
Malam ini aku sibuk mengejar deadline perilisan novelku. Sejak bertanggung jawab akan tugas kantor, aku sedikit kewalahan dengan kegiatan menulis.
Akhir-akhir ini kepalaku juga sering pusing. Aku tau aku capek, tapi aku harus terus melakukan semuanya dengan baik.
Aku masih berkutat dengan laptopku di kasur. Dan Mini, dia juga tampak fokus dengan tugas kuliahnya di meja belajar. Kami semua sibuk.
“Phi,” panggil Mini pelan.
“Hm?” Aku merespon seraya terus menatap mengetik kata demi kata di layar komputer jinjing itu.
“Soal kejadian siang tadi, gue sama Haris minta maaf, ya.”
Aku menghentikan ketukan jari-jariku. “Udah lupain aja,” suruhku pada Mini, lalu kembali menyibuk.
Satu jam. Dua jam. Aku mulai menguap-nguap. Aku memutar pelan leherku yang terasa pegal nan kaku merilekskannya. Kemudian, aku menoleh Mini.
Mini tampak tertidur di meja belajar dengan bukunya yang terbuka. Mini pasti juga sama lelahnya sepertiku. Tugas kuliahnya pasti juga membuat kepala pusing.
Aku sudah mengetik 5 bab, dan itu sudah cukup banyak. Aku pun mematikan laptopku, dan menyimpannya.
Aku mulai merapikan tempat tidur, lalu menghampiri Mini. “Ni, sana pindah ke tempat tidur kalo ngantuk,” ujarku menepuk-nepuk lengan Mini membangunkannya. Mini tampak mengerjap-ngerjap mata mulai memberesi buku-bukunya.
“Udah, biar gue aja yang beresin. Sana tidur,” kataku pada Mini yang terlihat mengantuk berat.
“Thank you,” gumam Mini lirih hampir tak jelas.
Mini pun berjalan gontai ke kasur. Dia asal membaringkan tubuhnya ke sana. Aku hanya bisa menghela napas menatap Mini.
Aku pun segera memberesi buku-buku dan alat-alat tulis Mini. Sudah pukul 10 malam lebih, aku juga belum salat isya.
Aku menghampiri Mini sebentar memposisikan tubuh gadis itu nyaman dan menyelimutinya, lalu bergegas mengambil air wudu.
***
Aku mengatur alarm ponselku, dan kemudian meletakkannya di atas laci samping tempat tidur.
Aku menarik selimut menatap diam langit-langit kamar. Hari ini pun sangat melelahkan. Tapi aku senang, semoga kerja kerasku berbuah hasil yang besar.
Aku kembali menoleh ponselku. Aku mengambilnya, mengecek whatsapp. Juna, dia tampaknya tak menghubungiku malam ini. Apa dia marah karena aku tampar siang tadi?
Lima menit. Sepuluh menit. Aku mulai terlelap.
***
Minggu pagi, aku dan Mini bersepeda bersama. Hari ini waktu yang tepat untuk menikmati weekend seru.
Kami mengayuh sepeda lipat itu santai melewati jalanan pinggir sawah dengan pohon-pohon rindang di kiri dan kanan.
“Phi, gimana kalo gue hubungin Haris sama Juna buat gabung?” tawar Mini tersenyum padaku.
Sebenarnya aku juga ingin minta maaf pada Juna karena kejadian Sabtu itu. “Terserah lo aja.” Jawabku.
Kami pun berhenti sebentar. Mini mulai mengirim pesan ke Haris dan Juna.
Satu menit. Dua menit. Mini mendapatkan balasan.
“Gimana?” tanyaku pada Mini.
“Haris udah jogging di taman deket rumahnya, nih.”
“Kalo Juna?”
Mini menolehku tersenyum menggoda. “Cie cie…. Kepo banget, sih!”
Aku mendecak. “Serius dong, Ni.”
“Iya-iya.” Mini pun mulai mengecek balasan pesan Juna. “Juna…, dia nggak aktif.”
Aku menghela napas pendek memutar bola mataku membuang muka.
“Ya udah, deh. Gini, kita nyamperin Haris aja. Gimana?”
“Ogah, ah. Lo aja sendiri yang nyamperin dia.”
“Serius, nih? Lo nggak mau ikut?”
“Iya serius, Mini….”
Mini tersenyum sok imut. “Thank you, Sophia. Gue duluan, ya. Bye bye…!!!” Mini pun mengayuh sepedanya pergi.
Aku mendesah. Acara sepedahan yang tadinya seru sekarang terasa kacau. Daripada aku terus di jalanan sepi itu, lebih baik aku meneruskan perjalanan. Sayang kalau balik pulang.
***
Aku masih mengayuh sepedaku. Lima menit. Sepuluh menit. Aku melihat seperti Adi tengah berjongkok memeriksa ban depan mobilnya di tepi jalan.
Aku pun menghampirinya. “Adi? Kenapa? Ban mobilnya bocor, ya?” tanyaku.
Adi menoleh. “Sophia?” Dia pun berdiri. “Iya, nih. Bocor.”
“Udah telepon bengkel?” tanyaku pada Adi.
__ADS_1
Entah sejak kapan aku dan laki-laki itu mulai santai mengobrol. Sebenarnya Adi juga sering menyapaku di kantor, tapi kami selalu menggunakan sapaan formal agar orang-orang kantor tak berpikiran macam-macam. Tapi Adi, aku kira dia juga orang yang formal.
“Udah. Ini saya lagi nunggu.”
Aku tersenyum. “Mau saya temenin?” tawarku. Bukannya apa-apa, aku hanya teringat saat Adi membantuku mendorong Fino sampai bengkel. Jadi, anggap saja ini sebagai balas budinya.
“Kamu serius?”
“Serius. Saya juga lagi bosen sepedahan sendirian.” Jawabku.
“Makanya dong, cari temen kalo sepedahan pagi itu,” ujar Adi sedikit tertawa.
“Tadi sih sama sepupu saya. Tapi dia milih nyamperin pacarnya.” Aku mengedikkan bahu.
***
Aku dan Adi duduk di pinggir rerumputan jalanan itu sembari menunggu montir datang.
“Sophia,” panggil Adi menoleh menatapku.
“Hm?”
“Nggak ada yang marah kan kita di sini?” tanya Adi sedikit membuatku bingung.
“Marah? Nggak ada, kok.” Aku pikir, maksud Adi adalah apa pacarku marah kalau aku dan dia berduaan begini? Iya, kan?
Adi tersenyum. “Syukur, deh.”
Suasana hening sebentar.
“Sophia, menurut kamu, apa orang kayak saya bisa menikah?” tanya Adi tiba-tiba membuatku sedikit terheran.
“Tentu aja bisa. ‘orang kayak saya’, bukannya itu terlalu ngerendah, ya? Maksud saya, cewek-cewek mana pun pasti waw liat kamu, Di. Kamu mapan, keren. Kamu juga baik,” pujiku.
Adi tampak tersipu di sana. “Terus, kalo kamu sendiri suka laki-laki yang kayak gimana?” tanyanya menatapku.
Aku menundukkan mata tersenyum. Jika ditanya itu, entah kenapa aku hanya membayangkan satu orang saja, Juna Raja Semesta. Aku menatap Adi lagi. “Ada, deh.” Jawabku tersenyum.
Adi mendecak, kemudian juga melempar senyum.
Beberapa saat kemudian, dua orang montir pun tiba memperbaiki ban mobil Adi yang bocor. Mereka mulai melepas ban, mengganti, lalu memasang kembali.
Mereka sangat ahli, dan itu tak memakan waktu lama. Ban mobil Adi pun kembali sempurna.
“Sophia, sekarang kamu mau ke mana?” tanya Adi padaku.
“Kayaknya pulang aja, deh. Udah mulai terik soalnya.” Jawabku.
Adi menengok jam tangannya. “Udah hampir jam 9,” ujarnya, lalu menatapku tersenyum. “Sophia, saya anterin kamu pulang, ya?”
Adi membantuku melipat sepeda biru muda itu, lalu memasukkannya ke bagasi mobil.
***
Di dalam mobil, di perjalanan…
“Jadi kamu tinggal sama adik Ibumu?”
“Ya gitu, deh.” Jawabku ke Adi.
Adi tampak tersenyum mengangguk-angguk sembari terus mengemudi.
Satu detik. Dua detik. Adi mengerem mobilnya mendadak. Aku yang tak memasang seatbelt terdorong ke depan menghantam dasbor mobil.
“Aw…,” keluhku memegangi dahi.
“Kamu nggak pa-pa, Sophia?” tanya Adi menatapku khawatir.
“Nggak pa-pa, kok.”
“Maaf, tadi saya kaget ada anak kecil kayak mau nyeberang jalan. Maaf ya, Sophia. Kamu beneran nggak pa-pa, kan?”
“Iya, nggak pa-pa.”
Aku masih memijat-mijat keningku. Tapi tiba-tiba, Adi menarik sabuk pengaman di kiriku memasangnya.
“Pakai seatbelt-nya biar aman,” kata Adi menatapku lumayan dekat.
Aku pun cepat-cepat memalingkan muka. Dan Adi, dia kembali mengendarai mobilnya.
“Hati-hati, Di,” ucapku pelan pada Adi supaya dia tak lengah lagi. Kalau sampai menabrak orang kan bisa gawat.
“Iya, Sophia.” Adi tersenyum.
***
Aku dan Adi pun sampai di rumah Bulik Susan. Aku melihat sebuah motor tak asing terparkir di halaman depan. Motor trail kawasaki hitam, itu motor Juna.
Aku dan Adi turun dari mobil. Tak lupa, Adi juga menurunkan sepedaku dari bagasi.
Bulik Susan, Mini, dan Juna menghampiri kami.
__ADS_1
“Sophia, kamu ke mana aja sih bikin orang khawatir,” ungkap Bulik Susan padaku.
“Maaf, Bulik. Tadi Sophia nemenin Adi nunggu montir buat benerin ban mobilnya yang bocor,” terangku pada bulikku itu.
Bulik Susan menghela napas lega, lalu menarik senyum. “Syukur kalo kamu nggak pa-pa. Lain kali kalo ke mana-mana HP-nya dibawa dong biar bisa dihubungi. Mini sama Juna sampe mau nyariin kamu loh ini.”
Aku menatap Mini, lalu Juna. Mini, aku sih wajar dia khawatir. Tapi Juna, kenapa dia di sini? Terus, kenapa dia mau ikut mencariku?
Bulik Susan tersenyum pada Adi. “Kamu temennya Sophia?” tanya Bulik Susan pada laki-laki itu.
Adi tersenyum. “Iya, Bu. Saya temennya Sophia.”
Dan Bulik Susan pun mengajak kami semua masuk ke dalam rumah.
***
Di ruang tamu…
“Phi, dia siapa? Lo kayaknya nggak pernah deh cerita soal tu cowok ke gue,” bisik Mini padaku.
“Nanti aja ceritanya,” bisikku kembali pada Mini.
Bulik Susan terus mengajak ngobrol Adi dan Juna. Aku dan Mini hanya menyimak perbincangan mereka.
“Oh…, jadi kamu temen sekantornya Sophia? Berarti deket dong kalian?” Bulik Susan menatap Adi, kemudian menatapku.
Adi hanya tersenyum canggung.
“Enggak kok, Bulik. Aku sama Adi nggak terlalu deket. Iya kan, Di?” Aku menatap Adi memberikan isyarat untuk mengiyakan itu.
“I-iya.” Jawab Adi tersenyum ke Bulik Susan.
Satu detik. Dua detik. Ponsel Adi terdengar berdering. Tapi sepertinya, Adi me-reject panggilan itu. “Maaf semuanya, saya harus pamit dulu,” ujarnya setelah memasukkan ponsel ke saku celana.
“Oh, begitu. Iya, nggak pa-pa. Hati-hati ya, Nak Adi.” Bulik Susan tersenyum ramah.
Adi pun menjabat tangan bulikku itu berpamit.
“Sophia, saya duluan, ya.” Adi tersenyum padaku.
“Ah, iya. Hati-hati, Di.” Balasku juga tersenyum.
Adi pun pulang dengan mobilnya.
***
Aku, Mini, dan Juna masih duduk bersama di ruang tamu. Sedangkan Bulik Susan, beliau sedang istirahat di kamarnya.
“Phi, lo gimana, sih? HP tu kalo ke mana-mana di bawa! Bikin orang panik aja lo.” Mini mulai menghakimiku berprotes.
“Ya, maaf. Gue pikir kan kita tadi cuma sepedahan bareng aja terus pulang. Eh, nggak taunya malah gini.” Jawabku pada Mini.
Juna mendecak. “Ya makanya, buat jaga-jaga HP tu tetep dibawa. Kalo lo kenapa-napa siapa yang susah? Kasihan Bulik lo sama Mini, kan? Mereka juga harus tanggung jawab karena lo tinggal bareng mereka.”
“Iya-iya. Lo kenapa, sih? Kok, jadi galak banget gitu.” Aku terheran sedikit kesal dengan Juna.
Juna pun diam. Aku menoleh pada Mini yang menunduk di sana tengah menahan tawa. Ini orang-orang pada kenapa, sih?
Suasana menghening. Satu menit. Dua menit. Juna pun berpamit pulang.
***
Di ruang kamar bersama Mini…
“Jadi…, Adi itu temen sekantor gue. Dia nugas di bidang sekretariat jadi wakil sekretaris di sana,” jelasku pada Mini.
Kami tengah berbaring istirahat siang di kasur.
“Lo bener-bener nggak ada hubungan deket kan sama tu orang?” tanya Mini memastikan.
“Enggaklah.” Jawabku tegas.
“Ya, syukur deh kalo gitu.” Mini mulai miring menatapku tersenyum. “Lo lihat sikap Juna tadi? Gue yakin dia cemburu lihat lo pulang sama Adi.”
“Ngapain cemburu? Adi tu cuma nganterin gue balik.”
Mini mendecak. “Perasaan orang lo mana tau sih, Phi.”
Aku terdiam terus menatap Mini.
“Mulai sekarang lo harus ati-ati. Bisa jadi kan si Adi-Adi itu juga suka sama lo. Kalo udah gitu, hubungan lo sama Juna bakalan terancam. Saran gue, sih. Kalo lo emang udah pas sama Juna, lo jadian aja sama dia secepetnya. Cuma itu yang bakalan kuat nyelametin hubungan lo sama dia.”
“Kenapa harus buru-buru, sih? Kalo gitu kan kesannya gue yang mepet si Juna.” Aku mendesah. “Sebenernya gue juga nggak mau teriket hubungan serius sama cowok kayak Juna. Dia masih kuliah, dan itu pasti bakalan ganggu tugas kampusnya. Dia cuma perlu fokus buat masa depannya, kan?”
Mini mengusap kepalaku sebentar. “Gue tau Juna itu bukan orang sembarangan di kampus. Lo yang sabar aja ya, Phi. Nikmatin aja prosesnya. Dan gue yakin, lo bakalan nemu orang yang bener-bener tepat buat lo.” Mini tersenyum.
Aku pun ikut tersenyum. “Lo juga, ya. Baik-baik sama Haris. Jangan jadi couple plin-plan lo. Kalo udah jalin hubungan itu yang serius, jangan putus nyambung kek sinyal wifi.
Mini tertawa. “Iya Sop Hiu yang bijaksana….”
Aku menjitak kepala Mini, lalu tertawa kecil.
__ADS_1
Aku sampai lupa. Seharusnya aku meminta maaf pada Juna tadi. Karena keadaan tidak mendukung, aku jadi kehilangan kesempatan itu.
Juna, jangan marah ya sama aku. Dia tadi juga kenapa seperti itu? [ ]