Stunning My Life

Stunning My Life
Tentang Rasa yang Belum Sempat Terucap


__ADS_3

Aku mengetuk pintu rumah besar itu. "Assalamu'alaikum," salamku, kemudian mengetuk lagi.


Pintu dibukakan dari dalam. Aku tersenyum pada seorang wanita paruh baya, Oma Laras.


Sudah tiga bulan lamanya, baru semalam Rama kembali menghubungiku lewat pesan singkat. Ya, sebenarnya aku pun tak pernah menghubunginya lagi sejak hari itu. Kehilangan kontak pertemuan, juga tak ada kontak percakapan. Sedikit pun, antara aku dan Rama.


Aku masih menyimpan nomor Rama. Tapi nomor Rama seakan mati. Bahkan tak ada status online setitik pun saat aku mengeceknya. Hampir setiap hari, aku hanya khawatir dan merasa bersalah.


Semalam Rama menyuruhku agar datang ke rumahnya. Dan sore ini sehabis kerja, aku pun menyempatkan diri untuk datang. Dia tak banyak menulis pesan. Hanya saja,


Rama : Hai, ini gue Rama. Sorry ganggu lo lagi. Ada yang pengen gue omongin. Gue harap, besok lo bisa dateng ke rumah gue, Sophia.


Rama sampai membubuhkan namanya di pesan itu. Mungkin dia mengira aku sudah menghapus kontaknya.


***


Aku dan Rama duduk bersampingan, membisu, menenggelamkan kaki ke kolam renang rumah itu. Aku menengok jam tangan. Hampir pukul setengah empat sore.


"Apa yang pengen lo omongin?" tanyaku pada Rama yang masih menunduk memandang beriak kecil air kolam di depannya.


"Makasih ya lo udah dateng." Rama tersenyum getir. "Gue kira, gue bakalan kehilangan kesempatan ini," sambungnya.


Aku terus menatap Rama yang masih enggan menatapku. "Lo baik-baik aja, kan?" tanyaku pada laki-laki yang tulang pipinya sedikit lebih menonjol dari sebelumnya. Dia terlihat lelah dan sedikit kurus.


Rama terkekeh. "Detik ini sih gue lagi baik-baik aja. Tapi nggak tau kalo lo udah balik nanti." Jawab Rama membuat batinku tertegun.


Rama menghela napas panjang. Dia menoleh menatapku. "Gue mau jujur sesuatu sama lo. Tapi gue mau bilang dulu, kalo mulai sekarang lo bakalan baik-baik aja sama gue. Soal keparat-keparat kemaren, gue minta maaf." Rama tersenyum. "Mereka nggak bakalan gangguin lo lagi."


"Sebenernya mereka siapa?" tanyaku pada Rama. Ya, aku masih sangat penasaran tentang Bos Kampret juga Fanya. Dan sepertinya, Rama punya hubungan erat dengan dua orang itu.


Rama terdiam sebentar. "Dulu gue punya pacar," ungkapnya mulai bercerita. "namanya Fanya."


Rama mengalihkan pandang pada air kolam di kakinya. "Kita pacaran hampir 2 tahun. Terus gue putusin dia."


"Kenapa?"


"Karena dia nggak baik buat gue." Rama mendongak menatap langit. Pikirannya menerawang. "Awalnya sih kelihatan baik, tapi ternyata cuma topeng."


"Dia selingkuh sama temen gue." Rama melengoskan bola mata. "Cih, temen apaan!" Dia kembali menatapku. "Ya, intinya si Fanya hianatin gue sama cowok yang kurang ajar sama lo waktu itu."


"Fanya hamil, tapi si bajingan itu nggak mau tanggung jawab. Dia mohon-mohon sama gue buat nikahin Fanya. Dia cuma pengen Fanya sama anaknya terjamin dengan kekayaan keluarga gue. Tapi gue bukan malaikat, gue bukan Tuhan. Mana bisa gue nikahin cewek yang hamil anaknya orang, walaupun sebenernya cewek itu masih jadi pacar gue."


"Akhirnya..., gue sama Fanya putus."


"Jadi lo putusin pacar lo gara-gara dia hamil sama temen lo gitu?" tanyaku pada Rama memastikan.


"Salah satu alasannya itu. Tapi juga ada alasan lain. Dia cuma manfaatin gue. Dalam arti.... Lo tau, kan?"


Aku terus menatap Rama. Kasihan sekali dia. Dia orang baik, tapi terlalu banyak yang menyakitinya. Dan mungkin, aku juga akan menyakitinya, menyakiti perasaannya.


Aku tersenyum pada Rama mengelus punggungnya. "Semoga lo dipertemukan sama perempuan yang sebaik dan sepadan sama lo. Lo orang baik, Ram," ujarku menyemangati laki-laki itu.


"Dan lo mau nggak jadi perempuan itu?" sahut Rama bertanya.


Aku menatap laki-laki itu terdiam. Dan ini, aku tau akan terjadi. Rama, aku tau jika dia menyukaiku. Dulu, sesekali aku melihat seseorang seperti tengah mengintaiku.


Saat aku sendirian ke suatu tempat, aku sekelebat melihat Rama memperhatikanku. Siang atau malam. Pagi atau kadang sore. Tak hanya satu kali, tapi beberapa kali.


Pastinya aku risih, namun entah kenapa jatuhnya terkesan lucu. Aku pun memilih diam, dan membiarkan Rama seolah-olah menjagaku dari kejauhan. Toh, dia juga tak neko-neko.


"Sophia, sebenernya gue suka sama lo. Sesuatu yang seharusnya gue milikin, itu lo."


Sampai seharus itu? Sesuka apa Rama padaku? "Tapi gue udah ada Juna, Ram. Gue nggak bisa dan nggak akan pernah jadi sesuatu yang seharusnya lo milikin."


Rama tersenyum. "Gue tau itu. Gue tau kalo lo bakalan nolak gue."

__ADS_1


Rama beringsut menarik kedua tangannya ke belakang. Wajahnya menengadah. Matanya dipejamkan. Dia menghela napas panjang. "Gue cuma mau bilang aja. Gue suka sama lo, gue pengen milikin lo. Gue nggak egois kok buat paksa lo kabulin harapan gue itu."


Rama kembali menolehku. "Gue takut kalo nggak sempet bilang itu semua ke lo." Dia tersenyum. "Setidaknya di Amsterdam nanti gue nggak gila gara-gara mendem semua itu. Gue cuma pengen lo tau aja, gimana perasaan gue ke lo."


"Lo jadi pergi ke Amsterdam?"


"Hm. Besok gue berangkat."


"Hah? Besok?"


Rama mengangguk.


"Kok, mendadak?"


"Ya, emang rencananya gue berangkat besok. Pas banget, kan. Gue udah jujur ke lo. Lo udah nolak gue. Dan Amsterdam bisa gue jadiin tempat move on."


"Segitunya?" Aku mengernyit pada Rama.


Rama mendecak. "Sebenernya kalo lo nggak nolak gue, ya gue nggak ke Amsterdam."


Aku mendorong pundak kiri Rama. "Maksud lo apaan!"


Rama tertawa kecil. Dia diam terus menatapku serius. "Sophia, emangnya lo nggak ada niatan sedikit pun buat putus sama pacar lo itu? Secara logis nih ya, hubungan itu nggak seawet dan nggak selalu seharmonis itu. Lo nggak kepikiran sama masalah-masalah yang bisa aja kan bikin lo sama pacar lo putus?"


"Gue tau. Gue juga mikir soal itu. Tapi gue sama Juna nggak sebocah itu, Ram. Kunci dari kelanggengan hubungan itu adalah rasa saling percaya, rasa saling melindungi, sama nyingkirin ego masing-masing."


Rama masih menyimakku.


"Gue punya prinsip, dan gue yakin sama Juna. Juna itu udah cukup buat gue. Bahkan gue udah terlalu beruntung bisa nemuin cowok kayak dia. Gue bakalan pertahanin Juna, Ram. Gue serius sama dia."


Rama terpaku menatapku. "Juna beruntung bisa dapet perempuan kayak lo, Sophia. Dia beruntung banget. Lo nggak cuma cantik luarnya aja, tapi dalem hati lo juga nggak kalah cantiknya."


"Gue harap lo ditakdirin sama laki-laki yang bener-bener baik." Rama tersenyum. "Gue harap, lo bakalan banyak bahagianya."


Rama tersenyum lebar. "Iya."


Dan selanjutnya, semoga aku masih bisa berteman dengan Rama. Aku bukannya suka atau memendam rasa dengan laki-laki itu, tapi aku punya rasa tak ingin kehilangan orang-orang baik di sekitarku.


Dunia sekarang terlalu keras. Orang-orangnya mengerikan. Zaman sekarang itu manusia baik sangat langka. Tapi, apakah nanti aku bisa bertemu Rama lagi? Aku juga ingin melihat dia bahagia, dengan perempuan yang beruntung mendapatkannya kelak.


***


2 tahun kemudian...


"Hai," sapaku tersenyum pada laki-laki yang masih setia mencintaiku.


"Kita mau ke mana?" tanyaku pada Juna yang sudah menunggu dengan Kawkaw si motor trail kawasaki hitamnya di depan halaman rumahku. Iya, rumahku.


Sudah setengah tahun aku tinggal di sebuah rumah minimalis kebanggaanku. Jerih payah yang kulakukan, tekad yang kubina, doa yang senantiasa kupanjatkan pada Tuhan selama ini, akhirnya begitu indah, begitu nyata.


Juna, dia juga sudah lulus kuliah satu setengah tahun yang lalu. Sekarang Juna membantu Ayah Rei menjalankan Semesta Corp sembari melaksanakan cita-citanya, menjadi seorang arsitek.


Juna juga sudah berhasil mendirikan sebuah rumah makan, dia mengelolanya bersama Haris. Dan rumah makan itu, Juna sendiri yang mendesainnya. Well, rumah minimalisku juga. Juna dan aku, kami saling bertukar ide.


"Ke tempat pertama kali kita ketemu." Jawab Juna tersenyum.


***


Di perjalanan...


"Juna, semalem di kompleks ada yang kemalingan," ceritaku pada Juna memeluknya dari belakang.


Juna terus mengendarai Kawkaw. "Terus? Apa malingnya ketangkep?"


"Belum. Aku jadi takut kalo malem-malem di rumah sendirian. Anaknya Pak RT juga masih sering bertamu ke rumah. Aku risih."

__ADS_1


Aku tinggal sendirian di rumah. Ibu dan ayah tak mau tinggal bersamaku, mereka menolak. Tentu mereka sangat senang aku bisa memiliki tempat tinggal sendiri. Namun ibu dan ayah tak bisa meninggalkan rumah yang dibangunnya bersama-sama. Hanya saja, ayah bilang dia akan mengajak ibu sesekali menginap ke rumahku.


Juna bergeming.


"Juna!"


"Hm?"


"Kok, diem aja?"


"Aku itu lagi mikir...."


"Mikir apa?"


"Bukan apa-apa." Dua detik. "Kamu nggak usah takut, Sophia. Kamu juga nggak perlu risih lagi sama anaknya Pak RT yang suka mejengin kamu. Abis ini aku bakalan jagain kamu seutuhnya."


"Hah? Maksudnya?" Aku mengernyitkan dahi.


Juna diam enggan menjawab.


***


Sesampainya di lokasi...


"Udah berubah ya tempatnya. Udah nggak kayak dulu lagi," ungkapku menatap hamparan tebing gersang yang dulunya begitu hijau nan cantik.


"Biarin aja tempatnya berubah. Yang penting kita masih sama, kan?" Juna menolehku tersenyum.


Aku bergelayut memeluk lengan kiri Juna. "Hm..., kita masih sama." Aku pun tersenyum.


"Sophia, apa masih ada cita-citamu yang belum kesampean?" tanya Juna padaku.


"Ada."


"Berapa?"


"Satu."


Juna menunduk menoleh padaku yang masih menyandar di lengan kirinya. "Apa itu?"


Aku beringsut melepas peganganku pada tangan Juna. "Apa, ya...?" Aku memilin dagu melirik-lirik Juna.


Juna tertawa kecil.


"Kenapa ketawa?"


Juna mengalungkan tangannya ke pinggangku. Dia tersenyum menatap mataku. "Aku tau satu cita-citamu yang belum kesampean."


"Oh, ya?"


Juna mengangguk. "Sophia," panggilnya.


Aku menaikan kedua alisku menatap menyimak Juna.


"Minggu depan aku boleh kan ketemu ayah sama ibumu?"


"Boleh. Mau ngapain?"


"Aku udah siap buat jadiin kamu ibu dari anak-anak kita nanti. Aku mau melamar kamu, Sophia. Ayo hidup bersama sampai maut memisahkan kita." Juna tersenyum dengan tatapan teduhnya. Matanya berbinar. Suaranya tulus menghangat di telingaku.


"Kamu serius?"


"Apa yang bikin kamu ragu? Aku serius. Apa aku masih kurang mateng?"


Aku tersenyum. "Kamu lebih dari kata mateng, Juna" Aku memeluk Juna dengan perasaan bahagia. "Iya, minggu depan kamu boleh lamar aku." [ ]

__ADS_1


__ADS_2