. Pesannya terkirim 5 menit yang lalu.
Karina : Phi, ini ada temen kamu yang dateng ke rumah. Katanya namanya Raja. Dia ke sini naik trail kawasaki hitam. Kamu buruan pulang, gih!!!
Sontak, aku membelalak mata seraya berdiri sampai kursi yang kududuki terdorong ke belakang mengeluarkan bunyi yang mungkin mengagetkan orang. Tidak salah lagi. Raja? Dia pasti Juna Raja Semesta.
"Eh..., Bara, aku pulang dulu, ya. Kamu tolong bilangin ke ayahku kalo aku buru-buru karena temenku ke rumah sekarang."
Aku memasukkan ponselku ke tas yang memang tak kutinggalkan di ruangan ayah. Aku mengambil selembar uang lima puluh ribu memberikannya ke Bara dan langsung bergegas pergi.
Bara hanya memasang wajah bingung memperhatikanku. Dia sempat memanggilku sekali, tapi aku tak menggubrisnya.
Aku terus berjalan cepat menuju parkiran rumah sakit. "Oh, iya." Aku berceletuk sembari mengernyit setelah sampai ke honda vario putih kakakku. Aku lupa, padahal aku tadi juga ingin membatalkan niat Bara yang ingin membayar semua biaya perawatan ayah.
Aku mendecak, lalu cepat-cepat memakai helm dan membayar parkir. Urusan itu masih ada waktu untuk dibicarakan lagi dengan Bara. Saat ini aku harus cepat-cepat pulang dan menemui Juna yang tak mengabariku dulu untuk datang ke rumah.
***
"Assalamu'alaikum," salamku seraya masuk ke dalam.
Aku sudah sampai di rumah. Dan benar, Juna di sana duduk di kursi ruang tamu menatapku tersenyum sembari menjawab salam. Ibu, Karina, dan Lusy juga tampak menemaninya berbincang di sana.
"Kamu kok ke sini nggak ngabarin aku dulu?" tanyaku pada Juna, lalu ikut duduk di kursi ruang tamu.
"Terus-terus? Gimana keadaan ibunya Nak Raja sekarang?" tanya ibu tampak tak sabaran pada Juna membuatku tiba-tiba kebingungan.
Sepertinya Juna sudah mendongeng sesuatu pada ibu dan Karina. Mereka berdua menatap Juna sangat antusias. Aku ketinggalan berita, nih.
"Alhamdulillah, ibu saya sudah baik-baik aja sekarang." Jawab Juna tersenyum.
Ibu dan Karina terlihat menghela napas lega. Mereka terus tersenyum pada Juna. Ini pada kenapa, sih? Aku jadi kepo.
"Sophia, Nak Raja mau jenguk Ayah katanya. Kamu anterin dia ke rumah sakit, ya. Lihat, tuh!" Ibu menunjukkan makanan-makanan yang berjajar rapi di pinggir tembok. "Nak Raja repot-repot bawain banyak banget oleh-oleh."
Aku ternganga. Astaga, itu banyak sekali. Dua buah durian, sekantong keresek besar alfamart berisi jajanan ringan, sekardus mi instan, dan sekardus mi instan lagi, tapi diplester hitam. Sepertinya isinya bukan mi instan.
Juna bawa itu semua? Dia ke sini sama motor trailnya. Gimana caranya Juna bawa semua itu?
"Sophia," panggil ibu mengejutkanku.
"Malah ngelamun. Ayo sana anterin Nak Raja jenguk Ayah," perintah ibu lagi padaku.
"I-iya, Bu." Jawabku sedikit kelabakan.
Aku masih tak habis pikir dengan Juna. Dia baik sekali membawakan buah tangan sangat banyak untuk keluargaku. Dia juga membawa durian. Ini kan bukan musim durian, buah itu pasti sangat mahal.
***
__ADS_1
Di perjalanan ke rumah sakit...
"Seharusnya kalo kamu mau ke rumah bilang-bilang aku dulu. Itu juga, kenapa kamu bawa oleh-oleh banyak banget? Gimana cara kamu bawanya, Juna...?"
Juna terdengar tertawa di sana. Saat ini kami tengah berboncengan motor trail laki-laki itu. Juna mengendarai motornya pelan supaya kami juga bisa mengobrol agak panjang di perjalanan.
"Tenang aja Sophia, aku ini punya jiwa kurir. Si Kawkaw juga gampang diajak kompromi." Jawab Juna padaku.
"Kawkaw?" Aku terbingung.
"Iya, Kawkaw. Ini yang selalu kita tumpangi," jelas Juna membuatku diam berpikir sebentar.
Aku terbahak setelah mengerti apa yang dimaksud laki-laki itu. Kawkaw, ternyata itu nama motor trail kawasaki hitam milik Juna ini.
"Namanya kok ajaib banget, sih? Nggak ada yang lebih unyu gitu? Kawkaw???" Aku terbahak lagi.
Juna juga tertawa-tawa kecil di sana.
"Oh, iya. Kenapa kamu ngaku ke Ibu sama Karina kalo nama kamu Raja?"
"Namaku emang Raja, kan? Juna Raja Semesta."
"Betul juga, sih. Tapi konsepnya nggak gitu juga, Juna...."
Juna tertawa kecil lagi. Satu detik. Dua detik. "Tadi waktu aku datang Kakakmu tanya, kamu Juna, ya? Aku cuma senyum, terus jawab, saya Raja."
"Kamu ada-ada aja, deh. Terus kamu bilang apalagi ke Ibu sama Kakak?"
"Nggak bilang apa-apa, Sophia. Kamu jangan kepo, deh...."
Aku tersenyum kecut, lalu mengalungkan tanganku ke perut Juna dan menggantinya dengan senyum gemas pada laki-laki itu.
"Juna, aku ada informasi buat kamu."
"Informasi apa?" tanya Juna terdengar penasaran.
"Ayah mau jodohin aku sama tentara."
Sontak, Juna mengerem motornya membuat jantungku menderu cepat. Aku memukul pelan pundak kanannya sedikit kesal. "Kamu bikin aku kaget tau nggak!" protesku pada Juna.
"Kamu tu yang bikin aku kaget! Dijodohin sama tentara gimana maksudnya?" Juna balik berprotes padaku.
"Kamu tenang aja. Perjodohan ini nggak bakalan terjadi kalo kamu berhasil rayu Ayah. Jadi nanti, pandai-pandai kamu aja."
Juna membalik badan menolehku.
"Aku udah sepakat sama Ayah. Kalo kamu berhasil bikin Ayah yakin sama kamu, Ayah bakalan batalin perjodohannya. Tapi kalo kamu gagal...." Aku mencebik mengedikkan bahu pada Juna.
"Sophia, Juna Raja Semesta nggak akan nyerah gitu aja." Juna kembali meluruskan tubuhnya menatap depan. "Oke, ayo taklukan hati calon ayah mertua. Semangat!" serunya menyemangati diri sendiri.
Aku dan Juna pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Semoga Juna berhasil mendapatkan kepercayaan ayah untuknya. Aku yakin, Juna Raja Semesta akan berhasil.
Melihat sikap ibu dan Karina di rumah tadi, sepertinya Juna gampang sekali mendekati mereka. Ibu dan Karina memang bukan orang yang sulit, sih. Tapi ayah....
__ADS_1
Walaupun seumpamanya nanti ayah masih belum membuka hati untuk Juna, aku tetap akan menolak perjodohan itu. Aku akan mempertahankan Juna sebagai komitmenku.
Aku tak akan menggantikan Juna dengan siapa pun. Sekali pun itu seorang tentara seperti Bara. Aku tetap akan memilih Juna Raja Semesta. [ ]