Stunning My Life

Stunning My Life
Festival Pasar Baru


__ADS_3

Kami berlima dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, yang entah di mana itu, kami pun juga tak tau mau ke mana. Aku, Juna, Mini, dan Haris diizinkan ayah untuk keliling kota. Sudah lama aku tidak melihat situasi kota kelahiranku itu.


Dan tunggu. Ya, kami berlima, karena Lusy juga ikut. Balita dua tahunan itu merengek untuk pergi bersamaku. Karina awalnya melarang, tapi aku dan yang lainnya tak keberatan jika Lusy ikut. Asal bukan nenek saja!


Kami bercengkerama di dalam toyota fortuner putih itu. Juna bertugas menyetir. Aku duduk di kursi depan samping Juna sembari memangku Lusy yang tak mau duduk sendiri. Lalu Mini dan Haris, mereka duduk di kursi tengah.


"Liat deh Sophia, udah kayak mama muda punya anak satu," celoteh Mini membuat pacarnya dan Juna tertawa kecil.


Lusy tak merespon apa pun karena dia tentu belum mengerti candaan yang seperti itu. Bocah imut itu hanya sibuk memainkan dasbor mobil sambil sesekali bertanya-tanya padaku tentang apa saja yang sekelebat dilihatnya dari kaca.


"Biarin!" seruku ke Mini masa bodoh.


"Guys, nanti siapa ya yang bakalan nikah dulu? Gue sama Mini atau... lo sama Sophia, Bro?" Haris menepuk sekali pundak kiri Juna dari belakang.


Juna tersenyum seraya terus mengemudikan mobil. "Gue sih terserah Sophianya aja. Asal dia siap, gue ya ayo-ayo aja." Jawabnya.


"Kelamaan kalo nungguin Sophia siap, mah...." Mini menyahut. "Sophia umur 30 pun nggak bakalan siap kalo lo nya nggak maju duluan."


Juna menolehku sebentar setelah pengakuan Mini itu. Aku dulu memang pernah bercerita pada Mini soal pernikahanku kelak. Tapi itu dulu sebelum aku mengenal laki-laki yang bernama Juna Raja Semesta. Dan setelah bertemu Juna, rasanya sebagian dari konsep kehidupanku benar-benar berubah dan berjalan tak sesuai rencana.


Aku tak menyangka bisa berpacaran di umurku yang baru delapan belas tahun, saat aku baru saja lulus sekolah. Dan tanpa dirasa, hubunganku dengan Juna sudah berjalan hampir satu tahun. Tinggal beberapa bulan saja.


"Jangan bahas pernikahan dulu kenapa, sih. Bahas yang lain, dong.... Ini kita mau ke mana sebenernya? Cuma menyusuri jalanan tanpa tujuan gitu?" Aku berusaha mengganti topik.


Suasana mendadak hening. Kita semua bingung mau ke mana. Mungkin inilah yang dinamakan hidup tanpa arah.


"Tante, itu ada balon-balon," ujar Lusy menunjuk ke sebuah keramaian.


"Oh, iya. Di sana ada apa ya kok rame banget?" Aku melihat ke pinggiran jalan masuk gang yang dipenuhi pedagang kaki lima. Dan ada juga penjual balon gas dengan motif spongebob, pesawat, dan kartun-kartun disney yang ditunjuk-tunjuk oleh Lusy.


"Apaan, tuh? Ke sana aja gimana?" sahut Mini memberi ide.


***


Kata seorang tukang parkir, ada sebuah festival pasar baru. Acara itu dimulai sejak pukul delapan pagi tadi sampai malam hari nanti. Suasananya tak jauh berbeda seperti pasar malam, namun ini juga berlangsung di siang bolong.


Kami berlima akhirnya bersepakat untuk bersinggah ke keramaian itu. Kami berjalan menyusuri gang setapak dengan para penjual pernak-pernik di pinggirannya. Sesekali mereka merayu dan menawarkan barang dagangannya kepada kami.


"Lusy, kamu mau main sesuatu?" tanyaku tersenyum menunduk menatap si bocah imut yang sedari tadi kugandeng kuat.


"Aku mau naik kuda poni itu." Lusy menunjuk ke sebuah wahana komedi putar.

__ADS_1


Aku dan yang lainnya pun menuruti permintaan Lusy. Aku membeli sebuah tiket, dan mengarahkan Lusy untuk naik ke sebuah kuda poni berwarna merah muda pilihannya.


"Lusy pegangan yang kenceng, ya," tuturku pada keponakanku merayuk tangannya memegangkan ke batang besi di depannya.


Tapi yang namanya anak kecil seusia Lusy masih sedikit bandel. Dia malah tersenyum gembira mengelus-elus kepala patung kuda itu. Aku berusaha membujuk Lusy untuk berpegangan erat agar dia tak jatuh saat komedi putar itu berjalan nantinya, namun Lusy tak menghiraukannya.


"Daripada anaknya jatuh, mendingan Ibu pegangin aja di sini," saran seorang petugas wahana mini itu padaku. Sedari tadi dia menungguku membujuk Lusy. Petugas itu pasti sudah jengah sebab komedi putarnya tak kunjung bisa digerakkan karena aku masih membujuk Lusy untuk berpegangan.


Aku sedikit terbengong karena dipanggil Ibu atas keponakanku yang bernama Lusy. Mini, Haris, juga Juna yang sedari tadi menunggu dan memperhatikan kami tak jauh di tepi sana tampak menertawaiku.


Sepertinya ocehan Mini tadi benar, jika aku ini seperti mama muda beranak satu. Atau aku memang sudah kelihatan menua?


Dan pada akhirnya, aku duduk sedikit di bagian bokong patung kuda itu memegangi Lusy agar dia tak jatuh. Seharusnya komedi putar itu menyediakan sabuk pengaman untuk anak kecil agar tak terjadi hal buruk pada penumpangnya. Dan juga, setidaknya 'ibu'nya ini tidak perlu repot-repot mendapatkan godaan dari pacar dan teman-temannya.


"Bu Sophia, semangat ya ngawal anaknya!" seru Mini padaku. Juna dan Haris tertawa kecil.


Adegan komedi putar selesai. Lusy masih belum merasa puas. Sekarang dia meminta naik bianglala. Dan ya, aku juga yang harus menemaninya. Tadinya Juna ingin ikut, tapi demi menghemat uang, aku menolaknya.


Juna, Mini, dan Haris terlihat membeli pentol bakar dan menikmatinya di bawah sana sembari menungguku dan Lusy berputar ke atas bawah dengan bianglala itu.


Selesai menaiki bianglala, Lusy minta memancing ikan-ikan mainan. Bocah itu pasti merasa sangat senang dan ingin mencoba semua permainan anak-anak.


"Lusy mau mancing ikan...," rengek Lusy padaku.


"Nggak mau, pokoknya mancing ikan!" seru Lusy menolak.


Aku mendesah. Bocah cilik itu tak mau minum air atau makan sesuatu. Dia lebih memilih main dan main. Aku takut dia dehidrasi atau menahan lapar di perutnya. Padahal sudah hampir tiga puluh menit kami di tempat itu.


"Udah-udah, biar gue aja yang bujuk. Lo mendingan jalan-jalan sama Juna ke mana gitu. Biar gue sama Haris yang momong Lusy." Mini tersenyum padaku, kemudian menoleh ke Haris. "Ya kan, Beb?"


"Iya, biar gue sama Mini aja yang momong Lusy. Sekalian kita latihan jadi orang tua...," sambung Haris tersenyum menimpali.


Mini dan Haris pun membawa Lusy ke pemancingan ikan. Aku melihat Mini mulai membujuk Lusy yang sudah memegang pancing mainannya. Lusy yang tersenyum imut itu tampak mau minum dan makan camilan sekarang.


Juna mendadak merayuk pundakku. Aku pun menoleh menatap laki-laki itu.


"Kamu kayaknya perlu latihan ngurus anak dari Mini, deh," ujar Juna tampak masih memperhatikan Lusy yang sibuk bermain di sana.


"Maksud kamu? Aku nggak bisa ngurus anak gitu?" tanyaku masih menatap Juna.


Juna pun menolehku sekarang. Dia tersenyum. "Bukan begitu. Perhatian kamu ke Lusy itu udah bagus banget. Cuma kamu belum mahir bujuk dia," jelas Juna padaku.

__ADS_1


Aku melepas rangkulan Juna dari punggung belakangku. "Ya, nanti aku bakalan latihan cara membujuk anak dengan baik dan benar." Aku tersenyum kecut ke Juna, kemudian kembali memperhatikan Lusy yang terus disuapi camilan oleh Mini dan sesekali menyedot air putih di botol.


"Kamu marah?" tanya Juna padaku tiba-tiba.


Aku menoleh laki-laki itu. "Enggak. Siapa yang marah?" kataku menyangkal. Aku memang tidak marah, tapi hanya sedikit tersinggung saja karena Juna mengomentari caraku membujuk seorang bocah seperti Lusy. Belum menikah saja sudah dikritik, apalagi kalau sudah menikah nanti?


Jujur saja, aku memang sedikit tak mengerti soal mengurus anak. Karena masa laluku yang sedikit kurang mengenakkan, aku hanya mengingat bagaimana cara orang tuaku menangani rengekanku. Mungkin Juna benar, aku harus latihan merawat anak agar nanti aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku.


"Aku nggak bermaksud banding-bandingin kamu sama Mini. Jangan jutek gitu, dong...." Juna merayuku agar tersenyum.


Aku mendesah, lalu menatap Juna lekat. Aku pun memberikan senyum terbaikku untuk laki-laki itu. Juna membalas melemparkan tawa kecil dan tatapan hangat padaku.


***


Aku dan Juna duduk berdua sedikit menepi dari keramaian. Kami sudah berpamit pada Mini dan Haris untuk pergi bersama sekedar berjalan-jalan ringan di sekitaran keramaian itu. Lusy, dia tentu masih bersama Mini dan Haris.


Aku menikmati gula-gula kapas berwarna pink yang dibelikan Juna untukku. Jajanan dibungkus plastik besar menggembung itu adalah camilan legendaris yang selalu kubeli jikalau saat mengunjungi pasar malam. Dan kebetulan, di sini pun juga ada yang menjualnya.


"Kamu tu kayak anak kecil, deh. Masa jajannya permen kapas, sih?" Juna mencibirku.


Aku hanya meliriknya sebentar sembari terus melahap kembang gula itu. Juna hanya menggodaku. Kenapa dia berkomentar kalau sebenarnya membelikanku tiga bungkus gula-gula kapas dengan warna yang berbeda?


Saat aku bilang suka makanan manis itu, Juna terus membelikanku satu warna pink, satu warna ungu, dan satu lagi warna biru. Padahal aku cuma minta satu.


"Juna," panggilku.


Juna yang masih menatapku itu sontak melebarkan mata menungguku bicara.


"Kenapa kamu bayar uang rumah sakit ayahku? Aku jadi nggak enak sama kamu. Biar aku ganti, ya."


Juna menarik sejumput permen kapas yang kupegang, lalu memakannya. "Aku ikhlas kok bayarin uang rumah sakit ayahmu. Kamu nggak perlu ganti, Sophia...."


"Tapi itu nggak sedikit, Juna.... Kamu kan belum kerja. Jangan-jangan kamu pake uang bunda atau ayahmu, ya?"


Juna tertawa kecil melihat ekspresiku yang mungkin lucu saat menebaknya. "Enggak.... Kata siapa aku belum kerja? Aku itu bukan mahasiswa pengangguran yang cuma sibuk sama skripsi."


Aku terus menyimak Juna.


"Kamu tau kan kalo Bunda jadiin aku model bajunya? Bunda nggak cuma nyuruh anaknya ngebantu kerjaannya, tapi juga ngasih gaji. Dan kalo di rumah, aku juga bantuin Ayah ngehendel kantor. Paling-paling cuma cek-cek laporan atau apa itu. Aku juga dapat persenan dari Ayah, sekalian belajar jadi CEO-nya Semesta Corp.... Ayah kamu juga udah doain aku, kan?"


Aku tertawa kecil saat mengingat kibulan Juna ke ayah waktu di rumah sakit itu.

__ADS_1


"Sophia, jangan pernah ngerasa nggak enak atau punya utang ke pacarmu ini. Kamu cukup bilang makasih dan selalu senyum, itu udah lebih dari cukup buat aku," ungkap Juna terdengar tulus.


Aku pun tersenyum. "Makasih, Juna." [ ]


__ADS_2